
Dua bulan telah berlalu. Daniar mulai memberikan pemahaman kepada Bintang tentang keputusan yang akan dia ambil. Beruntungnya, gadis kecil itu seperti tidak terpengaruh dengan keputusan ibunya. Daniar sendiri tidak tahu alasan Bintang yang seolah seperti mendukung keputusannya. Hanya saja, Bintang pernah berkata jika dia telah melihat kejahatan nenek semenjak dia kecil.
"Apa maksud Bintang berkata seperti itu?" gumam Daniar.
"Berkata apa, Ni?" tanya Bu Salma yang tanpa sengaja mendengar gumaman anaknya.
"Eh, Ibu," sahut Daniar.
"Kamu kenapa lagi, Nak? Kok akhir-akhir ini sering melamun?" tanya Bu Salma lagi.
"Ibu tahu dengan niat Niar untuk berpisah dari kang Yandri, 'kan?" tanya Daniar.
Bu Salma mengangguk. "Terus?"
"Kemarin Daniar mencoba berbicara dengan Bintang dari hati ke hati. Niar coba pancing gimana reaksi dia jika ayah bundanya berpisah. Dan ibu ta–"
"Ish, Ni ... kamu kok tega sih? Seharusnya kamu tidak melibatkan Bintang dalam permasalahan kamu," potong Bu Salma.
"Maaf, Bu. Tapi cepat atau lambat, Bintang harus tahu jika ayah dan ibunya pasti berpisah," jawab Daniar.
"Ya tapi tidak dalam waktu secepat ini, Ni. Kasihan bintang ... dia masih terlalu kecil untuk memahami permasalahan orang dewasa," tukas Bu Salma.
"Tapi, Bu ... entah kenapa Niar merasa, jika Bintang mendukung keputusan yang Niar ambil," balas Daniar.
"Maksud kamu?" tanya Bu Salma, menautkan kedua alisnya.
"Saat Daniar mengutarakan maksud Daniar, Bintang seolah tidak keberatan. Dia malah bilang jika neneknya tidak pernah mau mengakui Bintang sebagai cucunya. Karena itu Bintang tidak merajuk saat Niar bilang akan berpisah dengan ayahnya," papar Daniar.
"Ish, Ni. Jangan senang dulu, Bintang berbicara seperti itu mungkin karena dia pernah melihat sesuatu yang membuat hatinya tersakiti. Namun, kamu juga harus ingat. Semakin Bintang dewasa, dia akan semakin mengerti tentang keutuhan sebuah keluarga. Saran Ibu, pikirkan lagi niatan kamu untuk berpisah dengan Yandri. Pikirkan imbasnya buat masa depan Bintang," tutur Bu Salma.
"Justru ini yang terbaik buat masa depan Bintang, Bu. Seperti apa yang Niar alami, Bintang juga pasti memiliki rasa trauma tersendiri kepada neneknya. Hanya saja, dia tidak cukup terbuka kepada kita. Hingga kita tidak tahu apa alasan dia tidak menyukai bu Maryam," jawab Daniar.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu, Ni? Jika saja Bintang tidak pernah bercerita, itu artinya dia tidak pernah memiliki masalah dengan neneknya. Kamu enggak usah suudzon kayak gitu, Kak. Salah-salah, kamu bisa menggiring sebuah opini yang membuat Bintang membenci neneknya," balas Bu Salma.
"Niar enggak menggiring opini, Bu. Apalagi suudzon. Hanya saja, sejak memasuki usia TK, Bintang tidak pernah mau diajak pergi ke rumah neneknya. Sekalinya bersedia, dia tidak pernah betah dan selalu ngajakin pulang. Kan aneh, Bu," jawab Daniar.
"Sudah-sudah, stop membicarakan orang. Bagaimanapun, dia itu masih mertua kamu. Paham!" tegas Bu Salma.
"Iya, Bu," jawab Daniar.
"Ngomong-ngomong, kapan agenda sidang pertama kamu?" tanya Bu Salma.
"Minggu depan, Bu," jawab Daniar.
"Apa Yandri sudah mengetahuinya?"
Daniar mengangguk.
"Lalu, apa jawabannya? Apa dia mau datang?"
"Mudah-mudahan dia bisa datang, Bu. Niar ingin segera menyelesaikan semua ini. Supaya hati Niar tenang."
"Ish, Niar ... kamu sendiri tahu jika perceraian itu sangat tidak disukai Allah. Kenapa kamu harus terus memaksakan kehendak kamu, Ni?" tanya Bu Salma, sendu.
