Setelah Hujan

Setelah Hujan
Perubahan Sikap Daniar


__ADS_3

Karena merasa ditolak oleh istrinya, Yandri pun memutuskan untuk pulang. Di samping itu, Yandri harus menemui Bintang untuk menghiburnya. Yandri takut jika mental Bintang terganggu karena telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh anak seumuran dia.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Sebelumnya, Yandri sudah mengirimkan pesan kepada Danita tentang dirinya yang akan pulang ke rumah. Karena itu, Yandri menghubungi Danita begitu dia sampai di rumah mertuanya.


Trek!


Danita membuka kunci pintu rumah. Setelah itu, dia mendorong daun pintu untuk mempersilakan kakak iparnya masuk.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri, perlahan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Danita. "Apa kabar, Bang?" lanjutnya.


"Alhamdulillah, kabar Abang baik," jawab Yandri, "kamu sendiri gimana, sehat?" lanjut Yandri.


"Alhamdulillah sehat, Bang," balas Danita.


"Syukurlah kalau begitu," sahut Yandri. "Ngomong-ngomong, Bintang tidur di mana, Dek?" tanya Yandri.


"Di ruang TV, Bang. Bareng Nita sama Fayyadh juga," jawab Danita.


"Kalau Abang pindahin ke kamar Abang, enggak pa-pa, 'kan, Dek?" tanya Yandri kepada adik iparnya.


"Tentu saja enggak pa-pa, Bang. Bintang pasti bakalan seneng banget tidur sama ayahnya," jawab Danita.


"Ya sudah, Abang ke kamar mandi dulu buat bersih-bersih. Setelah itu, Abang pindahin Bintang ke kamar," ucap Yandri.


Danita hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Yandri.


.


.


Suasana di luar kamar ruang ICU, terlihat cukup sepi. Setelah kakak iparnya pamit pulang, Danisa kemudian memasuki ruang ICU untuk melihat keadaan kakak pertamanya.


Di atas ranjang rumah sakit, tampak Daniar tengah menatap kosong langit-langit ruangan. Danisa pun mendekatinya.


"Lu belum tidur, Kak? Mana ibu?" tanya Danisa.


Daniar menoleh. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang terlihat pucat. Kedua matanya terlihat bengkak. Namun, sudah tidak ada lagi linangan air mata terlihat di sana.


"Ibu sedang berada di kamar mandi, Dek," jawab Daniar.


"Oh," balas Danisa.

__ADS_1


Gadis berambut pendek itu menarik kursi dan mendudukinya. Dia menatap Daniar cukup lekat, sebelum akhirnya berbicara.


"Nisa suruh bang Yandri pulang, Kak. Buat jagain Bintang juga. Terakhir kali Nisa lihat, Bintang sepertinya shock setelah mendengar kondisi Kakak," tutur Danisa.


Daniar mengalihkan pandangannya. Dia kembali menatap kosong langit-langit kamar ICU. Daniar teringat akan gadis kecilnya.


Sungguh malang sekali anak itu. Harus melihat keburukan neneknya sendiri. Harus mendengar hinaan dan cacian yang keluar dari mulut ibu kandung yang selalu dipuja ayahnya. Dia pasti trauma, batin Daniar.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kakak bisa sampai pendarahan? Apakah Kakak terjatuh?" cecar Danisa yang masih penasaran dengan kejadian yang dialami kakaknya.


Daniar memejamkan mata. Cairan bening kembali menggenang di kedua sudut mata. Namun, dia berusaha untuk menahan isak tangisnya. Daniar tidak ingin membuat ibu dan adiknya kembali mencemaskan keadaannya.


Telunjuk kanan Daniar menghapus genangan air mata. Dia kembali menatap Danisa.


"Dek, kalau besok bang Yandri datang, tolong jangan biarkan dia masuk. Suruh dia kembali pulang," titah Daniar, mengubah topik pembicaraan.


"Tapi kenapa, Ni? Kenapa kamu harus usir suami kamu sendiri?"


Tiba-tiba Bu Salma keluar dari kamar mandi. Bu Salma yang baru saja mendengar perintah Daniar, merasa bingung dan heran. Dia akhirnya bertanya kepada putri sulungnya.


"Ti-tidak apa-apa, Bu," jawab Daniar, tanpa berani menatap ke arah ibunya.


Bu Salma menepuk bahu Danisa. Memberikan isyarat kepada anak bungsunya supaya beranjak dari kursi. Danisa pun berdiri dan mempersilakan ibunya untuk duduk.


"Aku ini ibu kamu, Nak. Dan seorang ibu, tidak akan bisa untuk dibohongi. Sekarang, tolong jujur sama Ibu. Kenapa kamu seperti sedang marah kepada Yandri? Kenapa kamu tidak pernah ingin bertemu dengannya lagi?" tanya Bu Salma.


