
Keesokan harinya, meski terasa berat karena harus meninggalkan si kecil dalam kurun waktu seminggu, tapi Yandri harus ikhlas. Sudah cukup lama Yandri tidak masuk sekolah karena harus menunggui istrinya di rumah sakit. Sekarang, tidak ada alasan lagi bagi Yandri untuk selalu berkumpul bersama anak istrinya. Karena Daniar telah pulang ke tengah orang-orang yang menjaganya.
"Loh, Ibu Maryam mau ke mana?" tanya Bu Salma yang pagi-pagi sudah melihat Bu Maryam keluar dari kamar tamu seraya menenteng tas jinjingnya
"Saya mau ikut pulang bersama Yandri, Bu," jawab Bu Maryam.
Daniar yang saat itu kebetulan hendak pergi ke kamar mandi, seketika terpaku mendengar jawaban mertuanya. Semalam, kang Yandri bilang jika Ibu akan menginap selama seminggu. Tapi baru satu malam saja, Ibu sudah terburu-buru ingin pulang. Ah, apa mungkin Ibu tidak betah menginap di sini? batin Daniar.
"Tadinya saya pikir Ibu mau tinggal di sini ya minimal sampai aqiqahnya Bintang. Tapi sudah ingin pulang saja. Kenapa, Bu? Enggak betah, ya tinggal di sini?" terka Bu Salma.
"Ah, enggak Bu. Saya betah kok. Hanya saja, saya ada tanggung jawab lain di rumah. Maklum lah, Habibah itu, 'kan hidup sendirian saat ini. Jadi kalau Habibah sedang bekerja, putranya saya yang asuh," jawab Bu Maryam.
"Ish, Ibu ... kok buru-buru, sih? Padahal kami sangat berharap jika neneknya juga bisa hadir di acara aqiqah Bintang," sambung Daniar.
"Tidak apa-apa, Niar. 'Kan masih ada enin sama akinya yang mewakili Ibu," tukas Bu Maryam.
Daniar hanya tersenyum mendengar jawaban mertuanya. "Ya sudah, kalau itu memang sudah jadi keputusan Ibu, Daniar enggak bisa maksa," pungkas Daniar.
Karena sudah tidak bisa dihalangi lagi, Yandri akhirnya membawa ibunya pulang. Begitulah sifat sang ibu jika sudah memiliki keinginan. Keras dan tak bisa dibantah.
.
.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap Yandri begitu tiba di rumahnya. Setelah menaruh tas milik ibunya di kamar, Yandri berpamitan kepada ibunya. "Yandri berangkat sekolah dulu, Bu. Tas Ibu sudah Yandri taruh di kamar Ibu," kata Yandri
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Nak," jawab Bu Maryam.
Yandri tersenyum. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih dan mencium punggung tangan sang ibu.
Setelah kepergian anaknya ke sekolah, Bu Maryam pun segera memasuki kamarnya. Sejenak, dia merebahkan diri di atas ranjang. Karena tidak terbiasa menaiki kendaraan umum, kepala Bu Maryam terasa berat. Wanita renta itu mulai memejamkan mata untuk meringankan sakit di kepalanya.
Tok-tok-tok!
Ketukan di pintu kamarnya membuat Bu Maryam mengerjap. Dia kemudian bangun dan turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
"Habibah? Ada apa kamu datang ke kamar Ibu, Nak?" tanya Bu Maryam.
"Ibu, apa Ibu punya waktu sebentar? Ada hal penting yang harus Bibah bicarakan dengan Ibu," jawab Habibah.
__ADS_1
"Masuklah!" perintah Bu Maryam, membuka pintunya lebih lebar lagi agar Habibah bisa masuk.
Tiba di kamar ibunya, Habibah segera duduk di tepi ranjang. Begitu juga dengan Bu Maryam yang ikut duduk di samping Habibah.
"Mau bicara apa, Bah? Kok sepertinya serius sekali," tanya Bu Maryam sambil melipat selimutnya.
"Semalam, kang Bahar melamar Habibah."
Deg!
Ucapan pelan Habibah seketika menghentikan gerakan Bu Maryam. Kedua matanya menatap sang putri begitu lekat.
"Kok, I-ibu natap Bibah seperti itu?" tanya Habibah seraya menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, Bah. Ibu hanya tidak percaya saja. Setelah sekian lama kamu menjanda, akhirnya kamu membuka hati juga untuk pria lain," jawab Bu Maryam.
"Iya, Bu. Setelah Bibah pikir-pikir, apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ali butuh sosok seorang Ayah. Rasanya hati Bibah sakit saat setiap malam Ali mengeluh karena diganggu teman-temannya. Mereka bilang kalau Ali tak punya ayah. Meskipun pada kenyataannya benar, tapi entah kenapa Bibah tidak bisa menerima perlakuan mereka terhadap Ali," tutur Habibah.
"Jadi, kamu memutuskan menikah lagi hanya karena Ali? Bukan karena kamu memang mencintai Bahar?" tanya Bu Maryam.
