Setelah Hujan

Setelah Hujan
Terus Mengalah


__ADS_3

Yandri kembali ke kamar. Pikirannya benar-benar kacau. Tak berapa lama, isak tangis dari kamar ibunya mulai terdengar.


"Bersabarlah, Bibah. Ibu yakin, kita pasti menemukan jalan keluarnya," kata sang ibu, mencoba menenangkan Habibah.


"Tapi, Bu. Darimana kita mendapatkan uang satu juta untuk membayar penghulunya?" tanya Habibah di sela-sela isak tangisnya.


"Dari Allah!" tegas Bu Maryam. "Tidak ada yang tidak mungkin, Bibah. Ibu yakin, Tuhan pasti akan mengirimkan bantuan untuk kita. Terlebih lagi, niat kita baik. Ingin menikah karena ibadah. Kamu harus yakin jika Tuhan pasti akan menutup aib hambaNya yang ingin melakukan kebaikan," jawab Bu Maryam lebih lanjut. Ada sebuah ketegasan yang penuh keyakinan dari setiap kata-kata yang diucapkan oleh Bu Maryam.


Yandri yang mendengar keyakinan ibunya, merasa bersalah jika harus membiarkan aib Habibah terbongkar begitu saja. Akhirnya, dengan berat hati, dia mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan amplop panjang berwarna coklat.


Meski langkahnya terasa berat. Namun, Yandri tetap memaksakan diri untuk menemui ibunya. Dia kemudian mengetuk pintu kamar ibunya hingga terdengar perintah masuk dari dalam kamar.


Yandri menekan handle pintu dan mendorongnya. Sedetik kemudian, dia mendekati ibunya dan sang kakak yang tengah duduk berdampingan di tepi ranjang.


"Ini, uang yang Ibu minta untuk biaya penghulu Kak Bibah. Semoga bisa bermanfaat. Pesan Yandri, setelah Kakak menikah, pandai-pandailah Kakak mengelola keuangan yang diberikan oleh suami Kakak nanti. Karena setelah ijab qabul terucap, Kakak bukan lagi tanggung jawab Ibu ataupun Yandri," ucap Yandri panjang lebar.


"Eh, kamu kalau enggak ikhlas, bilang aja. Enggak usah sok ceramahin Kakak," seru Habibah.


Namun, Yandri tidak menggubris ucapan kakaknya. Sesaat setelah memberikan amplop tersebut, Yandri kembali ke kamarnya. Meski terdengar gerutuan Habibah dari kamar ibunya, tapi Yandri mencoba untuk tidak menghiraukan. Ya, mungkin Habibah merasa tersinggung oleh perkataannya. Namun, Yandri melakukan itu bukan tanpa alasan. Dia berharap, Habibah bisa menjadikan semua ini sebagai pelajaran, agar bisa lebih bijaksana lagi dalam bersikap.


Di kamar, Yandri segera menghubungi pak Imron. Dia hendak membatalkan pesanan kambingnya. Sedangkan sang istri, rasanya lidah Yandri terlalu kelu untuk berucap kepada istrinya. Ya Tuhan ... semoga aku bisa segera mencari gantinya.


.


.


Setelah anaknya tertidur, Daniar pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lepas itu, dia menemui ibunya di ruang keluarga. Daniar dan ibunya hendak membuat list undangan aqiqah putrinya hari Minggu nanti. Setelah mendapatkan kepastian dari sang suami tentang kambing yang sudah dipesannya, akhirnya Daniar memutuskan untuk membuat catatan tamu undangan.


"Apa kita akan mengundang para tetangga di kampung ini, Ni?" tanya Bu Salma.


"Saran Ayah, utamakan dulu keluarga dekat dan kerabat. Jika masih ada quota, baru undang tetangga terdekat," saran Pak Fandi.

__ADS_1


"Iya, Bu. Begitu lebih baik, soalnya dananya juga terbatas," timpal Daniar.


"Hmm, baiklah kalau begitu. Ayo kita catat siapa-siapa saja yang akan kita undang," ajak Bu Salma.


Daniar mengeluarkan buku catatan yang sudah dia bawa sedari tadi. Kemudian, satu per satu dia mulai mencatat nama-nama anggota keluarga besarnya.


Saat tengah asyik mencatat, tiba-tiba ponsel Daniar berdering. Dia meraih dan menggeser tombol hijau untuk menjawab telepon dari suaminya.


"Assalamu'alaikum, Kang," sapa Daniar.


Untuk beberapa detik, hanya helaan napas yang begitu berat, terdengar di ujung telepon.


