Setelah Hujan

Setelah Hujan
Memilih Berpisah


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Kesibukan Yandri dalam bekerja, membuat dia sedikit melupakan dukanya. Di sela-sela kesibukannya, Yandri selalu berusaha menyempatkan diri untuk menelepon Daniar. Berharap jika dia bisa mendengar suara istrinya. Namun, harapan itu tidak pernah terwujud. Sekali pun, Daniar tidak pernah mengangkat telepon dari Yandri. Jangankan telepon, chat pun hanya dibaca saja tanpa dibalas.


"Astaghfirullahaladzim, Bun ... apa salah Ayah pada bunda?" gumam Yandri seraya menjambak pelan rambutnya.


Tanpa terasa, bulan ini sudah memasuki Minggu ketiga. Hanya tinggal menunggu 6 hari ke depan, izin relaksasi Yandri pasti keluar. Sembari melingkari tanggal dengan balpoin merah, senyum Yandri mengembang mengingat dirinya akan segera pulang.


.


.


Lain halnya dengan Daniar. Semakin hari, keresahan semakin menyelimuti jiwanya. Terlebih lagi setelah dia melakukan kontrol dan berkonsultasi dengan dokter kandungan tempo hari.


"Jadi begini, Bu ... wanita yang sudah melakukan operasi pengangkatan rahim, mereka akan mengalami menopause dini. Meskipun usia pasien belum mencapai 45 tahun atau lebih, tapi tetap dia akan mengalami menopause lebih awal. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada lagi ovarium. Secara teori, hasrat untuk bercinta pun akan semakin menurun, tapi entah prakteknya ya, Bu. Karena menurut saya, selama masih ada rasa cinta dan saling menghargai, maka hubungan suami istri akan tetap harmonis," tutur Dokter Indrawan.


Daniar tersenyum kecut mendengar kembali penuturan dokter obgyn-nya.


Hmm, rasa cinta dan saling menghargai. Apa aku memiliki semua itu dari kang Yandri? Jika dia mencintaiku, dia pasti akan membelaku saat aku tidak pernah diterima di keluarganya. Jika dia menghargai aku, maka dia pasti meminta pendapatku sebelum melakukan sesuatu untuk keluarganya. Lantas, dasar apa yang sebenarnya kami miliki dalam hubungan ini? batin Daniar, perih.


Dan satu lagi yang membuat Daniar semakin ingin menjauhi Yandri, adalah kondisi fisiknya. Daniar paham betul jika Yandri ingin memiliki seorang pewaris. Anak laki-laki yang kelak bisa menjadi pelindung keluarga. Namun, keinginan itu hanya akan tetap menjadi sebuah mimpi yang tidak akan pernah terwujud.


"Ya Tuhan ... kenapa begitu berat ujian yang harus aku jalani?" guman Daniar, menunduk dan menumpuk dagunya di atas kedua lutut yang dia dekap erat.


Menopause dini? Orang bilang, ketika seorang wanita telah memasuki masa menopause, maka hubungan di atas ranjang pun akan semakin hambar. Bagaimana jika itu terjadi padaku? Di saat usia kami sedang memasuki masa gairah untuk bercinta, tapi aku tidak bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada suamiku. Astaghfirullah! jerit Daniar dalam hatinya.


Semakin dipikirkan, tekad Daniar pun semakin bulat. Mengingat dirinya yang sudah tidak lagi sempurna sebagai seorang istri, Daniar memilih untuk berpisah dan mengakhiri cerita antara dirinya dan Yandri.


"Sudah malam, Ni. Sebaiknya kamu masuk ke rumah. Angin malam tidak baik loh, untuk kesehatan kamu," tegur Bu Salma yang sudah berdiri di hadapan Daniar.


Daniar mendongak. "Sebentar lagi, Bu," sahutnya.


Bu Salma kemudian duduk di gazebo, berhadapan dengan Daniar. Kedua tangannya terulur dan menyelipkan rambut Daniar di balik daun telinga.

__ADS_1


"Kamu kenapa Ni, kok murung seperti ini?" tanya Bu Salma.


Sebagai seorang ibu, Bu Salma bisa merasakan jika saat ini, anaknya sedang tidak baik-baik saja. Bu Salma ingin menghibur Daniar dan mengatakan jika semuanya pasti akan baik-baik saja. Namun, ketika Daniar hanya bisa diam memendam perasaannya sendiri, Bu Salma pun tak mampu berbuat apa-apa. Dia sendiri merasa bingung. Entah apa yang harus dia lakukan untuk putrinya saat ini.


