Setelah Hujan

Setelah Hujan
Pindah Lagi


__ADS_3

Seraya menggendong anak-anaknya, kakak beradik itu berjalan tergesa-gesa menuju rumah kerabatnya yang meninggal. Tak berapa lama, berita tentang meninggalnya Hajjah Minah mulai terdengar dari pengumuman di tiap-tiap masjid yang berada di kampung Daniar. Daniar dan Danita semakin mempercepat agar segera sampai di rumah besar milik almarhumah


Dibantu oleh beberapa orang tetangga laki-laki, Daniar mulai mengosongkan beberapa ruangan di rumah megah itu. Hajjah Minah beserta sang suami adalah salah satu tokoh pejuang. Karena itu, Daniar memprediksi kalau para pelayat pasti akan berdatangan dari berbagai kota. Ditambah lagi, kelima anak Hajjah Minah merupakan para pengusaha dan pejabat di daerahnya masing-masing.


"Tolong kosongkan ruang tamu utama, ruang tengah, ruang paviliun dan ruang khusus foto ya, Mang!" pinta Daniar pada dua orang warga yang tengah membantunya.


"Baik, Neng!" jawab serempak kedua orang itu.


.


.


Sementara itu di tempat pemakaman keluarga. Yandri bersama para warga mulai menggali kuburan untuk tempat peristirahatan terakhir kerabat sang istri. Posisi tempat peristirahatan terakhir wanita yang sangat dikaguminya, tepat berada di samping suami tercinta. Banyaknya orang yang membantu, membuat Yandri tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan makam Hajjah Minah.


Tiga jam telah berlalu. Bunyi sirine mulai terdengar dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, Daniar dan Danita segera menghambur keluar untuk menyambut rombongan yang membawa jenazah. Dari teras depan, terlihat sebuah mobil ambulan berbelok ke arah rumah Hajjah Minah. Di belakang mobil ambulan, berjajar mobil-mobil mewah yang mengantarnya.


Sirine mobil ambulan pun berhenti saat memasuki pekarangan rumah Hajjah Minah. Dengan mata berembun, Daniar menatap keranda yang sedang diturunkan petugas medis. Setelah itu, mereka membawa keranda tersebut memasuki rumah. Diikuti oleh semua anak, menantu, cucu dan cucu menantu Hajjah Maryam dari belakang


Setelah jenazah dibaringkan di tempat yang sudah tersedia, satu per satu para pelayat mulai datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Lantunan ayat suci Al-Quran dan do'a mulai terdengar di ruang utama. Semakin sore, para pelayat semakin banyak, hingga halaman rumah Hajjah Minah mulai penuh oleh orang-orang yang keluar masuk untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pejuang wanita yang sangat tangguh itu.


Daniar menatap sendu jenazah yang telah terbungkus kain kafan. Kenangan indah saat dia masih menemani Hajjah Minah sebelum dia menikah, kembali berkelebat dalam ingatannya. Daniar bersyukur karena selama tinggal bersama beliau, begitu banyak sekali pelajaran yang bisa dia ambil dari sikap perjuangan beliau dalam menegakkan agama.


Selamat jalan Nek. Semua petuah Nenek tidak akan pernah Niar lupakan. Niar janji, kelak Niar akan mengenalkan kisah perjuangan kakek dan nenek kepada anak-anak Niar. Agar mereka mengetahui sejarah yang sebenarnya. Mereka pasti akan merasa bangga karena telah mewarisi darah kalian.

__ADS_1


.


.


Satu minggu telah berlalu. Selepas acara tahlil terakhir, semua anak almarhumah Hajjah Minah berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba salah satu dari mereka memanggil Bu Salma dan Daniar yang tengah membereskan ruangan bekas tahlilan.


Bu Salma segera mendekat, begitu juga dengan Daniar.


"Duduklah, Kak," ucap putra bungsu almarhumah yang bernama Tirta.


Bu Salma duduk di samping sepupunya. Sejenak, dia menatap Bu Rini, sang sepupu. Bu Rini hanya memegang tangan saudara sekaligus sahabatnya itu.


