
Menjelang asar, Yandri tiba di rumahnya. Hari ini, ada rapat dadakan sesama operator sekolah. Karena tidak ada alat komunikasi, Yandri terpaksa tidak bisa memberitahukan hal tersebut kepada istrinya. Awalnya, Yandri berpikir jika dzuhur pun rapat selesai. Namun, kenyataannya rapat tersebut berjalan dengan sangat alot.
Yandri memasuki kamarnya, dia melihat jika sang istri tengah memejamkan mata. Perlahan, Yandri membangunkan Daniar.
"Uuh ...."
Daniar menggumam seraya menggeliatkan badan. Sentuhan dingin di kulit pipinya, membuat kedua mata Daniar terbuka.
"Akang?" Lirih Daniar seraya bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Iya, Yar. Sebentar lagi asar, karena itu Akang membangunkan kamu," jawab Yandri.
Daniar hanya tersenyum tipis mendengar jawaban suaminya.
"Maaf, Akang pulang terlambat. Tadi tiba-tiba saja ada undangan rapat di sekolah lain," lanjut Yandri.
Kembali Daniar tersenyum mendengar alasan suaminya pulang terlambat.
"A-akang sudah makan?" tanya Daniar, berharap jika suaminya akan berkata belum dan mereka bisa makan siang bersama.
"Alhamdulillah Akang sudah makan, Yar. Tadi ada rapat OPS di sekolah. Dan semua peserta rapat diberi nasi box pada jam makan siang," jawab Yandri panjang lebar.
"Hhh ...."
Daniar hanya menghela napas. Harapan untuk makan bersama, musnah seketika. Sekarang, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamu sendiri? Apa kamu sudah makan, Sayang?" Yandri kembali bertanya seraya membuka kemejanya.
Daniar hanya menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Yandri sepatah kata pun.
Yandri menggantungkan kemejanya di balik pintu. Dia kemudian mendekati Daniar dan kembali bertanya. "Sudah makan?"
Mau tidak mau, Daniar menggelengkan kepalanya. "Maaf, Kang. Niar nungguin Akang pulang," jawab Daniar.
Astaghfirullahaladzim ... istriku mengosongkan perutnya demi menungguku pulang. Sedangkan aku, di tempat kerja aku malah bersenang-senang menikmati makanan bersama yang lainnya. Bener-bener suami yang nggak tahu diri, batin Yandri yang menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Yandri meraih Daniar ke dalam pelukannya. "Maafkan aku Sayang. Aku terlambat pulang dan membiarkan kamu di rumah dengan perut kosong," ucap Yandri.
"Sudahlah Kang, Niar tidak apa-apa, kok," tukas Daniar.
Yandri melepaskan pelukannya. Dia kemudian menatap istrinya penuh kelembutan. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Daniar di belakang telinga.
"Lalu, kenapa kamu belum makan? Apa di rumah tidak ada makanan?" tanya Yandri lagi.
"Ni-niar nggak tahu, Kang. Jujur, Ni-niar enggak berani keluar kamar," jawab Daniar.
"Haish, tapi kenapa?" Yandri kembali bertanya
"Niar malu, Kang," jawab Daniar.
"Ya Tuhan, Niar. Ini bukan rumah orang lain, Sayang, tapi rumah mertuamu. Ibu kamu sendiri," ungkap Yandri.
"Niar tahu, Kang ... tapi Niar juga harus punya waktu untuk beradaptasi. Niar butuh waktu banyak untuk mempelajari situasi di sini," jawab Daniar memberikan alasan yang cukup masuk akal.
Sejujurnya, Daniar enggan keluar kamar semenjak mendengar percakapan ibu mertua dan adik iparnya tadi siang. Namun, Daniar sendiri tidak mau memberitahukan apa yang telah dia dengar kepada suaminya. Daniar tidak ingin menimbulkan salah paham di antara Yandri dan keluarganya.
"Ya sudah, sekarang ayo kita keluar. Kita cari makanan," ajak Yandri kepada istrinya.
Tiba di dapur, Yandri mulai mengedarkan pandangannya. Mencari makanan yang bisa dia hidangkan untuk sang istri. Namun, tidak ada satu pun jenis makanan yang bisa dia suguhkan. Yandri hanya bisa menghela napasnya.
"Apa mungkin ibu tidak masak?" gumam Yandri yang masih bisa didengar oleh istrinya.
"Daniar enggak tahu, Kang. Tapi, sebaiknya Akang tanya ibu saja. Mungkin ibu tidak punya uang untuk membeli sesuatu buat dimasak," ucap Daniar.
"Tidak mungkin, Yar. Kemarin, Akang sudah memberikan uang belanja kepada ibu. Tidak mungkin bisa habis dalam waktu sehari," jawab Yandri.
