Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menemui Ayah


__ADS_3

"Robert?" tanya Pak Fandi dan Daniar berbarengan.


"Eh." Bu Salma terlihat gelagapan menyadari dia keceplosan bicara.


"Siapa itu Robert, Bu?" tanya Pak Fandi. "Sebenarnya, apa rencana Ibu? Siapa yang akan kita temui malam ini?" desak Pak Fandi yang memang tidak mengetahui apa pun tentang jamuan makan malam ini.


Pak Fandi berpikir, jika jamuan ini datang dari kerabat istrinya. Beberapa hari yang lalu, istrinya menelepon dan memintanya pulang karena ada hal yang penting yang harus dibicarakan. Dan hal tersebut berhubungan langsung dengan kedatangan kerabatnya dari luar Jawa.


"Ma-maafkan Ibu, Yah," ucap Bu Salma terbata.


"Jangan bilang jika Ibu hendak menjodohkan Daniar kembali dengan laki-laki pilihan Ibu," tuding Pak Fandi.


"Maaf!" Bu Salma semakin menundukkan kepalanya.


"Astaghfirullahaladzim, Bu ... kok Ibu tega banget sih? Apa Ibu tidak memikirkan perasaan Daniar," pekik tertahan Pak Fandi.


"Sudah, Yah. Jangan dilanjutkan lagi, malu dilihat orang lain." Daniar mencoba meredakan kekesalan sang ayah.


"Ish, Ayah enggak habis pikir sama sikap Ibu kamu, Nak. Dia itu terlalu memaksakan kehendaknya," dengus Pak Fandi.


"Ibu tidak memaksakan kehendak, Yah. Ibu hanya sedang berikhtiar saja. Danita sudah punya calon, Ibu tidak mau Daniar dilangkahi menikah sama adiknya. Itu saja." Bu Salma mencoba membela dirinya.


"Hhh ..." Pak Fandi menghela napasnya. Sedetik kemudian, dia berkata, "Bu, jodoh, maut, dan rezeki itu, sudah ada yang mengatur. Sakuat apa pun Ibu berusaha, jika jodoh Daniar memang belum ada untuk saat ini, Ibu tidak bisa memaksakan kehendak ibu sendiri," tutur Pak Fandi.


Bu Salma semakin menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan sang suami memanglah benar. Semua kehidupan di dunia ini, telah ada yang mengaturnya.


"Sudah Yah, Bu ... sebaiknya kita pulang saja. Lagi pula, ini sudah sangat malam. Kasihan Danita di rumah sendirian." Daniar mengajak kedua orang tuanya pulang.


Akhirnya, Pak Fandi dan Bu Salma mengikuti saran Daniar.


.


.


Tiba di kamar, Daniar menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya terasa berat. Meskipun cacing di perutnya mulai meronta. Namun, Daniar tidak mempedulikannya. Kejadian hari ini telah cukup membuat pusing Daniar.


Apa yang dikatakan ayahnya memang benar. Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun, Daniar pun tidak bisa menyalahkan usaha ibunya begitu saja. Daniar bisa memahami perasaan Bu Salma. Ya, Ibu mana yang tega melihat anak sulungnya dilangkahi menikah oleh anaknya yang lain. Sekalipun anak kandungnya sendiri.


Ya Tuhan ... benar-benar ujian yang luar biasa, batin Daniar seraya memejamkan mata.


Tiba-tiba Daniar teringat akan perkataan Yandri. "Ish, gara-gara bertemu seno, aku sampai lupa mengabari Yandri tentang kedatangan ayah," gumamnya


Daniar mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Namun, saat dia hendak menghubungi Yandri, dia melihat jika waktu sudah menunjukkan pukul 22.45. Daniar kemudian mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Sebaiknya, besok saja aku sampaikan langsung kepada Yandri. Bukankah besok jadwal bimbingan Yandri di kampus?" Monolog Daniar seraya menyimpan kembali ponselnya di atas bantal.


Setelah melepaskan lelah untuk beberapa menit, Daniar pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lepas itu, dia pun menunaikan salat Isya.


Ya Allah, ampuni segala dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi hamba. Pertemukanlah jodoh hamba seperti Engkau mempertemukan Adam dan Hawa. Aamiin Allahumma Aamiin. Do'a Daniar di penghujung sujud terakhirnya.


.


.


Waktu terus berlalu. Senin siang, seperti biasa selepas shalat dzuhur, Daniar pergi ke kampus. Tiba di kampus, dia melihat seorang perempuan tengah menarik-narik tangan Yandri. Teringat akan maksudnya untuk memberi tahu kedatangan sang ayah kepada Yandri, Daniar menghampiri mereka.


