
Terdengar gumaman lirih dari tempat Bu Maryam berbaring. Sontak kedua kakak beradik itu menghambur ke arah ranjang.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Yandri seraya menggenggam tangan Bu Maryam.
Perlahan Bu Maryam membuka mata begitu mendengar suara Yandri. Senyum tipis terukir di wajahnya yang semakin keriput. Dengan bersusah payah, Bu Maryam mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Yandri, putra yang sangat dirindukannya.
"Ya-yandri, pu-putra Ibu." Lirih Bu Maryam.
"Iya, Bu. Yandri di sini," sahut Yandri.
"I-ibu se-nang, kamu datang, Nak," lanjut Bu Maryam.
"Iya, Bu," balas Yandri.
Kedua bola mata Yandri mulai buram karena genangan air mata. Hatinya sakit melihat orang yang telah melahirkannya, harus merasakan jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Yandri tahu, selama ini ibunya begitu takut dengan jarum suntik.
"Yan-dri, I-ibu merasa ... ji-jika ajal Ibu su-dah semakin de-kat. Mau-kah ka-kamu memenuhi per-mintaan ter-akhir Ibu?" kata Bu Maryam dengan napas tersengal.
"Ssst, Ibu jangan berbicara seperti itu. Istirahatlah, biar Yandri yang tungguin Ibu di sini," balas Yandri seraya mengusap-usap pucuk kepala Bu Maryam.
"I-ibu mo-hon, Nak. I-ibu ti-tidak akan te-nang sebelum menyampaikan se-suatu sama kamu," lanjut Bu Maryam.
"Sudah, Bu. Yandri yakin Ibu pasti akan sembuh. Besok, Yandri akan cari dokter spesialis jantung terbaik di kota ini untuk bisa membantu menyembuhkan penyakit Ibu. Yandri yakin, Ibu pasti kuat," tutur Yandri.
"Nak. I-ibu ha-hanya punya sa-satu permintaan. I-ibu mo-hon ka-kabulkanlah pe-permintaan Ibu." Lagi-lagi, Bu Maryam mendesak Yandri untuk mendengarkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Ibu ... Yandri mohon, beristirahatlah. Nanti kita bicarakan setelah Ibu sembuh. Ibu mau, kan?" bujuk Yandri.
Bu Maryam menggelengkan kepalanya. Dia bersikeras untuk menyampaikan keinginannya saat ini juga.
"Sudahlah, Yan. Kita dengarkan dulu apa yang ingin Ibu sampaikan," saran Habibah sembari menepuk pelan pundak adiknya.
Sejenak, Yandri menatap Habibah dan melihat kakaknya mengangguk. Pada akhirnya, Yandri mengalah. Dia tidak ingin jika ibunya terlalu banyak pikiran. Hmm, siapa tahu, dengan mengutarakan keinginannya, beban sang ibu akan sedikit berkurang.
"Baiklah, akan Yandri dengarkan permintaan Ibu," ucap Yandri.
"Tapi ... ka-mu mau, 'kan, mengabulkan permintaan Ibu?"
Bu Maryam kembali bertanya. Kali ini, dia mulai bisa mengatur napasnya sehingga mampu berbicara sedikit lancar.
__ADS_1
"Insya Allah, Bu. Jika memang Yandri mampu memenuhinya, akan Yandri penuhi permintaan Ibu," jawab Yandri, pasti.
"Ibu ... ingin kamu menikah de-ngan Siska!" lanjut Bu Maryam.
Deg!
Yandri sangat terkejut mendengar permintaan ibunya. Sungguh, bagi Yandri ... ini adalah permintaan terkonyol yang dia dapati seumur hidupnya.
Tidak! Aku tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak pernah aku cintai, gumam Yandri dalam hatinya.
Sementara Yandri terlihat kebingungan, Siska justru kebalikannya dari Yandri. Wanita yang masih betah melajang itu hanya bisa tersenyum sembari menundukkan kepalanya.
"Ka-kamu ma-u, kan?"
Pertanyaan Bu Maryam sontak membuyarkan lamunan Yandri. Rasanya, dia ingin segera pergi dari tempat ini untuk menghindari permintaan terakhir ibunya. Namun, Yandri sadar jika perbuatan itu akan semakin memperburuk keadaan sang ibu.
"Yan, mungkin maksud Ibu bersikap seperti ini, karena Ibu menginginkan yang terbaik untuk kamu. Ibu ingin kamu ada yang mengurus. Memangnya, mau sampai kapan kamu melajang terus, Yan. Kamu masih muda, Yan. Masih pantas untuk membina sebuah rumah tangga lagi," timpal Habibah.
