Setelah Hujan

Setelah Hujan
Janji Bu Maryam


__ADS_3

Karena bujukan Daniar, akhirnya Bu Salma bersedia untuk ikut bersama Daniel dan Danisa. Daniel seorang pegawai pemerintah di bidang tatanan kota. Sebagai seorang pegawai negeri sipil, dia harus siap dipindahtugaskan ke mana saja. Termasuk ke luar daerah.


"Kamu hati-hati di rumah ya, Ni," pesan Bu Salma saat hendak berangkat ke bandara.


Daniar tersenyum. "Sudah, Bu. Jangan terlalu banyak pikiran, nanti Ibu bisa sakit. Insya Allah, Niar bakalan baik-baik saja," jawab Daniar mencoba menenangkan hati ibunya.


Bu Salma hanya menatap sendu putrinya. Entah kenapa, hatinya begitu berat untuk berpisah dengan anak sulungnya. Apalagi dengan jarak yang sangat jauh.


"Ibu ... entahlah, Ni. Kok Ibu rasanya begitu berat sekali untuk meninggalkan kamu sendirian," lanjut Bu Salma.


"Niar tidak sendirian, Bu. Ada Bintang yang akan selalu menemani Niar," sahut Daniar.


Bu Salma mengalihkan pandangannya kepada sang cucu. Dia tersenyum seraya memeluk Bintang.


"Bintang cucu Enin yang tangguh. Tolong jaga Bunda kamu, Nak," bisik Bu Salma di telinga Bintang.


Anak remaja itu tidak menjawab. Dia hanya mengusap-usap punggung Bu Salma untuk menenangkannya.


"Sudah, Bu. Nanti keburu siang. Perjalanan Tasik Jakarta itu cukup jauh. Kasihan Daniel dan Danisa yang sudah lama nunggu Ibu di mobil," tutur Daniar.


Bu Salma menguraikan pelukannya. Sejurus kemudian, dia mencium kening Daniar dan Bintang secara bergantian.


"Ibu pergi dulu, Niar. Nanti akan Ibu kabari begitu sampai di Jakarta," pamit Bu Salma kepada anak dan cucunya.


.


.


Hari terus berlalu. Yandri masih tidak bisa menghubungi mantan istrinya. Dia pun semakin merasa gusar hingga tidak mampu berkonsentrasi dalam melakukan tugas-tugasnya.


Bahkan, Yandri sempat mendapatkan teguran dari profesor karena kurang fokus dan teliti dalam membuat project pelatihan.


Ish, aku tidak bisa seperti ini terus. Akan aku coba untuk menghubungi kak Bibah dan meminta dia menjenguk Bintang dan Daniar. Pikiranku benar-benar tidak tenang sebelum mengetahui keadaan mereka, batin Yandri.


Ketika menjelang rehat di malam hari, Yandri kemudian menghubungi kakaknya.


.


.


Di rumah Habibah.


Seperti biasa, Habibah, Bahar dan kedua anaknya tengah duduk bersantai sembari menonton televisi. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh dering telepon yang begitu nyaring dari kamar Habibah. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan segera pergi ke kamar untuk mengambil ponsel.


"Yandri?" gumam Habibah. "Ah, akhirnya anak itu menelepon juga," lanjutnya seraya menggeser tombol jawab.


"Halo, Yan!" sapa Habibah. "Apa kabar ka–"


Bu Maryam yang datang ke kamar Habibah karena hendak meminjam kerudung, tiba-tiba merebut ponsel anaknya saat mengetahui jika Habibah sedang berbicara dengan Yandri.


"Ke mana saja kamu, Yan? Baru ingat, kalau kamu punya keluarga, hah?" bentak Bu Maryam.


"Ish, Ibu apa-apaan, sih?" gerutu Habibah.

__ADS_1


Bu Maryam hanya memelototi Habibah sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir. Sebagai isyarat agar Habibah diam.


Habibah pun tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya bisa duduk bergeming di atas kasur.


Terdengar helaan napas yang cukup panjang di ujung telepon.


"Maafkan Yandri, Bu. Yandri benar-benar sibuk. Sepanjang hari Yandri harus belajar, karena itu Yandri tidak punya waktu untuk memegang HP," jawab Yandri.


"Sepanjang hari, tapi tidak di malam hari, 'kan?" tukas Bu Maryam.