Daniar tahu, dia tidak akan sanggup berbohong kepada ibunya. Namun, dia juga tidak mungkin mengungkap alasan kenapa dia tidak ingin melihat suaminya. Daniar tidak ingin dua keluarga akan saling menjelekkan hanya karena musibah yang telah terjadi kepadanya.


Hanya saja, Daniar juga manusia. Punya emosi rasa marah. Memang salah, tidak seharusnya Daniar melampiaskan kemarahan itu kepada Yandri. Namun, mengingat takdir yang telah mempertemukan mereka, Daniar mulai mengeluh. Seandainya aku tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu, semua ini pasti tidak akan terjadi, pikir Daniar.


"Kak?"


Panggilan Bu Salma kembali menarik kesadaran Daniar dari lamunannya.


"Kenapa?" lanjut Bu Salma. "Apa yang terjadi pada kalian?" tanyanya lagi.


"Ti-tidak, Bu. Tidak terjadi apa-apa di antara Niar sama kang Yandri," kata Daniar.


"Lalu, kenapa kamu mengusirnya? Bukankah di saat-saat seperti ini, dukungan suami itu sangat penting?" terka Bu Salma.


"Maaf Bu, Niar lelah. Niar mau istirahat." Kembali Daniar pun mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah, istirahatlah Nak!"

__ADS_1


.


.


Bintang mengerjapkan mata saat merasakan pelukan hangat membalut di tubuhnya. Kedua bola mata Bintang langsung berkaca-kaca begitu melihat malaikat pelindungnya.


"Ayah!" Lirih Bintang.


Merasakan cairan hangat membasahi dadanya, Yandri pun membuka mata. Dia terkejut saat tubuh Bintang sedikit berguncang. Apa Bintang sedang menangis? batin Yandri.


Perlahan, Yandri mendorong pelan bahu anaknya. Dan benar saja ... Bintang sedang berurai air mata.


"Hei ... kenapa kesayangan Ayah menangis?" tanya Yandri. Tangannya mengusap bulir air mata di kedua pipi Bintang.


Gadis kecil itu tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Dadanya semakin sesak tatkala mengingat ibunya yang tengah dirawat di rumah sakit. Dia pun semakin tersedu-sedu.


"Bu-bunda, Yah," ucap Bintang di antara isak tangisnya.


Yandri mengangguk. Meski sebenarnya hati Yandri hancur melihat keadaan sang istri, tapi demi putrinya, dia harus kuat.


"Insya Allah, bunda pasti baik-baik saja. Sekarang, Bintang bobo lagi, ya. Besok, kita jenguk bunda di rumah sakit."


.


.


Hari demi hari terus berlalu. Tanpa terasa, sudah seminggu Daniar menjalani pengobatan dan perawatan di rumah sakit. Dalam kurun waktu seminggu itu, Daniar sama sekali tidak mau bertemu Yandri.


Setiap Yandri datang, Daniar selalu meminta ibu ataupun Danisa untuk mengusir Yandri. Bahkan, saat dokter sudah mengizinkan Daniar untuk pulang, dia sama sekali menolak jemputan suaminya. Perubahan sikap Daniar, membuat Yandri semakin kebingungan.


"Sudahlah Nak Yandri. Mungkin Daniar perlu waktu untuk sendiri," kata Bu Salma, mencoba menenangkan hati menantunya.


"Iya, Bu ... semoga saja," timpal Yandri. "Kalau begitu, Yandri berangkat dulu Bu. Tolong titip istri sama putri Yandri," imbuhnya.


"Kamu tidak usah khawatir, Nak. Ibu akan selalu menjaga kedua permata hati kamu," jawab Bu Salma.


Panggilan berjihad, akhirnya membuat Yandri harus terpisah lagi dengan anak istrinya. Meski hati Yandri enggan meninggalkan sang istri yang tengah sakit. Namun, kewajiban dia mencari nafkah, memaksanya untuk pergi. Terlebih lagi sikap Daniar yang berubah, membuat Yandri merasa sedikit sesak.


Tok-tok-tok!


Yandri mengetuk pintu kamar mertuanya. Sejak pulang dari rumah sakit, Daniar memang memutuskan untuk tidur bersama Bu Salma.


Ketika tak ada sahutan dari dalam kamar, membuat Yandri kembali menghela berat napasnya.

__ADS_1


"Ayah pergi dulu, Bun. Semoga lekas sembuh. Jangan sungkan untuk menghubungi Ayah jika Bunda sudah ingin bicara lagi sama Ayah. Assalamu'alaikum."


__ADS_2