
Bu Salma mendengar keributan di kamar putrinya. Karena tidak ingin Bintang sampai mengetahui keributan itu, Bu Salma segera mendekati kamar anaknya. Rupanya, daun pintu kamar Daniar sedikit terbuka. Lewat celah pintu yang terbuka itulah, Bu Salma bisa mengetahui jika anak dan menantunya tengah berdebat. Bu Salma pun segera memasuki kamar untuk menengahi perdebatan mereka.
"Apa-apaan ini?" tanya Bu Salma begitu memasuki kamar Daniar.
Sontak Daniar dan Yandri menoleh. "I-ibu?" kata mereka, kaget mendapati Bu Salma sudah berdiri di belakang mereka.
"Kalian ini kenapa? Ada masalah apa? Apa kalian tidak sadar jika lengkingan suara kalian yang penuh emosi itu sampai terdengar keluar kamar. Malu atuh kalau sampai didengar sama tetangga rumah," tegur Bu Salma.
Daniar dan Yandri hanya bisa menundukkan wajah mereka.
"Ibu heran sama kalian, bukannya bertambah dewasa, tapi masih seperti anak remaja. Setiap ada masalah, pasti ujung-ujungnya bertengkar. Apa kalian enggak kasihan sama Bintang? Gimana kalau Bintang denger kalian bertengkar? Pasti dia akan merasa sedih banget," lanjut Bu Salma.
"Maaf, Bu. Yandri janji, Yandri tidak akan mengulangi kesalahan seperti ini lagi," ucap Yandri, menyesal.
"Hmm, baguslah kalau begitu. Kalian selesaikan lah masalah kalian secara baik-baik. Enggak perlu pake emosi begitu," balas Bu Salma.
"Baik, Bu." Masih Yandri yang menjawab.
Ya! Hanya Yandri yang menanggapi ucapan Bu Salma. Sedangkan Daniar, dia hanya diam. Jujur saja, dia tidak mampu menjanjikan apa pun kepada ibunya. Hatinya masih dikuasai kekesalan tingkat tinggi. Karena itu Daniar bungkam.
"Ya sudah, Ibu pergi dulu. Ingat! Jangan diulang lagi pertengkaran yang seperti tadi," pesan Bu Salma.
"Iya, Bu," sahut Yandri.
.
.
Sementara itu, di lain tempat.
"Gimana, Sayang? Apa kamu senang dengan bulan madu kita?" tanya Nisa kepada suaminya.
Ghio hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Nisa. Sebenarnya, Ghio bukan tidak senang berbulan madu. Hanya saja, dia selalu dihantui perasaan bersalah. Sebagai seorang suami, Ghio tidak mampu bersikap tegas saat mendengar rengekan Nisa yang meminta bulan madu. Padahal, acara ini tidak ada dalam susunan rencana pernikahan mereka.
__ADS_1
Masih terekam jelas saat Ghio mengutarakan keberatannya sebelum berangkat berbulan madu.
"Bulan madunya kita undur tahun depan saja ya, Neng? Jujur saja, duit Aa udah habis untuk biaya pernikahan kita. Aa enggak mungkin juga minta sama kedua orang tua Aa," jawab Ghio saat Nisa mengutarakan keinginannya berbulan madu.
"Ish Aa ... mana seru kalau bulan madunya tahun depan. Basi, tau!" jawab Nisa seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ya terus, uang dari mana, Neng? Aa sudah enggak punya tabungan lagi," tukas Ghio.
"Aa tenang aja, Nisa ada kok!" balas Nisa dengan wajah berseri-seri.
Ghio yang memang polos, hanya bisa tersenyum lebar menanggapi omongan sang istri. Hingga malam harinya, tanpa sengaja dia mendengar percakapan kedua mertuanya.
"Harusnya kamu tidak menyerahkan uang itu kepada Nisa, Nah," tegur Rahmat kepada istrinya.
"Tidak apa-apa, Kang. Bulan madu, 'kan hanya sekali dalam seumur hidup," jawab Aminah santai.
"Bukan itu masalahnya, Nah. Uang itu untuk membayar utang kita ke Yandri, kok malah digunakan untuk bulan madu. Malu kita sama Yandri, Nah. Lagi pula, bulan madu itu bisa kapan-kapan, enggak wajib habis akad juga," tutur Rahmat yang tidak setuju dengan tindakan istrinya.
Ghio hanya bisa menatap kosong ke arah Nisa yang sedang asyik selfie.
Ish, Nisa ... kenapa harus nekat seperti ini?" batin Ghio. Sekarang, dari mana kita bisa mendapatkan uang untuk membayar sisa utang sama om kamu, imbuhnya.