"Halo, Kang? Assalamu'alaikum?" Kembali Daniar menyapa suaminya.


"Wa-wa'alaikumsalam, Bun." Akhirnya, Yandri berbicara di seberang telepon. "Sedang apa, Bun?" tanya Yandri.


"Oh, ini Kang, Bunda lagi bikin list undangan untuk para tamu acara aqiqah Bintang nanti," jawab Daniar.


Sesaat setelah Daniar menjawab, keheningan kembali tercipta di ujung telepon. Helaan napas yang semakin berat, terdengar jelas di telinga Daniar. Merasa aneh dengan sikap suaminya, akhirnya Daniar memberanikan diri untuk bicara.


Bu Salma dan Pak Fandi mengangguk. Dia membiarkan anaknya pergi ke kamar untuk berbicara dengan sang suami.


Tiba di kamar, Daniar kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Apa yang terjadi, Kang?" tanya Daniar, lembut.


"Akang ... Akang mau minta maaf, Bun," jawab Yandri terdengar serak.


Daniar menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar merasa kebingungan. Ditambah lagi, saat mendengar suara Yandri yang seperti menahan sesak, semakin membuat Daniar penasaran.


"Akang kenapa minta maaf? Untuk apa? Niar enggak ngerasa kalau Akang punya salah."

__ADS_1


"Hhh ..." Kembali helaan napas terdengar dari lawan bicaranya.


"Bun, ji-jika kita mengundurkan jad-wal acara a-aqiqah putri kita, Bunda tidak keberatan, 'kan?" tanya Yandri terbata.


Deg!


Jantung Daniar seolah berhenti berdetak saat mendengar perkataan suaminya. Ish, apa maksudnya ini? Apa yang sedang terjadi di sana? batin Daniar.


"Halo, Bun! Bunda marah, ya?" tanya Yandri yang mungkin berterus rasa saat hanya mendengar kebisuan sang istri.


"Enggak, Bunda enggak marah. Bunda hanya bingung saja. Memangnya, kenapa mesti diundur? Apa Akang tidak mendapatkan kambingnya? Jika memang iya, Akang transfer saja uangnya, biar ibu atau ayah yang cari kambing di sini. Ya mumpung masih ada waktu," jawab Daniar.


"Maaf, Bun. Ta-tapi Akang sudah tidak pegang uangnya," jawab Yandri, pelan.


Daniar terhenyak. Dia semakin tidak mengerti dengan pembicaraan suaminya.


"Apa yang terjadi, Kang? Kenapa Akang bisa tidak memegang uangnya? Bukankah satu jam yang lalu, Akang bilang jika besok Akang mau melihat kambing yang dipesan? Lantas, apa maksud dari perkataan Akang barusan? Jujur, Niar enggak ngerti," cerocos Daniar yang memang tidak sabar ingin mendengar apa yang terjadi pada suaminya.


"Uangnya, Akang berikan kepada kak Bibah," jawab Yandri, nyaris tidak terdengar suaranya.


"Apa? Bagaimana bisa?" pekik Daniar, menahan gemuruh rasa yang bercampur aduk di dadanya. Marah, kecewa dan sedih, semuanya menjadi satu


"Tanpa sadar, ibu dan kak Bibah sudah menghabiskan dana menikah yang telah diberikan calon suaminya. Karena terlalu bersemangat, mereka tidak menghitung keperluan pernikahan terlebih dahulu, hingga mereka kebablasan. Sampai akhirnya, uang untuk membayar penghulu pun habis. Karena itu mereka meminjam uang aqiqah Bintang. Akang terpaksa memberikannya, karena Akang tidak sanggup melihat rasa malu yang akan mereka tuai jika sampai besok mereka tidak jadi menikah," tutur Yandri panjang lebar


Bisu....


Daniar hanya mampu membisu mendengar semua penuturan suaminya. Padahal Bintang anaknya sendiri, darah dagingnya. Namun, entah kenapa suaminya selalu menyerah pada keinginan ibu dan saudaranya. Dan kenapa juga harus Daniar yang selalu mengalah. Ya Tuhan ... jerit Daniar dalam hatinya.


"Niar, kok diam?" tanya Yandri.


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Niar tutup teleponnya ya, Kang. Bintang bangun, sepertinya dia lapar," pungkas Daniar saat melihat bayinya bergerak.

__ADS_1


Daniar kemudian menekan tombol merah dan mengakhiri pembicaraannya dengan sang suami. Dia mendekati putrinya seraya mengelus pipi Bintang yang semakin chubi. Tanpa sadar, air mata mulai menetes di pipinya.


"Astaghfirullahaladzim ...."


__ADS_2