Deg!
Daniar cukup terkejut mendengar ucapan suaminya.
Memberikan uang belanja pada ibu? Tapi kenapa Kang Yandri tidak memberi tahu aku terlebih dahulu. Meskipun tidak membutuhkan izin seorang istri, tapi setidaknya istri berhak tahu jika suami ingin memberikan sesuatu kepada ibunya, batin Daniar.
__ADS_1
"Ya sudah, Kang. Sebaiknya kita pergi ke warung. Percuma diam di dapur, orang nggak ada sesuatu yang bisa dimakan juga. Yuk, tunjukin warungnya ke Niar. Biar nanti Niar bisa pergi sendirian kalau Akang lagi tidak di rumah," ucap Daniar sedikit ketus.
Entah kenapa, semenjak Daniar tahu perbuatan suaminya di belakang dia, Daniar terlihat kesal. Seolah sedang mendapatkan sebuah pengkhianatan saja.
Seharusnya, jika ingin memberi sesuatu kepada ibu, terus terang saja, Kang. Toh Niar tidak akan pernah menghalangi niat baik Akang. Kalau Akang sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu di belakang Daniar, kesannya Daniar itu seolah mengatur suami, batin Daniar.
"Ya sudah, kita ke warung saja," jawab Yandri.
Yandri kemudian menggenggam tangan Daniar dan mengajaknya ke warung terdekat.
.
.
Sudah hampir satu bulan Daniar tinggal di rumah mertuanya. Dengan telaten, Yandri selalu mengajari Daniar tentang hal-hal baru, seperti bagaimana cara menyalakan tungku api, bagaimana memasak di atas tungku, dan lain sebagainya. Akan tetapi, tetap saja Daniar tidak mampu melakukan semua itu. Mungkin karena sejak kecil Daniar tidak pernah mengenal benda-benda tersebut. Tak jarang, Daniar pun mulai mengeluh kepada Yandri.
"Ish, kenapa kita enggak beli gas sama kompornya aja sih, Kang?" keluh Daniar saat dia sedang berusaha meniup bara api yang hampir padam dengan menggunakan songsong hawu, yaitu sebuah alat berbentuk pipa yang terbuat dari batang bambu. Benda ini digunakan sebagai alat untuk meniupkan udara ke dalam tungku agar api menyala lebih besar.
Yandri tersenyum, sedetik kemudian dia mengambil alat tersebut dari tangan istrinya. Yandri kemudian berkata, "Nanti ya Sayang, kalau kita sudah punya rezeki lebih, baru kita beli kompor beserta gasnya."
"Kalau ada yang masih bisa digunakan secara hemat, ngapain kita buang-buang uang. Lebih baik uangnya ditabung buat beli tempat tinggal. Minimal ngontrak dulu kek. Jangan sok beli barang mahal tapi masih numpang!" celetuk Habibah yang tiba-tiba sudah berada di belakang pasangan muda itu..
Eh, apa maksudnya ini? Apa dia lagi nyindir gua yang emang lagi numpang di rumah mertua? batin Daniar, meradang.
Daniar hendak berdiri untuk menghindari kakak iparnya. Namun, Yandri mencekal pergelangan tangan Daniar dan memberikan isyarat agar daniar tidak menghiraukan ucapan kakaknya.
"Iya, kak. Minta do'anya saja. Semoga Yandri bisa segera memiliki tempat tinggal sendiri," jawab Yandri.
"Halah, mau sampai kapan? Sampai lebaran monyet juga kamu enggak akan sanggup beli rumah. Udah gaji dikit, punya bini banyak maunya. Boros!" Habibah mendengus kesal seraya pergi ke luar lewat pintu dapur.
Ih, dasar wanita enggak tahu diri, ya. Emangnya dia juga nggak nyusahin ibu sama gua? Seenak jidatnya ngomong begitu. Lu nggak sadar apa, kalau hidup lu ma anak lu juga numpang di rumah ibu, gerutu Daniar dalam hati. Ya selalu dalam hati. Daniar tidak ingin memperkeruh suasana lagi dan membuat Yandri merasa gagal mendidik dirinya sebagai seorang istri.
"Ini sudah matang mie-nya, Yang," ucap Yandri membuyarkan lamunan Daniar.
"Eh, i-iya, Kang," jawab Daniar tergagap.
__ADS_1
Selera makan Daniar hilang saat mendengar kalimat cemoohan yang dilontarkan kakak iparnya. Ya, suaminya memang miskin. Tapi tidak miskin hati. Sudah sering Daniar memergoki jika saudaranya mencibir pekerjaan Yandri. Namun, sedikit pun Yandri tidak pernah membenci mereka.
Ya Tuhan ... entah keluarga seperti apa yang dinikahi oleh hamba? batin Daniar.