Setelah Hujan

Setelah Hujan
Berdebat


__ADS_3

Bu Maryam mengikuti suaminya dari belakang. Tiba di kamar, dia melihat Kakek Ahmad tidur seraya membelakangi. Bu Maryam hanya bisa menghela napas melihat tingkah suaminya. Pepatah bilang, semakin berumur, maka sikap seseorang semakin kekanak-kanakan. Hmm, sebagai bukti, mungkin seperti apa yang sedang disaksikan oleh Bu Maryam sekarang ini.


Perlahan, Bu Maryam mendekati ranjang. Dia pun ikut berbaring di samping suaminya. Mencoba memanggil agar bisa berbincang sebelum tidur. Seperti biasa yang mereka lakukan dulu. Namun, Kakek Ahmad masih diam. Dia sama sekali tidak menghiraukan ocehan Bu Maryam. Pada akhirnya, Bu Maryam hanya membuang kasar napasnya.


"Baiklah, terserah Bapak saja. Hari ini Ibu sudah sangat lelah mengurus Khodijah. Ibu tidak punya waktu untuk meladeni sikap merajuk Bapak. Selamat malam!" ucap Bu Maryam, kesal.


.


.


Bu Maryam terbangun saat mendengar tahrim di surau depan rumah. Dia teringat akan Khodijah yang selalu ingin ke kamar mandi setiap jam segini. Kecemasan pun semakin nampak di raut wajah wanita tua itu.


Bu Maryam beranjak dari atas ranjang. Sesaat, melirik suaminya yang masih tidur lelap. Dengan mengendap-endap, Bu Maryam berjalan ke luar kamar.


Bu Maryam terus berjalan menuju dapur. Rasa khawatirnya terhadap Khodijah, menuntun dia untuk keluar rumah. Hanya ditemani pencahayaan sinar rembulan, Bu Maryam berjalan menyusuri jalanan setapak menuju rumah anaknya.


Tok-tok-tok!


"Yo! Yoga...!" panggil lirih Bu Maryam seraya mengetuk pelan jendela kamar anaknya.


Di dalam kamar. Puri mengerjapkan mata saat mendengar seseorang memanggil nama suaminya. Puri mengguncang pelan bahu Yoga ketika panggilan itu kembali terdengar.


"Sst, Abang ... bangun Bang!" ucap Puri, "sepertinya dari tadi ada seseorang yang manggil kamu," lanjutnya.


Perlahan, Yoga membuka mata. Menatap cengo kepada Puri yang sudah duduk tegak di sampingnya.


"Ada apa, Dek? Ini belum subuh, 'kan, kok sudah bangunin Abang?" ucap Yoga merasa kesal.


"Ish, Abang ... coba denger deh. Seperti ada orang yang mengetuk jendela sambil manggil-manggil nama Abang," sahut Puri.


Sontak Yoga duduk tegak. Dia menajamkan indera pendengarannya untuk memastikan apa yang Puri ucapkan. Beberapa detik kemudian, memang benar jika seseorang mengetuk jendela kamarnya.


"Yoga, apa kamu sudah bangun, Nak? Ini Ibu, tolong buka pintunya." Terdengar suara Bu Maryam berbisik lirih di balik jendela kamar.


"Ibu, Bang," timpal Puri.


Yoga mengangguk. Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya.


"Abang buka dulu pintu belakang, Dek," kata Yoga. Sedetik kemudian, Yoga pun pergi ke dapur untuk membukakan pintu belakang rumahnya.

__ADS_1


"Ah, syukurlah kamu sudah bangun, Yo," ucap Bu Maryam begitu pintu dapur terbuka.


"Ibu ngapain jam segini datang kemari?" tanya Yoga.


"Biarkan Ibu masuk dulu, Nak. Ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu," balas Bu Maryam.


Yoga kemudian membuka pintu dapur lebih lebar lagi. Dia membiarkan ibunya masuk dan duduk.


"Sebenarnya ada apa, Bu?" tanya Yoga lagi.


"Ibu mau minta tolong sama kamu, Yo," jawab Bu Maryam.


"Minta tolong apa, Bu?" Yoga kembali bertanya.


"Tolong telepon Habibah. Bilang padanya supaya pergi ke kamar Khodijah. Biasanya, jam segini Khodijah suka minta ke kamar mandi," papar Bu Maryam.


Yoga melirik jam dinding. Penunjuk waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Di mana orang-orang masih tertidur pulas.


"Ish Ibu, apa Ibu tahu ini jam berapa? Ini tuh masih terlalu malam untuk membangunkan orang," tukas Yoga.


"Tapi Ibu khawatir dengan keadaan Khodijah, Yo," sahut Bu Maryam.


"Itulah masalahnya. Suami Ibu marah, karena sudah berhari-hari Ibu enggak pulang ke rumah. Ibu jadi enggak enak, Yo. Tapi Ibu juga kepikiran terus sama Khodijah. Ibu takut, Habibah enggak tidur di kamar Khodijah dan bangun kebablasan," kata Bu Maryam.