"Hai, Yan!" sapa Daniar begitu tiba di hadapan Yandri. Daniar sedikit tertegun saat mengenali perempuan berjilbab yang tengah memegangi tangan temannya itu.


"Eh, Yar," balas Yandri. Pria berperawakan tinggi itu seketika menarik tangannya dari genggaman tangan perempuan itu.


"Siska, ya?" tanya Daniar kepada gadis berhijab itu.


Siska tersenyum. "Iya, Mbak. Senang berjumpa lagi dengan Mbak Niar," jawab Siska.


Kini giliran Daniar yang tersenyum. "Sama Sis, aku juga senang ketemu kamu lagi. Eh ya sudah, aku masuk kelas dulu, ya. Sorry ganggu!" pamit Daniar seraya membalikkan badan.


"Tunggu, Yar!" seru Yandri memegang pergelangan tangan Daniar.


"Kita barengan," jawab Yandri. Tanpa berpamitan kepada Siska, Yandri mengajak Daniar pergi dan meninggalkan Siska sendirian.


Sekeras itukah hatimu Yandri? Sampai kamu tidak pernah ingin berbicara lagi denganku? batin Siska, menatap nanar punggung pria yang masih dia cintai.


Sementara itu, di dalam perjalanan menuju kelas masing-masing. Daniar dan Yandri tampak bercanda riang.


"Bagaimana makan malamnya?" tanya Yandri.


"Uuh, jangan tanya lagi, Yan. Semuanya berjalan sesuai rencana Tuhan," jawab Daniar.


Yandri mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?"


"Si penjamu itu, dia sama sekali tidak datang. Dan aku, hmm aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena dia tidak datang. Coba kalau dia datang, drama perjodohan pasti akan terulang lagi, tuh."


Yandri tersenyum tipis mendengar ocehan Daniar. Entahlah, hatinya begitu senang mendengar kabar jika Daniar tidak jadi bertemu dengan pria itu.


"Oh iya, Yan. Bukankah tempo hari kamu menanyakan kepulangan ayahku?" tanya Daniar yang teringat akan tujuannya menemui Yandri tadi.


"Ah iya, apa beliau sudah pulang?" Yandri balik bertanya.

__ADS_1


"Hem-eh, ayahku sudah pulang. Mungkin esok atau lusa, dia berangkat lagi ke kota," jawab Daniar.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Eh udah sampai kelas kamu tuh, buruan masuk gih!" ucap Yandri seraya mendorong pelan punggung Daniar.


"Iih, enggak jelas banget!" jawab Daniar mengerucutkan bibirnya.


Yandri pun hanya tersenyum tipis melihat tingkah Daniar.


.


.


Jarum jam terus berputar. Tanpa terasa jam mata kuliah terakhir pun sudah berakhir. Setelah dosen meninggalkan kelas, Daniar buru-buru mengemasi peralatan kampusnya. Jadwal kuliah Hari senin memang cukup padat. Pukul 17.30 kelas bubar. Itu artinya, Daniar akan tiba di rumahnya sekitar pukul 19.00.


"Uuh, i hate Monday!" seru Daniar seraya berjalan ke luar kelasnya.


"Nikmati saja, Nona. Mengeluh tidak akan merubah waktu," ucap Yandri dari arah belakang.


Daniar menoleh. "Eh, kamu belum pulang, Yan?"


"Sengaja, nungguin kamu," jawab Yandri.


"Benarkah? Dari tadi kamu nungguin aku?" tanya Daniar kaget.


Masalahnya, Yandri datang ke kampus hanya untuk bimbingan tugas terakhirnya. Dan kegiatan bimbingan tentunya tidak akan memakan waktu hingga se-sore ini.


"Iya, Yar. Aku sengaja nungguin kamu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan," jawab Yandri.


"Tentang?" tanya Daniar seraya melirik jam tangannya.


Yandri yang mengetahui kegelisahan Daniar karena pulang terlalu sore, akhirnya meraih tangan Daniar.


"Aku mau ikut kamu pulang, yar. Yuk!" ajak Yandri menarik tangan Daniar.


"Eh, Yan ...."


Daniar terkejut dengan ulah Yandri. Mau tidak mau, Daniar sedikit berlari untuk mengimbangi langkah lebar pria itu.


"Ngapain kamu ikut pulang sama aku?" tanya Daniar.


"Menemui ayah kamu," jawab Yandri.


"Untuk?"

__ADS_1


"Hmm, ada deh ...."


__ADS_2