
"Beneran Bu, Yandri enggak ada pulang ke sini!" tegas Habibah saat ibunya kembali bertanya tentang keberadaan Yandri.
"Lalu, pulang ke mana anak itu?" gerutu Bu Maryam.
"Mungkin memang Yandri enggak pulang, Bu. Kalaupun pulang, enggak mungkin juga dia pulang ke rumah Daniar. Bukankah mereka telah bercerai?" lanjut Habibah.
"Tapi kata Yoga, kemarin Yandri pulang, kok," tukas Bu Maryam.
"Ih, sotoy banget tuh, si Yoga. Memangnya dia tahu dari mana kalau Yandri mau pulang kemarin?" tanya Habibah.
"Entahlah, Ibu enggak tahu, tapi Yoga bilang jika Yandri sedang dalam perjalanan pulang saat itu," jawab Bu Maryam.
"Mungkin Yoga salah informasi kali, Bu. Udah deh, Ibu enggak usah bolak-balik lagi ke sini. Nanti, kakek Ahmad bisa marah. Bukankah tempo hari dia marah juga, karena Ibu terlalu sibuk ngurusin kebutuhan si Mia?" kata Habibah.
"Hmm, iya Bah. Ya sudah, Ibu pulang dulu. Sekalian mau mampir ke rumah Yoga. Ibu masih penasaran juga dengan kabar kepulangan Yandri," ucap Bu Maryam.
"Ya sudah, terserah Ibu saja," jawab Habibah.
Setelah berpamitan kepada anaknya, Bu Maryam pergi dari rumah. Dia hendak pulang ke rumah suaminya. Sudah hampir seminggu penyakit darah tinggi kakek Ahmad kambuh. Karena itu, Bu Maryam tidak bisa keluar rumah berlama-lama.
Tiba di depan rumah Yoga, Bu Maryam berhenti. Dia kemudian mengayunkan langkah kakinya menuju pintu belakang rumah Yoga yang biasanya tidak terkunci.
"Assalamu'alaikum, Yo!" sapa Bu Maryam.
Namun, tidak ada sahutan terdengar dari dalam rumah Yoga. Rumah tampak sepi. Seperti tidak berpenghuni saja.
"Yoga! Puri! Apa kalian ada di rumah?" teriak Bu Maryam menyembulkan kepalanya dari balik pintu dapur.
Namun, sama sekali belum terdengar jawaban. Karena merasa penasaran, Bu Maryam pun kembali menuju pintu depan rumah Yoga seraya mengetuknya dengan keras.
Dug-dug-dug!
Sementara itu, di dalam kamar. Yoga mengerjapkan mata ketika mendengar kegaduhan di luar rumah. Beberapa detik kemudian, anak bungsu Yoga yang masih berusia tiga bulan, seketika menangis saat mendengar gedoran pintu berulang kali.
"Ish, siapa yang datang di pagi buta begini?" gerutu Yoga sambil meraih anaknya yang mulai bergerak ke sana kemari mencari ASI.
Yoga menggendong putri bungsunya. Dia kemudian keluar kamar dan berjalan menuju pintu utama.
Ceklek!
Yoga membuka pintu. Tampak ibunya sudah berdiri di hadapan Yoga dengan memasang muka kecut.
"Kok lama banget buka pintunya," ketus Bu Maryam.
"Yoga lagi tidur, Bu. Jadi enggak denger," sahut Yoga.
"Sudah siang begini kamu masih tidur? Astaga, Yo ... bisa-bisa dipatok ayam tuh, rezeki kamu," ledek Bu Maryam.
Waktu masih pagi, sepertinya Yoga enggan meladeni ibunya. Belum lagi, dia harus menggendong si kecil yang membuat tangannya kesemutan.
"Ibu ngapain kemari di pagi buta begini?" todong Yoga yang masih menyimpan rasa kesal karena tidurnya terganggu.
"Tempo hari, kamu bilang kalau Yandri sedang dalam perjalanan pulang, bukan begitu?" tanya Bu Maryam.
__ADS_1
"Iya," jawab Yoga.
"Memangnya, kamu tahu dari mana?" Bu Maryam kembali bertanya.
"Dari status Sosmed-nya bang Yandri," jawab Yoga.
