Setelah Hujan

Setelah Hujan
Ingkar


__ADS_3

Sepasang suami istri yang masih belia, terlihat asyik memilih barang-barang yang cukup mewah di sebuah toko elektronik.


"Kita beli TV yang ini saja, Bang," ucap Mia seraya menunjuk sebuah TV LED dengan ukuran yang cukup besar.


"Kamu suka yang itu?" tanya Raihan.


Mia mengangguk.


"Ya sudah, bungkus saja," lanjut Raihan.


"Ish, Abang ... emangnya nasi uduk, pake dibungkus segala," rengek Mia.


Raihan tertawa mendengar rengekan sang istri. "Iya Sayang. .. maksud Abang, ya sudah kita beli TV yang itu saja," jawab Raihan memperjelas ucapannya.


Mia tersenyum manja. Tangannya tak pernah lepas dari pinggang suaminya. "Eh, kita beli kulkas juga ya, Bang. Biar kita bisa stok bahan makanan. Rumah ibu, 'kan jauh banget dari warung," lanjut Mia.


Raihan mengerutkan keningnya. Sejenak dia berpikir tentang sisa uang penjualan pohon albasia. Ibunya bilang, Raihan harus menyisihkan uang tersebut untuk membayar pinjaman kepada Yandri.


"Beli kulkasnya nanti saja ya Sayang, takut uangnya tidak cukup," jawab Raihan.


"Ih, 'kan uangnya masih ada sisa, Bang. Kalau beli kulkasnya nanti, belum tentu juga kita dapat diskon. Tuh, Abang lihat!" Tunjuk Mia pada spanduk promo barang elektronik yang terpasang di atas, "barangnya lagi promo, 'kan?" lanjut Mia.


Raihan melihat harga dari kulkas tersebut. Diskon yang lumayan menggiurkan, tapi Raihan tidak ingin melanggar janjinya pada sang ibu.


"Nanti saja ya, Mi. Setelah Abang punya pekerjaan lagi," bisik Raihan.


Wajah Mia yang tadinya ceria, seketika berubah kecut. Tanpa banyak bicara, Mia melangkahkan kaki keluar dari toko elektronik itu. Raihan pun mengejarnya.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Raihan.


"Lepaskan! Mia mau pulang," jawab Mia seraya menghempaskan tangan suaminya.


"Tapi TV-nya belum dibayar, Yang," sahut Raihan.


"Bodo ah, Mia enggak jadi beli TV, jawab Mia ketus. Wajahnya mulai memerah, kedua matanya sudah berembun.


Akhirnya Raihan menyerah. "Baiklah, sekalian kita beli kulkasnya juga."

__ADS_1


Mia pun menyeka genangan air mata di kedua sudut matanya. Senyumnya kembali terbit. Sedetik kemudian, pasangan muda itu kembali memasuki toko elektronik itu lagi untuk membayar barang-barang yang sudah sejak lama mereka incar.


.


.


Sore harinya, Yandri mengajak Daniar untuk berkunjung ke rumah ibunya. Selain untuk bersilaturahmi, Yandri juga ingin memastikan kabar yang dia dengar dari sang istri. Daniar bilang, menurut pak Agus, pohon albasia yang berjajar di samping rumah ibunya telah dijual beberapa hari yang lalu. Namun, sampai detik ini ibunya belum juga datang untuk mengembalikan pinjaman.


Namun, dengan halus Daniar menolak ajakan suaminya. Suhu tubuh Bintang sedikit hangat. Terlebih lagi, Daniar malas bertemu dengan kakak iparnya. Sejak kejadian tempo hari, Daniar masih merasa kesal dengan sikap Habibah yang serta merta membawa seorang gadis ke tempatnya. Dan yang lebih membuat Daniar kesal, dia mengenal gadis yang diakui sebagai mantan kekasih dari suaminya itu. Sejak saat itu pula, Daniar selalu menjaga jarak dengan Habibah. Beruntung Daniar telah keluar dari rumah ibu mertuanya. Jika belum, uuh entah apa yang akan terjadi dengan dirinya dan sang kakak ipar.


"Ya sudah, kalau memang Bunda tidak mau ikut, biar Ayah saja yang pergi," ucap Yandri.


"Iya, Yah. Maaf ya, Bunda enggak bisa nemenin. Soalnya, Bunda takut Bintang tambah panas kalau dibawa keluar," jawab Daniar.


"Iya, tidak apa-apa, Bun. Kalau begitu, Ayah pergi dulu ya. Bunda hati-hati di rumah," balas Yandri.


