
Meskipun Daniar sudah melarangnya untuk tidak terlalu banyak pikiran. Namun, beban biaya rumah sakit seakan enggan menghilang dari pikiran Yandri. Dia merasa tidak tenang karena belum mengetahui status dirinya sebagai pasien di rumah sakit ini.
Ya Tuhan ... bagaimana jika asuransi kesehatannya tidak bisa diklaim? Bukankah untuk kasus kecelakaan tidak dicover oleh asuransi ini? batin Yandri. Seketika pelipisnya kembali berdenyut memikirkan hal tersebut.
Begitu pun dengan Daniar. Semakin hari, dia semakin merasa cemas. Sudah berulang kali pihak rumah sakit meminta keterangan dari pihak kepolisian terkait kecelakaan suaminya. Mereka bilang, asuransi kesehatan bisa diklaim untuk kecelakaan asalkan ada surat keterangan dari pihak kepolisian setempat dan juga jasa raharja.
Yang menjadi permasalahan, lokasi kecelakaan suaminya ternyata berada di wilayah Sumedang. Karena titik kecelakaan merupakan perbatasan antara Sumedang dan Indramayu. Sedangkan untuk lokasi tepatnya, sudah memasuki wilayah Sumedang.
Daniar semakin kebingungan karena dia sendiri tidak tahu di mana kantor polsek dan jasa raharja setempat. Meskipun tahu, tidak mungkin juga Daniar mengurusnya sendiri dan harus meninggalkan Yandri di rumah sakit sendirian.
Ya Tuhan ... tanganku sudah berusaha melakukan apa yang terbaik untuk kami. Namun, ketika tangan ini tak mampu mencapainya, maka biarkan tangan Engkau yang bertindak, batin Daniar seraya mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a meminta pertolongan.
.
.
"Bagaimana, Bu. Apa Ibu sudah mendapatkan kedua surat keterangan yang diminta oleh pihak rumah sakit?" tanya Suster penjaga.
"Saya belum mendapatkannya, Sus. Adik ipar saya sudah pergi ke kepolisian setempat. Namun, rupanya lokasi kecelakaan suami saya bukan termasuk kewenangan wilayahnya. Karena itu mereka tidak memberikan surat keterangan tersebut," jawab Daniar.
"Oh, begitu ya. Hmm, jadi status bapak saat ini, masuk di pasien umum saja, Bu?" Kembali suster penjaga bertanya.
"Iya, Sus. Gimana baiknya saja, toh saya sendiri tidak punya pilihan," lanjut Daniar.
"Padahal sayang loh, Bu. Ini rincian biaya bapak sampai detik ini sudah mencapai sekitar 24 juta, Bu," kata suster penjaga.
Jujur, Daniar sangat terkejut dengan nominal yang harus dia bayar selama Yandri dirawat. Namun, Daniar sudah pasrah. Jalan satu-satunya, dia harus berembuk dengan keluarganya untuk mencari pinjaman.
"Begini saja, Bu. Mohon maaf, bukannya saya menasihati yang tidak benar. Tapi jika Ibu mau, saya bisa memberikan nomor seseorang yang biasa membantu permasalahan pasien seperti ini," imbuh suster penjaga.
"Maksud Suster?"
__ADS_1
"Kemarilah!"
.
.
"Cukup ya, Bang. Abang tidak bisa membenci bang Yandri terus. Dia sudah sangat berjasa pada kita. Abang ingat sewaktu Abang sakit, siapa yang bawa Abang ke rumah sakit? Bang Yandri, Bang. Bukan kak Bibah ataupun si Raihan yang selama ini bersekongkol sama Abang untuk selalu merendahkan bang Yandri," ucap Puri geram.
"Ish, Dek. Abang enggak benci bang Yandri. Sumpah!" tegas Yoga.
"Terus, kenapa Abang enggak mau jenguk bang Yandri? Apa Abang enggak lihat kondisi kang Yandri di sosmed? Parah banget, Bang. Kasihan bang Yandri. Meskipun kita tidak bisa membantunya secara materi, tapi kita bisa menjenguknya untuk menguatkan hati mereka," lanjut Puri.
"Abang paham itu, Dek. Tapi kamu tolong pahami juga keadaan kita. Kadipaten itu sangat jauh. Kita tidak mungkin pergi ke sana di saat kamu tengah hamil muda seperti ini. Begini saja, begitu bang Yandri pulang ke rumahnya, kita langsung pergi ke sana untuk menjenguknya. Gimana, setuju?" usul Yoga.
"Janji?" rajuk Puri.
