
Daniar terus melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Tanpa terasa, azan asar mulai berkumandang di masjid tempat Daniar merenung. Daniar akhirnya menutup Al-Quran dan mengembalikan pada tempatnya.
Sepanjang muadzin mengumandangkan azan, pikiran Daniar pun berkelana mengingat rumahnya. Tangis Bintang seakan menggaung di telinga Daniar. Wajah sayu suaminya saat meminta mempertahankan pernikahan, tiba-tiba melintas jelas di mata Daniar. Ini salah! Ini sangat salah! jerit Daniar dalam hati
Batin Daniar berperang. Bahkan sepanjang menunaikan salat pun, bayangan Bintang dan suaminya berseliweran. Astaghfirullah ....
Selepas mengucapkan salam, Daniar bergegas membuka mukena. Dia melipat alat salat tersebut dan menyimpan kembali ke dalam lemari kecil yang berada di sudut ruangan. Daniar melirik jam tangan. Penunjuk waktu berhenti di angka 4, Daniar akhirnya memutuskan untuk pulang. Jika dia menyerah, maka dia hanya akan membuat orang-orang yang membencinya merasa menang.
Akhirnya, dengan tekad memulai dari awal, Daniar kembali ke rumahnya. Setelah semua ini, dia akan selalu menjaga hatinya agar tidak lemah. Biarlah Yandri melakukan apa pun yang dia suka, toh sebagai seorang manusia, dia juga bisa melakukan apa pun yang dia bisa.
.
.
Senyum Bu Salma mengembang seketika saat mendengar suara salam sang anak.
"Wa'alaikumsalam."
Bu Salma memangku Bintang. Sejurus kemudian, dia pun keluar kamar untuk menemui Daniar yang sepertinya baru masuk rumah.
"Alhamdulillah, Niar ... akhirnya kamu pulang juga," kata Bu Salma, menyambut kedatangan putrinya.
Daniar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan ibunya. Dia kemudian mengambil alih Bintang dari pangkuan Bu Salma. Namun, Bu Salma tidak memberikannya.
"Biarkan Bintang sama Ibu dulu, Ni. Kamu pergilah ke kamar mandi. Wajahmu terlihat kusut, basuhlah! Setelah itu temui teman-teman kamu di paviliun," lanjut Bu Salma.
Kening Daniar mengernyit. "Teman Niar?" ulang Daniar, "siapa, Bu?" tanyanya.
"Itu, teman-teman kuliah kamu yang dulu pernah mengerjakan tugas di sini. Mereka sudah datang dari tadi buat jenguk suami kamu. Duh, Ibu sudah bingung sekali harus ngomong apa saat mereka nanyain kamu, Ni," cerocos Bu Salma.
Daniar hanya tersenyum kecut. "Ya sudah, Bu. Niar ke kamar mandi dulu. Ibu tolong bilang saja kalau Niar baru pulang nebus obat kang Yandri," pinta Daniar.
"Hadeuh ni anak, kok malah nyuruh emaknya bo'ong," gerutu Bu Salma seraya pergi juga ke kamar paviliun.
Daniar kembali tersenyum mendengar gerutuan ibunya, tapi pergi juga untuk melaksanakan perintah Daniar.
Setelah ibunya pergi, Daniar kembali mengayunkan langkah menuju kamar mandi. Begitu memasuki kamar mandi, Daniar segera membasuh mukanya agar terlihat segar. Niat mandi dia urungkan sejenak. Takut jika tamunya kelamaan menunggu.
__ADS_1
Sementara itu, di kamar paviliun, tampak Yandri sedang menceritakan pengalaman pahitnya saat mengalami kecelakaan. Para tamunya terlihat antusias mendengar cerita Yandri. Sesekali, mereka bergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika Yandri tidak sampai ditemukan oleh pak Ginanjar.
"Subhanallah ... beruntung sekali ya, Pak. Saat itu ada yang sedang berziarah ke makam," ucap Farhan suaminya Rindu.
"Iya, alhamdulillah Pak. Jika tidak ada pak Ginanjar, saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib saya," jawab Yandri.
"Tapi ngomong-ngomong, Pak. Kok berziarah di malam hari, sih?" tukas Rindu.
"Daerah sana tuh masih kental dengan kepercayaan kepada leluhur, Mih. Jadi mereka akan merasa lebih khusu bermunajat, jika mengunjungi makam di tengah malam. Bukan begitu Pak Yan?" ujar Farhan.
'Ya, bisa dibilang seperti itu lah," sambung Yandri.
"Assalamu'alaikum!"
Pembicaraan mereka terjeda saat Daniar mengucap salam sembari memasuki kamar paviliun.
"Eh, Bu Niar!"
.
.
Tiba-tiba, bunyi benda jatuh terdengar begitu keras dari dapur. Aji yang tengah membordir mukena, seketika beranjak dari tempatnya. Setengah berlari, dia pun pergi ke dapur.
