
Tiba di depan sebuah rumah panggung, Yandri menurunkan Daniar. "Kita sudah sampai," ucapnya.
"Rumah siapa ini?" tanya Daniar seraya duduk di sebuah bangku di depan rumah.
"Rumah kakakku," jawab Yandri, singkat. Sejurus kemudian, Yandri menaiki tiga buah anak tangga yang berada di depan pintu rumah tersebut.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah panggung itu. Mungkin karena malam sudah semakin larut juga. Sepertinya para penghuni rumah telah tertidur.
"Assalamu'alaikum, Kak Aminah!" Yandri kembali mengucapkan salam. Bahkan, kali ini memanggil nama sang kakak. Namun, masih tidak ada jawaban juga.
Tok-tok-tok!
Akhirnya Yandri mengetuk pintu rumah kakak tertuanya. Sesekali, dia mengintip dari jendela rumah untuk melihat apakah ada kehidupan di dalam sana.
"Assalamu'alaikum, Kakak!" Untuk yang ketiga kalinya, Yandri mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam." Akhirnya, suara seorang wanita pun terdengar dari dalam rumah. Senyum Yandri seketika mengembang mendengar jawaban wanita yang tak lain adalah kakaknya Yandri.
Ceklek!
Pintu terbuka. Tampak seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan berdiri di ambang pintu dengan hanya mengenakan daster bermotif bunga. Wajah ngantuknya masih terlihat jelas. Hmm, sepertinya dia baru bangun tidur.
"Yandri? Kenapa pulangnya malam sekali?" tanya wanita itu. Sejenak dia terpaku saat melihat Daniar duduk di bangku depan rumahnya. "Siapa gadis ini, Yan?" Wanita itu kembali bertanya kepada Yandri.
"Dia temanku, Kak," jawab Yandri seraya membuka sepatunya.
"Oh ya sudah. Cepat bawa masuk, udaranya semakin dingin," perintah Kak Aminah.
Yandri mengangguk. Dia kemudian mengajak Daniar untuk memasuki rumah sang kakak. Saat tiba di ruangan, Kak Aminah keluar dari salah satu kamar yang sudah dia bereskan. Sedetik kemudian, dia menghampiri Daniar.
"Siapa nama kamu?" tanya Kak Aminah.
"Da-daniar, Kak," jawab Daniar, tergugup.
__ADS_1
"Baiklah Daniar, sekarang bersihkan dirimu dan beristirahatlah di kamar Yandri," ucap Kak Aminah seraya menunjuk kamar yang tadi dia bereskan. "Kamu juga, Yan. Bersihkan dirimu dan segera beristirahat. Ini sudah sangat malam. Bantal dan selimutnya kamu bawa sendiri, ya. Kakak sudah ngantuk banget, mau tidur lagi," lanjut Kak Aminah.
"Baik, Kak," jawab Yandri.
Setelah sang kakak pergi, Yandri kemudian mengajak Daniar ke belakang.
"Ini kamar mandinya. Kamu bisa membersihkan diri di sini biar bisa segera istirahat," ucap Yandri. Dia kemudian meraih handuk yang tergantung di tempatnya dan memberikannya kepada Daniar.
Setelah mengambil handuk tersebut, Daniar pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Yandri, dia pergi ke belakang rumah untuk mencuci tangan dan kakinya.
Setelah selesai, Yandri kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil bantal dan selimut. Namun, sebelumnya dia berganti pakaian terlebih dahulu. Tanpa dia sadari, Daniar yang tak mengetahui keberadaan Yandri di kamar, tiba-tiba memasuki kamar tersebut.
"Aargh!" pekik Daniar saat melihat Yandri telanjang setengah badan.
Yandri terkejut, buru-buru dia memakai kaosnya. Sedetik kemudian, dia keluar dari kamar itu. Yandri melewati Daniar tanpa banyak bicara. Dia sadar jika kejadian barusan bukan salah Daniar. Akan tetapi, salah kamar yang tak memiliki pintu. Hanya tirai penutup saja yang terbentang untuk menutupi isi ruangan di dalamnya.
