
Selesai mengenakan seragamnya, Bintang kembali ke dapur untuk sarapan. Tiba di dapur, dia mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan ibunya. Namun, bunyi gemericik air di kamar mandi, menandakan jika di dalam sana tengah ada orang.
"Hmm, mungkin bunda sedang mandi," gumam Bintang.
Anak perempuan yang sudah menginjak remaja itu, mengayunkan langkahnya mendekati kamar mandi. Sedetik kemudian, Bintang mengetuk pintu kamar mandi.
"Bun, apa Bunda sudah selesai mandi?" tanya Bintang.
"Sebentar lagi, Nak," sahut Daniar dari dalam kamar mandi, "kamu sarapan duluan saja, Nak!" imbuhnya.
"Iya, Bun," jawab Bintang.
Remaja itu pun kembali mengayunkan langkah menuju meja makan. Bintang membuka tudung saji. Dia sangat terkejut mendapati kue tart dengan tulisan 'Selamat Ulang Tahun Cahayanya Bunda'.
Tanpa sadar, Bintang menitikkan air mata melihat kejutan yang sudah disiapkan ibunya.
"Selamat ulang tahun, Bintang Azura," bisik lembut Daniar di telinga putrinya.
Bintang menoleh. Melihat wajah ibunya yang selalu meneduhkan, tak ayal lagi membuat Bintang menjatuhkan diri ke dalam pelukan hangat sang bunda. Tanpa dikomando, air mata Bintang berlomba-lomba turun hingga membasahi handuk kimono yang dikenakan ibunya.
"Sst, masak anak gadis Bunda nangis di hari ulang tahunnya, sih," tegur Daniar menggoda anaknya.
"Buundaa ... hiks ..." rengek Bintang.
Daniar hanya tersenyum mendengar rengekan putrinya yang sudah bukan anak-anak lagi. Sejenak, dia menguraikan pelukannya hingga berdiri saling berhadapan dengan Bintang.
"Selamat ulang tahun. Sehat paripurna, Sayang. Semoga apa yang kamu cita-citakan, semuanya tercapai. Maafkan Bunda yang belum bisa mencukupi semua kebutuhan kamu. Namun, Bunda berjanji ... Bunda akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik buat masa depan kamu," ucap Daniar.
Bintang tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa kembali memeluk ibunya.
"Sudah ah, jangan nangis terus. Nanti cantiknya ilang." Daniar kembali menggoda putrinya. "Ayo, cicipin kuenya, Nak. Ini pertama kalinya Bunda praktikkan ilmu Bunda," lanjut Daniar.
"Hmm, pasti lezat, Bun," sahut Bintang seraya meraih pisau kue yang ada di atas pisin.
Bintang memotong kue tart rasa coklat kesukaannya. Dia lalu menyendok potongan kue itu dan memberikannya kepada Daniar.
"Suapan pertama untuk Bunda. Terima kasih karena sudah menjadi Bunda dan ayah terbaik buat Bintang," kata bintang seraya memasukkan potongan kue itu ke mulut ibunya.
Daniar sangat terharu mendengar ucapan putrinya. Lihatlah, putri kita sudah besar, kang, batin Daniar.
.
__ADS_1
.
Di lain tempat.
Yandri menatap tart coklat di hadapannya. Rasa rindu telah membaluti seluruh jiwanya. Terlebih lagi, dia sudah tidak pernah mendapatkan kabar tentang anak dan mantan istrinya.
Seandainya mampu, Yandri ingin mengakhiri masa pendidikannya secepat mungkin. Hanya saja, dia tidak bisa mengambil keputusan sebelah pihak. Atau dia akan didiskualifikasi dan dikenakan pinalti oleh pihak lembaga yang memberinya beasiswa.
Selamat ulang tahun, bintang Azura. Tetaplah menjadi cahaya untuk kami sebagai orang tuamu, Nak. Do'akan ayah agar bisa segera menyelesaikan disertasi dan kembali kepada kalian. Do'a Yandri dalam hatinya.
.
.
"Rin, bisa bantuin aku enggak?" bisik Bintang kepada Arini, teman sebangkunya.
"Bantuin apa, Bin?" Arini balik bertanya.
"Tolong bagikan ini ke teman-teman kelas kita," jawab Bintang seraya menyerahkan sebuah kotak yang sedari tadi dia letakkan di pangkuannya.
Arini mengernyitkan keningnya. "Apa ini, Bin?"
"Buka saja!"
"Hmm ... yummy ..." gumam Arini seraya merapatkan kedua bibirnya. "Dalam rangka apa nih, Bin, kamu bagi-bagi cupcake?" tanya Arini, menatap heran kepada teman sebangkunya.
