Setelah Hujan

Setelah Hujan
Saran Bu Maryam


__ADS_3

Sepulang kerja, Yandri terlihat tidak bersemangat saat memasuki rumahnya. Pikirannya benar-benar kacau. Ditambah lagi dengan laporan keuangan dari bendahara yang mengatakan jika ibunya datang untuk meminjam uang. Ya Tuhan ... kenapa mereka tidak pernah mau melihat dengan jelas seperti apa keadaanku yang sebenarnya, batin Yandri.


"Jadi, bagaimana Pak Yan?" tanya Pak Agus, bendahara di sekolahnya.


"Kalau memang ada, tolong dikasih saja Pak. Tapi jangan semuanya," jawab Yandri.


"Apa istri Anda mengetahuinya?" tanya Pak Agus lagi.


Yandri menggelengkan kepala. "Sejujurnya, istri saya tidak pernah tahu-menahu soal kebiasaan ibu dan saudara-saudara saya meminjam uang ke sekolah, Pak," tutur Yandri.


"Astaghfirullah, Pak ... mohon maaf, bukannya saya berniat lancang mencampuri urusan Pak Yandri. Namun, kalau menurut saya, alangkah lebih baik jika Bapak berdiskusi terlebih dahulu dengan istri Bapak. Supaya tidak terjadi salah paham antara kalian di kemudian hari," saran Pak Agus menasihati Yandri.


Yandri tersenyum tipis. "Iya, Pak. Lain kali, saya akan bicarakan terlebih dahulu pada istri saya. Tapi untuk kali ini, silakan diberikan saja Pak, jika kebutuhan ibu memang sangat mendesak. Kebetulan, cicilan bekas kak Habibah hanya tinggal satu kali lagi. Biar bulan berikutnya, saya bayar penuh untuk pinjaman ibu yang sekarang," ucap Yandri.


"Baiklah kalau itu memang sudah menjadi keputusan Bapak. Semoga dimudahkan dalam mencari rezekinya, Pak," kata Pak Agus.


"Aamiin ... terima kasih, Pak," balas Yandri.


"Ish, kalau masuk pintu tuh, salam dulu," tegur Habibah yang sontak membuyarkan lamunan Yandri.


"Eh, Kak Bibah. Maaf, Yandri nggak lihat Kakak ada di sini," ucap Yandri yang memang sedang asyik melamun.


"Lagian, kamu kenapa sih, Yan? Kayak orang kebingungan saja." Kembali Habibah menegur sang adik.


"Ah, enggak kok, Kak. Yandri enggak pa-pa," jawab Yandri berusaha menutupi kegundahannya.


"Ya sudah kalau enggak ada apa-apa. Masuk, sana!" perintah Habibah, menyuruh adiknya masuk.


Sementara itu, Habibah sendiri pergi ke luar untuk mengambil pekerjaan di rumah temannya. Pekerjaan Habibah memasang payet pada pakaian konveksi yang sudah jadi. Hasilnya memang tidak seberapa. Namun, lumayan lah daripada dia hanya berpangku tangan di rumah.


Tiba di kamarnya, Yandri segera menghempaskan tubuh di atas ranjang. Rasa lelah benar-benar menderanya. Sebenarnya, bukan hanya lelah secara fisik, tapi secara pikiran juga. Ya, Yandri lelah dengan semua kebiasaan keluarga yang seolah masih menganggap dirinya seorang bujang.

__ADS_1


Ketukan di pintu kamar Yandri membuat laki-laki itu kembali terhenyak. Tak lama berselang, Bu Maryam memsuki kamar anaknya. Wanita yang berusia sekitar 60 tahunan itu, duduk di tepi ranjang. Yandri pun menegakkan tubuhnya menyambut kedatangan sang ibu.


"Sudah makan, Nak?" tanya Bu Maryam.


"Yandri enggak lapar, Bu," jawab Yandri.


"Hmm, tidak baik membiarkan perut kosong. Makanlah!" Bu Maryam memberikan perintah lagi kepada anaknya.


"Tadi saat jam istirahat, Yandri sudah makan kok, Bu. Insya Allah, masih kenyang." Yandri menolak halus perintah ibunya.


"Oh ya sudah kalau begitu. Eh, ngomong-ngomong, Yan ... apa pak Agus membicarakan sesuatu sama kamu di sekolah?"


"Iya, Bu. Sudah."


"Hmm, bagaimana hasilnya?"


"Nanti, tunggu keputusan dari ibu kepala saja. Soalnya, hari ini ibu Aisyah tidak datang."


