
Tak mendapatkan satu pun petunjuk dari sekolah Bintang, Yandri kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Waktu sudah semakin sore, tidak mungkin juga dia mencari keberadaan Daniar di sekolahnya hari ini. Yandri sengaja tidak kembali ke rumah ibunya, karena besok dia berencana untuk mencari keluarganya lagi.
Tiba di rumah, Yandri merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kecemasan semakin terlihat jelas di raut wajahnya. Yandri hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah tahu alamat rumah teman-teman Daniar.
Ya, Karena merasa panik, dia sampai melupakan sekolah tempat Daniar bekerja. Sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumah yang Daniar tempati dulu.
Senin pagi. Yandri sudah siap untuk melakukan pencarian terhadap mantan istrinya itu. Dengan perasaan tidak karuan, dia menjalankan mobilnya menuju tempat kerja Daniar. Yandri berharap, dia bisa menemukan sang mantan istri di tempat kerjanya.
Tiba di sekolah, Yandri melihat pintu gerbang sekolah sedikit terbuka. Dia segera menghentikan kendaraannya dan keluar untuk membuka pintu gerbang lebih lebar lagi.
Bu Etty yang sedang piket sekolah, sontak keluar begitu mendengar suara pintu gerbang yang terbuka. Keningnya mengernyit ketika melihat seorang pria tengah mendorong pintu gerbang tersebut. Bu Etty pun mendekati orang itu.
"Kang Yandri!" seru Bu Etty setelah mengenali pria tersebut.
Yandri menoleh. Dia tersenyum ketika melihat salah satu rekan kerja Daniar di sekolah ini.
Bu Etty terlihat celingak-celinguk. Seperti sedang mencari sesuatu. Membuat Yandri ikut mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Maaf, sepertinya Ibu sedang mencari sesuatu?" tanya Yandri.
"Hehehe, iya Kang. Saya sedang mencari Bu Niar. Emh ... memangnya Bu Niar enggak ikut bersama Akang? Kok enggak kelihatan? Padahal ... saya sudah kangen banget sama Bu Niar," cecar Bu Etty yang kini mengalihkan pandangannya ke arah mobil Yandri.
Pria jangkung itu cukup terkejut mendengar perkataan Bu Etty. Selama ini, memang perceraian mereka tidak pernah diketahui banyak orang. Namun, mendengar perkataan Bu Etty, Yandri pun berpikir jika sesuatu terjadi pada Daniar, tapi apa?
"Apa kita bisa bicara sebentar, Bu?" tanya Yandri yang sudah semakin penasaran dengan keadaan Daniar.
"Ah, tentu saja, Kang. Mari silakan masuk!" ajak Bu Etty.
Yandri mengikuti Bu Etty yang sudah terlebih dahulu memasuki ruangan. Setelah dipersilakan duduk, Yandri pun mulai bertanya tentang Daniar.
"Tunggu-tunggu, Kang! Apa maksud Akang mencari keberadaan Bu Niar? Jujur saja, saya tidak mengerti," ucap Bu Etty.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Yandri mengatakan semua kebenarannya. Tentang perceraiannya, dan juga tentang hilangnya komunikasi mereka selama kurang lebih dua tahun.
"Astaghfirullahaladzim, Kang. Sekarang saya mengerti kenapa Bu Niar memilih resign dari sini," kata Bu Etty.
"Resign? Apa maksud Ibu Daniar resign?" Yandri semakin kalut ketika mengetahui Daniar berhenti bekerja.
"Benar, Kang. Sudah satu tahun ini, Bu Niar tidak mengajar lagi di sini," jawab Bu Etty.
"Apa Ibu tahu, ke mana istri saya pindah?" tanya Yandri.
__ADS_1
"Dulu, Bu Niar pernah bilang jika dia dan ibunya pindah ke sebuah kontrakan yang memang cukup jauh dari sini. Namun, semenjak Bu Niar mengundurkan diri, saya pun sudah hilang komunikasi sama beliau," tutur Bu Etty.
Rasanya, seluruh tubuh Yandri terasa lemas mendengar penuturan Bu Etty. Namun, Yandri tidak ingin patah semangat. Dia pun menanyakan alamat kontrakan Daniar.
"Alamat lengkapnya saya tidak tahu, Kang. Tapi dia pernah bilang jika dia mengontrak rumah di daerah Pasirekek," jawab Bu Etty.