"Iya, Yah," sahut Daniar. "Yah, kalau bisa, tolong pastikan agar uangnya terbawa sore ini. Pihak bus pariwisata sudah menanyakan perihal uang DP-nya. Mereka bilang, kalau sampai minggu depan kita tidak membayarnya, bus yang kita pesan akan diserahkan ke penyewa yang lain," lanjut Daniar.


"Insya Allah, Bun. Akan Ayah usahakan," jawab Yandri.


Setelah itu, Yandri keluar dari kamarnya. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju gerbang belakang sekolah. Yandri sengaja melewati jalan pintas agar bisa segera tiba di rumah ibunya.


Ish, apa mereka bekerja sama untuk menutupi semua ini dariku? batin Yandri.


Yandri menarik napasnya. Tidak Yan, jangan suudzon dulu. Siapa tahu mereka memang sedang sibuk sehingga tidak bisa segera menemui kamu. Yandri kembali bermonolog untuk menghibur dirinya sendiri.


Tiba di kediaman ibunya, Yandri sedikit tercengang melihat pemandangan lain di samping rumah sang ibu. Hmm, apa yang dikatakan pak Agus memang benar. Semua pohon albasia hasil tanam mendiang ayah, yang awalnya berjajar rapi di samping rumah, kini telah tiada. Sepertinya pohon itu memang telah laku terjual.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri lewat pintu belakang.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Maryam yang memang tengah berada di dapur.


Yandri membuka pintu dan masuk. Sesaat kemudian dia mencium punggung tangan ibunya dan duduk di hadapan Bu Maryam.


"Sehat, Bu?" tanya Yandri.


"Ya, beginilah Ibu, Yan. Dibilang sehat, ya kepala Ibu masih sering terasa sakit. Namun, dibilang tidak sehat juga, ya Ibu terpaksa harus menyehatkan diri Ibu. Ada banyak orang yang harus Ibu urus," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


"Memangnya, siapa yang hendak Ibu urus? Di rumah ini, hanya ada seorang anak kecil, yaitu Rizal putranya kak Bibah. Anak seumuran Rizal mah, masib bisa diatur, Bu," tukas Yandri.


Bu Maryam bergeming. Hmm, kamu tidak tahu saja Yan, kalau setiap hari Ibu harus mengurusi semua kebutuhan adik kamu sama istrinya, batin Bu Maryam.


"Oh iya, Bu. Ngomong-ngomong ... Yandri tidak lihat lagi pohon albasia di samping rumah. Apa pohonnya sudah laku terjual?" tanya Yandri


Deg!


Bu Maryam sangat terkejut mendengar pertanyaan Yandri. Sekarang, dia tidak bisa memberikan alasan lagi. Yandri sudah mengetahui jika pohon itu berhasil dijual. Lalu, apa yang harus dia katakan jika Yandri menanyakan perihal uang yang dipinjamnya tempo hari.


"Bu, kok bengong?" tanya Yandri yang merasa heran melihat raut wajah ibunya


"I-iya, Yan. Po-pohonnya sudah laku terjual," jawab Bu Maryam, gugup.


"Kapan?" Tanya Yandri, memastikan ucapan sang istri.


"Seminggu yang lalu," kata Bu Maryam yang mulia bisa menguasai kegugupannya.


"Lantas, kenapa Ibu tidak segera mengembalikan uang tabungan anak-anak pengajian?" tanya Yandri lagi.


"Ibu ... Ibu ... Emh, ibu ..." Bu Maryam tidak mampu menjawab pertanyaan Yandri.


Tiba-tiba. Deru suara mobil yang sedang mencoba untuk parkir, terdengar jelas dari arah depan rumah Bu Maryam.


"Ada apa itu, Bu?" tanya Yandri.


"Entahlah," jawab Bu Maryam.


"Ya sudah, biar Yandri lihat," tukas Yandri seraya beranjak menuju ruang tengah. Tiba di depan pintu, Yandri terpaku melihat Raihan yang sedang memandu parkir sebuah mobil box.


"Ya, sip Bang!" teriak Raihan sambil mengacungkan kedua jempolnya.


Mesin mobil pun mati. Si sopir menyembulkan kepalanya dari kaca jendela mobil. "Sudah bisa diturunkan sekarang, Bang?" tanyanya.


"Boleh, Bang. Yuk, saya bantu!" sahut Raihan.


Yandri memperhatikan gerak gerik Raihan dari dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang saat melihat barang-barang yang dikeluarkan dari dalam mobil box. Seketika, kedua tangan Yandri terkepal melihat pemandangan di depan rumah ibunya.

__ADS_1


Jadi, ini yang membuat ibu tidak bisa menjawab pertanyaan aku tadi. Ish, apa ibu memang berniat untuk mengingkari janjinya?


__ADS_2