__ADS_1
Bu Salma sendiri tidak mengharapkan rumah tangga anaknya akan berakhir seperti ini. Namun, saat Daniar mengemukakan alasannya. Bu Salma mencoba memahaminya dari sudut pandang seorang istri yang teraniaya. Mungkin memang, putrinya sudah merasa lelah dengan semua penghargaan yang diberikan ibu mertuanya.
"Memang benar, Allah tidak pernah menyukai perceraian, tapi Allah juga lebih tidak menyukai hambanya yang menganiaya diri sendiri. Jika Niar masih tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat seperti ini, itu sama saja Niar sudah mendzolimi diri Niar sendiri, Bu," jawab Daniar, mencoba mencari pembelaan.
"Hhh ... ya sudah, terserah kamu saja. Ibu hanya bisa berdo'a, semoga semua urusan kamu dipermudahkan. Lalu, apa agenda untuk sidang minggu depan?" tanya Bu Salma lagi.
"Mediasi, Bu," jawab Daniar.
"Hmm, semoga saja dalam mediasi itu kalian menemukan titik temu yang bisa menyelesaikan masalah kalian," lanjut Bu Salma.
"Aamiin."
.
.
Yandri melajukan kendaraannya dengan sangat pelan. Rasanya dia enggan untuk pulang. Hmm, untuk apa dia pulang jika hanya untuk mendapatkan hatinya terluka. Namun, demi rasa cintanya terhadap Daniar, demi kerinduannya kepada putrinya, Yandri mencoba menguatkan hati untuk menerima kenyataan dengan lapang dada.
Seperti biasa, pukul 10 malam, Yandri baru tiba di rumah. Hal yang luar biasa dari kepulangannya kali ini, adalah sambutan hangat sang istri yang sungguh di luar dugaan Yandri.
"Minum, Kang!" ucap Daniar, menyodorkan segelas air putih hangat kepada Yandri.
"Terima kasih, Bun," jawab Yandri dengan kening berkerut karena merasa heran.
Sesaat kemudian, Daniar pergi ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian tidur suaminya.
"Akang bersih-bersih saja dulu, biar Niar siapkan pakaian tidur untuk Akang," ucap Daniar.
Yandri mengangguk. Meskipun masih tidak mengerti akan perubahan sikap Daniar. Namun, Yandri menuruti perintah Daniar.
"Ini bajunya, Bun?" tanya Yandri.
Daniar menoleh. Sedetik kemudian, dia mengangguk untuk menanggapi ucapan suaminya.
Yandri segera mengenakan pakaian. Dia pun menggelar sajadah untuk menunaikan shalat isya. Sedangkan Daniar pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makanan.
Tak lama berselang, Yandri keluar kamar. Lagi-lagi keningnya mengernyit melihat tingkah laku Daniar. Ya Tuhan, apa dia sudah berubah pikiran? batin Yandri. Semoga saja dia memang sudah berubah pikiran, lanjutnya tersenyum lebar.
"Makan, Kang?" tawar Daniar.
Ish, tapi kenapa dia masih memanggilku Akang? Yandri masih bermonolog dalam hatinya.
"Kok malah ngelamun sih, Kang? Mau makan tidak? Kalau mau, Niar temenin, nih," lanjut Daniar.
"Eh, i-iya Bun ... kebetulan Ayah belum makan," jawab Yandri sedikit gugup.
"Ya sudah, ayo kita makan!" ajak Daniar.
Yandri kembali menurut. Dia menarik kursi di samping Daniar yang tengah menyiapkan makan malam. Tak lama kemudian, mereka mulai makan malam dengan lahapnya.
Selesai makan, Yandri pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Begitu juga dengan Daniar. Tak lama kemudian, mereka pun ke kamar untuk bersiap-siap tidur.
"Bunda yakin, Bunda bolehin Ayah tidur di sini?" tanya Yandri yang merasa heran karena Daniar sudah mengambil posisi tidur di atas ranjang.
__ADS_1
"Hmm, kenapa tidak ... kita masih sah sebagai suami istri, 'kan?" balas Daniar.
Yandri tersenyum. Dia pun merangkak dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Daniar. Untuk beberapa menit, mereka saling diam.
"Ini sudah lewat 6 minggu loh, Kang?" kata Daniar mengawali pembicaraan.
"Maksud Bunda?" tanya Yandri yang tidak mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Apa Akang tidak pernah merindukan Niar?" tanya Daniar.
"Ish, kamu ini bicara apa sih, Bun. Tentu saja Ayah sangat merindukan Bunda," jawab Yandri.
"Kalau begitu ... maukah Akang bercinta dengan Niar malam ini?" pinta Daniar.
