Setelah Hujan

Setelah Hujan
Resign


__ADS_3

Siska menarik napas panjang sesaat setelah mendapatkan pesan dari calon ibu mertuanya. Huh, entah apa yang dipikirkan wanita tua itu. Semakin hari, permintaannya semakin aneh-aneh saja, pikir Siska.


Namun, mengingat rasa cinta yang kuat untuk anaknya, akhirnya Siska mengabaikan kekesalannya.


"Hmm, mumpung kedai sepi. Sebaiknya aku ke toko bakery yang ada di lantai bawah. Siapa tahu aku bisa menemukan kue yang dimaksud ibu," gumam Siska.


Wanita berhijab itu pun memanggil salah satu karyawannya.


"Aku ke bawah dulu sebentar, ya. Jika ada pelanggan, layani saja," pesan Siska kepada pelayannya.


Beberapa menit kemudian, Siska keluar kedai. Dia berjalan menuju eskalator untuk pergi ke lantai bawah.


"Siska!" panggil seseorang yang membuat Siska sontak menoleh.


"Bibi?" gumam Siska.


Setengah berlari, tampak Bu Megi menghampiri Siska.


"Kamu mau ke mana?" tanya Bu Megi begitu tiba di hadapan Siska.


"Siska mau ke lantai bawah, Bi. Ke toko bakery," jawab Siska.


"Kok tumben, bukannya kamu kurang suka roti?" tanya Bu Megi, menautkan kedua alisnya.


"Bukan untuk Siska, Bi. Tapi untuk calon mertua Siska," ucap Siska merasa bangga ketika menyebut Bu Maryam sebagai calon mertuanya.


"Oalah ... ayo, Bibi temani!"


Siska mengangguk. Akhirnya, tante dan keponakan yang terpaut usia dua tahun itu, berjalan beriringan menuju eskalator.


Tiba di toko roti, Siska mulai berjalan menuju etalase yang memajang beberapa jenis kue, di antaranya cupcake. Namun, dari cupcake-cupcake yang dipajang, tidak ada satu pun yang mirip dengan bentuk dan jenis cupcake yang mirip dengan foto kiriman calon ibu mertuanya.


Setelah berkeliling toko selama satu jam, akhirnya Siska menyerah. Dia pun mengajak kembali bibinya untuk ke kedai.


Bu Megi mengernyitkan kening. "Enggak jadi beli kuenya?"


"Enggak, Bi. Kuenya enggak ada di sini," jawab Siska.


"Memangnya, kue seperti apa yang kamu cari?"


Siska memperlihatkan ponselnya kepada Bu Megi. Dia menunjukkan foto kue yang dikirimkan Bu Maryam.


"Nih!" Tunjuk Siska.

__ADS_1


"Cupcake ini?" seru Bu Megi.


"Hem-eh."


"Tunggu, sepertinya Bibi pernah melihat cupcake ini," tukas Bu Megi.


"Benarkah? Di mana?" tanya Siska dengan mata berbinar.


"Di sekolah Bibi," lanjut Bu Megi.


"Ish, Bibi ... Siska serius?" ucap Siska seraya mengerucutkan bibirnya.


"Iya, Bibi serius. Bibi sering melihat cupcake ini di kantin sekolah Bibi. Kalau kamu tidak percaya, besok Bibi bawakan cupcake ini ke rumah kamu. Oke?"


"Bibi serius?"


"Ya, tentu saja Bibi serius. Tunggu saja!" janji Bu Megi. "Sekarang, ayo kita ke kedai bakso kamu. Bibi lapar sekali!"


.


.


Waktu terus berlalu. Sebentar lagi, masa ujian kenaikan kelas tiba. Bintang semakin dilema menentukan pilihan SMA-nya.


"Kamu jadi masuk ke SMKN Panca, Bin?" tanya Arini di ujung telepon.


"Kenapa harus takut, Bin. Kamu, 'kan murid yang sangat cerdas. Aku yakin, kamu bisa mengalahkan saingan kamu," tukas Arini.


"Secara akademik, mungkin iya. Namun, aku tidak yakin aku bisa masuk ke sana secara finansial, Rin. Meskipun sekolah negeri, tapi karena predikat favorit, tentu saja biaya masuk ke sekolah itu pun pasti mahal," lanjut Bintang.


"Tapi Bin, aku dengar ada beasiswa loh, masuk ke sekolah tersebut. Ya, tentunya beasiswa akademik. Kamu daftar saja, siapa tahu kamu masuk beasiswa dan bisa free sekolah di sana," timpal Arini.


"Iya, Rin. Kamu benar. Bahkan aku sudah berdiskusi dengan Bu Megi mengenai beasiswa lewat jalur akademik. Hanya saja, beasiswa tersebut diberikan sebanyak 50%," balas Bintang.


"Hadeuh, sama aja bohong. Itu mah bukan beasiswa, tapi diskon," ucap Arini mendengus kesal.


"Hahaha, iya Rin," timpal Bintang sambil tertawa.


"Terus, apa yang mau kamu lakukan, Bin?" tanya Arini lagi.


