
Pada akhirnya Yandri ikut bergabung bersama para tetangga yang sedang mencari keberadaan Habibah di balik rerimbunan semak belukar di belakang rumahnya. Mereka memanggil nama Habibah saling bersahutan satu sama lain.
Setelah melakukan pencarian sekitar setengah jam, akhirnya mereka mendengar isak tangis seseorang dari balik pohon jati yang cukup besar. Untuk memastikan apakah isak tangis itu milik kakaknya atau bukan, Yandri dan para warga segera mendekati pohon yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Yandri menyembulkan kepalanya dari balik pohon
"Kak bibah!" panggil lirih Yandri.
Habibah yang sedang berjongkok seraya menumpukan wajah di atas kedua lututnya, sontak mendongak begitu mendengar suara sang adik. Seketika, Habibah berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Yandri.
"Kang Bahar, Dek .... Hiks-hiks ... I-ibu mengusir kosong Bahar," ucap Habibah mengadukan perbuatan ibunya kepada sang adik.
Yandri hanya mampu mengusap-usap punggung Habibah untuk menenangkannya. "Iya, Kak. Yandri sudah tahu," jawabnya.
"Ka-kak tidak ta-tahu, hiks ... kenapa ibu mengusir kang Bahar, huhuhu," lanjut Habibah di antara isak tangisnya.
"Sudah-sudah Kak, sebaiknya kita pulang sekarang. Kita bicarakan semua permasalahan ini di rumah saja," sahut Yandri.
"Kakak enggak mau pulang, Yan. Kakak teringat sama kang Bahar. Dia pasti belum makan apa-apa. Dia sedang puasa, Yan. Kasihan Kang Bahar. Ka-kak enggak mau pulang kalau kang Bahar enggak pulang juga," balas Habibah.
Memangnya Kakak pikir cuma kang Bahar saja yang puasa dan belum makan. Kita semua juga puasa dan sama sekali belum menyentuh makanan. Sudahlah, sekarang Kakak pulang. Insya Allah, kang Bahar pasti akan pulang, Kak. Secepatnya akan Yandri usahakan supaya kang Bahar cepat pulang," jawab Yandri
Habibah tahu jika apa yang diucapkan adiknya selalu bisa dipercaya. Dia pun melepaskan pelukannya. Sejenak menatap Yandri untuk mencari sebuah kepastian.
Yandri menganggukkan kepala untuk meyakinkan Habibah. Ayo Kita pulang sekarang, Kak. Kasihan Ali dan Rizal, mereka pasti sedang ketakutan karena ibunya lari ke tengah hutan seperti ini. Insya Allah, Yandri pastikan semuanya akan baik-baik saja," lanjut Yandri.
Habibah mengangguk. Sejurus kemudian, dia mulai melangkahkan kaki meski dengan tertatih-tatih karena tidak mengenakan sandal. Melihat hal itu, Yandri kemudian berjongkok di hadapan Habibah.
"Naiklah, Kak!" perintah Yandri.
.
.
__ADS_1
Sementara itu, di sekolah. Daniar terus berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya. Dia merasa gelisah karena suaminya belum juga kembali. Padahal, penunjuk waktu hampir mendekati isya. Namun, Daniar sama sekali belum mendengar kabar apa pun tentang Habibah. Daniar mencoba mengubungi Puri, tapi tidak tersambung.
"Ya Tuhan ... semoga kak Bibah baik-baik saja," gumam Daniar, masih setia berjalan ke sana kemari untuk menghilangkan kecemasannya.
Tak berapa lama, azan isya mulai berkumandang. Daniar segera pergi ke kantor kepala sekolah untuk mengambil air wudhu di kamar mandi. Mumpung Bintang sudah tertidur pulas, Daniar memutuskan untuk segera salat Isya dan tarawih. Malam ini, tumben juga Bintang bisa tidur cepat. Mungkin anak kecil itu merasa kelelahan setelah tadi sore bermain bersama teman-temannya.
Ketika hendak melakukan salat witir, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya. Daniar mengurungkan niat salat witir dan segera membuka kunci pintu kamar. Tampak Yandri berdiri di ambang pintu dengan pakaian kotor dan wajah yang diselimuti kelelahan tiada tara.
"Maaf, Yah, sebaiknya Ayah bersih-bersih dulu sebelum masuk. Pakaian Ayah terlihat kotor," ucap Daniar.
