Setelah Hujan

Setelah Hujan
Memilih


__ADS_3

Aji yang awalnya hanya ingin menjenguk Khodijah, langsung berubah pikiran saat mengetahui rencana adik ipar dan mertuanya.


Miris sekali, di saat ada anggota keluarga yang membutuhkan support dari anggota keluarga yang lainnya, mereka justru malah menjadikan musibah ini hanya untuk mencari keuntungan sendiri.


Huh, keluarga macam apa? batin Aji, geram.


"Aji! Tunggu! Kamu mau ke mana?"


Bu Maryam kembali berteriak memanggil menantunya. Setengah berlari, dia menyusul Aji yang hendak memasuki kamarnya. Sebelum Aji melewati pintu kamar, Bu Maryam mempercepat langkahnya hingga mendahului Aji. Tiba di depan kamar, dia berdiri tegak seraya berkacak pinggang.


"Jaga batasan kamu, Aji! Bersikaplah layaknya seorang tamu. Ibu tidak akan membiarkan kamu membawa Khodijah pergi dari rumah ini. Paham kamu!" tegas Bu Maryam.


"Maafkan Aji jika memang sikap Aji tidak sopan menurut Ibu. Tapi Aji tidak akan membiarkan sakitnya Khodijah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tolong jangan halangi Aji, Bu. Bagaimanapun, Khodijah itu istrinya Aji, dan Aji berhak membawa Khodijah pergi ke mana pun Aji suka!" Aji menjawab perkataan sang mertua tak kalah tegasnya.


"Tapi dia anak Ibu!" teriak Bu Maryam dengan lantang.


"Anak yang sudah Ibu serahkan kepada Aji! Jadi Aji lebih berhak atas diri Khodijah daripada Ibu. Apa Ibu sudah lupa jika Khodijah itu masih sah menjadi istrinya Aji?"


"Ka–"


"Ka-kang A-ji!"


Kalimat Bu Maryam terpotong saat dia mendengar suara lirih anaknya dari dalam kamar.


"Baiklah, Khodijah memang istri kamu, tapi dia juga anak Ibu. Kita lihat saja, siapa yang akan dipilih Khodijah. Ayo masuk!" Tantang Bu Maryam seraya membuka pintu kamar.


Aji hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam ketika harus melihat keegoisan masih bersemayam dalam diri ibu mertuanya. Tak ingin ambil pusing dengan semua sikap keras kepala sang mertua, Aji melangkahkan kaki memasuki kamar, tempat Khodijah dirawat.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Aji saat melihat kondisi Khodijah.


Rambut yang masih acak-acakan dan terlihat gimbal, kain sarung yang basah hingga sampai pinggang. Khodijah terlihat seperti belum mandi. Tubuhnya pun semakin kurus. Sungguh sangat jauh berbeda dengan Khodijah yang pertama kali Aji antarkan ke rumah ibunya.


"Ibu!"


Haikal dan Hana menghambur ke arah Khodijah. Tanpa merasa jijik, kedua anak itu memeluk ibunya dengan sangat erat.

__ADS_1


Khodijah sudah tak mampu membendung air mata. Kerinduan kepada kedua anaknya telah begitu memuncak. Dia pun hanya bisa menangis untuk mengungkapkan kerinduannya.


Aji mendekati Khodijah. Mulutnya sudah ingin menyalahkan ibu mertua dengan berkata kasar atas apa yang Khodijah alami saat ini. Namun, Aji masih waras. Dia tidak akan memancing keributan di rumah orang lain. Aji hanya bisa pasrah dan berserah diri pada Yang Maha Kuasa.


"Sudah cukup, Nak. Biar Bapak mandikan ibu kamu dulu. Setelah ibu pulang, kalian bisa memeluk ibu sepuas hati kalian," ucap Aji seraya menyentuh pundak kedua anaknya.


Hana dan Haikal melepaskan pelukannya. Tangan mungil Haikal menyeka air mata yang mengalir deras di kedua pipi ibunya.


"Ibu jangan menangis lagi. Setelah di rumah nanti, Ical bakal temani Ibu bobo sambil membacakan buku cerita. Ibu mau, 'kan pulang ke rumah kita?" tanya Haikal.


"Eh, enak saja! Anak kecil tahu apa? Udah deh ... enggak usah sok ikut campur urusan orang dewasa. Lebih baik, kamu belajar dengan tekun, biar jadi orang sukses. Biar bisa dapat pekerjaan yang layak, enggak seperti bapak kamu. Cuma seorang penjahit murahan!" ejek Bu Maryam.


Aji sudah tidak peduli lagi dengan ejekan yang dilontarkan Bu Maryam. Fokus Aji hanya satu, membawa Khodijah pulang dari rumah ibu mertuanya.


.


.


Daniar masih duduk merenung di atas ranjang. Sesekali, dia menatap ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Berharap benda pipih itu akan berbunyi, pertanda ada pesan ataupun telepon masuk. Namun, sampai detik ini, nyatanya benda pintar itu masih tak bersuara.