"Entahlah. Sepertinya aku coba ikuti dulu tes akademiknya. Ya, hanya sekadar untuk mengukur kemampuan aku saja. Meskipun pada akhirnya aku akan bersekolah di SMK biasa, tapi setidaknya aku tahu sejauh mana kapasitas otakku. Hehehe,..."


Tanpa Bintang sadari, ada sepasang telinga yang menguping pembicaraan dia dengan temannya.

__ADS_1


Diam-diam, Daniar memasuki kamar. Hatinya terasa sesak ketika mengetahui keinginan Bintang untuk bersekolah di SMK Negeri Panca, salah satu SMK terbaik di kotanya.


Hobinya membuat gambar karikatur dan anime, membuat Bintang memiliki cita-cita besar menjadi seorang animator terkenal. Dan hanya SMKN Panca-lah yang menyediakan jurusan tersebut.


Butuh rupiah yang cukup besar untuk memasuki sekolah itu. Belum lagi, iuran bulanan dan biaya praktik. Daniar yakin, gajinya sebagai tenaga honorer, tidak akan mungkin bisa cukup memenuhi kebutuhan bersekolah di sana.


Daniar meraih catatan orderan kue yang pernah masuk. Ada banyak orderan yang terpaksa dia cancel karena dia tidak ingin mendapatkan surat peringatan lagi dari tempat dia bekerja. Dan di antara orderan tersebut, ada banyak orderan dari orang-orang yang cukup penting dan tentunya bisa membayar lebih jika dia bisa menyelesaikannya tepat waktu.


Daniar membuka laci nakas. Dia mengambil album foto, kenangan sewaktu kecil bersama kedua orang tuanya. Daniar menatap foto kedua orang tuanya. Terutama sang ayah yang sudah tiada.


Cita-cita guru berangkat dari cita-cita ayahnya yang tidak tercapai. Karena itu, Daniar selalu berusaha keras untuk meraihnya. Dan kini, setelah menjadi seorang guru, entah kenapa sulit bagi Daniar untuk menjadi seorang guru yang diangkat sebagai abdi negara.


Semakin besar, kebutuhan Bintang semakin meningkat, Yah. Jika pekerjaan Niar seperti ini, Niar tidak sanggup untuk memikulnya sendirian Yah. Niar tidak sanggup. Niar lelah, tapi Niar tahu Niar tidak boleh menyerah. Niar bingung, Yah. Niar tidak tahu apa yang harus Niar lakukan? batin Daniar, sesak.


Tanpa terasa, air mata mulai mengalir deras di kedua pipi Daniar. Tubuh Daniar berguncang karena tangisan. Tak ingin menarik perhatian Bintang karena isak tangisnya, Daniar menyusupkan wajahnya di atas bantal.


"Tidak usah khawatir, Nak. Kamu telah berhasil menjadi guru bagi putrimu sendiri. Masa depan Bintang jauh lebih penting dibandingkan masa depan putra-putri orang lain. Karena kelak, akan ada pertanggungjawaban atas diri anak yang Tuhan titipkan padamu. Berjuanglah untuk Bintang, Nak. Ayah ikhlas."


"A-ayah!" teriak Daniar seraya mengerjapkan matanya.


"Bun! Bunda! Apa Bunda baik-baik saja?"


Dug-dug-dug!


Panggilan dan gedoran di pintu kamar, membuat Daniar terhenyak. Dia menatap jendela kamar yang semakin gelap.


"Astaghfirullahaladzim! Sepertinya aku bermimpi," gumam Daniar seraya kembali menatap foto mendiang ayahnya.


Terima kasih Ayah. Sekarang Daniar tahu apa yang harus Niar lakukan.


"Iya, Bin. Bunda baik-baik saja."


Keesokan harinya.


"Apa Bu Niar yakin dengan keputusan yang Ibu ambil hari ini?" tanya Bu indah, menatap tajam kepada bawahannya.


"Insya Allah, saya yakin Bu," jawab Daniar, pasti.


"Bu Niar enggak sayang dengan masa kerja Bu Niar? Bagaimana kalau ada pengangkatan PNS nanti?" cecar Bu Indah yang masih mencoba mempertahankan Daniar.


"Enggak, Bu. Saya sudah mantap dengan keputusan saya. Mungkin, rezeki saya memang bukan di tempat ini," jawab Daniar.


"Hhhh ..." Bu Indah hanya bisa menghela napas. "Baiklah, Bu. Saya sangat menghargai keputusan Ibu. Tapi jika saya boleh meminta, bisakah Ibu resign setelah tahun ajaran ini berakhir?" lanjutnya.

__ADS_1


"Tentu saja, Bu. Lagi pula, saya masih punya kewajiban untuk mendampingi anak-anak selama Penilaian Akhir Tahun," balas Daniar.


Bu indah mengangguk. Meskipun terasa berat, tapi Bu Indah tidak bisa memaksakan kehendaknya. Akhirnya, Bu Indah pun menandatangani surat pengunduran diri yang diajukan oleh Daniar pagi ini.


__ADS_2