Setelah Hujan

Setelah Hujan
It's Not Bad Idea


__ADS_3

Bu Maryam terus menggulirkan foto kue yang dikirimkan di WAG pengajian. Entah siapa yang telah mengirimkannya. Namun, bagi Bu Maryam kue itu begitu menarik di matanya. Mungkin karena dia hidup di desa, jadi tidak pernah tahu menahu keunikan berbagai variasi cupcake. Selama ini, yang dia tahu, kue dengan bentuk seperti itu, hanyalah bolu kukus.


Sebaiknya aku tanya Habibah. Mungkin dia tahu di mana aku bisa mendapatkan kue ini, batin Bu Maryam.


Wanita tua itu pun segera pergi ke ruangan tempat Habibah menjahit.


"Apa kamu tahu kue ini, Bah?" tanya Bu Maryam sembari menunjukkan ponselnya.


Kening Habibah mengernyit. "Enggak Bu, Bibah enggak tahu," jawabnya.


Huft!


Bu Maryam membuang napas dengan kasar. "Masak yang ginian kamu enggak tahu sih, Bah. Bukannya kamu sering keluar rumah buat nyari makanan yang aneh-aneh? Tiap makanan baru, kamu sering berburu untuk nyobain," tegur Bu Maryam.


"Aih, Ibu. Bibah, 'kan emang enggak tahu. Makanan yang Bibah buru, itu karena ada alamatnya. Lah ini mah cuma foto doang. Siapa tahu itu cuma gambar dan emang enggak ada di toko kue," papar Habibah.


"Ish, pokoknya Ibu enggak mau tahu. Kamu harus bisa temukan kue seperti ini. Titik!"


"Astaghfirullah, Bu. Bibah lagi kerja, enggak mungkin membuang waktu percuma untuk hal yang enggak jelas seperti itu!" dengus Habibah kesal.


Bu Maryam berlalu. Namun, bibirnya tak henti-henti mengeluarkan omelan yang dilayangkan kepada anaknya.


"Astaghfirullahaladzim ... makin hari, tingkah ibu semakin seperti anak kecil saja. Hhh ..." gumam Habibah menggerutu kesal.


.


.


Daniar keluar dari ruangan Bu Indah dengan wajah yang sulit untuk digambarkan. Dengan langkah gontai, Daniar kembali ke kelasnya. Entah berada di mana pikirannya saat ini. Namun, yang jelas sapaan Bu Vani pun tidak Daniar hiraukan saking tidak fokusnya.


Lebih dari tiga kali Bu Vani memanggil Daniar. Namun, Ibu satu anak itu hanya diam sembari terus melangkahkan kakinya menuju kursi guru. Meskipun tidak tahu permasalahannya, tapi Bu Vani yakin Daniar sedang tidak baik-baik saja.


Bu Vani menghampiri Daniar seraya menepuk sebelah bahunya. "Apa Ibu baik-baik saja?"


Daniar terhenyak. "Eh, Ibu ... maaf, saya enggak fokus."


"Iya, Bu. Saya juga memperhatikan hal itu. Sepertinya Ibu sedang ada masalah. Apa sesuatu terjadi?" tanya Bu Vani.

__ADS_1


"Sesuatu memang sudah terjadi, Bu. Tapi bukan masalah yang besar juga," sahut Daniar. "Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menjaga kelas saya," imbuhnya.


"Iya, sama-sama Bu. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Bu Vani yang hanya dibarengi anggukan Daniar.


Setelah rekan kerjanya pergi, Daniar menyandarkan punggungnya. Kembali teguran kepala sekolah terekam di memori otaknya.


Menjadi guru memang impianku sedari kecil. Namun, tidak aku pungkiri jika aku membutuhkan biaya lebih untuk masa depan anakku. Aku single parent, dan aku harus berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan Bintang, batin Daniar, semakin tenggelam dalam lamunan.


"Aww, sakit!"


Teriakan salah satu murid perempuannya, sontak membuyarkan lamunan Daniar. Dia menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang gadis kecil yang mulai menangis. Daniar pun menghampirinya.


"Kamu kenapa Alya?" tanya Daniar kepada anak didiknya.


"Dika menjambak rambut Alya, Bu," sahut teman sebangku Alya.


Daniar menghela napas. Karena terlalu asyik melamun, dia sampai tidak menyadari kegaduhan di kelasnya. Daniar berusaha menenangkan anak didiknya yang sedang menangis itu. Sekilas, dia melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tangannya. Tersisa waktu lima menit menuju jam pulang. Akhirnya Daniar pun memutuskan untuk mengakhiri pembelajaran hari ini.


