Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kemarahan Bu Maryam


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar dengan kepala sekolah, akhirnya Yandri diizinkan untuk bekerja kembali. Saat sudah mendapatkan kepastian, akhirnya Yandri menyuruh Daniar untuk pulang.


"Ayah hati-hati kerjanya, ya? Ingat, jangan terlalu diforsir juga. Kalau sudah merasa pusing, sebaiknya segera beristirahat. Agar tidak tidak berakibat fatal pada kesehatan Ayah," pesan Daniar panjang lebar.


"Iya, Bun. Bunda juga baik-baik ya, di sana. Jaga kesehatan juga. Ingat, sebelum berangkat kerja, biasakan sarapan terlebih dahulu. Kesehatan itu harus dijaga, Bun," sahut Yandri tak kalah panjang lebar juga menasihati sang istri.


Daniar tersenyum. Karena waktu sudah semakin sore, dan perjalanan masih sangat jauh, Daniar segera berpamitan pulang kepada suaminya.


"Roni pulang dulu, Bang. Kalau ada apa-apa, Abang telepon Roni saja," ucap Roni.


"Pastinya," jawab Yandri seraya tersenyum.


.


.


Aji menghela napas cukup berat. Matanya menatap sang istri yang baru saja terlelap. Malam sudah semakin larut. Namun, entah kenapa Khodijah terlihat gelisah. Hingga akhirnya, tepat jam 12 malam, Khodijah pun baru bisa menutup mata.


Aji menyeka bulir bening di kedua sudut matanya. Lelah! Rasa lelah benar-benar menderanya. Lelah secara moril maupun materiil. Berbagai pengobatan alternatif telah dia kunjungi demi kesembuhan sang istri. Namun, sampai detik ini pun masih belum ada perubahan. Kondisi Khodijah makin lama malah semakin nge-drop saja. Aji pun merasa kebingungan harus berbuat apa.


Keesokan harinya. Aji pergi ke rumah sang kakak. Tujuannya tak lain hendak meminta tolong untuk menyampaikan kabar tentang Khodijah kepada ibu mertuanya dan juga kepada saudara-saudara Khodijah. Aji tidak ingin Khodijah merasa kecewa dan tidak diperhatikan oleh keluarga besarnya. Aji pun tidak ingin dia disalahkan jika sesuatu hal yang buruk menimpa istrinya.


Tiba di rumah sang kakak, Aji segera mencari keponakannya. Setelah bertemu, dia kemudian meminta Haidar untuk memberitahukan kondisi Khodijah saat ini.


"Tapi Haidar enggak punya nomor keluarganya bi Dijah, Om," ucap Haidar.


"Tidak apa-apa, Dar. Kamu beri tahu om Agus saja. Biar nanti om Agus yang akan menyampaikannya kepada saudara bibi Khodijah," sahut Aji.


Haidar mengangguk. Dia pun mulai mengetikkan pesan untuk Agus.


.


.


Di sekolah asrama, Yandri mulai beraktivitas kembali. Setelah menunaikan salat subuh, seperti biasa dia mengecek kamar anak didiknya satu per satu. Yandri melakukan hal itu hanya untuk memastikan jika para anak didik yang dia bina di asrama, telah melakukan salat subuh, mandi dan segera bersiap-siap pergi ke ruang makan untuk sarapan.


Saat dia hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Yandri menghentikan langkah. Sejenak dia menyandarkan punggungnya pada dinding kamar. Mencoba beristirahat sejenak untuk mengusir rasa pusingnya.


Pukul 7 tepat, bel masuk berbunyi. Yandri bersiap-siap memasuki kelas. Saat dia hendak berdiri, lagi-lagi rasa pusing menyerangnya. Yandri segera mencari pegangan agar tidak terjatuh. Sejenak, dia menutup mata.


Ya Tuhan ... tolong beri hamba kesehatan seperti sedia kala, batin Yandri. Tanpa dia sadari, seseorang tengah mengamati gerak-gerik Yandri.


