Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pulang Kampung


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Daniar keluar dari ruangan Bu Aisyah. Kesedihan tampak jelas di raut wajahnya. Entah apa yang menjadi latar belakang sehingga Bu Aisyah mengambil sikap seperti itu. Jika memang dia merasa keberatan Daniar bekerja sambil membawa Bintang ke sekolah, harusnya dari awal Bu Aisyah menolak kehadiran Daniar di sekolah ini. Lantas, kenapa Bu Aisyah baru bertindak setelah hampir satu setengah tahun Daniar bekerja di sekolah yang dia pimpin?


Bel masuk berbunyi bertepatan dengan Daniar yang tiba di depan kerumunan anak-anak yang tengah mengasuh Bintang. Melihat keceriaan di wajah Bintang, rasanya Daniar tidak tega harus menyerahkan Bintang kepada seorang pengasuh. Terlebih lagi, gaji Daniar pun belum tentu cukup untuk membayar seorang pengasuh.


Hmm, mungkin sebaiknya aku resign saja dari tempat ini, batin Daniar.


Namun, saat melihat wajah anak didiknya, Daniar pun merasa tidak tega jika harus meninggalkan mereka tanpa guru pengganti. Mungkin, dia harus mencari guru pengganti terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk resign.


"Ayo anak-anak, kita kembali ke kelas untuk melanjutkan pembelajarannya," perintah Daniar kepada para peserta didiknya.


Satu per satu, para siswa memasuki kelas. Daniar mengambil Bintang. Anak itu merengek meminta susunya. Daniar pun segera membuka botol susu yang selalu dia letakkan di atas meja. setelah itu, dia menidurkan Bintang di sebuah kasur kecil yang berada di samping kursinya. Dia menyerahkan botol susu itu kepada anaknya, hingga lamat-lamat, Bintang pun mulai memejamkan mata. Daniar kembali melanjutkan pekerjaannya.


Beberapa jam berlalu. Bel pulang telah berbunyi. Daniar mengakhiri kegiatan belajar mengajarnya. Setelah anak-anak pergi, Daniar kembali menghempaskan bokongnya di atas kursi guru. Matanya menatap Bintang yang sedang tidur di matras kecil. Sepertinya, anak itu kelelahan hingga setelah minum susunya, dia pun terlelap.


Setengah jam telah berlalu dari Bel kepulangan sekolah. Namun, Yandri masih tidak melihat istrinya memasuki ruang guru. "Ish, ke mana dia? Apa kelasnya belum bubar?" gumam Yandri.


"Kelas siapa yang belum bubar, Pak Yan?" tanya Bu Ovie yang kebetulan berada di belakang Yandri.


"Eh, bu Ovie," ucap Yandri, terkejut, "ini, Bu ... kelas Daniar. Soalnya saya belum melihat istri saya di ruangan ini," lanjut Yandri.


"Oh, mungkin Bu Niar masih berada di kantor kepala sekolah, Pak. Tadi waktu jam istirahat, Bu Aisyah memanggil Bu Daniar ke ruangannya," tutur Bu Ovie.


"Di ruang Bu Aisyah?" ulang Yandri seraya mengerutkan kening. "Ada apa Bu Aisyah memanggil Daniar?" tanyanya.


"Waduh, maaf Pak, saya sendiri tidak tahu," jawab Bu Ovie.


"Baiklah, akan saya lihat apakah Daniar masih berada di sana atau ti–"


"Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


Ucapan Yandri terpotong oleh salam Daniar yang memasuki ruang guru.


"Eh, Bun kok baru datang?" tanya Yandri.


"Iya, Yah. Tadi Bintang tidur, karena itu Bunda nunggu dulu sampai Bintang bangun," jawab Daniar.


"Pak Yan, Bu Niar, saya duluan ya," pamit Bu Ovie.


"Ah iya, Bu. Saya juga mau pulang kok," jawab Daniar.


"Ya sudah, mari Bu ... assalamu'alaikum!" pungkas Bu Ovie seraya pergi dari ruangan guru.


"Wa'alaikumsalam," jawab Yandri dan Daniar bersamaan.


Beberapa menit setelah Bu Ovie pulang, Yandri dan Daniar pun memutuskan untuk pulang.


.


.


Daniar terhenyak, "Eh, iya ... kenapa, Yah?" tanya Daniar.


"Tuh, 'kan, Bunda lagi ngelamun. Eh, tadi kata Bu Ovie, Bunda dipanggil Bu Aisyah, ya? Ada apa keperluan apa Bu Aisyah manggil kamu, Bun?" tanya beruntun Yandri.