"Malam hari, Yandri gunakan untuk beristirahat, Bu. Persiapan tenaga untuk esok hari," balas Yandri.


"Huh, banyak alasan saja! Kamu sadar enggak sih, Yan. Kamu sudah hampir empat bulan tidak pulang. Memangnya kamu enggak kangen sama Ibu? Enggak pernah ngerasa, kalau kamu punya Ibu? Sudah lupa, kalau kamu dilahirkan dari rahim seorang wanita, bukan batu?" cecar Bu Maryam penuh emosi.


"Maaf, Bu. Untuk satu tahun ke depan, Yandri emang enggak bisa pulang," jawab Yandri berterus terang.


"Apa?!" pekik Bu Maryam, "tapi bagaimana bisa?" lanjutnya begitu terkejut.


"Yandri mengambil pendidikan lagi, Bu."


"Tunggu-tunggu-tunggu ... maksud kamu, apa kamu sekolah lagi?" tebak Bu Maryam.


"Bisa dikatakan demikian, Bu," sahut Yandri.


"Aish, Yandri ... untuk apa kamu sekolah lagi? Apa dengan bersekolah lagi, jabatan kamu bisa naik menjadi pemilik yayasan tempat kamu bekerja, hah?" ejek Bu Maryam. "Huh, buang-buang duit saja!" Bu Maryam mendengus kesal.


"Tidak seperti itu juga, Bu. Lagi pula, Yandri melanjutkan kuliah juga karena mendapatkan beasiswa, jadi Yandri enggak perlu keluar uang untuk biaya pendidikan Yandri. Hanya saja ...."


"Hanya saja apa, Yan?" tanya Bu Maryam, penasaran.


"Huh, pantas saja kiriman kamu berkurang." Lagi-lagi, Bu Maryam menggerutu dengan pemberian putranya.


"Maaf, Bu. Yandri juga, 'kan harus menyisihkan untuk keperluan Bintang. Sekarang Bintang sudah SMP. Kebutuhannya pasti lebih besar dibandingkan saat dia masih duduk di tingkat SD," tutur Yandri.


"Inilah kesalahan kamu, Yan!" tukas Bu Maryam.


"Maksud Ibu?" tanya Yandri.


"Maksud Ibu, coba hak asuh Bintang berada di tangan kamu, jadi kamu enggak perlu menyisihkan uang buat kebutuhan anak kamu," ungkap Bu Maryam.


"Sama saja, Bu. Baik hak asuh Bintang berada di tangan Yandri ataupun Daniar, Yandri tetap berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan Bintang. Bagaimanapun, Bintang itu anaknya Yandri. Darah daging Yandri!" tegas Yandri.


"Tapi setidaknya, jika Bintang bersama kamu, semua keperluan Bintang bisa kamu pantau," gerutu Bu Maryam.


"Maaf, Bu. Yandri enggak ngerti," balas Yandri.


"Hhh, Yan ... jujur saja, Ibu enggak percaya sama mantan istri kamu. Mungkin saja dia melebih-lebihkan biaya kebutuhan anak kamu supaya dia bisa ikut menikmati hasil jerih payah kamu!"


Tanpa merasa bersalah, Bu Maryam mulai memprovokasi Yandri dengan cara menuduh Daniar tanpa sebab.


"Astaghfirullah, Bu. Tidak mungkin Daniar melakukan hal itu." Yandri membela mantan istrinya.


"Ah, sudah-sudah! Ibu tidak mau ngomongin dia lagi. Mulai sekarang, pokoknya semua gaji kamu, biar Ibu yang pegang. Titik!" tegas Bu Maryam.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" tanya Yandri yang merasa heran dengan keputusan sepihak ibunya.


"Tentu saja bisa, Yandri. Kamu lupa, dulu kamu kuliah pake duitnya siapa?" tanya Bu Maryam.


Di seberang telepon, Yandri hanya menundukkan wajah. Terbayang saat almarhum ayahnya diam-diam memberikan Yandri uang untuk mendaftar kuliah dulu.


"Antara hidup dan mati, seorang ibu berjuang melahirkan anaknya ke dunia. Menyusuinya, memberinya kasih sayang, pakaian dan makanan. Jam tidurnya tersita hanya karena harus menyusui anaknya yang terbangun tengah malam karena merasa haus. Jadi wajar saja jika setelah si anaknya mapan, seorang ibu meminta haknya," tutur Bu Maryam.


