Setelah Hujan

Setelah Hujan
Garis Dua


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya untuk memandikan bayi yang baru lahir, Mak Ida kemudian pergi ke rumah Bu Maryam untuk memijat Daniar.


"Assalamu'alaikum!" sapa Mak Ida begitu tiba di rumah Bu Maryam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam seraya membuka pintu. "Eh, ada Mak Ida," lanjut Bu Maryam.


"Iya, Ceu. Saya diminta pak Yandri untuk memijat istrinya. Memangnya, istrinya pak Yandri kenapa ya, Ceu?" tanya Mak Ida.


"Oh iya. Entahlah, tadi pagi dia sempat muntah-muntah. Sepertinya masuk angin, Mak, jawab Bu Maryam. "Mari silakan masuk, Mak," ajak Bu Maryam mempersilakan tamunya masuk.


Mak Ida memasuki rumah. Diantar Bu Maryam, Mak Ida kemudian pergi ke kamar Yandri. Tiba di kamar, dia melihat Daniar sedang tertidur. Mak Ida menghampiri Daniar dan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk meraba kening Daniar.


"Panas, Ceu," gumam Mak Ida.


"Benarkah?" tanya Bu Maryam.


Mak Ida mengangguk. "Coba Ceuceu raba sendiri," ucapnya.


Bu Maryam menghampiri sang menantu. Apa yang dikatakan Mak Ida memang benar. Kening Daniar terasa panas. Bahkan hawa panas itu pun keluar dari sekujur tubuhnya.


Daniar mengerjapkan mata saat merasakan tangan dingin menyentuhnya. "Ibu," gumam Daniar.


Bu Maryam tersenyum. "Bangunlah, Nak. Mak Ida sudah datang," ucap Bu Maryam.


Daniar melirik wanita tua yang tengah duduk si sampingnya. Sejurus kemudian, dia bangun dari tidurnya.


"Maaf, Niar ketiduran," ujar Daniar.


"Tidak apa-apa, Neng. Mak juga baru datang, kok," balas Mak Ida.


"Ya sudah, Mak. Saya tinggal dulu ya," pamit Bu Maryam.


Setelah Bu Maryam pergi, Mak Ida menyuruh Daniar untuk melepaskan pakaian dan menggantinya dengan kain sarung. Setelah siap, Mak Ida mulai mengeksekusi Daniar.


Daniar memekik keras saat merasakan tubuhnya sakit akibat pijatan wanita tua itu. Ya, usia Mak Ida memang sudah cukup tua. Namun, tenaganya begitu luar biasa. Beberapa kali Daniar meringis saat merasakan ngilu di beberapa bagian.


"Sekarang telentang, Neng," perintah Mak Ida.


Daniar menurut. Dia kemudian membalikkan badan dan tidur telentang.

__ADS_1


Mak Ida mengucurkan minyak pijat ke telapak tangannya. Sejurus kemudian, dia mengusapkan minyak tersebut di sekitar perut Daniar. Kening Mak Ida mengernyit saat meraba perut Daniar.


"Sebentar, kapan terakhir Neng Niar halangan?" tanya Mak Ida sambil mengusap area perut Daniar secara melingkar.


"Halangan?" ulang Daniar. "Halangan gimana maksudnya, Mak?" Karena tidak mengerti, Daniar kemudian bertanya kepada Mak Ida.


"Maksudnya datang bulan," jawab Mak Ida. "Jadi, kapan terakhir Neng datang bulan? Apa bulan sekarang, Neng Niar sudah dapat haid?" Mak Ida mencecar Daniar dengan pertanyaan seputar wanita.


Daniar mencoba mengingat kapan dia terakhir menstruasi. Namun, nihil. Dia sama sekali tidak ingat kapan terakhir tamu tak diundang itu datang. Daniar membuka laci yang terdapat pada sandaran ranjang. Dia terkejut melihat pembalut yang dibelinya dua bulan yang lalu, tetapi masih utuh.


"Sepertinya, Niar sudah dua bulan nggak dapat haid, Mak. Apa mungkin karena stress, jadi siklusnya tidak lancar?" ungkap Daniar.


"Memangnya Neng stress kenapa?" tanya Mak Ida lembut.


"Sebulan yang lalu, Niar sibuk banget mempersiapkan sidang, Mak. Jadi Niar tidak terlalu memperhatikan datang bulan," jawab Daniar, jujur.


"Sebaiknya jika kamu sudah agak kuatan, kamu minta suamimu untuk pergi ke bidan," saran Mak Ida.


"Loh, memangnya ada apa, Mak? Niar cuma masuk angin sampai pegel linu segala. Istirahat barang sehari dua hari juga, pasti sembuh," tukas Daniar.


"Emm, kalau tangan Mak Ida enggak salah pegang nih, sepertinya kamu sedang berbadan dua, Neng," jawab Mak Ida.


"Berbadan dua?" ulang daniar. "Maksud Mak Ida, Daniar hamil?" tanyanya.