Daniar membereskan pakaian yang telah dilipatnya. Dia kemudian merubah posisi duduknya hingga saling berhadapan dengan Yandri. Untuk sesaat, Daniar menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan.


"Sepertinya Bunda akan kembali ke rumah ibu saja, Yah," ucap Daniar lirih.


"Maksud Bunda?"

__ADS_1


Daniar kemudian menceritakan tentang pembicaraannya dengan kepala sekolah tadi siang. Satu pun, tak ada yang dia tutup-tutupi. Hingga yandri sendiri tidak mampu memberikan komentar atas permasalahan yang sedang Daniar hadapi.


"Apa kita akan hidup terpisah lagi, Bun?" tanya Yandri.


"Itu jauh lebih baik daripada kita hidup bersama tapi terus mendapatkan tekanan dari sana-sini. Lagi pula, jujur saja Yah, Bunda tidak sanggup menghadapi sikap keluarga Ayah yang dengan terang-terangan merecoki rumah tangga kita. Setidaknya, jika Bunda tinggal bersama ibu, Bunda tidak harus melihat mereka mengganggu kita. Terlepas Ayah akan lebih memperhatikan kebutuhan mereka atau tidak," tegas Daniar.


"Baiklah, Bun. Jika itu memang sudah menjadi keputusan Bunda, Ayah tidak akan memaksanya. Mungkin untuk saat ini, berpisah adalah jalan yang terbaik. Ayah minta maaf jika Ayah tidak bisa pulang setiap hari. Bunda sendiri tahu, 'kan kondisi keuangan kita, tapi Bunda tidak usah khawatir, tiga hari sekali, Ayah akan pulang untuk menjenguk kalian," kata Yandri.


"Iya, Yah. Tidak apa-apa ... Ayah fokus saja kerja dan berkuliah. Dengan begitu, Ayah bisa segera menyelesaikan pendidikan Ayah dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga kita. Bunda dengar, mudah sekali untuk mendapatkan sertifikasi di sekolah yang dinaungi sebuah yayasan," papar Daniar.


"Iya, Bunda benar," timpal Daniar. "Oh iya, sebaiknya Bunda segera menghubungi ibu tentang rencana kepulangan Bunda. Takutnya, ibu merasa keberatan jika Bunda kembali ke rumah ibu."


Daniar tersenyum. "Enggak akan, Yah. Ibu mana pun enggak akan keberatan jika anaknya ingin pulang," sahut Daniar.


Yandri tersenyum. Ya, ibu mertuanya memang selalu bersikap bijaksana terhadap putri-putrinya. Karena itu, Yandri merasa tenang jika anak dan istrinya berada di sana.


.


.


Setelah berdiskusi dengan suami dan ibunya, akhirnya Daniar memutuskan untuk pulang kampung. Surat pengunduran diri sudah dia serahkan kepada pihak sekolah. Dia juga sudah menawari saudara pak Agus untuk menggantikan posisinya. Terlepas dia akan mendapatkan pekerjaan atau tidak di kampung halamannya, tapi setidaknya pikiran Daniar tidak akan ruwet lagi oleh tekanan dari keluarga sang suami.


"Selamat tinggal, Dedek Bintang. Kami akan merindukan celotehan kamu," ucap Bude saat Daniar dan Bintang berpamitan pulang.


"Iya, Bu. Kami semua pasti akan kehilangan Ibu dan Bintang. Kenapa harus pindah, Bu? Padahal anak-anak di sini sudah terbiasa mengaji di rumah Ibu," timpal Bik Nining.


Daniar hanya tersenyum mendengar ucapan para tetangganya. "Maafkan saya, Bik. Sebenarnya saya sendiri sudah sangat kerasan tinggal di sini. Namun, Ibu saya lebih membutuhkan saya, Bu. Saya tidak tega harus membiarkan ibu tinggal sendirian di rumah," jawab Daniar mencoba memberikan alasan.


"Iya, Bu. Kami paham. Semoga Ibu tidak melupakan kami," balas Bude.

__ADS_1


"Tentu saja tidak akan pernah, Bu. Bagi saya, kalian sudah seperti keluarga saya sendiri," jawab Daniar. "Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu!"


Satu per satu Daniar bersalaman dengan para tetangganya yang begitu baik. Jika boleh jujur, Daniar sendiri merasa berat hati harus pindah dari tempat ini. Namun, takdir orang tidak ada yang tahu. Daniar yakin, selalu ada hikmah dibalik semua takdir yang harus dia jalani.


__ADS_2