Setelah Hujan

Setelah Hujan
Lamaran yang Aneh


__ADS_3

Malam semakin larut. Namun, Daniar masih tidak bisa memejamkan kedua matanya. Permintaan Bintang yang begitu menyayat hati, telah mengganggu pikiran Daniar.


Sudah terlalu banyak hal yang membuat anak itu merasa sakit hati. Mungkin karena itu juga Bintang meminta Daniar untuk pindah. Supaya dia bisa melupakan semua hal pahit yang pernah dia lalui.


Daniar menatap putrinya yang sudah terlelap. Tangannya terulur untuk meraba kening Bintang.


"Syukurlah, panasnya sudah turun," gumam Daniar.


Ketika Daniar hendak beranjak dari tempat tidurnya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka perlahan. Bu Salma menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Ni, apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Bu Salma, pelan.


Daniar tersenyum. "Baiklah, Bu."


Sedetik kemudian, Daniar melangkahkan kaki ke luar kamar. Daniar dan Bu Salma berjalan beriringan menuju ruang keluarga. Mereka pun duduk berdampingan.


Sepersekian detik kemudian, Bu Salma merubah posisi duduknya. Dia mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila menghadap Daniar.


"Apa kamu tahu, Ni. Mendengar permintaan Bintang tadi siang, Ibu berpikir jika mungkin sekarang saatnya kita pindah dari rumah ini," tutur Bu Salma.


"Maksud Ibu?" tanya Daniar, heran.


"Jujur saja, Ibu takut jika setelah kejadian tadi, mental Bintang akan terganggu. Dia begitu mempercayai jika ayahnya tidak akan menikah lagi. Dia selalu memegang janji ayahnya. Ibu yakin, setelah mengetahui ayahnya hendak menikah, dia pasti kecewa, Ni," papar Bu Salma.


Daniar hanya diam. Dia masih ingin mendengar perkataan ibunya lebih lanjut lagi.


"Ibu tidak akan sanggup melihat keceriaan Bintang terenggut hanya karena dia masih terikat dengan kenangan ayahnya. Di rumah ini, tentunya banyak kenangan yang akan selalu Bintang ingat. Karena itu, sebaiknya kita pindah secepatnya, Ni. Demi Bintang dan juga demi masa depan kalian," lanjut Bu Salma.


Daniar menghela napas. "Iya, Bu. Niar juga tadi sempat berpikiran seperti itu," timpal Daniar.


"Baiklah. Jika kamu setuju, besok Ibu akan bayar DP rumah yang ditunjukkan teman Ibu. Rumahnya memang kecil, tapi cukup nyaman untuk kita tempati," kata Bu Salma.


"Gimana baiknya Ibu saja. Apa pun keputusan Ibu, Niar akan ikuti. Yang terpenting, Bintang- bisa melupakan semua kejadian buruk ini," pungkas Daniar.


.


.


Waktu terus berlalu. Dengan bantuan temannya, akhirnya Bu Salma mendapatkan sebuah rumah kontrakan yang cukup nyaman. Dia pun memboyong kedua anaknya untuk pindah. Sedangkan Bintang, setelah dinyatakan sehat. Bintang malah meminta pindah sekolah.

__ADS_1


"Tapi kenapa, Nak? Bukankah bersekolah di sana itu impian kamu dulu?" tanya Daniar yang merasa heran ketika Bintang merengek ingin pindah sekolah.


"Itu bukan impian Bibin, Bun, tetapi impian ayah. Dan sekarang, Bibin ingin menjadi diri Bibin sendiri. Ayah sudah tidak peduli dengan perasaan Bibin. Jadi, untuk apa Bibin pedulikan perasaan ayah," jawab Bintang dingin.


Daniar hanya bisa menghela napas melihat sikap Bintang yang teguh ingin pindah sekolah.


"Baiklah, besok setelah Bunda pulang sekolah, Bunda akan menemui kepala sekolah kamu dan menyampaikan keinginan kamu untuk pindah," pungkas Daniar.


Sejurus kemudian, Daniar keluar dari kamar putrinya. Karena tidak ingin mengecewakan anaknya, akhirnya Daniar pun mengikuti keinginan Bintang.


Maafkan Bibin, Bun. Bibin hanya tidak mau membebani bunda dengan biaya sekolah yang mahal. Bibin tahu, setelah ayah menikah, semuanya pasti tidak akan sama lagi. Bibin harus mulai membiasakan diri untuk hidup lebih sederhana, batin Bintang seraya menatap punggung ibunya yang mulai hilang di balik pintu.


Sejak tahu jika ayahnya telah memiliki calon istri. Bintang pun memutus semua akses untuk mengingatnya. Diam-diam, dia telah memblokir nomor ponsel ayahnya di HP Daniar. Bintang tidak ingin lemah hanya karena masa lalu. Karena itu, dia perlu hal baru, tempat baru untuk kehidupannya yang baru


.


.


"Ish, sudah gila lu, ya!" pekik Danisa ketika mengetahui Daniel, sahabatnya datang untuk melamar.


"Nisa, apa-apaan sih kamu. Kek bukan perempuan aja. Duduklah!" perintah Daniar.


"Astaghfirullahaladzim, Burik. Gue masih waras ya, karena itu gue ngelamar elu," seru Daniel.