"A, ayo kita foto-foto! Kok malah ngelamun sih?" teriak Nisa seraya melambaikan tangannya.
Teriakan Nisa sontak membuyarkan lamunan Ghio. Dengan masih tersenyum tipis, Ghio berjalan menghampiri Nisa. Pasangan pengantin baru itu pun mulai mengambil beberapa gambar yang berlatarkan sunset di tepi pantai.
.
.
Daniar tidak punya pilihan lain. Dia mengeluarkan uang yang dia sisihkan dari sumbangan teman-teman Yandri, atasan Yandri, dan juga sumbangan dari anak-anak almarhumah Hajjah Minah yang tak lain uwak-uwaknya Daniar.
Rencananya, uang tersebut akan dia gunakan untuk biaya kontrol ketiga. Meskipun biaya kontrol sudah dicover oleh asuransi kesehatan. Namun, untuk biaya obat, Daniar harus mengeluarkan uang sendiri. Dan harganya cukup fantastis.
__ADS_1
Daniar memasukkan uang tersebut ke dalam amplop yang diberikan Aminah tadi siang. Dia tak rela, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Bagaimanapun, dia harus menyelamatkan harga diri sang suami di depan ibunya. Daniar tidak mau jika kepercayaan ibunya terhadap Yandri, akan luntur akibat kesalahan orang lain.
Tanpa banyak bicara, Daniar kemudian menyerahkan amplop tersebut sambil mengucapkan terima kasih kepada Bu Salma.
"Makasih ya, Bu," ucap Daniar.
"Iya, sama-sama Ni," balas Bu Salma.
.
.
Beberapa hari telah berlalu. Bahkan jadwal kontrol pun kian begitu dekat. Namun, sampai sekarang tidak ada kabar dari Aminah kapan akan mengembalikan sisa utangnya. Meskipun anak mereka sudah pulang dari berbulan madu, tapi Aminah masih belum juga datang.
Di dalam kamar, Daniar menggerutu kesal saat melihat foto-foto yang diposting keponakan suaminya di status whatsapp. Foto-foto yang mereka ambil saat berbulan madu. Melihat senyum lepas Nisa, seketika darah Daniar mendidih.
"Ish, keponakan seperti apa yang tega berbahagia di atas penderitaan pamannya," dengus Daniar kesal.
Kekesalan Daniar sudah mencapai ubun-ubun. Karena itu, Daniar meminta suaminya untuk menagih sisa utang Aminah.
"Bun, bukannya Ayah enggak mau nagih. Tapi tempo hari Nisa telepon dan meminta maaf karena belum bisa membayar utangnya. Suaminya sakit setelah pulang dari bulan madu, karena itu bengkelnya belum buka, jadi Nisa belum bisa mengumpulkan uang untuk bayar utang. Sabarlah," papar Yandri.
"Sabar Ayah bilang? Bunda selalu sabar, Yah. Tapi Ayah sendiri tahu jika uang itu akan kita pakai besok. Ayah gimana, sih ... kok enggak pernah bersikap tegas," gerutu Daniar.
"Bukannya Ayah enggak bisa tegas, tapi percuma, Bun. Kalau emang enggak ada yang bisa mereka bayarkan pada kita, ya ngapain kita bertindak tegas. Buang-buang energi aja. Sudah biarkan saja, itung-itung simpanan," jawab Yandri.
"Biarkan saja? Ish, jangan-jangan Ayah emang enggak berniat nagih. Huh, itu mah bukan simpanan, sama aja ngasih gitu aja. Ayah ini Bener-bener keterlaluan! Ayah selalu lemah Setiap kali berurusan dengan keluarga Ayah. Sedikit pun Ayah enggak pernah peduli sama perasaan Bunda, pengorbanan Bunda! Apa Bunda harus ingatkan lagi siapa yang ngerawat Ayah saat Ayah terkapar tak berdaya? Siapa yang mandiin Ayah, yang bolak-balik nemenin Ayah ke rumah sakit. Bunda, Yah. Bunda! Bukan ibu ataupun saudara Ayah!" teriak Daniar.
Sepertinya, rasa sabar Daniar sudah melebihi batasnya. Dia marah seraya melemparkan ponsel ke sembarang arah. Sedetik kemudian, Daniar menyambar tas selempang miliknya. Dengan membanting pintu, dia pun pergi ke luar rumah.
Bintang dan Bu Salma berteriak memanggil Daniar. Namun, wanita itu terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh sedikit pun. Karena merasa kesal dengan sikap Yandri, Daniar memutuskan untuk pergi dari rumahnya.
"Bunda ... Bibin mau sama Bunda ... huhuhu ...."
__ADS_1