
"Gimana, Bin. Apa Bibin mau ikut ujian? Entar, kalau Bibin lulus, Bibin bisa langsung naik tingkat. Bukannya Bibin mau melanjutkan sekolah di SMP favorit, ya?" bujuk Daniar kepada anaknya.
"Al-Furqon, Bun?" sahut Bintang, kedua bola matanya terlihat berbinar.
Daniar menganggukkan kepalanya.
"Bun, apa Bibin boleh menelepon ayah? Bibin mau minta pendapat ayah terlebih dahulu," pinta Bintang.
"Tentu saja boleh, Nak," jawab Daniar tersenyum. "Kamu ambil telepon Bunda di kamar, gih. Abis itu, kamu telepon ayah."
Bintang mengangguk. Anak berusia sebelas tahun itu segera berlari ke kamar untuk mengambil telepon. Tak lama kemudian, Bintang kembali ke ruang keluarga.
"Bunda yang telepon!" kata Bintang sambil mengulurkan tangan hendak menyerahkan ponsel Daniar.
"Bibin saja yang telepon, Nak," jawab Daniar.
Daniar memang selalu merasa canggung jika berhadapan dengan Yandri. Sekalipun hanya lewat telepon.
Bintang mengangguk lagi. Dia kemudian mengotak-atik telepon ibunya untuk menghubungi sang ayah.
Tak lama kemudian, telepon pun tersambung. Tampak wajah Yandri memenuhi layar ponsel Daniar. Wajah yang dipenuhi kumis, jambang dan jenggot tipis. Berbeda sekali dengan wajah Yandri saat menjadi suami Daniar.
"Assalamu'alaikum, Ayah!" sapa Bintang.
"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Yandri. "Kamu apa kabar, sehat?" lanjutnya.
"Alhamdulillah, Bibin sehat, Yah. Ayah sendiri gimana? Sehat? Kok kelihatan kurus gitu. Terus itu apa, Yah? Sekarang Ayah pelihara jenggot sama kumis? Ih, jelek ah. Bibin geli lihatnya, hehehe ..." cerocos Bintang sambil terkekeh.
Di seberang telepon, Yandri hanya tersenyum melihat ekspresi putrinya.
"Iya nih, Nak. Ayah belum punya waktu buat cukur jenggot sama kumis Ayah," sahut Yandri.
"Hmm, Bibin tahu Ayah sibuk, tapi Ayah harus rawat diri juga. Katanya mau ngambil hati Bunda lagi. Hmm, kalau wajah Ayah semrawut kek gitu, gimana Bunda mau jatuh cinta lagi sama Ayah," ledek Bintang.
"Eh, kok jadi bawa-bawa Bunda!" tukas Daniar, mengerucutkan bibirnya.
"Itu suara bunda kamu ya, Bin?" tanya Yandri yang hatinya berbunga-bunga mendengar lembut suara mantan istrinya.
"Iya, Yah," jawab Bintang.
"Emmh, Bin ... bisa layarnya kamu sorotkan sama Bunda kamu," pinta Yandri, pelan.
"Kenapa, Ayah kangen ya?" goda Bintang. "Enggak usah sorot-sorotan, Ayah langsung aja ngomong. Nih!"
Dengan jahilnya, Bintang menunjukkan wajah ibunya yang masih asyik mengamati layar laptop.
Sikap Bintang yang tiba-tiba, membuat Daniar tak mampu mengelak. Untuk beberapa saat, pasangan kekasih yang terpaksa berpisah itu hanya bisa saling tatap tanpa berbicara sepatah kata pun.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Hingga di detik kelima
"Bun!"
"Kang!"
Mereka saling memanggil satu sama lain. Karena sama-sama terkejut, mereka pun hanya bisa melempar senyum.
__ADS_1
"Apa kabar, Bun?" tanya Yandri.
"Alhamdulillah, sehat. Akang sendiri?" Daniar balik bertanya.
"Alhamdulillah, sehat juga. Sudah lama ya, kita enggak ketemu," ucap Yandri.
"Hmm, iya Kang," sahut Daniar kikuk.
"Maaf, aku belum sempat ngajak Bibin main. Lagi sibuk ngurusin tesis," lanjut Yandri.
"Iya, Kang. Tidak apa-apa. Oh iya, Niar lagi buat RPP. Akang ngobrol lagi sama Bintang ya, ini katanya ada yang mau didiskusikan Bintang sama Akang," tutur Daniar, menutupi kecanggungannya.
"Iya, boleh Bun," balas Yandri.
Daniar mengembalikan teleponnya kepada Bintang.
"Halo, Nak. Memangnya kamu mau diskusi apa sama Ayah?" tanya Yandri.
"Bibin, 'kan ikut kelas akselerasi, Yah," ucap Bintang.
"Benarkah?" tanya Yandri, takjub.
"Hem-eh, tapi kemarin Bibin sakit selama dua bulan, bi–"
"Kamu sakit, Nak. Kok Bunda enggak ngabarin Ayah?" Yandri begitu terkejut mendengar kabar anaknya sakit.
"Maaf, Yah. Tapi Bibin udah sehat, kok. Jadi Ayah enggak usah cemas lagi," jawab Bintang.
"Ish, Dek ..." lanjut Yandri.
"Serius Yah. Bibin udah baik-baik saja," jawab Bintang, mencoba meyakinkan ayahnya.
"Ya sudah, setelah bimbingan tesis Ayah selesai, Ayah akan mengajukan cuti panjang. Biar nanti kita bisa main sepuasnya," lanjut Yandri.
"Oh iya, tadi Bibin mau diskusi apa?" tanya Yandri lagi.
