
Daniar tersenyum miris ketika mengetahui rumah yang Yandri persembahkan untuk masa depan mereka. Keadaan fisik rumah ini memang sama persis dengan rumah yang pernah digambarkan Daniar. Tiba-tiba, sepenggal kenangan saat mereka masih tinggal di sekolah dulu, melintas dalam benak Daniar.
"Yah, kapan ya, kita bisa punya rumah sendiri?" tanya Daniar, saat mereka sedang bercengkerama di sore hari.
"Insya Allah, Bun. Jika sudah sampai pada waktunya," jawab Yandri sembari terus mengajak main Bintang.
"Hmm ... Ayah selalu saja menjawab seperti itu. Waktunya itu kapan, Yah?" lanjut Daniar.
"Ayah sih, sedikasihnya Tuhan saja, Bun. Percuma juga, 'kan, kita terus menerus berupaya, akan tetapi ... Tuhan masih belum mengizinkannya. Banyak loh, Bun ... orang kaya, pekerjaannya mapan, mobilnya bagus, tapi ... kalau Tuhan belum memperkenankan dia punya rumah, tetep aja dia masih ngontrak ampe sekarang, Bun," tutur Yandri panjang lebar.
"Iya juga ya, Yah," sahut Daniar.
"Memangnya, jika suatu hari nanti Ayah diberikan rezeki lebih untuk memiliki rumah, hmm ... Ayah mau tahu, rumah impian seperti apa yang Bunda inginkan?" tanya Yandri, ingin tahu.
"Yang jelas, jangan terlalu gede, terus enggak usah pake lantai dua segala ... cape entar, Bunda nyapunya," seloroh Daniar.
"Hahaha,... kamu bisa saja, Bun!" kata Yandri sambil tertawa. "Lantas, kamu mau rumah yang seperti apa?" imbuhnya.
"Yang sederhana saja, Yah. Satu ruang tamu, satu ruang keluarga. Kamarnya dua saja. Dapur sama kamar mandi. Itu cukup kok, Yah," papar Daniar. "Oh iya, Yah. Satu lagi ... pokoknya, di kamar kita tuh harus ada kamar mandi yang pake bathub-nya, Yah. Kayak di film-film drakor gitu, hehehe ..." lanjut Daniar, terkekeh.
"Uuh ... dasar ratu drakor," ledek Yandri. "Bunda mau nyobain 'Making Love' di dalam bathtub, ya?" guraunya.
"Aah, kayak yang enggak ada kerjaan aja," tukas Daniar, "enakan di atas kasur, kaleee ... empuk," jawab Daniar, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha,...." Yandri semakin tergelak melihat ekspresi Daniar.
"Iya, Bun. Do'akan saja, semoga keinginan Bunda segera dikabulkan," pungkas Yandri.
"Bun ...!"
Panggilan Yandri sontak membuat penggalan kenangan itu sirna. Daniar menoleh, tampak Yandri menatapnya dengan tatapan memelas.
Yandri berjongkok di hadapan Daniar. Sejenak, dia menundukkan wajah. Menarik napas panjang, hingga akhirnya dia kembali mendongak dan menatap Daniar. Kedua tangan Yandri meraih kedua tangan Daniar sembari menggenggamnya dengan erat.
"Kita sudah memiliki Bintang. Kita sudah punya tempat untuk masa depan kita. Nikmat apalagi yang bisa kita dustakan, Bun? Ayah mohon, kita mulai segalanya dari awal, tanpa embel-embel orang tua yang harus turut campur permasalahan kita, Bun. Kita sudah melewati lima tahun pertama ujian kita, dan juga lima tahun kedua. Ayah sangat berharap jika kita juga bisa melewati lima tahun demi lima tahun yang akan datang, hingga maut yang akan memisahkan kita," tutur Yandri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Daniar sangat terharu mendengar ucapan Yandri. Jauh di lubuk hatinya, dia pun masih sangat mencintai Yandri. Masih ingin selalu bertahan meski mertuanya akan selalu menyerang. Namun, saat ini keadaannya sangat jauh berbeda. Entah kenapa Daniar merasa, jika ketidaksempurnaan yang dimilikinya, mungkin akan selalu dijadikan senjata oleh orang-orang yang tidak menyukainya, agar terlepas dari kehidupan Yandri.
__ADS_1
"Bun!" panggil lirih Yandri. "Bunda mau, 'kan ... mencabut gugatan cerai itu?" pintanya, mengiba.
Sejenak, Daniar menutup mata. Ingin rasanya dia menganggukkan kepala untuk menjawab permintaan Yandri. Namun, keberingasan wajah sang ibu mertua, kembali terekam dalam memori Daniar.