"Terima kasih atas perhatian Kak Bibah. Tapi Kakak tidak usah khawatir, insya Allah Yandri bisa ngurus diri Yandri sendiri," jawab Yandri.
"Tapi sampai kapan, Yan. Kamu akan semakin berumur. Dan suatu hari nanti, Bintang akan bertemu dengan jodohnya. Dia tidak akan mungkin mengurusi kamu seumur hidupnya, Yan," lanjut Habibah.
"A-pa yang dikatakan ka-kak kamu benar, Yan. Me-mangnya, ka-kamu mau menjadi beban anak kamu seumur hidup kamu?" tukas Bu Maryam.
Bu Maryam memalingkan wajahnya. Sedikit menyampingkan posisi tidurnya hingga membelakangi Yandri.
"Katakan padanya supaya dia kembali ke Indramayu, Bah. Untuk apa dia pulang jika dia masih tidak ingin membahagiakan Ibu yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan dan membesarkannya," ucap ketus Bu Maryam menyindir putranya.
Yandri pun hanya bisa membuang napasnya dengan kasar.
.
.
Hari demi hari terus berganti. Meskipun keadaan Bu Maryam belum pulih benar. Akan tetapi, dokter sudah memberikan izin untuk pulang. Hmm, tentu saja dokter memberinya izin. Bukankah selama ini dokter itu ada main dengan Siska dan komplotannya.
Atas desakan dokter bayaran itu juga, akhirnya Yandri terpaksa mengabulkan permintaan Bu Maryam. Meskipun dia belum menyanggupi untuk menikah. Namun, Yandri tidak keberatan jika dia harus bertunangan dengan wanita pilihan ibunya.
Sementara itu, di kediaman bapak Hartono. Siska terlihat gembira dengan rencana pertunangannya yang akan digelar di kedai bakso miliknya. Siska pun begitu antusias mempersiapkan semua kebutuhan pertunangan nanti agar terlihat mewah dan mengesankan.
__ADS_1
"Hmm, Ibu sangat menyukai cupcake mini itu. Sebagai wujud terima kasih aku kepada ibu, tidak ada salahnya aku memesan cupcake tersebut untuk acara pertunangan aku dan Yandri minggu depan. Semoga keburu," gumam Siska seraya meraih ponselnya untuk menghubungi sang bibi.
.
.
Sementara itu, di tempat lain.
"Bagaimana Bu, Niar? Apa Ibu sanggup mengerjakan orderan ini?" tanya Bu Megi di ujung telepon.
"Acaranya untuk hari apa ya, Bu?" tanya Daniar.
"Hari Sabtu sekitar pukul 10," jawab Bu Megi.
"Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu, takut sudah ada orderan yang masuk di hari itu," jawab Daniar.
"Ah, ya ... silakan, Bu."
Daniar mengapit ponselnya di antara telinga dan bahu. Setelah itu, dia membuka buku orderan kue dan mrnyusurinya dengan jari telunjuk.
Alhamdulillah ... tidak ada orderan untuk hari itu, batin Daniar.
Daniar menyimpan kembali buku orderan dan melanjutkan pembicaraannya.
"Insya Allah, bisa Bu. Kebetulan memang tidak ada orderan untuk hari itu," tutur Daniar.
"Alhamdulillah, terima kasih Bu. Nanti saya chat alamatnya ya, Bu. Setelah selesai, Ibu bisa langsung antar ke sana," ucap bu Megi.
"Baiklah, Bu."
Setelah berbalas salam, Daniar menutup sambungan teleponnya. Senyumnya mengembang begitu menerima notifikasi pesanan beserta alamat. Daniar pun memindahkannya ke dalam buku pesanan.
"Wow, banyak banget orderannya, Bun," kata Bintang yang tanpa sengaja melihat catatan orderan, "siapa yang order?" tanyanya.
"Guru sekolah kamu, Bu Megi," jawab Daniar.
"Wah, kayaknya Bu Megi mau ngadain syukuran besar-besaran ya, Bun," tebak Bintang.
"Entahlah, tapi katanya sih buat acara pertunangan keponakannya. Kebetulan, calon ibu mertuanya itu menyukai kue yang Bunda buat," papar Daniar, "eh, Sabtu, 'kan kamu libur, kamu anterin ke tempatnya ya, bisa?" lanjut Daniar.
__ADS_1
"Bisa, Bun. Apa sih yang enggak bisa buat Bunda. Hehehe,..." sahut Bintang.
"Terima kasih, Nak."