Bu Salma yang datang ke kamar untuk membawakan makan siang Daniar, hanya bisa menghela napas melihat sikap anaknya. Sejak kecil, Daniar memang selalu seperti ini. Diam dan hanya duduk terpaku jika belum mampu menyelesaikan masalahnya. Dia bahkan bisa sampai lupa makan saat pikirannya masih kalut.


Bu Salma menaruh nampan di atas meja rias. Setelah itu, dia mengambil ponsel Daniar dari atas nakas dan menyodorkannya kepada Daniar.


"Ambil dan hubungi suami kamu, Nak. Kirim pesan padanya. Katakan agar dia segera menghubungi kamu di waktu senggangnya," perintah Bu Salma.


Daniar menatap ibunya. Namun, saat dia melihat anggukan sang ibu, dia pun mengambil benda pipih tersebut dari tangan ibunya.


Yah, tolong hubungi Bunda jika ada waktu luang. Ini penting sekali! Ketik Daniar di layar ponsel. Sepersekian detik kemudian, Daniar mengirimkan pesan tersebut.


Bu Salma tersenyum. "Kembalikan ponselnya!"


Daniar mengulurkan tangan untuk menyerahkan ponselnya kepada Bu Salma. Setelah itu, Bu Salma mengembalikan ponsel tersebut ke tempat semula. Dia kemudian mengambil nampan yang berisi makan siang putrinya.


"Makanlah, Ni. Tidak baik mengosongkan perut ketika sedang berbadan dua," titah Bu Salma sambil menyendok nasi dan menyuapi Daniar.

__ADS_1


.


.


Aji tidak menghiraukan perkataan Bu Maryam yang terus nyerocos bagai petasan. Dia menggulung lengan kemejanya. Dengan sigap, Aji mengangkat tubuh kurus Khodijah dan membawanya ke kamar mandi.


"Hana, tolong siapkan pakaian untuk Ibu!" perintah Aji sesaat sebelum membawa Khodijah keluar kamar.


Bu Maryam masih setia mengekori menantunya sambil terus berbicara. "Tunggu, Aji! Ini rumah Ibu. Kamu tidak bisa bersikap seenak jidatmu di rumah Ibu!"


Namun, Aji tak menggubris perkataan Bu Maryam. Masa bodoh dengan norma, etika dan adab bertamu, pikirnya. Aji hanya ingin segera membawa pergi istrinya dari sini. Dari orang-orang yang ternyata tidak pernah tulus menyayanginya.


Sambil mengucurkan air mata, Aji mengguyur tubuh kurus Khodijah yang hanya tinggal tulang berbalut kulit saja. Dadanya semakin sesak. Bukannya semakin baik, kondisi Khodijah malah terlihat memprihatinkan.


"Ya Tuhan, Dek. Seandainya dulu Akang tidak mengizinkan kamu pulang ke rumah ibu, kamu pasti tidak akan seperti ini," gumam Aji, menyesali keputusannya.


Ini bukan salah kamu, Kang. Ini salah Dijah sendiri. Dijah mohon ... jangan menangis, batin Khodijah, menatap sendu suaminya.


Selesai memandikan Khodijah, Aji kembali membawa Khodijah ke kamar. Bu Maryam masih menyambut Aji dengan segudang omelan. Akan tetapi, Aji masih tidak menghiraukan keberadaan Bu Maryam. Dia sudah menutup kedua telinganya untuk ocehan wanita tua itu.


"Cukup Aji!" Kamu tidak bisa memaksa istri kamu untuk ikut bersamamu. Dia sendiri yang memutuskan untuk kembali pada Ibu," teriak Bu Maryam, masih berkacak pinggang.


"Aji enggak peduli, Bu. Khodijah itu istri Aji, dan dia harus ikut Aji ke mana pun Aji pergi!" balas Aji, mulai meninggikan suaranya.


"Huh, dasar suami egois! Baiklah, biar adil ... sekarang biarkan Khodijah memilih. Ibu yakin jika dia sudah tidak kerasan hidup sama kamu, karena itu dia pulang," ucap Bu Maryam, geram.


"Tidak akan ada pilihan lagi, Bu. Suka tidak suka, ridho tidak ridho, Aji akan tetap membawa Khodijah pulang. Titik!" tegas Aji.


"Huh, jangan terlalu sok kamu, Kang Aji. Berikan Kak Dijah hak untuk memilih. Bukankah sebagai seorang manusia, Kak Dijah juga punya hak untuk memilih kenyamanan tempat tinggal?" tukas Habibah menimpali pembicaraan ibu dan kakak iparnya.


Aji diam. Dia sudah enggan menanggapi ucapan dari keluarga istrinya.


Rasanya Khodijah ingin menjerit untuk menengahi perdebatan mereka. Namun, dia tidak mampu berbicara. Khodijah hanya bisa menatap ketiga orang yang tengah memperdebatkan keberadaannya.


"Pu-pu-lang ... Ka-kang!"

__ADS_1


__ADS_2