Setelah Hujan

Setelah Hujan
Nasihat yang Berbeda


__ADS_3

Deg!


Baik Bu Maryam ataupun Kakek Ahmad, keduanya begitu terkejut mendengar pengakuan Yandri.


"Tapi kenapa?" tanya Bu Maryam dan Kakek Ahmad berbarengan.


Yandri menegakkan tubuhnya. Dia menyeka sisa air mata yang meleleh di kedua pipinya.


"Daniar merasa, dia sudah tidak pantas untuk mendampingi Yandri. Dan dia beranggapan jika suatu hari nanti, Yandri akan meninggalkannya karena tidak bisa memberikan keturunan lagi. Padahal, Demi Tuhan ... Yandri tidak akan pernah meninggalkan dia. Yandri ikhlas menerima dia dalam keadaan apa pun. Yandri sudah punya Bintang, dan Yandri tidak akan berharap memiliki anak lagi," jawab Yandri panjang lebar.


"Bintang itu anak perempuan, Yan. Bagaimanapun juga, kamu harus bisa memiliki keturunan laki-laki sebagai pewaris kamu. Sikap Daniar memang sudah benar, kecuali jika dia siap untuk dipoligami, supaya kamu memiliki seorang putra," tutur Bu Maryam tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Ibu!" teriak Kakek Ahmad.


"Ish, enggak usah teriak-teriak seperti itu, Pak. Ibu enggak budek!" seru Bu Maryam. "Memangnya Ibu salah ngomong? Bener, 'kan, kalau tiap orang tua itu pasti menginginkan keturunan laki-laki sebagai pewarisnya. Lagi pula, di dunia ini, perempuan itu bukan hanya Daniar. Masih banyak perempuan yang siap menjadi pendamping kamu dan memberikan anak laki-laki pad kamu," cerocos Bu Maryam.


"Astaghfirullahaladzim, Bu ... anak kamu ini sedang bersedih. Setidaknya, berempatilah sedikit. Bukan malah menambah pusing pikirannya. Nasihat Kakek Ahmad.


"Udah, deh ... Bapak enggak usah ikut campur urusan anak-anak Ibu," bentak Bu Maryam yang tidak terima karena ditegur di depan anaknya.


"Ya Allah, Bapak berkewajiban mengingatkan, Bu. Tidak berniat ikut campur," tukas Kakek Ahmad. "Sudah Nak Yandri, sekarang juga Nak Yandri pulang. Mohon maaf, Bapak bukan bermaksud mengusir Nak Yandri. Bapak hanya khawatir pikiran Nak Yandri akan semakin berat jika terus-terusan direcoki kalimat buruk dari ibunya Nak Yandri," ucap Kakek Ahmad blak-blakan.


Ya, kakek Ahmad memang sangat tidak menyukai perangai istrinya yang ternyata suka memperkeruh keadaan.


"Bapak!" pekik Bu Maryam, "kok tega-teganya Bapak menjelekkan Ibu di depan anak Ibu sendiri!" lanjutnya.


Kakek Ahmad hanya menarik napas panjang. "Inget umur, Bu. Tidak baik memperkeruh suasana hati anak kamu!" tegas Kakek Ahmad.


Mendengar perdebatan kedua orang tuanya, pikiran Yandri semakin bertambah mumet. Karena itu, dia pun memutuskan untuk undur diri.


"Bapak benar, saat ini Yandri butuh ketenangan. Kalau begitu, Yandri permisi dulu," pamit Yandri seraya mengeluarkan dompet. "Ini uang jajan untuk Ibu, semoga bermanfaat," lanjut Yandri menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.


"Kok cuma lima ratus, Yan. Sekarang kamu, 'kan enggak harus membagi dua gaji kamu dengan Daniar," tukas Bu Maryam.


"Astaghfirullah, Ibu!" bentak Kakek Ahmad. "Sudah Nak Yandri, jangan dengarkan dia. Pergilah!"


Yandri hanya bisa mengelus dada. Sesaat kemudian, dia pun keluar rumah dan kembali melajukan kendaraannya untuk pulang.


Sepanjang perjalanan, pikiran Yandri diliputi kebingungan yang tiada tara. Dia bingung, entah ke mana dia harus pulang dan menetap. Hanya tinggal menghitung jam, maka dia tidak akan pernah memiliki rumah lagi untuk pulang.


"Ya Tuhan ... kenapa akhir kisah cintaku seperti ini?" gumam Yandri.