"Status Sosmed?" ulang Bu Maryam seraya menautkan kedua alisnya.
"Udah deh, Ibu mah enggak bakalan ngerti. Ibu, 'kan kuno. Enggak gaul," ejek Yoga.
"Huh, ya sudahlah, tapi kamu enggak salah lihat, 'kan?" tekan Bu Maryam.
"Gimana mungkin Yoga salah lihat, orang fotonya juga jelas-jelas bang Yandri lagi istirahat di rumah makan. Abis itu, dia bikin judul 'OTW Tasmal', artinya bang Yandri sedang dalam perjalanan pulang ke Tasik," tutur Yoga.
"Tapi kok belum ada di rumah Ibu, Yo," balas Bu Maryam.
"Yaelah Bu ... mana Yoga tahu? Udah ah, Ibu tungguin saja. Mungkin bang Yandri pulang ke rumah Daniar terlebih dahulu, dan besok baru menemui Ibu," jawab Yoga.
"Ih, mana bisa begitu Yo! Daniar itu cuma mantan istrinya. Sedangkan Ibu? Hmm, Ibu ini ibu kandungnya. Jadi Yandri berkewajiban untuk menemui Ibu terlebih dulu. Jelas kamu!" tegas Bu Maryam.
"Yeay ... tapi Ibu juga harus ingat, kalau bang Yandri punya anak. Jadi dia lebih wajib menemui anaknya terlebih dahulu dibandingkan Ibu!" Yoga menjawab perkataan Bu Maryam tak kalah tegasnya.
"Cukup-cukup! Enggak usah kamu panas-panasin Ibu. Mana ponsel kamu? Sini!" perintah Bu Maryam semakin ketus.
"Mau ngapain Ibu nanyain ponsel Yoga?" tanya Yoga, heran.
"Ibu mau telepon Yandri, mau menanyakan keberadaan dia saat ini," jawab Bu Maryam.
"Astaga, Bu ... sepagi ini?" pekik Yoga.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Yoga pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya. Beberapa menit kemudian.
"Nih!" kata Yoga begitu tiba kembali di hadapan ibunya.
"Cepat telepon Yandri!" perintah Bu Maryam.
"Tapi, Bu," tukas Yoga.
"Sudah, telepon saja! Video call sekalian, biar Ibu yang bicara!" Sekali lagi Bu Maryam memberikan perintah kepada anaknya.
Yoga mengalah. Sambil menggendong anaknya, dia pun menelepon Yandri. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya telepon pun tersambung. Yoga menyerahkan ponselnya kepada sang ibu.
Namun, alangkah terkejutnya Bu Maryam saat melihat wajah mantan menantunya terpampang jelas di layar. Sontak dia memotong ucapan salam dari orang yang telah mengangkat telepon putranya.
"Kau?!" pekik Bu Maryam. "Lancang sekali kamu menyentuh barang-barang milik anakku, hah!"
Yoga begitu terkejut mendengar bentakan ibunya.
"Ish, Ibu! Enggak usah teriak-teriak seperti itu. Malu sama tetangga," ucap Yoga.
Namun, Bu Maryam tidak menggubris ucapan Yoga. Dia terus melontarkan kata-kata buruk kepada mantan menantunya.
.
__ADS_1
.
Di tempat lain.
Wajah Daniar langsung memerah mendengar kata lancang yang diucapkan ibunya Yandri. Sedetik kemudian, Daniar mengulurkan ponsel Yandri kepada si empunya.
"Ibu, Kang," kata Daniar.
Tangan kiri Daniar segera meraih barang bawaan yang berada di tangan kanan Yandri. Supaya Yandri bisa mengambil ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Yandri.
"Wa'alaikumsalam. Yandri, kamu di mana? Kenapa kamu enggak pulang ke rumah Ibu? Kenapa malah memilih pulang ke tempat mantan istri kamu? Sudah lupa, kalau kamu telah bercerai dengan wanita itu? Kena guna-guna lagi, kamu, sampai-sampai enggak ingat pulang ke rumah?" cerocos Bu Maryam menuduh Daniar penuh emosi.
Daniar yang mendengar tuduhan mantan ibu mertuanya, hanya bisa menghela napas. Dia kemudian berniat untuk menjauhi Yandri. Takut kalau lepas kendali jika masih tetap berada di samping mantan suaminya.
