Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mimpi


__ADS_3

Tiba di asrama, Yandri segera memarkirkan mobilnya. Lepas itu, dia pergi ke kantor perizinan untuk mengambil buku izin silah.


"Loh, kok sudah kembali, Tadz?" tanya Pak Mahdi.


Yandri hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan penjaga keamanan senior itu.


"Bukankah jadwal relaksasinya masih lama ya, Tadz?" tanya Pak Mahdi lagi.


"Iya, Pak. Kebetulan ada banyak pekerjaan yang harus segera selesai, jadi maju deh kembalinya," jawab Yandri.


"Oalah ... sehat terus ya, buat Ustadz sama anak istrinya!" Do'a Pak Mahdi.


"Alhamdulillah ... aamiin, Pak. Do'a yang sama juga buat Bapak sekeluarga," sahut Yandri.


Tak lama berselang, buku yang sudah ditandatangani pun diserahkan kembali kepada Yandri. Setelah berpamitan kepada para penjaga keamanan yang sedang bertugas, Yandri kemudian pergi ke asrama untuk beristirahat.


.


.


Hari-hari Yandri lalui dengan penuh kehampaan. Tidak ada kabar yang dia terima dari istrinya. Semenjak Yandri kembali ke asrama, sekali pun Yandri tidak pernah menerima telepon ataupun chat dari Daniar. Beruntungnya, pekerjaan Yandri begitu padat, karena masa sekolah semester genap sebentar lagi berakhir. Untuk sejenak, rasa hampa Yandri terobati oleh kesibukannya.


Waktu terus berlalu. Jadwal relaksasi Yandri semakin dekat. Akan tetapi, bulan ini Yandri berencana untuk tidak mengambil relaksasinya. Dia masih merasa kesal dengan sikap gegabah Daniar yang telah menggugat cerai dirinya.


Yandri meraih pigura kecil yang selalu terpajang di meja kerjanya. Dia menatap kedua bidadari yang selalu menjadi penyemangat harinya.


Maafkan Ayah, Bin. Bulan ini Ayah tidak bisa pulang. Ayah enggak sanggup harus menghadapi kekeraskepalaan bunda kamu yang terus memaksa minta berpisah. Ayah takut Ayah tidak mampu menahan emosi Ayah. Maafkan Ayah ... Monolog Yandri dalam hatinya.


.


.


Sore ini, kepala Daniar dibuat pusing oleh rengekan Bintang. Entah kenapa, sudah dua hari ke belakang, Bintang selalu menanyakan kabar ayahnya. Biasanya, saat Daniar mengalihkan pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Bintang, gadis itu akan langsung lupa dengan keinginannya. Tapi sekarang ... Daniar sama sekali tidak bisa membujuk Bintang dengan cara apa pun.


"Ayo dong, Bun ... teleponin ayah, Please ..." rengek Bintang.


"Ish, Bin ... kamu enggak lihat kalau Bunda lagi sibuk," tukas Daniar yang memang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Sebentaaaar aja, Bun. Bisa, 'kan? Hmm, Bunda cantik, deh," rayu Bintang.


"Aish, enggak usah ngerayu-ngerayu gitu ya, Bunda lagi sibuk. Kamu pinjam HP enin saja, gih!" suruh Daniar.


"Tapi enin lagi ngaji, Bun," jawab Bintang.


"Ya sudah, tunggu enin pulang ngaji dulu, lah. Bentar lagi juga pulang," balas Daniar, melirik jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Ih, lama Bun ... Bintang maunya telepon ayah sekarang. Please ..." Bintang kembali merajuk.

__ADS_1


"Enggak-enggak, pokoknya kamu enggak boleh telepon Ayah pake ponsel Bunda. Titik!" tegas Daniar.


"Ih, Bunda kenapa sih? Kan enggak bakalan ngabisin kuota juga," rengut Bintang.


"Cukup Bintang, Bunda lagi sibuk. Sekarang juga, Bunda minta, Bintang keluar dari kamar Bunda. Jangan ganggu Bunda!" perintah Daniar mengusir putrinya.


"Ih, Bunda pelit!" kata Bintang seraya berlari ke luar kamar.


Brak!


Karena merasa kesal atas sikap ibunya, Bintang pun membanting pintu kamar.


"Hhh ..."


Daniar menghela napas. Dia meletakkan laptop yang sedari tadi dipangkunya, ke atas kasur. Daniar menyandarkan punggung pada dashboard ranjang.


Ya Tuhan ... ada apa denganku? Hanya karena ego, aku sampai membentak anakku sendiri. Padahal, dia hanya sekadar merindukan ayahnya, batin Daniar, memejamkan mata.


Beberapa detik kemudian, pintu kamar Daniar terbuka dengan sangat kasar.


"Apa-apaan kamu, Niar? Kenapa kamu memarahi anakmu hanya karena hal sepele?" bentak Bu Salma.


"Huft!"


Daniar membuang napasnya, kasar. Mungkin Bintang sudah mengadu kepada ibu, batin Daniar.


"Dia hanya meminta kamu untuk menghubungi ayahnya, apa salahnya? Lagi pula, kamu enggak usah rongseng begitu, rewel, 'kan jadinya anak kamu," tegur Bu Salma.