Saat dia sedang tenggelam dalam kebingungannya, tiba-tiba Yandri teringat akan rumah yang dia beli ketika mengetahui Daniar mengandung anak kedua. Sebuah rumah yang akan dipersembahkan Yandri kepada istrinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan yang kesebelas.


Yandri pun berputar arah dan segera tancap gas agar bisa cepat sampai di rumah kejutannya.


Sementara itu, percekcokan kembali terjadi di rumah Kakek Ahmad. Meskipun di sela-sela percekcokan tersebut, Bu Maryam tak pernah melepas senyumnya setelah mengetahui nasib rumah tangga Yandri.


Hmm, semoga setelah bercerai nanti, Yandri akan kembali padaku. Kembali menjadi anak yang penurut dan selalu mementingkan ibunya di atas segalanya, batin Bu Maryam penuh kemenangan.


.


.


Beberapa jam telah berlalu. Daniar mengerjapkan mata saat kumandang azan magrib mulai terdengar. Dia pun bangun dan segera menutup tirai jendela yang masih terbuka. Tak lama kemudian, Daniar keluar kamar dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Saat dia melintasi ruang keluarga, dia sama sekali tidak melihat seorang pun penghuni rumah. Hmm, mungkin mereka sedang menunaikan shalat, batin Daniar.


Daniar pun mengayunkan langkahnya kembali ke kamar. Dia segera melakukan kewajibannya shalat magrib. Di sujud terakhirnya, kembali dia bermunajat untuk keselamatan dan kebahagiaan suaminya. Tidak ada kabar yang lebih menggembirakan dirinya selain keselamatan sang suami, atau mungkin lebih tepatnya mantan suami. Karena perkataan Yandri tadi, sudah termasuk menjatuhkan talak kepada Daniar meskipun masih secara agama.

__ADS_1


Selepas shalat, Daniar masih enggan bertemu putri satu-satunya. Daniar takut jika putrinya itu akan menginterogasi dia seputar perpisahannya. Bagaimanapun, Bintang pasti akan terluka dengan perpisahan ini. Daniar memutuskan mengaji hingga tiba waktu isya.


Waktu begitu cepat berlalu. Kumandang azan kembali terdengar. Merasa masih memiliki wudhu, Daniar kembali menunaikan kewajibannya melaksanakan shalat isya.


Sementara itu, di ruang keluarga.


"Sudah shalat, Bin?" tanya Bu Salma kepada cucunya.


"Sudah, Nin," jawab Bintang yang masih asyik mencorat-coret buku gambar.


"Ya sudah, tidur gih!" perintah Bu Salma. "Bukankah besok, kamu harus sekolah?" lanjutnya.


"Sebentar lagi, Nin. Bintang lagi nunggu ayah pulang," jawab Bintang.


Bu Salma bergeming mendengar jawaban cucunya. Rasanya, hati Bu Salma begitu perih saat membayangkan jika penantian Bintang hanya akan sia-sia.


"Bintang Sayang ... sebaiknya, mulai sekarang Bintang tidak usah memaksakan diri untuk menunggu ayah pulang," ucap Bu Salma, hati-hati.


Bintang mendongak. "Apa ayah sudah berpisah dengan bunda?" tanyanya.


Bu Salma diam, kedua matanya sudah berkaca-kaca memikirkan nasib cucunya.


Bintang beranjak dari tempat duduknya. "Tidak usah khawatir, Enin. Bintang pasti menjadi anak yang baik supaya ayah dan bunda bisa bersama lagi. Kalau begitu, Bintang bobo dulu. Dadah Enin, emmmuaah," pamit Bintang seraya mencium pipi Bu Salma.


"Iya, Sayang. Ayo, Enin temani," jawab Bu Salma.


Bintang membereskan peralatan gambarnya. Mereka kemudian pergi ke kamar untuk beristirahat.


Butuh waktu satu jam lebih supaya membuat Bintang benar-benar terlelap dalam tidurnya. Bu Salma melirik jam beker yang terletak di atas nakas.


Sudah jam 9. Sebaiknya aku kunci pintu gerbang belakang. Mungkin Yandri tengah pulang ke tempat ibunya, karena itu dia belum datang sampai jam segini, batin Bu Salma.


Setelah keluar dari kamar Bintang, Bu Salma membuka pintu kamar Daniar. Rupanya, putri sulungnya telah tertidur. Bu Salma menghampiri Daniar. Dia membenarkan selimut Daniar hingga ke dada.


Setelah mengecup kening putrinya, Bu Salma keluar dari kamar Daniar. Dia mengayunkan langkah menuju halaman belakang. Ketika Bu Salma hendak mengunci gerbang, tiba-tiba dia melihat sebuah cahaya yang semakin lama terlihat semakin terang.