Perlahan, Yandri kembali melangkahkan kaki menuju kelas 8. Meski sedikit terengah, dia terus berjalan menaiki anak tangga. Hingga akhirnya, Yandri tiba di kelas 15 menit setelah jam pertama dimulai.


Para siswa merasa heran melihat keterlambatan gurunya. Baru kali ini, dia melihat Ustadz yang paling disiplin waktu itu, terlambat masuk kelas. Rasa heran pun terpampang jelas pada raut wajah para siswanya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, anak-anak!" sapa Yandri.


"Wa'alaikumsalam, Ustadz!" jawab para siswa.


"Maaf, Bapak terlambat," lanjut Yandri sesaat setelah dia menyimpan bukunya di atas meja guru.


"Iya, Tadz. Tidak apa-apa," jawab serempak siswa.


"Baiklah, kita mulai saja materi untuk hari ini," kata Yandri seraya duduk di kursinya dan mulai membuka buku pelajaran.


.


.


Setelah mendapatkan kabar tentang putri keduanya yang sakit, Bu Maryam meminta izin kepada suaminya untuk menjenguk.


"Apa kamu akan lama tinggal di rumah Khodijah?" tanya Pak Ahmad.


"Entahlah, Pak. Mungkin setelah keadaan Khodijah membaik," jawab Bu Maryam.


Sebenarnya, Pak Ahmad merasa keberatan istrinya pergi di saat dia pun sedang sakit. Namun, dia paham akan kecemasan seorang ibu terhadap putrinya yang tengah sakit. Karena itu, Pak Ahmad terpaksa mengizinkan Bu Maryam pergi.


"Kapan rencananya kamu pergi, Bu?" tanya Pak Ahmad lagi.


"Baiklah, Bapak izinkan Ibu pergi. Tolong cepat kembali jika keadaan anakmu sudah mendingan," ucap Pak Ahmad dengan berat hati.


Bu Maryam tersenyum. "Iya, Pak. Tidak usah khawatir, begitu Khodijah baikan, Ibu pasti segera pulang," ucapnya seraya mengusap punggung tangan suaminya.


Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Bahar sudah menjemput ibu mertuanya di rumah Pak Ahmad. Setelah berpamitan, Bu Maryam mulai menaiki motor Bahar.


"Mari, Pak! Kami pergi dulu," pamit Bahar seraya menganggukkan kepalanya kepada ayah mertua.


"Iya, Hati-hati di jalan, Har. Jangan ngebut-ngebut!" pesan Pak Ahmad sesaat sebelum Bahar menyalakan motornya.


"Baik, Pak!" jawab Bahar. Sedetik kemudian, Bahar melajukan motornya.


Setelah satu jam melewati perjalanan, akhirnya Bu Maryam dan Bahar tiba di rumah Khodijah.


"Assalamu'alaikum!" sapa Bu Maryam.


Tak ada jawaban dari dalam rumah.


"Aji! Dijah! Apa kalian ada di dalam? Ini Ibu, Nak. Tolong bukakan pintunya, Ibu lelah sekali," teriak Bu Maryam yang mengira jika anaknya sedang berada di kamar dan menantunya bekerja di ruangan yang terpisah.


Namun, lagi-lagi hanya keheningan yang dia rasakan dari dalam rumah. Bu Maryam akhirnya meminta Bahar untuk mengecek bagian belakang rumah Aji.

__ADS_1


"Tolong kamu lihat pintu belakang, Har. Siapa tahu tidak dikunci," kata Bu Maryam kepada menantunya.


"Baik, Bu," jawab Bahar. Sedetik kemudian, Bahar pergi untuk mengecek pintu belakang.


"Kang! Assalamu'alaikum ... Kang Aji!" panggil Bahar begitu tiba di pintu belakang.


