Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bingung


__ADS_3

Deg


Jantung Yuna berdegup kencang mendengarkan perkataan Barack. Ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suara dari mulutnya. Ia sedang memcerna apa maksud dari perkataan Barack. Cukup lama Yuna dalam keadaan diam dan berkelut dengan pikirannnya sendiri. Suara sendok jatuh menyadarkan Yuna dari lamunannya. Ia sadar dan melihat Barack sudah menghilang dari hadapannya. Yuna segera mengambil tasnya dan berlari keluar restoran mencari keberadaan Barack. Sebelum benar-benar keluar restoran langkahnya terhenti. Ia menyadari sesuatu.


“ ahh iya aku bahkan belum membayar” ucap Yuna yang kembali masuk ke dalam restoran dan menuju kasir dengan setengah berlari.


Sesampainya di kasir, Yuna hendak mengeluarkan dompetnya, namun dicegah oleh salah seorang kasir


“maaf nona makanan anda sudah dibayar oleh teman yang bersama Anda tadi” Kata kasir yang tepat berada dihadapan Yuna.


“Oh baiklah, terima kasih”. Ucap Yuna kemudian berlari keluar restoran menuju tempat parkir.


Ia mencari keberadaan Barack. Ia hendak meminta penjelasan tentang ucapan Barack yang sempat mengagetkan Yuna. Dengan setengah berlari Yuna mencari keberadaan Barack di area Parkir. Ia yakin Barack belum meninggalkan restoran.


Yuna Mengelilingi area parkir dengan nafas memburu akibat berlari, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mengatur nafas sambil memegang dadanya.


“Ahhh cepat sekali perginya, aku bahkan belum bertanya apa maksud perkataanya. Apakah dia tidak mau menemui ku lagi?" Guman Yuna yang hampir tidak terdengar karena masih sibuk mengatur nafasnya.


“Sudalah, Lebih baik aku kembali ke kantor aku akan mencarinya nanti sepulang bekerja” batin Yuna sambil barajak dari tempatnya dan menuju ke tempat mobilnya berada.


*


*


Tiba di Gedung MP pusat perkantoran, Yuna segera menuju ke arah lift dan bersiap naik ke lantai 16 yang merupakan tempat Perusahaan In Group dimana Yuna bekerja sebagai Supervisior. Sampai dilantai 16 Yuna segera menuju meja kerjanya.


”Sudah selesai jalan-jalannya nona Yuna” Goda Jen Salah satu rekan kerja Yuna di kantor.


“Awas kau Jen, tunggu pembalasanku” Jawab Yuna sambil melemparakn gulungan kertas ke arah Jen.


“Sudah sana mending kau kumpulkan laporan itu segera, toh laporan itu sudah selesai. Kata Jen


”Berikan aku waktu bernafas sebentar Jen” jawab Yuna dengan menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.

__ADS_1


Yuna masih enggan menemui Wakil Direktur Sam, ia masih memikirkan perkataan Barack. Perkataan Barack seolah masih menggema ditelingannya dan terus berulang seperti sedang mendengar rekaman.


”Huufffttt” Yuna Kelihatan tidak bisa fokus bekerja, ia berkali-kali berdegus kesal sambil memejamkan mata.


“Ayo sana temui wakil Direktur Sam, nanti tua bangka kesayangan mu itu menggila jika kau tidak segera memberikan laporan” Ucap Rexy rekan kantor Yuna yang tiba-tiba berdiri dihadapannya dan menepuk pundak Yuna.


Yuna tidak menanggapi ucapan Rexy dia hanya memukul lengan Rexy, ia enggan berdebat dan memilih diam sambil memejamkan mata. Melihat yang digoda tidak merespon, Rexy segera meninggalknan Yuna dan kembali ke mejanya sendiri.


Setelah hampir 15 menit Yuna menutup mata, tiba-tiba ia sadar akan satu hal. Ia segera mengambil handphone yang berada didalam tas dan segera menelpon seseorang.


“ hallo, kau dimana?” Ucap Yuna ketika panggillnya di jawab


“aku sedang berada di Cafe, kau rindu padaku?”


“Tentu saja Marcih, aku akan menemui mu sepulang dari sini. Ada banyak yang ingin ku sampaikan padamu” Jawab Yuna kepada Marcih.


”oke, aku akan menunggumu di Cafe, lanjutkan perkerjaanmu, sampai bertemu nanti. Bye” Ucap Marcih memutuskan penggilan Yuna.