"Astaghfirullah, Bu?! Kamu kenapa?" tanya Aji yang melihat istrinya tergeletak di lantai.
"Pak, to-tolong, kaki Ibu tidak bisa digerakkan. Rasanya kaku sekali," ucap Khodijah.
"Ya Allah ..." lanjut Aji seraya membantu Khodijah untuk berdiri.
Namun, entah kenapa kaki Khodijah seolah tidak bisa menumpu tubuhnya. Hingga berkali-kali Khodijah mencoba berdiri, berkali-kali pula dia kembali terjatuh.
Astaghfirullah, kenapa ini? batin Khodijah.
"Tunggu di sini ya, Bu. Bapak mau cari bantuan dulu," ucap Aji yang kesulitan membantu Khodijah.
Tubuh khodijah yang berbanding terbalik dengan tubuhnya, membuat Aji merasa kesulitan untuk membantu Khodijah berdiri. Setelah mendapatkan anggukan dari istrinya, Aji kemudian keluar untuk mencari bantuan.
__ADS_1
.
.
Menjelang magrib, kedua pasangan yang menjenguk Yandri berpamitan untuk pulang. Setelah mengantarkan tamunya sampai pintu depan, Daniar pun hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, rengekan Bintang menghentikan langkahnya. Daniar memasuki ruang keluarga untuk menghampiri anaknya.
"Bibin Sayang, putrinya Bunda," ucap Daniar seraya menghampiri Bintang yang sedang duduk di pangkuan Bu Salma. "Kok duduk di pangkuan Enin, sih? Kasihan Enin, dong ... pasti berat. Bibin, 'kan udah gede," sambungnya.
Bintang beringsut lalu duduk di atas kasur lantai. Namun, isak tangisnya masih belum berhenti. Akhirnya niat Daniar untuk mandi, urung seketika. Daniar meraih Bintang dan langsung memeluknya dengan erat. Pelukan yang seolah mengatakan jika dirinya tidak akan meninggalkan lagi sang putri.
Mendengar isak tangis Bintang dari ruang keluarga, Yandri keluar kamar. Dia memasuki ruang keluarga untuk ikut bergabung bersama anak, istri dan mertuanya.
"Eh, Bibin kenapa? Kok nangis lagi ... 'kan Bunda sudah pulang," ucap Yandri begitu tiba di hadapan orang-orang yang disayanginya.
Bukannya menjawab, Bintang malah merentangkan kedua tangannya sebagai isyarat agar sang ayah menggendongnya.
Yandri mendekati Daniar dan duduk di samping Daniar. Kedua tangan Yandri terulur untuk meraih Bintang dan mendudukkan dia di pangkuannya.
"Bibin enggak mau bunda pergi. Bibin juga enggak mau Ayah bentak Bunda. Bibin enggak mau dengar Bunda sama Ayah teriak-teriak. Bibin enggak mau Bunda sama Ayah bertengkar. Bibin enggak mau Bunda sama Ayah berpisah. Bibin takut, huhuhu," tutur Bintang sambil kembali menangis.
Mendengar putrinya mengeluh sembari menumpahkan air mata, hati Daniar dan Yandri terasa pilu. Bagaikan tersayat sembilu, rasanya perih sekali.
Bu salma hanya menatap anak dan menantunya bergantian. Sesaat kemudian, dia mendekati cucunya.
"Bintang Sayang, Ayah sama Bunda kamu hanya ada sedikit salah paham saja. Mereka bukan bertengkar. Ada kalanya orang dewasa perlu sedikit salah paham untuk bisa kembali hidup berdampingan dalam kedamaian. Benar, 'kan, Ayah, Bunda," kata Bu Salma, mencoba meredakan tangis Daniar.
"Iya Sayang, Enin benar. Bunda memang marah sama Ayah, tapi Bunda enggak bertengkar sama Ayah, apalagi sampai berpisah," timpal daniar.
"Ayah sayang, 'kan sama, Bunda? Ayah janji enggak bakal teriak lagi sama Bunda?" lanjut Bintang.
Yandri tersenyum. "Tentu saja Ayah sayang sama Bunda, sama Bintang, sama Enin juga. Bibin jangan nangis lagi, ya. Ayah janji Ayah enggak akan marah-marah lagi," pungkas Yandri.
"Janji?" ucap Bintang seraya mengacungkan kedua jari kelingkingnya
"Janji!" pungkas Daniar dan Yandri seraya menautkan kelingking masing-masing pada kelingking mungil milik anaknya.
Bu Salma bernapas lega melihat anak dan menantunya telah berdamai.
__ADS_1
Semoga pertengkaran kalian kali ini, akan lebih mendewasakan kalian dalam menyikapi sebuah permasalahan.