Setelah laki-laki itu menghilang dari pandangannya, Daniar buru-buru memasuki kamar. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat saat bayangan punggung Yandri kembali menari di pelupuk matanya. Ish, kenapa harus seperti ini? batin Daniar.
Daniar mendekati kasur yang tergeletak di atas lantai papan. Sejurus kemudian, dia merebahkan tubuhnya. Matanya hanya menatap kosong langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada apa yang dia alami beberapa jam yang lalu.
"Huft!"
Daniar membuang napasnya dengan kasar. Sudah lama dia membaringkan tubuh. Namun, rasa kantuk seolah enggan menghampiri. Daniar bangun, tangannya menyingkap tirai yang menjadi pintu kamar. Sejenak, dia melihat Yandri yang sudah mendengkur halus.
Daniar keluar kamar. Dia berjalan menuju pintu belakang. Niatnya untuk berwudhu. Namun, saat dia melihat keluar jendela. Tampak pantulan cahaya rembulan menerobos masuk. Daniar pun membuka pintu untuk menikmati sinar rembulan di beranda samping.
Daniar duduk di sebuah bangku panjang. Merasai kening yang mulai perih karena udara malam menusuk kulitnya. Tangan Daniar meraba pelipisnya. "Ish!" Daniar meringis.
Ya Tuhan, aku sudah mencoba melupakan laki-laki itu. Namun, kenapa dia harus kembali hadir di depanku lagi, batin Daniar. Kembali bayangan Seno yang beringas saat memukuli Yandri, terbayang di benak Daniar.
"Ish, dasar laki-laki brengsek!" dengus Daniar, kesal.
Puas mengumpat, Daniar menengadahkan wajah. Tanpa sadar, Yandri mengintip Daniar dari balik jendela.
Ada apa dengan gadis itu? Kenapa di jam segini dia malah duduk di luar? Apa dia tidak merasakan kalau udaranya dingin sekali? batin Yandri.
__ADS_1
Sejenak, Yandri melirik jam yang menempel di dinding. "Sudah hampir tengah malam," gumamnya.
Yandri bangkit. Dia kemudian mengayunkan langkahnya menuju beranda samping.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yandri begitu tiba di samping Daniar.
Sontak Daniar mendongak. Dahinya berkerut saat mendapati Yandri tengah berdiri di samping seraya menatapnya, tajam.
"Kamu belum tidur?" Bukannya menjawab, Daniar malah bertanya kepada Yandri.
"Huh, tidurku terganggu saat mendengar gerutuan seorang gadis dari beranda samping," keluh Yandri.
Daniar tersenyum kecut mendengar keluhan Yandri. "Maaf." Hanya itu yang mampu Daniar ucapkan.
Yandri duduk di samping Daniar. Sebenarnya, dia bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang. Namun, mendengar teriakan Daniar tadi, hati Yandri tergelitik untuk mengenal wanita itu lebih jauh.
"Namaku Yandri," ucap Yandri, mengulurkan tangan.
"Daniar," jawab Daniar menyambut uluran tangan Yandri.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Yandri tanpa basa-basi.
Daniar terperanjat mendengar pertanyaan Yandri. Untuk beberapa saat, mereka saling pandang.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta padaku," ucap Yandri mengusap wajah Daniar.
"Haish, jangan ge-er kamu," jawab Daniar, memegang tangan Yandri.
Jantung Daniar berdegup kencang saat tangan mereka kembali bersentuhan. Entahlah, ada gelanyar yang tak biasa dalam hatinya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa dia? Dan kenapa dia memperlakukan kamu seperti itu?" Yandri kembali bertanya.
Daniar menarik napas panjang. Tiba-tiba saja, hatinya kembali dilanda kegelisahan yang mendalam. Dia masih menimbang antara baik dan buruknya jika dia bercerita tentang siapa Seno kepada laki-laki itu.
"Baiklah. Jika kamu tidak mau mengatakan semuanya. Aku tidak keberatan. Sudah malam, masuklah! Atau kamu bisa masuk angin nanti," kata Yandri seraya hendak beranjak dari bangku yang dia duduki.
__ADS_1
"Tunggu!"