Namun, Bahar pun tak mendengar sahutan dari dalam rumah. Bahar mencoba menekan gagang pintu dan sedikit mendorongnya. Dan benar saja, pintu rumah bagian belakang sama sekali tidak terkunci. Bahar kembali menutupnya dan segera pergi ke depan untuk menemui ibu mertuanya.


"Pintu belakang sama sekali tidak dikunci, Bu. Apa Ibu ingin masuk ke dalam?" tanya Bahar.


"Ya sudah, kita masuk saja, Har," ucap Bu Maryam seraya beranjak dari bangku depan.


Bahar dan Bu Maryam berjalan berdampingan menuju pintu belakang. Tiba di sana, Bu Maryam langsung membuka pintu. Dia kemudian memasuki rumah Aji lewat pintu belakang.


"Ya Tuhan ... ke mana perginya anak itu? Sudah tahu istrinya sakit, masih saja ditinggal-tinggal," gerutu Bu Maryam sambil terus berjalan menuju ruang tengah.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Bu Maryam.


Mendengar jeritan seseorang, Khodijah yang sedang terbaring, segera menoleh. "I-ibu," ucapnya lirih.


Sedangkan Bu Maryam, dia hanya bisa terpaku melihat anaknya terbaring tidak berdaya di atas kasur di ruang keluarga. Bu Maryam segera mendekati anaknya. Namun, sesaat dia berhenti ketika mencium bau tak sedap dari kasur yang sudah tampak lusuh.


"Apa ini? Apa kamu buang air besar?" tanya Bu Maryam, kembali mendekati anaknya.


Khodijah tidak menjawab. Dia hanya bisa menatap ibunya dengan pancaran kerinduan yang amat sangat. Sedangkan Bu Maryam, dengan hati pilu melihat kondisi sang putri, Bu Maryam berjalan ke dapur untuk membawa air dan waslap. Tak lama kemudian, wanita berusia 60 tahun itu kembali ke ruang tengah.


Perlahan, Bu Maryam mulai membersihkan kotoran Khodijah yang mulai belepotan ke mana-mana. Hatinya begitu perih melihat kondisi anaknya.


"Ya Tuhan ... apa yang terjadi padamu Dijah?" gumam Bu Maryam.


Pada saat Bu Maryam sedang menyeka bokong anaknya, Aji masuk ke ruang tengah.


"I-ibu?" ucap Aji, cukup terkejut melihat ibu mertuanya sudah ada di rumah.


Bu Maryam menoleh. Matanya menatap tajam sang menantu yang baru pulang entah dari mana. Emosi yang menggunung di dadanya, kini semakin membuncah. Dia benar-benar marah kepada Aji yang tega meninggalkan istrinya sendirian di rumah dalam kondisi seperti itu.


"Apa-apaan ini Aji? Kamu meninggalkan Khadijah seorang diri di rumah, padahal kamu tahu jika dia sedang tidak berdaya. Tega sekali kamu menelantarkan istri kamu yang tengah sakit. Jika memang kamu sudah tidak ingin mengurus dia lagi, serahkan pada Ibu. Biar Ibu yang akan merawat Dijah sampai dia sembuh. Huh, pantas saja Khodijah enggak sembuh-sembuh, ternyata suaminya tidak pernah becus merawatnya. Astaghfirullah, tega kamu Aji!"


Bu Maryam meluapkan emosinya kepada sang menantu. Dia marah, sangat marah ketika mendapati anaknya terlantar di rumah suaminya sendiri.


"Maaf, Bu. Sepertinya Ibu salah paham. Aji tidak meninggalkan Kho–"


"Alah, mau ngelak apalagi?! Buktinya sudah jelas, kalau kamu meninggalkan istri kamu sendirian di rumah. Sekarang juga, kemasi pakaian istri kamu. Biar Ibu bawa pulang!" teriak Bu Maryam.


Sepertinya kemarahan Bu Maryam sudah sampai puncaknya. Dia lantas memerintahkan sang menantu untuk membereskan pakaian anaknya.

__ADS_1


__ADS_2