"Oh iya, Ni. Kabarnya, Jum'at depan Yandri bakalan pulang loh. Hhh ... sebulan itu cepat berlalunya ya, Ni. Rasanya, baru kemarin Yandri pulang. Eh ... sekarang sudah mau pulang lagi. Hmm, mungkin ini pengaruh kalau kita terlalu betah hidup di dunia. Makanya waktu seakan cepat berlalu," oceh Bu Salma.


Daniar masih diam. Jujur saja, kabar kepulangan Yandri membuat Daniar terkejut. Pasca musibah yang menimpanya, komunikasi Daniar dan Yandri tidak begitu baik, putus begitu saja. Meski Yandri sering menghubunginya. Namun, Daniar enggan mengangkat telepon dari Yandri. Bahkan, chat pun hanya dia baca dan dia abaikan begitu saja.


Huh, benar-benar istri durhaka! rutuk Daniar dalam hatinya.


.


.


Berharap ... berharap dan masih selalu berharap jika istrinya tidak akan terlalu lama mendiamkan dirinya. Itu yang selalu Yandri impikan saat ini. Bahwa suatu hari nanti, Daniar akan kembali menjadi wanita yang seperti pertama kali dia kenal. Sikapnya yang ceria, tutur katanya yang lembut, dan senyumnya yang ramah, akan kembali Yandri dapatkan dari ratu hatinya.


Selepas salat Jum'at. Dengan wajah sumringah, Yandri pergi ke kantor perizinan untuk membuat surat izin relaksasi.


"Jadwal pulang ya, Tadz?" sapa seorang penjaga keamanan yang sedang berjaga di depan gerbang asrama.


"Waaah ... bercocok tanam, dong!" gurau Pak Mahdi.


"Ah, Pak Mahdi bisa saja," jawab Yandri tersenyum tipis.


Tidak bercocok tanam pun tidak apa-apa, Pak. Asalkan istri saya mau berbicara lagi pada saya, batin Yandri, tersenyum kecut.


Beberapa menit kemudian, surat izin relaksasi Yandri telah keluar. Setelah menerimanya, Yandri pun pamit kepada kedua satpam yang sedang berjaga.


"Mari semuanya! Assalamu'alaikum!" pamit Yandri.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan, Tadz!"

__ADS_1


.


.


Setelah melewati perjalanan selama lebih dari 7 jam, Yandri akhirnya tiba di rumah ibu mertuanya. Rumah terlihat sepi. Sepertinya orang rumah pun sudah tertidur. Sebelum memasuki garasi, Yandri pun turun di halaman depan untuk menekan bel pintu.


Di kamar paviliun, Danisa segera menyimpan ponselnya saat mendengar bel pintu berbunyi. Beberapa detik kemudian, dia pun beranjak pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.


"Bang Yandri!"


"Assalamu'alaikum, Dek!" sapa Yandri. "Orang rumah sudah pada tidur?" tanyanya.


"Tadi sih, Bintang nungguin Abang pulang. Tapi karena sudah jam 10 Abang nggak datang-datang, akhirnya kak Niar nyuruh bintang tidur," jawab Danisa.


"Iya Nih ... Abang tadi banyak istirahat, Dek. Enggak kuat, ngantuk. jadinya telat sampai, deh," balas Yandri.


"Iya, enggak pa-pa, Bang. Biar lambat, asal selamat," sahut Danisa, sok bijak. "Eh, apaan tuh, Bang?" tanya Danisa menunjuk bungkusan yang sedang ditenteng Yandri.


"Oh, ini martabak sama buah anggur kesukaan Bintang sama bundanya," sahut Yandri.


"Ya sudah, sini biar Nisa simpan ke kulkas. Abang rehat gih!" Danisa menawarkan diri untuk menyimpan buah tangan yang dibawa Yandri dan menyuruh Yandri untuk beristirahat.


Yandri menurut. Dia menyerahkan tas kecil yang dia bawa sedari tadi kepada adik iparnya. Yandri kemudian melangkahkan kaki ke halaman belakang untuk membuka pintu garasi.


Sementara itu, di dalam kamarnya. Jantung Daniar berdegup kencang saat deru mobil kekasih hatinya terdengar memasuki halaman belakang. Sejenak, Daniar mengatur napas, mempersiapkan diri jika laki-laki itu memasuki kamar.


Dan benar saja. Pintu kamar Daniar terbuka. Daniar memejamkan mata. Berpura-pura tidur untuk menghindari tegur sapa dengan suaminya.


Jantung Daniar semakin berdetak tak karuan saat merasakan embusan napas terasa hangat di telinganya.


"Hai Sayang! Apa kabar?" bisik Yandri.

__ADS_1


Sesaat kemudian, kecupan hangat mendarat di kening Daniar yang masih berpura-pura tidur.


"I love you, bundanya Bintang."


__ADS_2