Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kencan


__ADS_3

"Baiklah, tapi Niar minta waktu dulu sebentar untuk berganti pakaian. Boleh, 'kan, Kak?" pinta Daniar.


"Tentu saja boleh, Niar," sahut Dadan.


Daniar tersenyum. Dia kemudian pamit pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Eh, ayo cepat-cepat kita ke sana, Yah!" bisik Bu Salma sambil menunjuk ke arah pintu dapur.


"Iya, cepetan Bu!" timpal Pak Fandi.


Pasangan yang sudah berumur setengah abad itu tampak panik saat anaknya beranjak dari ruang tamu. Hmm, tentu saja mereka panik karena takut kepergok menguping pembicaraan anaknya sendiri.


"Kalian ngapain jalan tergesa-gesa seperti itu?" tanya Daniar yang merasa heran melihat kedua orang tuanya berjalan terburu-buru menuju dapur.


Mendapatkan teguran sang anak, sontak Pak Fandi dan Bu Salma terkejut. Mereka kemudian membalikkan badan.


"Eh, Niar. Eng-nggak, ki-kita cuma mau pergi ke belakang untuk kasih makan ikan," jawab Pak Fandi.


"Ish, Yah. Sudah hampir setengah jam, tapi kalian belum sampai juga di kolam. Emang pakan ikannya nggak ketemu? Ayah menyimpannya di mana? Biar Niar bantu carikan," sahut Daniar.


"Eh nggak usah, Niar. Nanti biar Ibu saja yang carikan. Kamu segeralah bersiap, bukankah kamu akan pergi ke luar bersama nak Dadan?" tukas Bu Salma.


"Dari mana Ibu tahu?" tanya Daniar sambil mengerutkan keningnya.


Mendapati dirinya keceplosan berbicara, Bu Salma pun gelagapan. "Eh, itu ... anu, emh ... Ibu asal nebak saja."


"Ya sudah, Bu. Ayo kita pergi!" Pak Fandi mengajak istrinya untuk pergi ke halaman belakang rumah.


"Kami pergi dulu ya, Niar. Selamat bersenang-senang!" seru Bu Salma sebelum akhirnya mereka meninggalkan Daniar.


Daniar hanya menghela napas melihat tingkah kedua orang tuanya. "Hmm, apa mungkin tadi mereka menguping pembicaraan aku dan kak Dadan?" gumam Daniar.


Tak ingin terlalu larut dalam pemikirannya sendiri, akhirnya Daniar melanjutkan niatnya untuk berganti pakaian di kamar.


.


.


"Hari ini kita jadi ke Gramed, 'kan?" tanya Deni.


"Memangnya kita tidak bisa pinjam ke perpustakaan umum saja, Den?" Yandri malah balik bertanya.

__ADS_1


"Ish, gua rasa sebaiknya kita langsung cari di Gramed saja, Yan. Gua malas antri di perpus," balas Deni.


"Hmm, padahal di sana letak seninya, Den," tukas Yandri seraya mengulum senyum.


"Seni apanya, yang ada ... abis ngantri panjang, eh malah bukunya kagak ada. Kapok gua!" balas Deni sewot.


"Lah itu, seni berjuang dalam kesabaran, hahaha ..." seloroh Yandri tertawa.


"Ish, sialan lo," umpat Deni sambil menonyor pelan bahu sahabatnya.


"Ya sudah, nanti pulang PPL kita pergi ke Gramed. Sekarang gua ke kelas dulu," pungkas Yandri seraya membenahi buku materinya.


.


.


Di sebuah mal, Daniar tampak asyik memanjakan matanya dengan berbagai macam pernak-pernik perempuan. Beberapa kali tangannya meraih kalung mutiara dan mencobanya di depan cermin. Senyum tipisnya tergambar tatkala dia merasa lucu melihat dirinya mengenakan benda itu. Daniar pun mengembalikan untaian mutiara berwarna hijau ke tempatnya.


"Kok disimpan lagi, Niar?" tanya Dadan yang merasa heran saat Daniar menyimpan kembali kalung mutiara tersebut.


"Nggak cocok di leher Niar, Kak," jawab Daniar, asal.


"Ish, siapa bilang?" tukas Dadan sambil kembali mengambil kalung tersebut. "Berbaliklah!" perintah Dadan kepada Daniar.


"Ya tidak ada salahnya kita coba dulu, Niar. Ayo, berbaliklah!" paksa Dadan.