"Pasirekek, Bu?" ulang Yandri, " daerah mana itu?" tanyanya.
"Waduh, saya sendiri tidak tahu, Kang. Bu Niar bilang, letaknya jauh dari sini," jawab Bu Etty.
Yandri kebingungan. Memang sangat sulit mencari keberadaan Daniar tanpa alamat yang jelas. Seperti mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami saja.
.
.
"Serius, Kak?" tanya Siska, dengan suara yang terdengar gembira.
"Tentu saja aku serius, Sis. Memangnya ... kapan aku pernah bohong sama kamu?" ucap Habibah.
"Ya sudah, Kak. Sekarang juga Siska ke sana, ya. Siska sudah rindu sama Yandri," lanjut Siska.
"Tapi Sis, sekarang Yandri sedang tidak ada di ru–"
Perkataan Habibah terpotong oleh bunyi sambungan telepon yang diputus.
"Ish, nih anak! Kebiasaan banget, belum selesai ngomong udah diputus aja," gerutu Habibah.
"Siapa yang kebiasaan, Bah?" tanya Bu Maryam.
Mendapati ibunya sudah berada di belakang, Habibah sontak kaget. Dia pun membalikkan badan.
"I-ibu? Sejak kapan Ibu di sini?" tanya Habibah.
Bu Maryam tidak menjawab. Dia hanya menatap tajam ke arah putrinya.
"Jadi, kamu sudah memberi tahu Siska, jika Yandri sudah datang?" tanya Bu Maryam.
Habibah hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ish, Bah ... kenapa harus tergesa-gesa untuk memberi tahu kepulangan Yandri kepada Siska? Bukankah kamu sendiri tahu, kalau Yandri belum bisa tinggal di sini," keluh Bu Maryam. "Nanti, kalau dia datang dan Yandri tidak ada, gimana?" lanjut Bu Maryam.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Habibah hanya bisa menundukkan kepala. Dia sendiri merasa menyesal karena telah bertindak gegabah.
"Lalu, Siska bilang apa? Apakah dia mau datang kemari?" tanya Bu Maryam lagi.
"Entahlah, Bu. Dia langsung menutup teleponnya sebelum Habibah sempat bilang jika Yandri sedang pergi," jawab Habibah.
Huft!
Bu Maryam membuang napas dengan kasar. Jika seperti ini, sudah bisa dipastikan kalau calon menantunya itu akan segera datang.
Tak lama berselang ....
"Assalamu'alaikum!"
Sapaan seorang wanita, begitu nyaring hingga terdengar sampai rumah Habibah. Bu Maryam dan Habibah hanya bisa saling pandang.
"Apa yang harus kita katakan pada gadis itu, Bu?" tanya Habibah.
"Kita katakan saja yang sebenarnya. menyembunyikannya pun, tidak akan mampu mengelabui perempuan itu," kata Bu Maryam.
"Ya sudah, kalau begitu, biar Bibah saja yang buka pintunya."
.
.
Sementara itu, Yandri masih terus melakukan pencarian terhadap anak dan mantan istrinya. Sedikit pun, dia tidak merasa lelah. Meskipun harapan untuk menemukan kedua bidadarinya, begitu tipis.
Kampung Pasirekek dia singgahi. Namun, tidak ada seorang yang mengenal nama Daniar ataupun Bu Salma. Hingga setelah beberapa jam mencari tanpa hasil, akhirnya Yandri memutuskan untuk kembali ke rumah.
.
.
Di kediaman Bu Maryam.
Ekspresi wajah Siska langsung berubah kecut saat mengetahui Yandri tidak ada di rumah Bu Maryam. Terlebih lagi saat mengetahui alasan kenapa Yandri pergi dari rumah.
Huh, lagi-lagi tentang anaknya. Lihat saja nanti, setelah aku berhasil menjadi istrinya Yandri, akan aku putuskan hubungan ayah dan anak itu! batin Siska menggerutu kesal.
Siska benar-benar kesal dengan sikap Yandri yang selalu menjadikan anaknya sebagai alasan untuk menemui sang mantan istri.
__ADS_1
Kedua bola mata Siska mulai berkaca-kaca. Kerinduan yang sudah meluber di hatinya, hanya mampu dia pendam sendiri. Untuk yang kesekian kalinya, dia merasa kecewa lagi karena menyadari sesuatu.
Kenyataan, memang tidak pernah seindah ekpektasinya.