"Iya, Abang janji Dek. Lagi pula, Abang mau minta maaf sama bang Yandri. Selama ini, Abang sudah dibutakan oleh rasa iri karena bang Yandri bisa sekolah lebih tinggi. Padahal jika diingat lagi, semua ini bukan kesalahan bang Yandri. Semuanya pilihan Abang. Dulu, Abang malah lebih mementingkan usaha dibandingkan pendidikan. Jika ceritanya berbeda, mungkin tingkat perekonomian kita juga akan berbeda, Dek. Maafkan Abang." Sesal Yoga.
"Ish Abang, enggak boleh menyesal seperti itu. Setiap orang, 'kan sudah memiliki rezekinya masing-masing. Yang penting kita ikhtiar terus," sahut Puri.
.
.
"Nikmat apalagi yang bisa hamba dustakan, ya Rabb. Di saat hamba sudah begitu pasrah dengan keadaan, kembali Engkau kirimkan malaikat penolong melalui Pak Andre. Alhamdulillah, karena jasa beliau, suami hamba bisa pulang hari ini. Terima kasih ya Allah," ucap syukur Daniar saat mendapatkan kabar jika suaminya sudah dibolehkan pulang.
"Bagaimana, Bun. Apa Ayah bisa pulang hari ini?" tanya Yandri begitu istrinya sampai di kamar.
Daniar mengangguk seraya memperlihatkan berkas rekam medis suaminya.
"Iya, Yah. Hari ini juga Ayah sudah diperbolehkan pulang. Ini surat kontrol Ayah. Harusnya memang kontrol di sini. Namun, karena jauh juga, pihak rumah sakit pun memberikan rujukan kontrol di rumah sakit di Tasik. Katanya di TMC itu ada dokter bedah syaraf. Kita disuruh kontrol ke sana saja," tutur Daniar.
__ADS_1
"Bunda dari mana mendapatkan biaya rumah sakit?"
Bukannya menanggapi penuturan Daniar, Yandri malah bertanya tentang biaya rumah sakit yang sudah dibayar sehingga dia bisa pulang.
"Sudahlah Yah, tidak usah terlalu dipikirkan," kata Daniar.
"Bun, sekarang Ayah sudah sehat. Bunda tidak usah ragu lagi untuk berbagi dengan Ayah. Tolong katakan dengan jujur, dari mana Bunda mendapatkan uang untuk membayar perawatan Ayah. Hmm, Ayah yakin, biayanya pasti sampai puluhan juta, "kan?" terka Yandri.
"Untuk pasien umum memang iya, Yah. Total Biaya pengobatan Ayah itu sekitar 27 jutaan. Namun, ada seseorang yang berbaik hati membantu persyaratan agar asuransi kesehatan bisa diklaim. Alhamdulillah, Bunda hanya keluar uang 5 juta, Yah," papar Daniar.
"Uang dari mana?"
"Bu-bunda pinjam sama Ibu."
Yandri menghela napas. Sudah dia duga. Semuanya tidak lepas dari campur tangan ibu mertuanya.
Ya Tuhan, setiap aku kesulitan, ibu selalu membantu. Namun, keluargaku? Jangankan membantu secara finansial, menanyakan kabarku pun tidak. Astaghfirullahaladzim, batin Yandri terasa sesak.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Nanti kalau sudah punya uang, kita ganti ke Ibu, Yah. Sekarang, ayo kita siap-siap. Sebentar lagi Roni bakalan jemput kita," pungkas Daniar seraya memasukan semua berkas medis suaminya ke dalam tas.
.
.
Pukul 10 malam, Yandri dan istrinya tiba di rumah. Isak tangis Bu Salma mengiringi langkah Yandri memasuki rumah. Bu Salma memeluk erat menantunya itu. Mungkin, karena Bu Salma tidak memiliki anak laki-laki, karena itu dia sangat dekat dengan kedua menantunya. Bagi Bu Salma, Yandri dan Roni bukan hanya sekadar menantu. Namun, putranya sendiri.
"Sudah Bu, jangan nangis lagi. Yandri tidak apa-apa, kok," kata Yandri mencoba menenangkan ibu mertuanya.
Bu Salma melepaskan pelukannya. Hatinya begitu pilu melihat kondisi Yandri. Namun, melihat senyum di wajah sang menantu, Bu Salma mencoba bersikap tegar.
"Ibu senang kamu baik-baik saja, Yan. Ayo masuk, kamu butuh istirahat," kata Bu Salma.
__ADS_1
Yandri mengangguk. Masih dipapah istrinya, dia masuk ke kamar paviliun untuk beristirahat. Yandri merebahkan tubuhnya. Senyumnya terukir di raut wajah yang terlihat lelah.
Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya hamba bisa pulang....