"Iya, Bun. Tolong ambilkan handuknya," pinta Yandri.
Daniar segera menarik handuk yang tergantung dan memberikannya kepada Yandri.
"Apa kantornya sudah dikunci, Bun?" tanya Yandri.
"Enggak, Yah. Tadi bekas Bunda wudhu," jawab Daniar.
Daniar mengangguk. Setelah Yandri pergi, Daniar pun melanjutkan salatnya.
Sesaat setelah mengucap salam terakhir. Daniar melihat jika Yandri sudah selesai membersihkan diri.
"Tolong siapkan makanan, Bun. Ayah lapar sekali," perintah Yandri.
"Ayah belum buka puasa?" Daniar bertanya sambil melipat mukenanya
"Belum, Bun. Begitu tiba di rumah, Ayah langsung mencari kak Bibah," jawab Yandri
"Astaghfirullahaladzim ... sebentar Yah, Daniar ambilkan air hangat dulu," jawab Daniar yang langsung mendekati dapur untuk menuangkan air hangat.
"Diminum, Yah. Biar perutnya terasa hangat," kata Daniar sambil menyerahkan gelas tersebut.
Yandri tersenyum. Dia kemudian meraih gelas itu dan meminum isinya. Sedangkan Daniar segera membawa piring untuk menyiapkan santap buka bagi sang suami.
__ADS_1
"Gimana keadaan kak bibah, Yah?" tanya Daniar membuka pembicaraan.
"Sepertinya dia sangat terpukul dengan sikap ibu. Tapi mudah-mudahan, setelah islah tadi, mereka mau saling memaafkan," jawab Yandri.
"Memangnya apa yang terjadi, Yah? Kenapa kak Bibah sampai lari ke semak belukar yang ada di belakang rumah kita segala?" tanya Daniar semakin penasaran.
"Ibu mengusir kang Bahar," jawab Yandri.
"Mengusir kang Bahar? Tapi, kenapa?" tanya Daniar seraya mengernyitkan keningnya.
"Beberapa hari yang lalu, kak Nauval datang ke rumah ibu. Dia datang untuk memberikan baju lebaran kepada Rizal. Sepertinya, ibu cemburu kepada Rizal yang mendapatkan oleh-oleh dari kak Nauval," jawab Yandri.
"Cemburu?! Tapi cemburu kenapa, Yah?" tukas Daniar.
Terus terang saja, Daniar semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Semuanya terasa janggal dan mungkin tidak masuk akal bagi Daniar. Cemburu kok, sama anak kecil, pikir Daniar.
"Ibu cemburu karena kak Nauval lebih memilih membelikan baju lebaran untuk Rizal ketimbang untuk dirinya," jawab Yandri sedikit mengulum senyum.
"Apa?!"
Lagi-lagi Daniar memekik keras. Dirinya semakin dibuat kebingungan saja oleh sikap sang ibu mertua. Hanya karena cemburu terhadap cucunya sendiri, dia tega memisahkan ikatan anaknya.
"Aih, ibu kenapa bisa bersikap seperti itu sih, Yah? Apa dia enggak mikir kalau dia juga punya anak laki-laki. Gimana coba, kalau tiba-tiba saja anak laki-laki ibu, mendapatkan perlakuan yang sama, apa dia enggak bakalan tersinggung?" ucap Daniar, mencoba memberikan pendapatnya
"Itulah yang tadi Ayah sampaikan sama ibu. Ya, semoga dengan perkataan Ayah tadi, ibu akan berpikir dua kali sebelum mengusir menantunya lagi. Ngomong-ngomong, Bun. Tadi Ayah sudah berjanji sama ibu untuk membelikan baju lebaran esok hari. Apa Bunda mau ikut supaya bisa membantu Ayah memilihkan baju buat ibu?" tanya Yandri.
"Kenapa Ayah tidak bawa ibu saja sekalian ke pasar. Biar ibu bisa milih baju yang dia inginkan," usul Daniar.
"Iya ya, Bun. Kamu benar. Ya sudah, besok pagi kita pergi ke rumah ibu dan mengajaknya berbelanja baju lebaran," pungkas Yandri yang diikuti oleh anggukan Daniar
Yandri menatap lekat kepada istrinya. Dia merasa beruntung karena memiliki istri yang begitu pengertian terhadap kebutuhan ibunya.
"Terima kasih Tuhan, telah memberikan sosok malaikat tanpa sayap ke dalam hidupku."
__ADS_1