"Ya elah, ngelamar kok enggak ada romantis-romantisnya. Orang nih, kalo dilamar, dikasih cincin, kek. Dibawain hantaran kek. Ini mah, apaan ... kembang juga kagak ada," cibir Danisa.


"Tenang aja, Burik. Besok Babang Daniel bawain apa yang Burik inginkan," ucap Daniel seraya membusungkan dada.


"Halah, basi!" dengus Danisa, kesal.


"Sudah-sudah-sudah, kalian itu kalau ketemu pasti kayak kucing sama tikus saja," seru Bu Salma menengahi perdebatan anaknya. "Jadi sebenarnya kedatangan kamu kemari itu mau apa, Nak Daniel?" tanya Bu Salma lagi.


"Daniel ingin menikah dengan Nisa, Bu. Jika Ibu izinkan, besok Daniel akan membawa penghulunya untuk menikahkan kami," jawab Daniel lantang.


"Kok ngedadak sih, Dek?" tukas Daniar seraya menatap heran kepada adik bungsunya.


"Yeay, Kakak. Lagian si Kudanil dipercaya," balas Danisa.


"Ish, serius dong. Kalian pikir, pernikahan itu hal yang main-main?" tegur Daniar mulai kesal.

__ADS_1


"Nisa serius Kakak. Nisa emang nggak tahu kalau si Kudanil ini datang buat ngelamar. Orang dia kagak ngomong apa-apa," jawab Danisa.


"Daniel serius Kak Niar. Minggu depan Daniel mendapatkan tugas di luar provinsi. Karena itu, besok Daniel ingin menikahi Danisa, supaya Danisa dan Ibu bisa Daniel ajak ke Kalimantan," jawab Daniel dengan mimik wajah yang cukup serius.


"Apa?!"


Semua orang begitu terkejut dengan perkataan Daniel yang sepertinya tidak main-main.


"Tunggu Nak Daniel. Bukannya Ibu tidak senang dengan niat baik Nak Daniel. Namun, yang namanya pernikahan itu enggak bisa grapak-grepek begini. Semuanya butuh proses, dan setiap proses butuh waktu. Lagi pula, menikah itu bukan hanya sekadar melafalkan ijab qobul saja. Akan tetapi, banyak persyaratan yang harus kalian persiapkan. Memangnya, Nak Daniel sudah mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan sebagai syarat menikah?" tanya Bu Salma penuh selidik.


"Alhamdulillah, sudah Bu. Daniel sudah bikin NA, sudah siapkan mahar juga. Untuk hantaran, Ibu dan Nisa tidak usah khawatir. Meskipun alakadarnya, tapi Daniel juga sudah siapkan hantaran buat Danisa. Yang terpenting, Nisa mau dan siap jadi istrinya Daniel," tutur Daniel mengungkapkan keseriusannya meminta Danisa untuk menjadi istrinya.


Gadis tomboy itu hanya bisa menutup mulutnya, tatkala mendengar lamaran yang aneh dari sahabat bermain futsalnya


.


.


Tiga bulan sudah, Yandri mengikuti program pelatihan di negeri Jiran. Selama tiga bulan ini, dia cukup disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh profesornya. Hampir tidak ada waktu istirahat selain shalat, makan dan tidur. Kesibukan itu pun membuat Yandri sama sekali tidak pernah memegang ponsel. Waktunya hanya dihabiskan untuk belajar dan belajar.


Menjelang trimester kedua, kesibukan Yandri mulai sedikit longgar. Selesai menunaikan shalat dzuhur, dia pun mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Daniar. Tiga bulan tidak berkomunikasi dengan anak dan mantan istrinya, membuat kerinduan Yandri hampir meledak.


"Pukul 13.20, hmm ... itu artinya, di sana masih pukul 12 lebih 20 menit. Sekolah Daniar pasti sudah bubar. Sebaiknya aku telepon sekarang saja," gumam Yandri.


Sesaat kemudian, Yandri merasa heran ketika PP Daniar tidak terlihat di ponselnya.


"Hmn, apa whatsapp bunda tidak pakai PP?" Monolog Yandri.


Pria jangkung itu pun mulai menghubungi nomor mantan istrinya. Namun, Yandri menautkan kedua alisnya tatkala ponselnya terus memanggil.


Apa bunda tidak punya kuota? Kembali Yandri bermonolog dalam hatinya.


Tak pantang menyerah, Yandri kemudian mengirimkan pesan kepada Daniar. Namun, pesan yang dikirim pun hanya terlihat centang satu.


Hmm, mungkin memang benar jika ponselnya bunda kehabisan kuota. Tapi kok tumben bisa sampai habis begitu, sih? Apa bunda tidak menyadarinya? Ya sudah, nanti malam aku kirim pulsa saja deh, biar bunda bisa isi kuota. Sekarang sebaiknya aku makan siang dulu, sebelum pembelajaran dimulai, batin Yandri.


Yandri kemudian beranjak dari kelasnya menuju kantin kampus. Namun, entah kenapa tiba-tiba saja hatinya merasa tidak nyaman. Seketika, bayangan Bintang dan mantan istrinya melintas begitu saja.


Hmm, mungkin karena terlalu merindukan mereka, hatiku menjadi tidak nyaman seperti ini. Ya Tuhan ... tolong lindungilah kedua bidadari hamba.

__ADS_1


__ADS_2