"Begini, Kak Salma. Kami sebagai putra putri ibu, sangat berterima kasih sekali atas keikhlasan Kakak dalam mengurus dan melayani ibu. Dulu, ibu pernah bilang jika rumah ini tidak boleh dijual meskipun beliau sudah tidak ada. Untuk itu, kami semua sepakat untuk tidak menjualnya. Tapi kami sendiri merasa bingung, karena tidak ada satu pun yang bisa menempati rumah ini setiap waktu. Kakak sendiri tahu, 'kan, kalau rumah tidak ditempati, maka akan cepat rusak. Lagi pula pekerjaan kami tidak memungkinkan untuk kami pindah ke sini. Karena itu kami sepakat untuk meminta Kakak agar menempati rumah ini," papar Tirta panjang lebar.


Bu Salma terkejut, "Tapi Cep, rumah ini terlalu besar untuk Kakak tempati. Tidak apa-apa, Kakak pulang saja. Sesekali Kakak akan datang ke sini untuk membersihkannya," jawab Bu Salma.


"Tapi, Neng ...."


"Sudah Sal, turuti saja. Lagi pula, di sini kamu enggak akan sendirian. Kamu bisa ajak Daniar sama Danisa untuk tinggal di sini. Sedangkan rumah kamu, biar Danita yang akan mengurusnya," timpal Bu Rini. 'Gimana, Niar? Kamu mau, 'kan menemani ibu kamu tinggal di rumah ini?" tanya Bu Rini kepada keponakannya.


"Nanti Daniar tanyakan sama kang Yandri, Wak," jawab Daniar.


"Tidak usah ditanyakan, Ni. Karena Uwak juga sudah melimpahkan seluruh aset nenek kamu untuk dikelola Yandri," timpal Tirta.

__ADS_1


Daniar dan Bu Salma sangat terkejut dengan keputusan keluarga Hajjah Minah. Pepatah memang benar. Setiap kebaikan, pasti akan berbuah kebaikan pula. Suaminya seolah dianaktirikan oleh ibunya sendiri. Namun, siapa sangka justru di keluarga besar Daniar, Yandri mendapatkan tempat yang begitu istimewa. Menjadi orang kepercayaan keluarga besar pejuang. Subhanallah ....


.


.


Setelah semua sepupunya pergi, Bu Salma mengajak putri sulung dan putri bungsunya untuk tinggal di rumah almarhumah Hajjah Minah. Bahkan kini Yandri dipercaya untuk mengelola hasil kebun, sawah dan kolam peninggalan almarhumah. Namun, semua itu tidak melunturkan cita-cita Yandri menjadi guru. Dengan setia, dia masih tetap menjalani pekerjaan sebagai tenaga honorer.


Yandri sadar, segala sesuatu yang dititipkan pasti suatu hari nanti akan hilang karena diambil si empunya. Yandri tidak akan terlena dengan sesuatu yang bukan miliknya. Dia harus tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak istrinya. Diberikan tempat secara gratis pun dia sudah sangat bersyukur.


"Kamar Niar di mana, Bu?" tanya Daniar saat dia menyimpan kopernya di sudut ruangan.


"Pilih saja, Ni. Kamarnya banyak kok," jawab Bu Salma.


"Di sana aja, Bun!" Tunjuk Yandri pada sebuah kamar berderet tiga yang berada di dekat ruang makan.


"Yakin, Yah? Kenapa enggak di ruang paviliun saja, biar ada kamar mandinya?" tanya Daniar.


"Dingin, Bun. Kalau di sini udaranya hangat. Lagi pula kalau lapar tengah malam, 'kan enak, bisa langsung menuju meja makan di sana," gurau Yandri seraya menunjuk meja makan yang tepat berada di depan kamar yang dia tunjukkan.


"Hmm, dasar perut karet!" balas Daniar. "Ya sudah, ayo kita bereskan kamar kita!" ajak Daniar kepada suaminya.


Yandri mengangguk. Dia mengangkat kopernya dan membawa ke kamar yang dia inginkan. Sekali lagi kami berpindah tempat. Ya Allah ... kapan hamba bisa berpindah tempat ke rumah sendiri? batin Yandri.

__ADS_1


"Ayo Yah, jangan bengong aja. Ayo, isi kopernya keluarin, biar bisa Bunda pindahkan ke dalam lemari pakaian," perintah Daniar.


Yandri membuka koper dan mengeluarkan semua isinya. Satu per satu, Daniar mulai memasukkan pakaiannya ke dalam lemari yang sudah ada di kamar itu.


__ADS_2