Daniar terhenyak saat mendapatkan jawaban Mak Ida. Uuh, pantas saja ada yang aneh sama kelakuan gue. Hmm, mungkin kemarin gue berada pada posisi ngidam, sehingga bisa makan mangga muda dan nanas yang belum matang itu, batin Daniar.


Nanas? Ya Tuhan, artinya gue makan nanas di saat kondisi gue lagi hamil muda. Waduh, apa kabar calon anak gue?


Daniar kembali bermonolog. Kini, kecemasan mulai tampak pada raut wajahnya. Orang bilang, nanas muda biasa dipakai orang sebagai penggugur kandungan yang masih dalam hitungan minggu. Lantas, bagaimana dengan nasib calon anak Daniar?


Ya Tuhan ... semoga calon anak gue enggak kenapa-napa, gumam Daniar yang masih bisa didengar oleh Mak Ida.


"Aamiin ... memangnya, kenapa dengan calon anaknya?" tanya Mak Ida yang merasa penasaran mendengar do'a Daniar.


"Kemarin, Niar makan nanas muda, Mak. Niar sama sekali enggak tahu kalau Niar lagi hamil," jawab Daniar, polos.


"Astaghfirullahaladzim, Neng!" pekik Mak Ida. "Ya, semoga kandungan Neng kuat, ya. Hingga tidak kekurangan suatu apa pun di saat persalinan nanti," do'a Mak idta.


"Aamiin."

__ADS_1


.


.


Setelah diprediksi tengah berbadan dua oleh bidan kampung, Daniar kemudian berencana membeli alat tes kehamilan untuk memastikan. Daniar sengaja tidak memberi tahu dulu tentang prediksi Mak Ida kepada suaminya. Jujur saja, Daniar takut jika prediksi Mak Ida meleset dan tidak sesuai dengan harapan. Hingga pada akhirnya Yandri akan merasa kecewa terhadap dirinya.


Kebetulan, hari ini adalah hari di mana Daniar harus ke kampus untuk mengambil surat kelulusan. Tiba di kampus, rasanya kondisi tubuh Daniar mulai terasa lemah. Sepanjang perjalanan, Daniar mengalami muntah-muntah. Mungkin karena aroma seabrek yang ada di dalam bus, tercium sangat menyengat di indera penciuman Daniar.


Setelah mengambil surat kelulusan, entah kenapa Daniar tidak ingin berlama-lama tinggal di kampus. Suasana kampus yang cukup ramai, membuat kepalanya semakin pening saja. Karena itu Daniar memutuskan untuk pulang.


Sebelum menaiki angkot dia berbelok arah untuk pergi ke apotek terdekat.


"Selamat siang, Mbak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan apotek tersebut.


"Iya, Mbak. Saya ingin membeli dua buah alat tes kehamilan," jawab Daniar.


"Merk apa ya, Mbak?" tanya pelayan apotek.


"Oh, memangnya ada berapa merek, Mbak?" Daniar malah balik bertanya kepada pelayan apotek tersebut.


"Silakan, Mbak bisa lihat barangnya di etalase sebelah sini." Tunjuk pelayan toko yang menampilkan display tentang alat-alat tes kehamilan.


Daniar tambah keleyengan melihat berbagai jenis alat tes kehamilan tersebut. Ternyata, mereknya tidak hanya satu atau dua. Namun, cukup bejibun juga.


Gini aja deh, Mbak. Aku beli dua. Satu untuk harganya yang paling murah, satu lagi untuk harga yang termasuk kategori paling mahal," jawab Daniar.


Mbak pelayan toko itu tersenyum. Sejurus kemudian, dia mengambil dua buah testpack dengan harga yang diminta oleh Daniar.


.


.


Subuh sekali, Daniar sudah terbangun. Tak ingin membangunkan suaminya, perlahan dia berjalan keluar dari kamar. Meski jantungnya berdetak kencang karena merasa takut harus pergi ke kamar mandi di pagi buta begini. Namun, demi sebuah kepastian, Daniar memberanikan dirinya.


Setelah menampung air seni di dalam sebuah wadah kecil, Daniar segera mencelupkan kedua alat tes kehamilan tersebut secara bersamaan. Menunggu hingga beberapa detik, detak jantung Daniar semakin tak berirama. Daniar gugup bercampur cemas menanti hasil dari alat tersebut.


Tiga menit berlalu, perlahan Daniar mengangkat kedua alat itu dan sedikit mengibas-ngibaskannya. Beberapa detik berlalu. Kedua bola mata Daniar membulat sempurna saat melihat garis dua berwarna merah terpampang jelas di kedua alat tes kehamilan itu.


"Masya Allah!" pekik tertahan Daniar. Buru-buru Daniar membersihkan larangannya beserta alat-alat yang telah dia gunakan. Sejurus kemudian, Daniar kembali ke rumah dengan membawa kedua hasil testpack tersebut.

__ADS_1


"Akan aku beri kejutan saat akang terbangun nanti," gumam Daniar seraya kembali mengendap-endap memasuki kamarnya. Tiba di kamar, Daniar menyimpan dua buah testpack itu di atas nakas.


"Selamat jadi Ayah, Sayang," bisik Daniar di telinga suaminya.


__ADS_2