"Ish, kepo banget. Udah ah, buruan bagiin. Sebelum bel masuk berbunyi," perintah Bintang.
"Eh, jangan-jangan ... kamu ulang tahun, Bin?" Tebak Arini.
Bintang hanya tersenyum lebar. Menampilkan deretan giginya yang putih bersih.
"Aih ... selamat ya, Bin!" ucap Arini, menaruh box cupcake dan menarik Bintang ke dalam pelukannya. Sedetik kemudian, Arini melepaskan kembali pelukannya. "Kok kamu enggak bilang sih, kalau kamu ulang tahun hari ini. Kalau aku tahu, aku, 'kan bisa siapkan kado buat kamu," tutur Arini.
"Hehehe, do'anya saja, Rin," sahut Bintang. "Ya udah, bagiin, gih!" Kembali Bintang meminta tolong kepada sahabatnya itu.
Arini beranjak dari bangku. Sejurus kemudian, dia mengayunkan langkah ke depan kelas sambil membawa kotak yang diberikan Bintang.
"Hai teman-teman ... mohon perhatiannya sebentar!" teriak Arini.
Kegaduhan di dalam kelas pun sontak berhenti. Arini memang orang yang begitu diperhatikan gerak-geriknya oleh teman sekelas. Selain cantik, dia juga cukup bawel dan cerewet. Namun, dalam sekejap dia akan menjadi orang yang tegas saat melihat temannya bersikap tidak disiplin. Karena itu dia dipilih menjadi ketua kelas oleh kawan-kawannya.
__ADS_1
"Teman-teman semua yang aku sayangi dan aku hormati," ucap Arini membuka pembicaraan. "Hari ini aku punya sebuah pengumuman untuk kalian. Apa ada yang penasaran, apa yang ingin aku umumkan hari ini?"
"Uh, sudah deh Arin. Ini masih pagi, enggak usah berteka-teki," teriak salah seorang siswa di kelasnya.
"Hehehe, ... iya-iya. Emmh, hari ini aku ingin memberikan sesuatu untuk kalian. Silakan semuanya berbaris dan maju ke depan satu per satu!"
Arini kembali memberikan perintah. Dan seperti biasanya, siswa satu kelas pun sangat patuh kepada perintahnya.
Satu per satu, para siswa maju ke depan untuk menerima cupcake dari Arini. Umumnya, para siswa itu merasa heran karena tidak ada angin tidak ada hujan, ketua kelasnya yang terkenal pelit, berubah baik dalam sekejap.
Namun, lucunya bentuk cupcake yang diberikan Arini, membuat mereka mengabaikan alasan si ketua kelas membagi-bagikan kue mini tersebut. Hingga seseorang menyeletuk dengan kencangnya.
"Lu ultah, Rin? Tumben bagi-bagi kue," celetuk Adwira.
"Hehehe, bukan gue yang ultah, Wir. Tapi si Bintang," sahut Arini.
Semua siswa tampak menoleh ke arah gadis pendiam itu. Membuat si gadis menjadi kikuk dan hanya berpura-pura menyibukkan diri dengan buku catatannya.
Uh semua ini gara-gara bunda. Sudah aku bilang enggak usah ya enggak usah, salting, 'kan jadinya, gerutu Bintang dalam hati.
.
.
Mungkin inilah yang namanya berkah ulang tahun. Entah ulah siapa. Namun, cupcake mini buatan Daniar kini menghiasi beranda-beranda media sosial dengan tajuk Cupcake Viral.
Bentuknya yang mini dengan toping beraneka ragam bentuk lucu, membuat cupcake itu semakin unik dilihat. Terlebih lagi, ulasan tentang rasa yang lezat, membuat para netizen bertanya-tanya, di mana mereka bisa mendapatkan cupcake viral itu.
Hingga tiba-tiba, ponsel Bintang kebanjiran orderan cupcake yang pernah dibagikannya.
"Bagaimana ini, Bun?" tanya Bintang sembari memperlihatkan orderan cupcake di ponselnya.
"Hmm, gimana lagi. Sudah terlanjur viral juga di media sosial. Ya sudah, kita terima saja orderan mereka," sambung Daniar.
"Bunda yakin?" Bintang kembali bertanya.
"Ya. Kenapa tidak?" kata Daniar.
Tapi masalahnya ... kita kebanjiran orderan, Bun," lanjut Bintang, sedikit ragu.
"Hmm, memang seberapa banyak orderannya, Nak?"
__ADS_1
Bintang melihat kembali ponselnya. "Emh ... sekitar 500 buah dari 15 orderan, Bun."
"Apa?!"