Sebenarnya, Yandri merasa penasaran untuk apa ibunya membutuhkan uang itu. Tapi, rasanya percuma saja bertanya. Ibu pasti memiliki 1001 alasan yang tak bisa Yandri tolak. Yandri kembali telihat muram. Ditambah lagi dengan kalimat istrinya yang menantikan dia pulang, semakin menggaung di telinga.


Huft!


Tanpa sadar, Yandri mengembuskan napasnya dengan kasar. Hal itu membuat Bu Maryam keheranan. Dia mulai bisa merasakan jika putranya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Kamu kenapa, Yan? Ada yang sedang mengganggu pikiran kamu?" tanya Bu Maryam.


Yandri terkejut. Sejurus kemudian, dengan terbata dia menjawab, "Eh ... eng-nggak a-ada kok, Bu."


"Sudahlah, Nak. Aku ini ibu kandung kamu. Batin seorang ibu tidak akan pernah bisa dibohongi. Coba ceritakan, siapa tahu Ibu bisa bantu kamu. Ibu ini sudah tua, sudah banyak makan garam dalam melewati kehidupan ini," tutur Bu Maryam.


Kembali Yandri menghela napasnya. "Sebenarnya ... hari ini adalah tanggal pernikahan kami yang ketiga bulan, Bu. Di setiap tanggal ini, kami selalu menghabiskan waktu bersama. Begitu juga dengan hari ini. Daniar meminta Yandri pulang agar bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi, hari ini adalah hari efektif. Tidak mungkin Yandri bolos kerja esok hari. Tapi, kalau besok Yandri kembali ke sini, uang Yandri tidak cukup buat ongkos, Bu. Gaji Yandri yang bulan ini, dipotong untuk membayar pinjaman kak Habibah. Jadi Yandri harus berhemat," papar Yandri kepada ibunya.

__ADS_1


Bu Maryam mengusap lengan Yandri seraya berkata. "Lepaskan saja, Nak!"


"Maksud Ibu?" Yandri bertanya dengan wajah yang diselimuti rasa heran.


"Jika kamu sudah tidak sanggup menanggungnya, sebaiknya dilepaskan saja. Mumpung kalian belum punya keturunan."


"Maaf, Bu. Jujur saja, Yandri tidak mengerti maksud Ibu."


"Ceraikan istrimu, Nak! Ibu rasa, ini jalan yang terbaik. Rumah tangga seperti apa yang hidupnya selalu terpisah. Lagi pula, sepertinya kamu belum siap untuk menjadi seorang kepala rumah tangga, Nak. Daripada kamu membuat anak orang menderita, maka sebaiknya kamu melepaskan dia."


Sungguh, bukan hanya terkejut lagi, tapi kali ini Yandri benar-benar shock mendengar saran ibunya. Dia tidak habis pikir kenapa ibunya menyarankan hal yang tidak masuk akal. Bukannya menyemangati dan membesarkan hati anaknya, sang ibu justru seolah meragukan kemampuan Yandri dalam memimpin sebuah rumah tangga.


Yandri melirik jam dinding. Penunjuk waktu berhenti di angka 14.15. Yandri beranjak dari tempat tidurnya. Dia kemudian pamit kepada Bu Maryam.


"Maaf, Bu. Yandri ada urusan dulu. Untuk pinjaman yang Ibu ajukan kepada pak Agus, besok sudah bisa diambil ke rumah pak Agus. Yandri pamit, Bu."


"Loh, kamu mau ke mana?"


"Yandri mau menemui Daniar, Bu."


Bu Maryam mengernyit. "Bukannya kamu nggak ada uang buat ongkos, Yan?"


"Insya Allah, selama kita berikhtiar, rezeki pasti selalu ada," pungkas Yandri seraya meraih tas ranselnya dan keluar kamar.


"Huh, benar-benar anak bebal," dengus Bu Maryam setelah Yandri menghilang dari balik pintu.


Yandri terus menuruni jalanan terjal. Demi menghemat ongkos, dia pun berjalan kaki menuju pangkalan ojeg. Karena sudah terbiasa berjalan, setengah jam kemudian, Yandri tiba di pangkalan ojeg. Beruntungnya, saat dia tiba, bus yang menuju kota pun lewat. Yandri segera menghentikannya.


Tunggu aku, Sayang. Aku sedang dalam perjalanan pulang.


Ketik Yandri di ponselnya. Sedetik kemudian, Yandri mengirim pesan itu kepada sang istri.

__ADS_1


Tidak, Yar. Seberat apa pun ujian ini, aku pasti akan mempertahankan kamu di sisiku.


__ADS_2