Dengan mengerucutkan bibirnya, Daniar pun mengikuti perintah Dadan. Saat Daniar berbalik, dia melihat seorang laki-laki yang menarik perhatiannya. Laki-laki berperawakan tinggi dan berkulit putih sedang anteng memilah buku-buku yang berjejer di salah satu rak yang berada di Gramed.


Jujur saja, tidak ada yang menarik dari laki-laki itu. Dia tidak cukup tampan. Namun, wajah dinginnya entah kenapa menjadi magnet tersendiri bagi Daniar. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa wajahnya seolah tidak pernah asing? batin Daniar, mencoba mengingat gurat wajah yang terpancar dari laki-laki itu.


"Tuh, 'kan, cantik!" puji Dadan sesaat setelah selesai mengenakan kalung di leher Daniar.


Sontak saja pujian Dadan membuyarkan lamunan Daniar tentang laki-laki itu. Daniar kembali fokus menatap Dadan. Sesekali dia melirik kalung yang tengah melingkar di lehernya.


"Apanya yang cantik? Niar ngerasa aneh loh, Kak, memakai kalung seperti ini. Hmm, kayak ibu-ibu yang mau pengajian aja," ucap Daniar sedikit kesal.


"Ish, jangan dicopot!" cegah Dadan saat melihat Daniar hendak membuka benda tersebut.


"Tapi jelek, Kak," rengek Daniar.


"Niar, sebuah penilaian itu datang dari orang lain, bukan diri sendiri. Kalau menurut orang lain pas dan indah dipandang mata, berarti ya memang bagus untuk kamu kenakan," tutur Dadan.

__ADS_1


"Tapi Niar nggak nyaman, kak." Daniar kembali merengek kepada temannya.


Alhasil Dadan pun mengalah. Dia kemudian membantu Daniar untuk membuka kalung tersebut dan menyimpannya kembali ke tempat semula.


"Terus kamu mau beli apa? Gelang?" tanya Dadan sambil menunjukkan gelang emas yang berjejer di etalase.


Daniar bergidik, dia memang sangat menyukai asesoris. Namun, tidak dari yang berbahan emas.


"Udah deh, Kak. Kita makan aja yuk! Niar lapar nih," ajak Daniar.


"Nggak jadi nih, beli perhiasannya?" tanya Dadan sekali lagi.


Dan untuk yang ke sekian kalinya, Daniar menggelengkan kepala.


.


.


Di Gramed, Deni terus bersungut-sungut karena kesulitan untuk mengajak sahabatnya keluar dari toko buku ter-komplit yang ada di kotanya.


"Ayolah, Yan. Lo nggak kasihan apa sama cacing-cacing gua yang udah pada konser," rengek Deni.


"Ya sudah, kamu duluan saja. Entar aku nyusul," jawab Yandri yang tak melepaskan pandangannya dari jejeran buku.


"Ish, lo nyari buku apalagi sih, Yan? Di dekapan lo udah ada tiga buku tebal, Noh!" Mata Deni menunjuk tiga buah buku tentang pendidikan yang sedang didekap tangan kiri Yandri.


"Bentar, Den. Mumpung lagi di sini juga, tanggung," ucap Yandri. Tangan kanannya masih terus memilih buku tentang Kurikulum Pendidikan.


Deni hanya melengos mendengar jawaban sahabatnya. Saat dia memalingkan muka, tanpa sengaja matanya menangkap bayangan yang tidak asing.


"Eh, bukankah itu Niar?" Monolog Deni.


Yandri yang tanpa sengaja mendengar gumaman sahabatnya, seketika mendongak. "Kenapa, Den?" tanya Yandri.


"Eh, nggak ... nggak pa-pa. Lo lanjutin aja pilih bukunya, Yan. Gua ke foodcourt duluan, ya!" pamit Deni seraya berlari ke luar dari toko buku tersebut.


Yandri hanya bisa melongo menyaksikan ulah temannya. "Ish, ada-ada saja," gumamnya.


Di luar Gramed, mata Deni terus berkeliaran mencari sosok Daniar yang tengah berjalan bersama seorang laki-laki. Hmm, apa mungkin dia gebetan baru Daniar? batin Deni.


Laki-laki itu tersenyum saat melihat Daniar menuju salah satu restoran mewah di lantai tiga. Dia kemudian berlari untuk menghampiri Daniar. Tiba di belakangnya, Deni berusaha untuk menggoda sahabatnya itu.

__ADS_1


"Cieee yang lagi kencan...."


__ADS_2