"Huh, Ibu ada-ada aja. Lagian kenapa sih, kak Dijah harus dibawa ke rumah. Kalau Ibu kangen dan ingin mengurusnya, Ibu bisa, 'kan pergi ke rumah kang Aji. Di sana, Ibu enggak akan repot sendiri ngurusin kak Dijah. Kalau di sini, bukan hanya Ibu yang kerepotan, kita semua juga dibuat repot. Memangnya Ibu pikir, kami semua enggak ada kerjaan lain lagi apa, sampai harus ngurusin kak Dijah yang udah jelas-jelas menjadi tanggung jawab kang Aji?"


Bukannya memenuhi permintaan ibunya, Yoga malah menggerutu kesal. Dia mengeluhkan perbuatan ibunya yang selalu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.


"Ya sudah, kamu mau bantu Ibu atau enggak? Sekarang ini bukan saatnya kamu menyalahkan Ibu. Lagi pula, Khodijah juga anak Ibu, Yo. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya teraniaya seperti itu," tutur Bu Maryam.


"Kak Dijah itu bukan teraniaya, Bu. Dia hanya sedang mendapatkan ujian berupa sakit. Ya Ibu sabar dong, bukankah kang Aji juga sedang ikhtiar untuk penyembuhan kak Dijah?" balas Yoga.


"Aji-aji-aji ...! Huh, Aji terus yang kamu bela. Sudah, kalau kamu enggak mau bantu Ibu, enggak usah ceramahi Ibu. Enggak usah pula bawa-bawa si Aji, suami yang enggak berguna itu," dengus Bu Maryam, geram.


"Astaghfirullahaladzim, Bu! Jika Ibu memang tidak menyukai kang Aji, kenapa dulu Ibu mengizinkan kak Dijah menikah dengannya? Heran Yoga sama Ibu." Kini giliran Yoga yang mendengus kesal mendengar perkataan ibunya. "Ya sudah, Yoga telepon kak Bibah sekarang. Ibu pulang saja, nanti bapak keburu bangun. Salah-salah Ibu kena omel lagi sama bapak," lanjut Yoga.


Dengan terpaksa, Yoga mengalah pada keinginan ibunya. Berdebat dengan sang bunda, sama sekali bukan hal yang penting. Hanya membuang waktu dan tenaga saja.


.

__ADS_1


.


"Bah... Bah...," panggil Bahar sembari mengguncang pelan tubuh sang istri yang sedang terlelap di sampingnya.


"Ih, apa sih, Kang? Ngantuk nih," jawab Habibah dengan suara serak dan mata masih terpejam


"Itu, HP kamu bunyi terus, Bah. Berisik," balas Bahar.


"Udah biarin aja ... entar juga berhenti sendiri," sahut Habibah.


"Ish, Bah ... tapi berisik," rengut Bahar.


"Ih, iya-iya," balas Habibah.


Dengan wajah masih mengantuk, Habibah pun bangun. Dia beranjak dari atas kasur untuk mengambil ponselnya yang sedang di-charge. Habibah mengernyit saat melihat nama Yoga di layar ponsel. Dia pun menggeser tombol jawab.


"Ish, ngapain sih nelepon jam segini, Yo? Kamu enggak tahu apa, kalau ini masih malam. Ganggu orang tidur aja!" Habibah mendengus kesal.


"Deuh, Kakak pikir Yoga juga enggak keganggu harus nelepon Kakak di jam segini. Kalau bukan karena permintaan ibu, mana sudi Yoga bangun cuma buat nelepon Kakak doang. Kurang kerjaan aja!" Yoga pun ikut menggerutu.


"Ibu? Emang ibu nginep di rumah kamu?" tanya Habibah, masih dalam mode mengantuk.


"Ibu enggak nginep di rumah Yoga, tapi barusan ibu datang minta Yoga teleponin Kakak. Kata ibu, Kakak disuruh ke kamar kak Dijah sekarang," tutur Yoga.


"Ih, ngapain Kakak ke kamar kak Dijah sekarang?" tanya Habibah terkesan enggan.


"Kata ibu, di jam segini biasanya kak Dijah suka minta ke kamar mandi. Jadi Kakak diminta tolong untuk bantuin kak Dijah. Takutnya kak Dijah sudah enggak tahan dan ngompol di kasur," jawab Yoga.


"Ish, Yo. Kok jadi Kakak sih yang harus ngurusin kai Dijah," rengut Habibah.


"Ya siapa lagi, Kak. Masak iya, Yoga yang harus ke sana," tukas Yoga.


"Huh, lagian ibu kenapa pulang sih? Bikin repot aja," keluh Habibah.


"Udah deh Kak, Yoga malas berdebat terus sama Kakak. Yoga ngantuk, Yoga mau tidur lagi!" pungkas Yoga seraya menutup telepon.


"Eh, yo! Halo! Halo!" teriak Habibah saat sambungan teleponnya terputus.


"Huh, menyebalkan!"

__ADS_1


__ADS_2