Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Loh, kok enggak masuk, Sayang?" tegur Yandri saat melihat istrinya hanya berdiri di ambang pintu kamarnya.


Daniar menoleh, "Kayaknya, ini bukan kamar kita lagi, Yah."


Yandri mengerutkan keningnya. Sejenak, dia menaruh tas jinjing di atas sofa. Lepas itu, dia kemudian menghampiri istrinya dan ikut berdiri di samping Daniar.


Melihat pakaian yang tergantung di hanger dinding kamar, Yandri pun menyadari jika kamarnya ternyata sudah dikuasai oleh si bungsu.


"Hmm, kamu benar, Sayang. Sepertinya Raihan telah menempati kamar ini," balas Yandri.


"Terus, kita tidur di mana, Yah?" tanya Daniar.


"Kita tidur di kamar ibu saja," usul Yandri.


"Ih, apa enggak sopan itu namanya, Yah," tukas Daniar merasa risih.


"Enggak lah, yang penting kita enggak sentuh barang-barang ibu," jawab yandri. "Lagian, kalau kita tidur di luar, kasihan Bintang, Bun. Udara di sini sangat dingin," lanjut Yandri.


"Hmm, iya deh ... terserah Ayah saja," sahut Daniar.


Yandri beranjak dari tempatnya. Dia kembali membawa tas jinjing itu dan pergi ke kamar ibunya. "Yuk, Bun!" ajak Yandri kepada istrinya.


.


.


Hari sudah beranjak senja. Setelah memandikan putrinya, Daniar segera menyiapkan makanan untuk mereka. Maklum saja, suasana dapur di rumah mertuanya, sangat berbeda dengan apa yang dia miliki di sekolah. Tak ingin repot-repot menyalakan tungku api, Daniar akhirnya membawa nasi timbel lengkap dengan lauk pauk yang telah dia masak tadi siang.


"Makan sekarang, Yah?" tanya Daniar begitu melihat Yandri masuk.


Ya, sesaat setelah mereka tiba di rumah, dengan alasan bersilaturahmi kepada tetangga, Yandri meninggalkan Daniar dan anaknya di rumah.


"Nanti saja, Bun. Tanggung, sebentar lagi magrib," jawab Yandri.


"Oh, ya sudah," sahut Daniar, masih fokus memindahkan makanan yang dia bawa. "Raihan ke mana ya, Yah? Kok sampai jam segini belum pulang?" tanya Daniar yang teringat akan adik iparnya.


Awalnya, Daniar berpikir kalau Raihan mungkin saja sedang bermain dengan teman-temannya. Namun, hingga hari menjelang magrib, Raihan belum kelihatan juga.

__ADS_1


"Entahlah, anak itu sudah semakin tidak bisa diatur saja," jawab Yandri terlihat kesal.


Daniar mengerutkan keningnya. Dia merasa heran mendengar jawaban suaminya. Atas alasan apa hingga sang suami menggerutu kesal akan sikap Raihan? Bukankah semenjak Raihan pulang dari kota, Yandri belum pernah bertemu dengannya?


Ah, sudahlah ... untuk apa juga aku pikirkan, batin Daniar.


"Bun, ayah mau ke Cinyusu dulu. Setelah itu Ayah langsung pergi ke mushola untuk salat magrib. Bunda enggak pa-pa, 'kan, ditinggal sendirian di rumah?" tanya Yandri.


"Eh, tunggu Yah! Bunda titip Bintang sebentar, mau ambil wudhu dulu. Entar repot kalau Ayah sudah pergi. Ayah sendiri tahu, 'kan, kalau Bintang itu susah untuk ditinggal," kata Daniar.


Yandri mengangguk. "Ayo Bintang Sayang, ikut Ayah dulu, ya. Bundanya mau wudhu," ucap Yandri sembari meraih dan menggendong putrinya ke ruang tengah.


Setelah suaminya pergi, Daniar pun ke kamar mandi untuk berwudhu. Beberapa menit kemudian, Daniar masuk kembali. Dahinya sedikit berkerut saat mendengar putrinya menangis.


"Astaghfirullah, Bintang kenapa?" tanya Daniar sambil berlari menghampiri putrinya.


Daniar begitu terkejut melihat celana Bintang basah dan terasa panas. Dia juga melihat air tumpah di sekitar Bintang. Sepertinya, Bintang memainkan dispenser dan membuka keran air panas.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Daniar. "Yah. Ish, Ayah ngapain aja sih, anaknya main dispenser sampai enggak tahu gitu. Tuh, kaki Bintang kena air panas!" Tunjuk Daniar kepada kaki mungil anaknya yang terlihat merah.