"Itu yang utama, Bu. Urusan cinta, itu menjadi urutan yang kedua. Toh cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Lagi pula, kang Bahar sudah bisa membuktikan jika dia begitu perhatian kepada Bibah dan Ali. Dia juga seorang duda yang cukup mapan, Bu. Karena itu Bibah yakin kang Bahar bisa membahagiakan Bibah dan Ali."
"Baiklah Habibah, jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu, Ibu restui. Lalu, kapan niat baik ini akan kalian wujudkan?" tanya Bu Maryam.
Sekali lagi, jantung Bu Maryam dibuat seolah berhenti berdetak oleh jawaban Habibah. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya. Namun, karena Habibah seorang janda, Bu Maryam pun enggan mencampuri urusan anaknya terlalu jauh. Di tempat dia tinggal, sangat tabu mencampuri keputusan yang diambil perempuan yang sudah pernah menikah. Menurutnya, perempuan seperti itu sudah cukup matang dan dewasa dalam mengambil sebuah keputusan dalam hidupnya.
"Bagaimana, Bu? Jika Ibu izinkan, nanti malam kang Bahar akan membawa orang tuanya untuk melamar Habibah secara resmi," ucap Habibah membuyarkan lamunan Bu Maryam.
"Eh, i-iya, Bah. Katakan saja sama Bahar jika Ibu mengizinkan dia melamar kamu nanti malam. Hmm, kalau begitu, kita harus siap-siap masak, Bah. Untuk jamuan mereka nanti malam," kata Bu Maryam.
Habibah hanya menundukkan kepala mendengar perkataan ibunya.
"Loh, kenapa Bah? Ayo kita ke dapur?" ajak Bu Maryam.
"Tapi ... Bibah enggak punya uang, Bu. Kerjaan Bibah belum dibayar. Katanya minggu depan baru gajian. Bos Bibah sedang pergi ke luar kota," ujar Habibah.
"Huft!" Bu Maryam membuang napasnya kasar. Untung saja dia masih memiliki sisa uang pemberian Yandri minggu lalu. "Ya sudah, Ibu masih ada sisa uang pemberian Yandri seminggu yang lalu. Kamu bisa gunakan itu dulu, Bah. Pergilah ke warung untuk membeli bahan makanan. Kita harus membuat jamuan yang berkesan untuk keluarga Bahar. Bukankah mereka keluarga yang cukup terpandang di kampungnya?" kata Bu Maryam.
"Iya, Bu."
__ADS_1
Akhirnya Bu Maryam menyerahkan sisa uang tersebut kepada Habibah. Sejurus kemudian, Habibah keluar dan segera pergi ke warung.
.
.
Pukul 13.20, Yandri tiba di rumahnya. Wangi aroma masakan, tercium hingga ke pintu depan. Perut Yandri yang memang telah keroncongan, akhirnya memaksa Yandri berkunjung ke dapur tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Wah, makan enak nih ... ada acara apaan, Kak?" tanya Yandri kepada Habibah yang sibuk mengaduk gulai ayam di atas wajan.
"Hmm, enggak ada acara apa-apa, Yan. Cuma temen Kakak saja yang mau main kemari," jawab Habibah.
"Hmm, temen apa temen ..." goda Yandri.
"Ish apaan sih, Dek," tukas Habibah bersemu merah pipinya.
"Ngomong-ngomong, Yandri lapar nih Kak, boleh nyicip nggak?" tanya Yandri seraya mengusap perutnya.
"Ambil aja Dek, tapi enggak boleh maruk, ya," canda Habibah.
Yandri hanya mengerucutkan bibirnya menimpali candaan sang kakak. Setelah diberi izin, Yandri akhirnya menyendok nasi dan juga gulai ayam sebagai santap siangnya.
.
.
Seperti yang sudah dijanjikan, keluarga Bahar tiba di rumah Habibah bertepatan dengan kumandang azan isya. Setelah berbincang-bincang sejenak, akhirnya Bahar –duda beranak dua– mengutarakan maksud kedatangannya bersama keluarga.
"Jadi, kira-kira seperti itu, Bu. Saya ingin meminta restu Ibu untuk menjadikan Habibah sebagai istri saya," ucap Bahar.
Bu Maryam tersenyum. "Hmm, Ibu tidak bisa berkata apa-apa, Nak. Habibah sudah cukup dewasa dalam mengambil keputusan. Kalau Ibu sih, terserah yang mau menjalani saja," jawab Bu Maryam.
"Jadi bagaimana, Bibah? Apa kamu bersedia menjadi menantu saya?" tanya Bu Esih, yang tak lain adalah ibunya Bahar.
Sambil menundukkan kepala, Habibah pun menjawab. "Iya, saya bersedia, Bu."
Yandri yang hendak memasuki rumahnya, seketika terpaku di depan pintu yang masih tertutup. Dia terkejut mendengar jawaban Habibah.
Bukankah dulu kak Bibah pernah menolak maksud laki-laki itu? Tapi kenapa sekarang kak Bibah malah menerima lamarannya? batin Yandri tak mengerti.
__ADS_1
Namun, terlepas dari semua keraguan Yandri tentang laki-laki itu, Yandri sadar jika dia tidak berhak ikut campur dalam menentukan masa depan kakaknya.
Hmm, sudahlah ... mungkin memang ini sudah takdir jodoh mereka.