Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kejutan Ibu Mertua


__ADS_3

Yandri membuka mata saat mendengar bunyi ayam berkokok. Biasanya, dia terbangun sebelum subuh. Namun, pekerjaan kemarin menyita waktunya hingga sore hari. Sampai-sampai Yandri harus lembur di rumah dan mengerjakan sisa pekerjaannya hingga tengah malam. Pukul 12 malam Yandri baru bisa memejamkan mata hingga akhirnya dia bangun terlambat.


Seperti biasa, Yandri meraih jam tangannya di atas nakas. Namun, matanya terkunci pada dua buah benda pipih yang berbentuk memanjang. Merasa asing dengan benda tersebut, Yandri kemudian meraihnya dan mengamati kedua benda tersebut.


Sejenak, dia membolak-balikan kedua benda itu. Tak ada selembar kertas pun yang bisa mengartikan apa fungsi dari benda tersebut. Yandri hendak membangunkan sang istri untuk bertanya. Namun, dengkuran halus Daniar membuat Yandri tidak tega untuk mengganggunya. Akhirnya Yandri menyimpan kembali dua buah benda pipih tersebut pada tempatnya.


Yandri keluar kamar dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tiba di kamar mandi, dia melihat sobekan kertas tergeletak begitu saja di dekat tempayan. Yandri memungut dan membacanya. Gambar benda pipih yang tadi dia lihat di kamar, tertera jelas di bagian dalam kertas tersebut. Sesaat setelah membacanya, Yandri baru bisa mencerna apa arti kedua benda pipih tadi. Buru-buru Yandri kembali ke kamarnya.


"Terima kasih sayang," bisik Yandri tepat di telinga Daniar saat dia sudah tiba di kamar. Yandri kemudian mengecup kening istrinya cukup lama. Tanpa terasa, air mata Yandri luruh mengingat keajaiban yang tercipta untuk dirinya dan sang istri.


Merasakan keningnya basah, perlahan Daniar membuka mata. Dia sedikit terkejut melihat wajah berlinang air mata yang berada di depan matanya.


"Kamu kenapa, Kang?" tanya Daniar dengan suara khas orang bangun tidur.


Yandri tidak menjawab. Dia hanya menyusupkan wajahnya di ceruk leher Daniar.


Meskipun tak mengerti dengan sikap suaminya, Daniar hanya bisa memeluk Yandri. Sejenak, dia membiarkan laki-laki itu meluapkan emosinya. Hingga setelah isak tangisnya reda, Daniar kembali bertanya kepada sang suami.


"Sebenarnya, kamu kenapa Kang? Apa yang terjadi hingga kamu menangis seperti ini? Apa ada masalah dalam pekerjaanmu?" cecar Daniar kepada suaminya.


Yandri mengangkat wajahnya. Dia tersenyum seraya mengelus pipi Daniar. "Apa kamu tahu, Sayang. Ini adalah tangis bahagiaku atas apa yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita," jawab Yandri.


"Maksud Akang?" tanya Daniar, heran.


Yandri menunjukkan kedua benda pipih yang dia temukan di atas nakas. "Terima kasih untuk ini," ucapnya.


Daniar tersenyum. Sejurus kemudian, mereka saling berpelukan untuk meluapkan rasa bahagia yang tercipta. Ya, siapa yang tidak menginginkan keturunan dalam kehidupannya. Kehadiran sang buah hati, justru akan semakin memperkuat ikatan suci yang mereka miliki.

__ADS_1


.


.


Setelah mengetahui istrinya hamil, Yandri mengajak Daniar untuk memastikan usia kandungannya. Menurut bidan desa, usia kandungan Daniar memasuki bulan ketiga. Itu artinya, Daniar masih berada pada masa trimester pertama. Masa di mana seorang ibu akan diuji dengan yang namanya ngidam, morning sickness dan berbagai hal lainnya. Ya, meskipun tidak semua calon ibu menjalani kehamilan trimester pertama dengan susah payah.


Daniar termasuk calon ibu yang mengalami kepayahan di trimester pertama. Setiap makanan yang masuk mulut dan melewati kerongkongannya, itu pasti akan dia muntahkan kembali. Bahkan Daniar tidak bisa mandi ataupun berwudhu dengan menggunakan air dingin. Kulitnya akan terasa nyeri jika terkena air dingin. Dia juga tidak mengizinkan suaminya untuk membuka tirai jendela. Entahlah, cahaya matahari seakan membuat perutnya bergejolak hebat. Semakin lama, Yandri semakin mengkhawatirkan keadaan sang istri. Hingga akhirnya dia mengajukan cuti hamil untuk istrinya sendiri.