Rupanya, cahaya itu berasal dari sebuah kendaraan yang datang dan mulai berhenti di depan pintu gerbang.


Bu Salma pun mengurungkan niatnya untuk mengunci pintu. Dia malah membuka pintu gerbang untuk melihat mobil siapa yang datang.


Senyum Bu Salma mengembang tatkala menyadari kendaraan milik Yandri berhenti tepat di depan pintu. Akhirnya, dia membuka lebar pintu gerbang supaya mobil Yandri bisa masuk.


"Belum tidur, Bu?" tanya Yandri, sesaat setelah memarkirkan mobilnya.


"Belum, Nak Yandri," jawab Bu Salma.


"Bintang sama Daniar?" tanya Yandri lagi.


"Mereka sudah tertidur. Mungkin karena kelelahan juga. Sepanjang hari, Daniar mengurung diri di kamarnya. Sedangkan Bintang, tadi dia sempat menunggu kamu pulang. Namun, saat Ibu memberikan pengertian jika mungkin kamu'tidak akan pulang ke rumah, akhirnya Bintang mau juga di suruh tidur.


Perih. Rasanya hati Yandri begitu perih karena telah memberikan duka kepada kedua bidadarinya.


"I-ibu ... apa Ibu masih menganggap Yandri seperti putra Ibu?" tanya Yandri serak karena menahan kesedihannya.


"Ish, kamu ini bicara apa Nak Yandri? Bagi Ibu, kamu tetap masih menjadi putra Ibu. Meskipun suatu hari nanti, sudah tidak ada ikatan pernikahan lagi di antara kamu dan putri Ibu," tutur Bu Salma.


"Ibu, bisakah Yandri berbicara sebentar sama Ibu?" pinta Yandri.


"Tentu saja, Nak. Memangnya kamu mau bicara apa?" tanya Bu Salma.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicara di sana saja, Bu!" Tunjuk Yandri pada gazebo belakang.


"Sebentar, Nak. Ibu gembok dulu pintu gerbangnya," sahut Bu Salma.


"Biar Yandri saja, Bu. Sebaiknya Ibu tunggu saja di gazebo," timpal Yandri.


Bu Salma mengangguk. Dia kemudian menyerahkan gembok gerbang kepada Yandri. Sejurus kemudian, dia melangkahkan kakinya menuju gazebo.


Beberapa menit berlalu. Setelah menggembok pintu gerbang, Yandri menghampiri Bu Salma dan duduk bersila di hadapan sang mertua rasa ibu kandung itu.


"Sebelumnya, Yandri minta maaf jika apa yang ingin Yandri tanyakan kepada Ibu, bisa menyinggung perasaan ibu," kata Yandri, mengawali pembicaraan.


"Hmm, Nak Yandri ... sebanyak apa pun orang tua merasa tersinggung oleh perkataan putranya, dia tidak akan pernah marah. Karena, setiap orang tua pasti selalu menganggap putra-putrinya masih kecil. Sehingga masih perlu bimbingan dalam hal apa pun, termasuk bersikap dan bertutur kata. Supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi," tutur Bu Salma.


Yandri tersenyum. Entah kenapa, sejak awal mengenal keluarga Daniar, kata-kata Bu Salma selalu bisa menenteramkan hati Yandri.


"Ibu, apa sebelum Daniar memutuskan menggugat cerai Yandri, dia pernah mengeluh tentang Yandri?" tanya Yandri.


Bu Salma tersenyum. "Daniar itu bukan tipe orang yang selalu mengeluh, Nak. Terlebih lagi mengeluh tentang orang terdekatnya. Dia juga tidak pernah mengeluh tentang ikatan yang kalian miliki. Daniar sudah sangat bersyukur ketika kamu mampu menerima dia dan membawa dia menjadi wanita yang lebih baik lagi," jawab Bu Salma.


"Lantas, kenapa dia meminta cerai, Bu? Apa kesalahan Yandri hingga dia tidak mampu memberikan Yandri kesempatan untuk memperbaikinya," tukas Yandri.


"Bukan kamu yang seharusnya memperbaiki, tapi ibu kamu," gumam Bu Salma yang masih didengar oleh Yandri.


"Maksud Ibu?" tanya Yandri heran.


