
Renovasi rumah Bu Salma sudah dimulai pada tahap perobohan bangunan. Sehari sebelumnya, Yandri meminta izin kepada keluarga Daniar untuk membawa Daniar pergi dan tinggal di rumahnya. Dan hari ini, Yandri menjemput Daniar.
"Sudah siap, Yar?" tanya Yandri begitu tiba di rumah Wak Hajjah Minah.
"Siap, Kang," jawab Daniar seraya meletakkan dua buah tas jinjing di lantai.
"Cuma ini barang bawaannya?" Tunjuk Yandri pada dua buah tas yang baru saja diletakkan Daniar.
"Iya, Kang," jawab Daniar.
"Oh ya sudah. Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Yandri kepada Daniar.
Setelah berpamitan kepada keluarga besar istrinya, Yandri kemudian membawa Daniar pergi dari rumah orang tuanya. Dengan niat bismillah dan berbakti kepada suami, Daniar melepaskan semua kesenangan yang pernah ada selama dia tinggal bersama kedua orang tuanya.
.
.
Singkat cerita, setelah melewati perjalanan selama dua jam. Yandri dan Daniar tiba di rumah orang tua Yandri. Tak ada sambutan yang istimewa untuk sang menantu. Kehidupan di sana berjalan seperti biasa saja.
Yandri membawa Daniar ke kamarnya. Dia kemudian meletakkan barang-barang Daniar di samping lemarinya.
"Apa kamu lapar, Yar?" tanya Yandri.
Daniar menggelengkan kepala. "Enggak, Kang. Niar masih kenyang," jawab Daniar.
Yandri tersenyum. "Ya sudah, istirahatlah! Akang mau ngambil air dulu di Cinyusu," ucap Yandri.
Daniar mengangguk. Sejurus kemudian, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kasurnya terasa keras, membuat Daniar merasa tidak nyaman. Namun, Daniar mencoba untuk tidak menghiraukan hal itu. Rasa lelah setelah melewati perjalanan dengan bus, membuat kepala Daniar terasa pusing tujuh keliling.
.
.
Sementara itu, di dapur.
"Bang Yandri jadi bawa istrinya ke sini, Bu?" tanya Yoga kepada ibunya.
"Jadi," jawab Bu Maryam, singkat.
"Sudah datang?" Yoga kembali bertanya.
__ADS_1
"Tuh, di kamarnya," jawab Bu Maryam.
"Oh. Terus, gimana urusan makanannya? Apa dia juga mau numpang makan di sini?" ketus Yoga.
"Huss! Jangan ngomong begitu, nanti kakak kamu tersinggung," bentak Bu Maryam.
"Terus aja Ibu bela tuh, bang Yandri. Huh, Ibu selalu saja pilih kasih. Dulu setelah Yoga nikah, Ibu malah minta Yoga untuk menafkahi istri Yoga sendiri. Giliran bang Yandri, Ibu membiarkan bang Yandri membawa istrinya kemari," keluh Yoga kepada ibunya. Sesaat kemudian, Yoga pun pergi melalui pintu dapur.
Bu Maryam hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya, Bu Maryam tidak pernah berpikiran untuk membedakan anak. Keadaan Yoga setelah menikah, memang jauh berbeda dengan Yandri.
Saat Yoga menikah, kehidupan Bu Maryam masih berada di atas kejayaan. Terlebih lagi, mertuanya Yoga juga telah memberikan rumah kepada Yoga. Dan saat itu pun, Yoga sudah punya pekerjaan yang mumpuni untuk menghidupi istrinya.
Sebenarnya, Bu Maryam sendiri tidak berkeberatan jika anak dan menantunya mau tinggal di rumahnya. Hanya saja, mereka mau tidur di mana? Tiga kamar yang berada di rumahnya sudah terisi penuh oleh Habibah, Yandri dan putra bungsunya. Ditambah lagi, sang menantu tidak mau tinggal satu rumah dengan dirinya.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Bu Maryam seraya mengelus dada melihat sikap sang anak.
Tiba-tiba Yandri datang dengan membawa jerigen air di kedua tangannya. Setelah menyimpan kedua jerigen itu, Yandri kemudian mendekati ibunya dan bertanya, "Kenapa, Bu?"
Bu Maryam menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Kamu sudah pulang, Nak?" Bukannya menjawab, Bu Maryam malah kembali bertanya.
"Iya, Bu. Kebetulan kamar mandinya kosong, jadi Yandri bisa mandi duluan," jawab Yandri.
"Sepertinya sedang istirahat, Bu," jawab Yandri.
"Jam segini?" tukas Bu Maryam, heran.
"Iya, Bu. Mungkin Daniar kecapean setelah perjalanan jauh tadi."