Perlahan, Daniar memperlambat langkahnya. Dia tidak ingin Yandri menyadari jika dia tengah menghindar. Hingga akhirnya, terbentang jarak yang cukup jauh antara dirinya dan Yandri.
Entah apa yang sedang dibicarakan oleh ibu dan anak itu. Terlihat wajah masam Yandri sepanjang berbicara dengan ibunya. Namun, Daniar tidak mau tahu. Daniar terus melangkahkan kaki seraya menundukkan wajahnya.
Hingga beberapa menit kemudian, sepasang sandal yang tak asing, terlihat jelas di hadapan Daniar. Sontak Daniar mendongak. Dia cukup terkejut ketika melihat Yandri sudah berdiri di hadapannya.
"A-akang?" kata Daniar, gugup.
"Apa Bunda sedang menghindar dari Ayah?" Selidik Yandri.
"Eng-enggak," jawab Daniar, terbata.
"Lantas, kenapa jalannya lambat sekali?" Yandri kembali bertanya.
Daniar semakin gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena pada kenyataannya, Daniar memang sedang menghindari mantan suaminya. Daniar hanya ingin memberikan ruang dan waktu untuk Yandri, supaya bisa leluasa berbincang bersama ibunya.
"Ngomong-ngomong, maafkan perkataan ketus ibu, ya Bun?" ucap Yandri.
Daniar tersenyum tipis. Dia hanya bisa membisu. Jujur saja, Daniar enggan membahas lagi tentang mantan mertuanya itu.
"Bunda harus bisa memakluminya. Pepatah bilang, semakin berumur, semakin terlihat seperti anak kecil. Mungkin saat ini, itulah yang terjadi pada ibu. Tingkat kecemburuannya sudah seperti anak kecil saja," lanjut Yandri.
"Jika Akang tahu banyak tentang filosofi pepatah tersebut, kenapa Akang masih pulang ke sini juga?" tanya Daniar, lirih.
"Maksud kamu?" Yandri balik bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Akang sudah tahu jika sikap ibu seperti anak kecil. Akang sudah tahu jika ibu memiliki tingkat kecemburuan yang sangat tinggi. Bukan hanya kepada orang dewasa, tapi juga kepada anak-anak. Akang masih ingat, 'kan, saat ibu cemburu kepada Rizal, hanya karena Rizal dibelikan baju baru oleh kak Nauval? Mungkin, kecemburuan itu kembali ibu rasakan saat ini. Maaf, Kang ... tanpa sengaja, sekilas Daniar telah menguping pembicaraan Akang dengan ibu. Jujur saja, hati Daniar sakit ketika ibu merasa cemburu kepada Bintang, cucu kandungnya sendiri. Jadi, sebelum Bintang mengetahui kecemburuan neneknya terhadap dirinya, akan lebih baik jika Akang tidak terlalu mementingkan Bintang ketimbang ibu," saran Daniar panjang lebar.
"Eits, apa maksud kamu, Bun? Bintang itu anakku, darah daging aku. Sudah menjadi tugasku untuk membahagiakan Bintang. Mementingkan kebutuhan dia di atas segalanya," tukas Yandri, tak terima dengan ucapan Daniar.
"Tapi Niar tidak ingin Bintang menjadi korban kecemburuan ibu kamu!" tegas Daniar.
"Maksudnya?" Yandri semakin tidak mengerti dengan kalimat demi kalimat yang diucapkan Daniar. Seperti ada sesuatu yang hendak Daniar sampaikan di balik kalimat itu.
"Sudahlah, Kang. Untuk ke depannya, Akang hanya perlu mendahulukan kepentingan ibu saja. Saran Niar, temui ibu dulu sebelum Akang menemui Bintang. Niar yakin, Akang orang yang cukup bijak. Akang pasti paham maksud Daniar. Permisi!"
Daniar berjalan melewati Yandri yang hanya mematung. Sebelum gemuruh di hatinya meledak, Daniar memutuskan untuk meninggalkan Yandri yang masih berusaha mencerna semua perkataan mantan istrinya.
__ADS_1
Apa yang terjadi Tuhan? Kenapa sikap istri hamba berubah drastis?