"Maaf, Kang ... Niar enggak bisa."
Tubuh Yandri pun lunglai seketika, saat mendengar jawaban sang istri.
.
.
"Bintang, ayo turun!" ajak salah satu temannya yang sudah lebih dulu memasuki kolam renang.
Namun, sepertinya Bintang tidak mendengar ajakan temannya itu. Selepas melakukan pemanasan, Bintang masih asyik duduk di tepi kolam seraya menopang dagunya.
Ucapan kedua orang tua Bintang tentang penandatanganan dokumen perceraian, semakin meyakinkan Bintang jika orang tuanya memang telah resmi berpisah.
"Uuh ... pantas saja semalam ayah tidur di kamarku," keluh bintang dalam hatinya.
"Ih buset! Gila lu!" pekik Bintang.
"Lagian, lu ngelamun aja sih, Bin. Kenapa?" tanya teman Bintang yang sedari tadi memanggilnya.
"Sepertinya, kedua orang tua Bibin sudah resmi bercerai, Ra," kata Bintang.
Rara –sahabat Bintang– menghela napasnya.
"Sabar ya, Bin ... Rara juga enggak tahu kudu ngomong apa," ucap Rara.
Bintang hanya tersenyum tipis. "It's oke, Ra! Lagi pula ... Bibin sudah menduga kalau semua ini bakalan terjadi," jawab Bintang.
"Terus, entar kamu ikut siapa?" tanya Rara.
"Maksud kamu?" Bintang balik bertanya karena merasa kebingungan dengan pertanyaan sahabatnya.
"Biasanya, anak yang orang tuanya berpisah, mereka suka ditanyai mau ikut ayahnya, atau ibunya," jelas Rara.
__ADS_1
"Emang, Kamu tahu dari mana, Ra?" tanya Bintang.
"Tante Rara, 'kan berpisah sama om Rara. Terus si Jason, sepupu Rara, dia ditanya sama om Ikbal, 'mau ikut Daddy, atau Mommy'. Gitu katanya, Bin," jawab Rara, lebih memperjelas lagi maksud perkataannya.
Bintang bergeming. Jika hal itu memang akan terjadi pada dirinya, dia pasti merasa dilema. Karena bagaimanapun, dia tidak akan mampu memilih antara ayah dan bundanya.
Priiit!
Bunyi panjang peluit guru olahraga, sontak membuyarkan lamunan Bintang. Gadis kecil itu pun berdiri dan segera mengikuti Rara yang sudah berlari terlebih dahulu untuk berbaris bersama teman-temannya.
.
.
"Sejak saat ini, majelis hakim pengadilan agama memutuskan, jika kalian bukan lagi sepasang suami istri!" tegas hakim.
Kedua lutut Yandri dan Daniar terasa sangat lemas. Namun, mereka berusaha untuk tetap kuat dalam menghadapi ujian perpisahan ini.
"Bagaimana dengan hak asuh putri kalian?" tanya Pak Hakim.
"Maksud Yang Mulia?" Yandri dan Daniar balik bertanya secara berbarengan.
"Begini, Pak, Bu. Dalam agama, jika terjadi sebuah perpisahan dalam ikatan perkawinan dan memiliki anak, maka anak yang belum mumayyiz, dia akan diasuh oleh ibunya. Setelah itu, jika anak sudah mumayyiz, maka hak pemeliharaan akan diserahkan kepada anak untuk menentukan sendiri siapa yang akan mengasuhnya," papar Pak Hakim, "pihak ayah, atau ibunya," imbuhnya.
"Untuk hak asuh anak, kami sudah memutuskan untuk mengasuh dan memelihara anak kami secara bersama-sama, Pak. Mungkin, sepulang dari sini ... kami akan berdiskusi lagi tentang pembagian waktu hak asuh anak kami," jawab Yandri.
"Baiklah, saya paham. Namun, alangkah lebih baik, jika kalian sudah memiliki keputusan, kalian utarakan semuanya di depan saksi untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari," saran Pak Hakim.
"Baik, Pak. Kami paham," jawab Daniar.
"Ini dokumen kalian. Kalau begitu, saya permisi dulu!"
Yandri dan Daniar menerima berkas-berkas dokumen perceraian yang telah mereka tanda tangani. Setelah hakim pergi, Yandri dan Daniar pun keluar dari ruang persidangan.
Yandri melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum kelas renang Bintang berakhir.
"Ayo kita jemput Bintang, Bun! Setelah itu, kita ajak Bintang ke tempat wahana permainan."
__ADS_1