"Baiklah anak-anak, silakan bereskan peralatan menulis kalian. Lalu, lanjutkan dengan berdo'a bersama," pungkas Daniar.


.


.


Tok-tok-tok!


"Bun, apa Bibin boleh masuk?" pinta Bintang seraya mengetuk pintu kamar ibunya.


Daniar yang sedang melamun di atas ranjang, sontak terkejut. Dia menoleh ke arah pintu yang masih tertutup. Terdengar lagi bunyi ketukan pintu dari arah luar.


"Masuk saja, Bin. Pintunya tidak dikunci, kok," balas Daniar.


Bintang menekan handle pintu hingga terbuka. Remaja itu mengernyitkan kening ketika melihat ibunya masih mengenakan seragam.


"Bunda belum ganti baju?" tanya Bintang.


Daniar melirik pakaiannya sendiri. "Astaghfirullah," gumamnya yang baru tersadar jika dari sepulang sekolah, dia memang belum melakukan apa-apa selain duduk terpaku di atas ranjang.

__ADS_1


"Ish, Bunda kenapa sih?" tanya Bintang seraya mendekati Daniar dan duduk di atas ranjang.


"Eng-enggak, Bin. Bun-da enggak kenapa-napa," sahut Daniar terbata.


Bintang menghela napas. "Bun, Bibin ini sudah besar. Mungkin memang Bibin bukan orang yang pinter ngasih solusi, tapi Insya Allah Bibin bisa menjadi pendengar yang baik," lanjut Bintang.


Untuk sejenak, Daniar menarik napas panjang. Sesaat kemudian, dia mengembuskannya secara perlahan.


"Ada banyak kesalahan yang sudah Bunda buat, Nak. Dan mungkin, tadi pagi adalah kesalahan Bunda yang sudah sangat fatal," tutur Daniar.


"Kesalahan?" ulang Bintang. "Memangnya, kesalahan apa yang Bunda lakukan?" tanyanya.


"Kamu tahu sendiri, 'kan, Bin. Setelah kita kebanjiran orderan, Bunda sering begadang dan bangun kesiangan. Karena itu Bunda sering terlambat datang ke sekolah. Terkadang, Bunda juga sampai izin tidak masuk karena harus menyelesaikan orderan. Karena kelalaian itulah, Bunda mendapatkan teguran dari atasan Bunda. Beliau bilang, jika Bunda ingin sukses, Bunda harus fokus di salah satu pekerjaan. Bunda enggak bisa menjalani dua pekerjaan sekaligus dan membagi adil waktu untuk keduanya," papar Daniar panjang lebar.


Hmm, permasalahan sepele. Namun, cukup pelik juga. Di satu sisi, mendidik generasi penerus bangsa memang satu pekerjaan yang mulia. Namun, sebagai seorang manusia biasa, hal yang lumrah jika Daniar menginginkan pendapatan yang lebih untuk mencukupi kebutuhan hidup dia dan anaknya.


"Di antara kedua pekerjaan itu, mana yang paling bunda titik beratkan?" tanya Bintang.


"Hhh, jangan tanyakan hal itu Bin. Karena jujur saja, bagi Bunda sendiri, kedua pekerjaan itu memiliki arti masing-masing di hati Bunda," balas Daniar yang memang tidak mampu memilih di antara keduanya.


Untuk beberapa menit, ibu dan anak itu hanya bisa membisu. Daniar merasa dilema di antara dua pekerjaan yang sama-sama berarti baginya. Sedangkan Bintang, dia memang masih terlalu kecil untuk dihadapkan pada persoalan orang dewasa. Karena itu, Bintang hanya mampu bergeming di tempatnya.


Tiba-tiba saja.


"Ah, Bibin tahu!" pekik Bintang yang membuat Daniar terlonjak.


"Tahu apa, Bin?" tanya Daniar seraya menautkan kedua alisnya.


"Gimana kalau kita batasi saja orderan yang masuk, Bun?" usul Bintang.


"Maksud kamu?"


"Jadi begini, Bun. Setiap orderan yang masuk ...."


Dengan cukup detail, Bintang mengutarakan maksudnya. Hingga di akhir penjelasannya, Daniar tersenyum lega.


"Hmm, it's not bad idea!"

__ADS_1


__ADS_2