"Astaghfirullah ... maafin Ayah, Dek," ucap Yandri penuh penyesalan.


Daniar membawa anaknya ke kamar. Di sana, dia segera mengoleskan salep serbaguna yang selalu dibawanya ke mana-mana.


Yandri mengikuti Daniar. Sedetik kemudian, dia duduk di hadapan putrinya. Sedikit menunduk untuk meniupi pergelangan kaki Bintang yang memerah terkena air panas.


"Sakit ya, Nak. Maaf ya, Sayang," ulang Yandri, meminta maaf kepada putrinya.


Bintang masih menangis histeris seraya memeluk sang ibu.


"Sudah-sudah, Nak. Jangan menangis lagi, Sayang. Bintang anak yang kuat," ucap Daniar seraya menepuk pelan punggung anaknya.


Sejenak, Daniar menatap suaminya. Sejak kemarin, suaminya terlihat berbeda. Daniar sering mendapati suaminya sedang melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria yang begitu dicintainya.


"Kamu kenapa sih, Yah? Sejak kemarin, Bunda lihat, Ayah sering bengong. Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Ayah?" tanya Daniar.


Yandri diam. Laporan pak Agus kemarin sudah membuat kepalanya pusing. Ditambah lagi, tadi dia berkunjung ke rumah temannya untuk bersilaturahmi. Di sana pun, temannya melaporkan tentang sikap Raihan setelah pulang dari kota. Bahkan, temannya pernah menegur Raihan. Namun, Raihan malah menantangnya. Karena itu, pikiran Yandri semakin kacau

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan, Bun. Sekarang, Ayah ke mushola dulu," jawab Yandri seraya beranjak keluar kamar.


Daniar kembali dibuat melongo oleh sikap suaminya.


.


.


Malam mulai menjelang. Setelah menangis histeris tadi sore akibat terkena air panas, Bintang akhirnya terlelap juga. Daniar mulai mendirikan solat magrib. Mumpung Bintang tidur, Daniar pun menyempatkan diri untuk mengaji. Saat dia tengah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, tiba-tiba dia mendengar seseorang membuka pintu.


Hmm, mungkin kang Yandri sudah pulang. Sebaiknya segera aku siapkan makan malamnya sekarang, batin Daniar seraya menutup Al-Quran dan melipat mukenanya.


Setelah menaruh mukena pada tempatnya, Daniar segera keluar kamar untuk menyambut suaminya pulang dari mushola.


"Mau makan sekarang, Ya ... h,"ucap Daniar yang langsung terpaku saat melihat Raihan masuk bersama seorang perempuan.


Begitu juga dengan Raihan. Pemuda itu sangat kaget melihat kakak iparnya sedang berada di rumahnya.


"Kak Niar? kok Kak Niar ada di sini?" tanya Raihan sedikit kebingungan


"Iya, Dek. Abang kamu ngajakin Kakak nginep di sini," jawab Daniar.


"Kok enggak bilang-bilang sama Raihan,Kak?" Raihan kembali bertanya.


"Maaf, Dek. Kakak sendiri tidak tahu," balas Daniar.


"Ih, gangguin aja," dengus Raihan terlihat kesal.


"Sudah, Bang. Kita masuk saja" timpal perempuan yang datang bersama Raihan tadi.


Tak lama kemudian, perempuan itu menarik tangan Raihan untuk memasuki kamar Yandri yang memang sudah diambil alih oleh Raihan.


Lagi-lagi, Daniar dibuat bengong oleh keadaan. Astaghfirulloh, batin Daniar beristighfar. Sedetik kemudian, Daniar masuk ke kamarnya dengan wajah kebingungan. Entah kenapa Daniar merasa jika Raihan yang berubah. Seperti bukan Raihan yang pertama kalinya dia kenal.


Tapi siapa wanita itu? Apa dia kekasihnya Raihan? Tapi kenapa dia begitu lancang memasuki kamar Raihan? batin Daniar seraya menggelengkan kepala.


Tiba di kamar, Daniar hanya bisa duduk terpaku di atas kasur. Dia masih menerka-nerka tentang tamu tak diundang yang datang bersama Raihan. Apa dia kekasih Raihan?

__ADS_1


__ADS_2