"Gini, Yah. Bibin ditawarin ikut ujian sama wali kelas Bibin. Kalau Bibin lulus dengan nilai terbaik, Bibin bisa masuk sekolah favorit. Gimana menurut Ayah?" tanya Bintang meminta pendapat ayahnya.
"Apa selama ini, kamu mampu mengerjakan soal ulangan harian?" Yandri malah balik bertanya.
"Alhamdulillah, bisa Yah," jawab Bintang.
"Ya sudah, ikuti saja Nak. Toh, jika tidak lolos pun, kamu tidak akan dibilang tidak naik kelas juga. Karena sejatinya, itu ujian kakak kelas kamu," jawab Yandri.
"Hehehe, bener juga ya, Yah. Ya sudah, besok Bibin akan jawab ikut, sama bu Etty," sahut Bintang.
"Iya. Tetap semangat Nak. Semoga sukses, do'a Ayah selalu menyertai kamu," kata Yandri, memberikan motivasi kepada anaknya.
"Oke, Yah. Makasih. Kalau begitu, Bibin tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
.
.
Bu Maryam menyandarkan punggung seraya memeluk bantal. Kalimat Habibah tentang perjodohan tadi pagi, menggaung jelas di telinganya.
"Jika Ibu menginginkan seorang mantu yang kaya raya, maka Ibu harus menjadi kaya raya dulu. Jika ibu menginginkan seorang mantu yang memiliki mobil, maka Ibu juga harus punya mobil terlebih dulu!"
Kalimat itu terus menerus terngiang-ngiang di kedua telinga Bu Maryam. Membuat wanita tua itu gelisah dan tak mampu memejamkan mata, meskipun penunjuk waktu berhenti di angka 11 malam.
__ADS_1
Ish, apa besok aku hubungi Yandri saja? Tapi, Yandri selalu bilang jika dia sibuk. Dia kan sekolah lagi, batin Bu Maryam.
"Argh! Bikin pusing saja!" dengus Bu Maryam, kesal.
Karena tidak mampu memejamkan mata hingga dini hari, Bu Maryam akhirnya bangun kesiangan.
.
.
Tok-tok-tok!
"Siapa?" tanya Bu Maryam yang sedang sibuk memakai kerudungnya.
"Ini Bibah, Bu. Bibah cuma mau bilang, kalau di luar ada temen ngaji Ibu," sahut Habibah dari balik pintu.
"Iya, suruh tunggu sebentar, Bah. Ibu pakai kerudung dulu," balas Bu Maryam.
Setelah selesai dengan gaya kerudungnya yang menurut Bu Maryam kekinian, akhirnya Bu Maryam keluar kamar.
"Di mana temen ibunya, Bah?" tanya Bu Maryam kepada Habibah.
"Tuh!" Dagu Habibah menunjuk sebuah mobil sedan berwarna putih yang terparkir di depan rumah.
Bu Maryam terperanjat. Tergopoh-gopoh dia menghampiri mobil itu. Tiba di halaman, Bu Saidah keluar dari mobilnya.
"Wah, Bu Saidah punya mobil, toh!" seru Bu Maryam.
"Iya, Bu. Semalam baru dikirim anak saya yang kerja di Malaysia. Katanya buat saya kalau bepergian mengaji," jawab Bu Saidah dengan bangganya.
"Hmm, jadi enggak harus naik ojek lagi dong," timpal Bu Maryam.
"Iya lah ... naik ojek, 'kan panas. Belum lagi kalau hujan, jadi enggak bisa ngaji. Kalau sudah begitu, terganggu, 'kan ibadah kita," sahut Bu Saidah.
"Hmm, bener juga ya, Bu," ucap Bu Maryam.
"Ya sudah, masuk yuk Bu. Keburu pengajian dimulai," ajak Bu Saidah seraya membuka pintu belakang mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Bu Maryam terlihat diam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Tampak sesekali sebuah senyuman tersirat di raut wajahnya.
"Bu Maryam kenapa sih, kok senyum-senyum begitu?" tanya Bu Saidah heran.
"Ah, enggak Bu. Saya hanya sedang membayangkan saja, enak ya Bu, jadi Bu Saidah. Anaknya kerja di luar negeri, bisa kirim mobil segala buat kebutuhan orang tuanya," jawab Bu Maryam.
"Hmm, kenapa Ibu enggak minta saja sama anak-anak ibu. Saya dengar, usaha Nauval sudah maju. Bahkan dia sudah punya rumah gedong di kampung istrinya," kata Bu Saidah.
Bu Maryam tersenyum kecut. Huh, bisa turun hujan tujuh hari tujuh malam kalau sampai Nauval membelikannya sebuah mobil. Butuh sebuah mukjizat untuk memberikan keberanian pada hati Nauval yang takut dengan istrinya.
"Ah, mana mau Nauval membelikan saya barang semewah ini, Bu. Bisa diusir istrinya dia nanti," dengus Bu Maryam.
Bu Saidah tersenyum tipis. "Itulah kalau punya mantu lebih berkuasa daripada ibu kandung sendiri. Ya bakalan seperti itu jadinya," timpal Bu Saidah.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya tahu apa yang harus saya lakukan supaya saya bisa punya mobil baru," tukas Bu Maryam.
"Maksud Ibu?" tanya Bu Saidah, heran.
Namun, Bu Maryam tidak menyahuti pertanyaan teman ngajinya. Hanya sebuah senyum misterius saja yang tersungging di kedua sudut bibirnya.
"Hmm, aku yakin dia tidak akan menolak permintaanku" gumam Bu Maryam yang masih bisa didengar oleh Bu Saidah.
"Dia siapa, Bu?" tanya Bu Saidah.
__ADS_1
"Eh, eng-enggak, Bu. Bukan siapa-siapa," sahut Bu Maryam, gugup.
Ah, entah apa yang sedang terlintas di pikiran wanita tua itu.