Setelah menelpon Marcih ada sedikit kelegaan di hati Yuna. Marcih akan selalu menjadi sandaran Yuna tentang semua hal, satu-satunya teman Yuna yang bisa mengerti dan bisa ia percaya. Ia tidak akan segan membiacarakan masalah apapun kepada Marcih. Yuna akan merasa bebannya sedikit teragkat jika sudah bercerita kepada temannya itu. Marich pun senang tiasa mendengarkan semua keluh kesah Yuna, ia akan sedikit menjadi penasehat sekaligus “pengomel” Yuna, ya kadang ia merasa seperti ibu bukan teman.


“aku akan menemui wakil direktur tua bangaka itu” kata Yuna yang berbisik kepada Mariza.


“apa kau yakin?” tanya Mariza memastikan.


“Sangat yakin, aku sudah memeriksannya. Dan ini akan sempurna dimata Pak tua bangka. Setidaknya aku tidak perlu melihatnya besok pagi cukup hari ini aku bertemu dengannya” jawab Yuna yang sedikit tersenyum sambil melihat laporan yang ia pegang.


“hahaha kau ini, sudah sana cepat hilangkan beban mu”. Kata Mariza sambil mendorong tubuh Yuna agar ia segera ke ruangan Wakil Direktur Zam.


Ia dengan percaya diri melangkah ke rungan wakil direktur.


TOK


TOK

__ADS_1


TOK


Yuna mengetuk pintu rungan wakil direkur Sam. Yuna menunggu dengan sabar sampai dipersilahkan masuk. Yuna segera bergegas masuk Setelah mendengar suara dari dalam ruangan yang mempersilahkkannya.


”Selamat Sore Pak, maaf menggangu waktu Anda, saya ingin menyerahkan laporan yang bapak koreksi tadi” kata Yuna yang membuka percakapan sambil meletakkan lapoaran diatas meja tepat di depan wakil Direktur Sam.


Wakil direktur Sam segera mengambil laporan yang berada dihadapannya dan segera membacanya.


”apa kamu yakin sudah tidak ada masalah dalam laporan ini?” Tanya Wakil Direktur Sam tanpa menoleh kearah Yuna, ia fokus membaca lembaran demi lembaran laporan.


“saya yakin pak” jawab Yuna lantang.


Dalam beberapa saat suasana di dalam ruangan wakil direktur sedikit hening. Tidak ada percakapan yang terjadi sampai akhirnya wakil direktur Sam selesai membaca laporan yang dibuat Yuna.


“Ok , saya terima laporan kamu. Seperti biasa kamu selalu membanggakan. Jangan ulangi kesalahanmu tadi pagi. Saya sempat heran kenapa bisa seorang Yuna sang Perfectsionis melakukan kesalahan” Ucap wakil direktur sambil melirik ke arah Yuna dengan senyum liciknya.


“dasar tua bangka, kenapa kau tersenyum gila kepadaku, aku bahkan sudah merasa jijjik hanya dengan kau tersenyum seperti itu”. Batin Yuna. Ia marasa sangat tidak nyaman dengan tatapan atasannya itu.


“Terima kasih atas pujiannya Pak, saya kedepannya akan sangat hati-hati dalam melakukan pekerjaan” Jawab Yuna dengan senyum terpaksa nya.


“ Oke baiklah kau boleh keluar” Ucap wakil direktur yang masih memandangi Yuna dengan lirikan liciknya.


“baik pak, selamat sore” Jawab Yuna sambil membukkan badan dan berjalan dengan langkah seribu keluar dari ruangan wakil direktur.


Yuna berjalan kembali ke meja kerjanya, ia duduk dikursi sambil membating badannya dengan kasar. Melihat Yuna yang kembali dengan tangan kosong membuat kelegaan seketika. Mereka meyakini laporan tersebut sudah pasti diterima wakil direktur. Ekspresi kekesalan Yuna seperti bisa sudah bisa di baca oleh rekan kerjanya. Bukan hal tabu ketika Yuna keluar dari runagan wakil direktur ekspresinya akan tetap sama itu. Mereka bahkan tidak heran jika Yuna akan menggila dan berteriak sambil mengumpat. Kali ini Yuna cukup tenang, ia hanya menujukkan dengan ekspresi tanpa terikan. Dia merasa sedikit lega setidaknya ia tidak perlu wakil direktur besok pagi.


*


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 17.30 waktu ideal untuk meninggalkan kantor dan kembali ke kehidupan pribadi masing-masing. Bagi mereka yang sudah tidak memiliki pekerjaan akan bergegas meniggalkan kantor. Sama halnya dengan Yuna, ia merasa sudah muak duduk di kantor ia butuh energi baru. Ia memutuskan meninggalkan kantor menuju ke cafe milik Marcih.


Bersambung.


Happy Reading 😍

__ADS_1


jangan Lupa Vote nya


__ADS_2