Deg-deg-deg!
Jantung Yandri berdetak tak berirama saat mendengar permintaan istrinya. Sesaat, dia mencubit lengannya karena meragukan pendengarannya.
"Ish ..." Yandri meringis, merasakan sakit di kulit tangannya. Tak lama kemudian, Yandri mulai merubah posisi tidurnya menjadi menyamping.
"Apa ini artinya, Bunda memperbolehkan Ayah menyentuh Bunda?" tanya Yandri masih dengan mode kebingungan.
Daniar ikut-ikutan menyamping. Dia menatap Yandri penuh kelembutan. "Tentu saja, Kang. Aku masih istri Akang, dan Akang berhak melakukan apa pun terhadap diriku."
Sesaat, Yandri menatap tajam istrinya. Mencoba mencari kerinduan di binar mata bening milik Daniar. Dan Yandri yakin jika dia mendapatkan kerinduan itu.
Perlahan, Yandri mulai mendekatkan wajahnya. Bibirnya mengecup mesra kening Daniar. Berlanjut kepada kedua kelopak mata Daniar yang telah terpejam. Rasa hangat menjalari tubuhnya. Hingga bibir Yandri bermuara di bibir tipis sang istri.
Kerinduan yang telah membuncah di hatinya, menuntun Yandri untuk menyesap bibir mungil nan tipis tersebut. Perlahan, Yandri memagut lembut bibir Daniar yang terasa manis. Indera perasanya terus mengeksplor bibir atas dan bibir bawah Daniar. Hingga ciuman yang lembut pun, beberapa detik kemudian berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut lebih.
Tubuh Daniar menggelinjang ketika merasakan sesuatu menyusup di balik kimono tidurnya. Jari jemari nakal yang selalu dia rindukan, mulai membuat Daniar merasakan sensasi yang bergetar hebat. Hingga tanpa sadar, Daniar melepaskan ciumannya, dan loloslah sebuah de'sahan yang begitu merdu di telinga Yandri.
Bibir Yandri mulai memburu benda kenyal yang tersembul dari balik kimono. Mengecapnya penuh kelembutan hingga lagi-lagi, tubuh semampai itu bergerak tak beraturan. Di saat bibirnya bermuara di belahan kembar nan kenyal, jari nakal itu pun berpindah tempat untuk menikmati keindahan yang lainnya.
"Ka-kang ... ish ..." Lirih Daniar saat jari telunjuk Yandri menyusup seperti seorang tentara yang sedang mengintai benteng lawan. Perlahan, tapi tepat sasaran.
Rintihan pelan seolah menjadi kidung yang mengajak Yandri untuk menyanyikan lagu kerinduan. Dengan cekatan, Yandri mulai melucuti helaian kain yang melekat di tubuh keduanya.
"Aku merindukanmu, Bun," bisik Yandri sesaat sebelum melancarkan aksinya menerobos terowongan yang menyimpan segudang kenikmatan.
Peluh mulai bercucuran di tubuh polos keduanya. Hingga setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, keduanya berteriak hebat menahan sakitnya menyalurkan kerinduan. Dan akhirnya, lelah mendera kedua insan yang telah bermandikan keringat.
"Aku mencintaimu, Bun," bisik Yandri.
Daniar hanya tersenyum membalas bisikan Yandri. Sesaat kemudian, dia pun bangun dan mulai mengenakan kembali pakaiannya. Begitu juga dengan Yandri yang mulai mengenakan celana pendeknya lagi.
Yandri memeluk Daniar dari arah belakang. Dia menopangkan dagunya di pundak kanan Daniar.
"Apa ini artinya, kita tidak harus melaksanakan sidang besok, 'kan, Bun?" tanya Yandri yang berharap jika percintaan yang telah mereka lakukan, adalah titik awal kisah mereka.
"Aku hanya ingin memberikan kesan yang mendalam sebelum kita berpisah, Kang," jawab Daniar tanpa berdosa.
Jleb!
__ADS_1
Rasanya jantung Yandri seperti ditusuk oleh sebuah pisau yang sangat tajam. Tega-teganya sang istri membawa dia melayang ke atas awan, jika pada akhirnya, menghempaskan kembali ke bumi. Dengan perasaan kacau, Yandri segera mengenakan kaos oblongnya dan keluar kamar.
"Astaghfirullah ... Jadi ini adalah percintaan terakhir kita? Ish, sungguh keterlaluan kamu, Bun. Ayah tidak menyangka jika Bunda tega melakukan hal seperti ini," gumam Yandri seraya memasuki kamar Bintang.