"Ya sudah, cepat bangunkan dia. Sebentar lagi asar," perintah Bu Maryam.
"Baik, Bu," jawab Yandri, menurut.
Yandri kemudian kembali ke kamarnya. Tiba di sana, dia tertegun saat melihat istrinya tengah tertidur nyenyak. Niat untuk membangunkan pun hilang, setelah melihat tidur istrinya yang terlihat damai.
.
.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Yandri yang memang selalu bangun sebelum subuh, tersenyum bahagia saat melihat sang istri tidur dalam dekapannya. Sedetik kemudian, dia mencium kening istrinya.
Daniar menggeliat saat merasakan kehangatan di keningnya. Perlahan, dia membuka kedua matanya. Senyumnya seketika terbit saat wajah tampan sang suami terpampang jelas di depan mata.
"Sudah subuh ya, Kang?" tanya Daniar pada suaminya.
"Sebentar lagi. Sekarang baru jam 4. Mandi, yuk!" ajak Yandri.
"Jam 5 ya, Kang. Di sini dingin banget," jawab Daniar.
Yandri merasa bersalah karena semalam telah menggauli istrinya. Namun, dia juga tidak bisa mengikuti keinginan sang istri. Sedikit saja terlambat pergi ke kamar mandi, maka antreannya akan semakin panjang.
"Bangun yuk, Niar ... biar Akang gendong kamu ke kamar mandi," bujuk Yandri.
Mau tidak mau, Daniar membuka matanya. Dia beranjak dari tempat tidur dan mengikuti suaminya pergi ke luar. Tiba di dapur, Yandri mengambil handuk dan peralatan mandi. Setelah itu, dia kemudian memapah Daniar keluar.
Dengan pencahayaan remang dari sebuah senter kecil, mereka berjalan menyusuri jalan setapak untuk pergi ke tempat pemandian umum. Suasana di pedesaan begitu sejuk. Namun, dinginnya hawa desa begitu menusuk kulit.
"Kamu mandi di tempat ini, ya. Akang di sana," ucap Yandri seraya menunjuk bilik kamar mandi yang hanya ditutupi anyaman bambu.
Daniar mengangguk. Sejurus kemudian, dia memasuki kamar mandi umum tersebut. Sedangkan Yandri, dia pergi ke kamar mandi yang terletak berseberangan dengan kamar mandi tempat Daniar berada saat ini. Hmm, mungkin itu kamar mandi khusus laki-laki, pikir Daniar.
Tanpa berpikir panjang, Daniar segera melucuti pakaiannya. Udara yang semakin dingin mulai meresap ke dalam pori-pori di sekujur tubuh Daniar. Wanita itu sedikit bergidik merasakan hawa yang semakin membuat tubuhnya menggigil.
Byurrr!
Saat Daniar mulai mengguyur air ke seluruh tubuhnya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya memasuki kamar mandi tersebut.
"Aaargh!"
Daniar berteriak keras melihat wanita paruh baya tersebut nyelonong masuk begitu saja dan berjongkok di hadapan Daniar seraya meletakan peralatan dapur yang hendak dicucinya.
Wanita itu pun sama terkejutnya saat mendengar teriakan Daniar. "Kenapa, Neng?" tanyanya seraya menautkan kedua alisnya.
Daniar berjongkok, mendekap tubuh polosnya. Meskipun dia merasa malu karena bagian belakang tubuhnya terekspos sempurna.
"Ti-tidak apa-apa, Bu. Ma-maaf, bisakah Ibu keluar dulu. Sa-saya sedang mandi," pinta Daniar terbata.
"Oalah, orang baru ya? Hmm, tidak usah malu atuh, Neng. Di sini mah sudah biasa kalau perempuan mandi bareng-bareng. Wajar atuh, itu mah. Yang tidak wajar itu, kalau Eneng mandi di kamar mandi depan. Nah itu bukan hal yang lumrah, karena kamar mandi itu khusus untuk para pria. Mereka juga sama seperti kita, mandi bareng-bareng juga."
Bukannya memenuhi permintaan Daniar, si ibu itu malah berceloteh dengan kebiasaan warga di kampungnya. Daniar pun hanya melongo mendengar celotehan si ibu paruh baya itu.
__ADS_1
Daniar tak menggubris celotehan si ibu. Karena sudah terlanjur basah, dia segera menyelesaikan ritual mandinya. Yang penting rukun mandi wajib sudah terlakoni. Daniar tidak peduli meski tidak memakai sabun. Keinginannya cuma satu, segera pergi dari tempat yang mengerikan ini.
Ish gila aja, gua harus mandi bareng sama orang lain....