Di ujung telepon, Yandri benar-benar terkejut mendengar penuturan ibu kandungnya sendiri. Setahu Yandri, seorang ibu tidak akan meminta pamrih atas kelahiran anaknya. Seorang ibu, tidak akan pernah menghitung setiap air susu yang telah disadap anaknya. Seorang ibu, tidak akan pernah mengungkit jasa dalam memberikan pendidikan kepada anaknya, tapi ibunya sendiri? Entahlah ....


Kedua mata Yandri mulai berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat. Dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan satu kenyataan pahit tentang sikap ibunya yang selalu dia agungkan.


Apa ini artinya, harus ada transaksi yang aku bayar atas kelahiranku? batin Yandri.


"Yan! Yandri! Apa kamu masih mendengar suara ibu?"


Pertanyaan Bu Maryam sontak menarik Yandri dari lamunannya.


"Iya, Bu. Yandri masih dengar," sahut Yandri, pelan.


"Terus, kenapa diam? Enggak ikhlas, gaji kamu Ibu yang pegang?" ketus Bu Maryam.


"Ikhlas, Bu. Insya Allah Yandri ikhlas, tapi Yandri punya kewajiban untuk menafkahi Bintang. Yandri akan berikan semua penghasilan Yandri, asalkan Ibu mau berjanji satu hal kepada Yandri," kata Yandri.


"Apa itu?" tanya Bu Maryam.


"Tolong berikan hak Bintang, Bu. Karena setengah dari penghasilan Yandri, itu adalah hak Bintang," jawab Yandri.


Bu Maryam tersenyum, senang.


"Kamu tenang saja, Nak. Bagaimanapun, Bintang itu cucu Ibu juga. Mana tega Ibu mengambil hak anak kamu. Lagi pula, Ibu melakukan semua ini demi kebaikan kamu juga. Ibu enggak mau kamu menghambur-hamburkan uang kamu. Suatu saat nanti, kamu akan menikah. Tentunya kamu perlu uang untuk semua itu," tutur Bu Maryam.


"Yandri sudah tidak memikirkan diri Yandri lagi, Bu. Asalkan Ibu senang dan kebutuhan Bintang tercukupi, Yandri sudah sangat bahagia. Apa pun alasan Ibu meminta semua gaji Yandri, hhh ... Yandri enggak peduli. Yandri tahu jika seorang Ibu tidak akan pernah mengecewakan anaknya."


"Iya, Nak. Ibu janji, Ibu akan mengelola keuangan kamu sebaik mungkin."


"Oh iya, Bu. Sudah beberapa hari ini Yandri tidak bisa menghubungi Daniar. Jika Ibu tidak keberatan, tolong jenguk Bintang di rumah Bu Salma. Sekalian ngasih uang bulanan Bintang juga. Biar nanti Yandri transfer ke kak Habibah," pinta Yandri kepada ibunya.


"Huh, Yan. Sebenarnya Ibu malas ketemu sama mantan istri kamu. Tapi demi kamu dan Bintang, akan Ibu lakukan," jawab Bu Maryam.


"Terima kasih, Bu. Kalau begitu, Yandri tutup teleponnya. Salam buat kak Bibah sekeluarga. Assalamu'alaikum!" pamit Yandri.


"Wa'alaikumsalam."


Selesai berbicara panjang lebar dengan putra kebanggaannya, Bu Maryam mengembalikan ponsel Habibah. Senyum Bu Maryam tidak pernah surut dari kedua sudut bibirnya. Hingga membuat Habibah menggelengkan kepala.


"Hati-hati, Bu. Jangan bermain api. Nanti Ibu bisa terbakar," sindir Habibah.


"Ih, sirik aja!" tukas Bu Maryam seraya berlalu pergi dari kamar Habibah.


Ya Tuhan, Bu ... sepertinya Ibu sudah terlalu jauh melangkah, batin Habibah menatap punggung Bu Maryam yang mulai menghilang di balik pintu.


Tiba-tiba, Bu Maryam menyembulkan kepalanya. Membuat Habibah terlonjak seketika.

__ADS_1


"Eh, Bah! Katanya Yandri mau transfer. Kabari Ibu jika uangnya sudah masuk!"


__ADS_2