"Eh, anu ... emm ... itu, Nak. Maksud Ibu ... terkadang banyak ujian yang menerpa kehidupan berumah tangga. Ujian bisa berasal dari diri kita sendiri, keluarga, atau bahkan orang luar. Daniar memang tidak memiliki ujian yang datang dari orang luar. Namun, saat ujian itu datang dari diri kita sendiri dan keluarga, itu jauh lebih berat menghadapinya. Dilema, tentu dia merasa dilema karena harus berdiri di antara dua pilihan yang sama-sama berat. Kamu sendiri tahu bagaimana hubungan istri kamu dengan ibu kamu. Daniar hanya tidak ingin memposisikan kamu ditengah-tengah, di mana nantinya kamu harus memilih antara ibu dan istri. Kamu paham, 'kan, maksud Ibu?"


"Lantas, apa yang harus Yandri lakukan, Bu?"


"Bersabarlah, Nak. Jika jodoh kalian kuat, sejauh apa pun perpisahan, maka kalian akan disatukan kembali. Beri Daniar waktu untuk bisa tegar menghadapi ujiannya. Dan berikan ibu kamu kesempatan, untuk menikmati hasil usaha kamu tanpa harus merasa bersaing dengan menantu." Nasihat Bu Salma.


"Maafkan sikap ibu, Bu. Yandri sendiri sudah berusaha untuk bersikap adil," kata Yandri.


"Ibu paham, Nak. Ibu sendiri tidak menyalahkan keinginan ibu kamu yang mengharapkan rasa bakti darimu. Ibu paham rasa kecewanya. Namun, Ibu juga tidak ingin melihat Daniar harus terus mengorbankan perasaannya. Karena itu, saat dia memutuskan untuk berpisah, Ibu mencoba memahami keputusan itu dari sudut pandang Daniar. Jika memang cinta kalian kuat, maka beri waktu pada dia (cinta) untuk membuktikannya!" tegas Bu Salma.


Sebuah ketegasan yang membuat hati Yandri bertekad untuk membuktikannya. Ibu benar. Jika memang cinta kami kuat, kenapa kami harus resah. Mungkin cinta tidak harus saling memiliki. Namun, cinta pasti tahu ke mana dia harus berlabuh dan menetap.


"Terima kasih, Bu," ucap Yandri seraya merebahkan kepalanya di pangkuan ibu mertua.


"Sama-sama, Nak. Berbaktilah pada ibu kamu. Ingat, Nak. Ada sebuah hadits yang mengatakan, jika ridha Tuhan itu ada pada kerhidaan kedua orang tuamu. Berusahalah supaya ibumu meridhai setiap usahamu dalam meraih cinta dan kesuksesan," imbuh Bu Salma.


"Baik, Bu."


Setelah berbicara panjang lebar dengan ibu mertuanya yang mungkin besok akan menjadi mantan ibu mertua, perasaan Yandri terasa tenang.


Kedua wanita tua yang sangat dihormatinya, sama-sama memberikan nasihat kepada Yandri. Akan tetapi, entah kenapa justru nasihat ibu mertua yang membuat pikiran Yandri merasa jernih, hati Yandri terasa tenteram. Berbeda sekali dengan nasihat ibu kandung yang hanya membuat otak Yandri terasa panas.


Namun, ibu kandung tetaplah ibu kandung. Tidak akan pernah tergantikan oleh ibu mana pun di dunia. Pepatah Sunda mengatakan, buruk-buruk papan jati, yang artinya : seburuk apa pun sifat saudara, mereka tetap saudara kamu. Begitu pun dengan orang tua. Seburuk-buruknya sikap orang tuamu, mereka tetaplah orang tua kamu sendiri. Jadi sudah sepatutnya dihormati."


"Ya sudah, Nak. Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kamu istirahat di kamar Bintang!" lanjut Bu Salma.


Yandri menegakkan kepalanya. Sejenak, dia menatap lekat ke arah ibu mertuanya.


"Ibu," panggil Yandri.


"Ya," jawab Bu Salma.


"Jika besok Yandri bukan lagi menantu Ibu, akankah ibu mengizinkan Yandri untuk tetap pulang ke rumah ini?" tanya Yandri, pedih.

__ADS_1


"Tidak akan ada orang tua yang mengusir anaknya. Kamu bisa datang sesuka hati kamu untuk kemari, Nak. Toh masih ada Bintang juga di sini. Namun, alangkah lebih bijak jika kamu tidak menginap. Karena bagaimanapun juga, setelah kalian berpisah, kalian bukan mahramnya satu sama lain. Hindarilah fitnah, karena fitnah itu lebih keji," papar Bu Salma.


"Yandri ngerti, Bu."


__ADS_2