Pagi ini, Daniar berencana untuk menyetrika pakaian suami. Sejak dia hamil dan berubah menjadi seorang pemalas, suami dan terkadang ibu mertuanya yang mencuci pakaian mereka. Daniar sendiri merasa tidak enak hati. Namun, apalah daya, Daniar belum mampu melawan sugestinya tentang air dingin yang menusuk kulit.


Saat dia sedang asyik menyetrika, tiba-tiba ibu mertuanya datang dan duduk di ambang pintu kamar Daniar.


"Apa kamu tahu, Nak. Yandri itu seorang anak yang penurut," ucap Bu Maryam mengawali pembicaraannya.


Daniar tersenyum. "Benarkah?" tanyanya.


Senyum Daniar semakin mengembang mendengar tabiat Yandri kecil yang sudah mampu bersikap dewasa meskipun usianya masih belia.


"Hingga akhirnya, dia membuat keputusan yang begitu mengecewakan kami," lanjut Bu Maryam seraya menatap kosong ke arah jendela kamar.


Deg!


Daniar sungguh terkejut dengan ucapan sang mertua yang diiringi nada kecewa. Ish, kekecewaan seperti apa yang harus Ibu tuai akibat perbuatan kang Yandri? batin Daniar.


"Memangnya, apa yang sudah kang Yandri perbuat hingga membuat Ibu kecewa?" Daniar memberanikan diri untuk bertanya tentang rasa kecewa ibu mertua terhadap putranya sendiri.


"Setelah lulus Sekolah Dasar, tak ada satu pun anak ibu yang melanjutkan pendidikannya. Mereka semua ingin bekerja. Dan sudah kewajiban kami memberikan modal awal kepada mereka. Tapi tidak dengan Yandri. Anak itu memaksa untuk melanjutkan sekolahnya, dan kami pun terpaksa mengikuti keinginannya. Hingga setelah lulus SMA, ibu berharap Yandri bisa bekerja seperti kakak-kakaknya. Namun, lagi-lagi anak itu mengecewakan Ibu. Dia malah memilih menggunakan uang modal untuk kuliah daripada membuka usaha," tutur Bu Maryam.

__ADS_1


Sejenak Bu Maryam menarik napasnya panjang. Entah apa yang dirasakan wanita tua itu. Hanya saja, terlihat jika dia sedang mengatur emosinya agar tidak meluap.


Daniar diam, mencoba mencerna semua perkataan ibu mertua. Dia cukup terkejut saat menyadari jika pendidikan tidak terlalu berarti di keluarga besar suaminya.


"Dan sekarang, setelah lulus pun Ibu kembali dibuat kecewa oleh Yandri," lanjut Bu Maryam.


Daniar mengernyit. "Maksud Ibu?" tanyanya.


"Ibu berharap Yandri mencari pekerjaan terlebih dahulu setelah lulus kuliah. Setidaknya, dia bisa mengembalikan dulu apa yang pernah kami keluarkan untuk dirinya. Tapi anak itu, ah entahlah ... Ibu tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala anak itu," keluh Bu Maryam seraya membuang napasnya dengan kasar.


Sungguh, Daniar tidak mengerti arah pembicaraan wanita tua itu. Namun, dari nada bicaranya, terdengar jelas jika dia menyimpan sebuah keluhan kepada suaminya.


"Maaf, Bu. Niar tidak mengerti apa maksud pembicaraan Ibu," cicit Daniar


"Iya Niar. Ibu ingin Yandri bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga bisa mengembalikan masa-masa kejayaan keluarga ini. Tapi entah kenapa, dia malah memilih menikah denganmu daripada mengembalikan semua biaya yang telah Ibu keluarkan untuk sekolahnya. Jadi, Ibu mohon pengertian dari kamu. Tolong ingatkan anak itu untuk tidak melupakan semua jasa orang tuanya dalam menyekolahkan dia," tegas Bu Maryam.


Deg!


Jantung Daniar seakan berhenti berdetak saat memahami maksud pembicaraan ibu mertuanya.


"Me-mangnya, berapa jumlah uang yang telah Ibu keluarkan untuk sekolah kang Yandri?" tanya Daniar


"14 juta! Tolong segera lunasi, Niar. Karena Ibu sangat membutuhkannya."


Pyarr!


Seketika hati Daniar hancur melihat perlakuan ibu mertuanya terhadap sang suami yang notabene anaknya sendiri.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim ...."


__ADS_2