"Ih, Ibu ... siapa yang rongseng? Niar biasa-biasa aja, kok," kilah Daniar.


Bu Salma mendekati ranjang Daniar. Dia mengambil laptop dan memindahkannya ke atas meja rias. Sedetik kemudian, Bu Salma duduk di hadapan Daniar.


"Ni, Bintang itu anak kamu, darah daging kamu. Ikatan ibu dan anak itu, kuat. Dia pasti bisa merasakan jika ibunya sedang ada masalah saat ini. Hanya saja, dia belum paham bagaimana cara menghibur ibunya. Karena itulah dia rewel. Dan dia rewel seperti itu hanya untuk mencari perhatian kamu, supaya kamu bisa melupakan masalah yang bikin hati kamu gundah," tutur Bu Salma.


Daniar hanya bisa menarik napas panjang mendengar penuturan ibunya. Mungkin memang apa yang dikatakan ibunya benar, tapi dia tidak menyadarinya.


Astaghfirullah ... Bintang tidak bersalah, tapi kenapa aku melampiaskan semua kekesalan aku kepadanya hanya karena kang Yandri tidak mengabulkan permintaanku, kata Daniar dalam hatinya.


"Maaf, Bu," gumam Daniar, pelan.


"Minta maaflah kepada anakmu. Sekarang dia sedang menangis di kamarnya," perintah Bu Salma.


"Iya, Bu," sahut Daniar, beranjak dari tempat tidurnya.


Daniar pun melangkahkan kaki menuju kamar anaknya. Tiba di depan kamar Bintang, Daniar mengetuk pintu kamar.


"Bin, apa Bunda boleh masuk?" tanya Daniar, sesaat setelah mengetuk pintu kamar putrinya.

__ADS_1


"Masuk saja, Bun. Pintunya tidak dikunci," jawab Bintang di sela-sela isak tangisnya.


Daniar menekan gagang pintu dan membukanya. Terlihat Bintang sedang menangis seraya menelungkupkan tubuh. Daniar kemudian mendekati putrinya. Dia duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur dan menyentuh pundak Bintang.


"Bibin Sayang ... maafkan Bunda, Nak. Tanpa sengaja, Bunda sudah membentak Bibin sampai Bibin terluka dan menangis seperti ini," kata Daniar, menyesal.


Bintang berbalik. Dia pun bangun dan memeluk ibunya.


"Maafkan Bibin, Bun. Bibin yang salah. Seharusnya Bibin tahu kalau Bunda sedang tidak mau bicara sama Ayah. Tapi Bibin malah memaksa Bunda. Bibin tahu, Bunda sedang mendiamkan ayah. Bibin tahu kalau Bunda marah sama ayah gara-gara nenek. Tapi Bibin juga kangen Ayah, Bun," balas Bintang.


Daniar cukup terkejut mendengar ucapan Bintang. Dia tidak menyangka jika Bintang masih mengingat perlakuan neneknya. Daniar tak mampu membalas ucapan Bintang. Dia hanya memeluk Bintang dengan erat.


"Maafkan Bunda, Nak!" bisik Daniar di telinga putrinya.


.


.


"Uhuk-uhuk-uhuk!"


Suara batuk terdengar jelas dari beranda depan rumah Kakek Ahmad.


"Masuklah, Bu. Udara malam sangat tidak baik untuk kesehatan kita yang sudah tua ini," ucap Kakek Ahmad dari ambang pintu.


"Sebentar lagi, Pak. Ibu rasanya sesak berada di dalam," sahut Bu Maryam.


"Ibu merasa sesak karena Ibu telah berbuat salah kepada seseorang. Sebaiknya jujur sama Bapak ... apa yang sudah Ibu lakukan kepada istrinya Yandri?" tanya Kakek Ahmad.


Bu Maryam terkejut. Bagaimana mungkin suaminya bisa menuduh dia seperti itu.


"A-apa maksud Bapak?" tanya Bu Maryam, gugup.


"Entahlah, Bu. Hanya saja, Bapak punya firasat jika Ibu telah melakukan sesuatu kepada Daniar," jawab Kakek Ahmad.


"Ih, jangan sok tahu kamu, Pak. Nanti timbulnya bisa jadi fitnah," ketus Bu Maryam.


"Masalahnya, Ibu sering mengigau menyebutkan nama Daniar. Dan ibu terlihat berkeringat saat tengah mengigau. Seperti sedang bermimpi buruk saja," papar Kakek Ahmad.


"Be-benarkah?" tanya Bu Maryam, semakin gugup.


Ya. Tidak dia pungkiri jika selama dua minggu terakhir, Bu Maryam selalu bermimpi buruk tentang Daniar dan seorang bayi kecil. Bayi laki-laki berwajah pucat pasi yang sedang terlelap dalam gendongan Daniar. Namun, tiba-tiba saja Daniar dan bayi itu menyeretnya ke dalam kobaran api.


"Astaghfirullahaladzim," guman Bu Maryam.


Mengingat kembali mimpi yang sama yang selalu menghampirinya, seketika jantung Bu Maryam berpacu dengan cepat. Tak ingin sang suami mencurigai gelagatnya, Bu Maryam segera beranjak dari kursi teras.


"Sudah malam, Pak. Sebaiknya kita tidur."

__ADS_1


__ADS_2