
Keesokan harinya.
Ketukan pintu di kamar Daniar, membuat wanita hamil itu bangun dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Dia sedikit terkejut saat melihat ibunya sudah berdiri di ambang pintu.
"I-ibu? Kapan Ibu datang?" tanya Daniar.
Bu Salma hanya tersenyum mendengar pertanyaan Daniar. Sedangkan Daniar, dia merasa ketakutan saat melihat Bu Salma memasuki kamar. Ya, Daniar takut jika Bu Salma mengetahui, dia tidur terpisah dengan suaminya.
"Ini sudah subuh loh, Yar. Kenapa baru bangun? Tidurnya kurang nyaman, ya?" tanya Bu Salma.
"I-iya, Bu. Semalam Niar enggak bisa tidur. Mungkin karena dedek bayinya semakin aktif. Dia nendang-nendang perut Daniar terus," jawab Daniar mencoba mencari alasan.
"Hmm, dedeknya pengen dipeluk ayah kali, mangkanya dia protes sama bundanya," sahut Bu Salma.
"Eh, eng-enggak seperti itu juga, Bu," jawab Daniar tergagap.
"Kemarilah!" perintah Bu Salma seraya melambaikan tangannya kepada Daniar.
Daniar mendekat. Sejurus kemudian, dia duduk di samping ibunya. Perasaan Daniar tidak enak, karena itu dia tidak berani menatap wajah teduh milik sang bunda.
"Masalah itu untuk diselesaikan, Nak. Bukan dihindari! Tidak baik mengunci pintu kamar hanya untuk menghindari masalah. Toh dengan mengurung diri, semua permasalahan kalian tidak akan selesai dengan sendirinya," ujar Bu Salma.
Daniar menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti kenapa ibunya berkata demikian. Apa Ibu tahu jika semalam aku dan kang Yandri bertengkar? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah dia sedang menginap di rumah wak Minah? batin Daniar yang dipenuhi berbagai pertanyaan.
"Ke-kenapa Ibu berkata demikian? Ni-niar enggak ngerti maksud dari kata-kata Ibu barusan," ucap Daniar masih mencoba menutupi persoalan dalam rumah tangganya.
"Hmm, Niar. Ibu juga pernah mengalami fase di mana sebuah pernikahan sedang diuji. Di lima tahun pertama ... jangan tanya lagi ujiannya seperti apa. Semuanya benar-benar terasa berat. Namun, kita sendiri harus ingat jika kita hendak naik kelas, maka akan selalu ada yang namanya ujian. Entah itu ujian lisan ataupun tulisan. Begitu pula dengan yang namanya hidup berumah tangga. Saat Tuhan ingin memuliakan hubungan yang kita bina, maka Tuhan akan menguji sekuat apa pondasi rumah tangga kita. Saran Ibu ... jika memang ada masalah, selesaikan saja secara baik-baik. Intinya, komunikasi itu penting, Niar," tutur Bu Salma memberikan nasihat.
Eh, ba-bagaimana Ibu tahu jika kami sedang ada masalah? Kembali Daniar bermonolog dalam hatinya.
"Niar sama kang Yandri baik-baik saja kok, Bu," jawab Daniar.
"Jika baik-baik saja, tidak mungkin Yandri yang sudah capek-capek pulang kemari, tapi hanya tidur di sofa ruang tengah. Hmm, itu sudah tidak wajar, 'kan?" kata Bu Salma.
Daniar hanya menundukkan kepala menanggapi ucapan ibunya. Setelah memberikan sedikit nasihat, akhirnya Bu Salma keluar dari kamar Daniar.
__ADS_1
Setelah kepergian Bu Salma, Daniar merenung. Mungkin memang benar apa yang dikatakan ibunya. Akhirnya Daniar mengalah, dia beranjak dari tempat tidur dan pergi ke ruang keluarga untuk membangunkan suaminya salat subuh.
.
.
Bulan demi bulan berlalu. Usia kandungan Daniar saat ini sudah mencapai bulan kedelapan. Dengan usaha sampingan Yandri sebagai jasa pembuat skripsi, akhirnya Daniar bisa mengumpulkan uang untuk membeli kebutuhan bayinya.
"Kang, hari ini kita jadi ke mal, 'kan?" tanya Daniar saat Yandri menyerahkan uang hasil usahanya.
"Iya, jadi Yar. Memangnya, kebutuhan apa saja yang belum dibeli untuk dedek bayinya?" tanya Yandri.
"Sebenarnya sih, tinggal kasur bayinya saja, tapi hari ini Niar pengen makan bakso yang di Tamkot, Kang. Uuh, keknya enak banget, tuh," jawab Daniar seraya menelan ludahnya.
Yandri tersenyum. "Iya, nanti setelah Akang menyelesaikan skripsi punya pak Wawan, ya," jawab Yandri.
"Ih, lama Kang," rengek Daniar.
"Enggak lama kok, Sayang. Tinggal revisi doang," jawab Yandri.
"Insya Allah, Sayang," jawab Yandri.
"Ya sudah, kalau gitu Niar mau siap-siap dari sekarang," ujar Daniar seraya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tiba di kamar mandi, Daniar melucuti semua kain yang melekat di tubuhnya. Dia sedikit terkejut saat melihat bercak darah di kain pengaman miliknya. Namun, karena hanya sedikit, Daniar pun tak terlalu ambil pusing. Terlebih lagi, kemarin saat cek kandungan, bidan mengatakan jika kandungan Daniar baru berusia delapan bulan. Dan perkiraan HPL-nya pun masih lama.
Selesai mandi, Daniar segera mengenakan pakaian dan sedikit memoles wajahnya. Aura keibuan semakin terlihat jelas di raut wajah Daniar. Membuat Yandri mengulum senyum saat melihat sinar wajah Daniar yang begitu meneduhkan. Hmm, siapa sangka jika gadis urakan yang ngomongnya ceplas-ceplos seenaknya, kini akan menjadi seorang ibu.
Seperti yang sudah dijanjikan, setelah membereskan pekerjaannya, Yandri kemudian mengajak Daniar pergi ke mal yang berada di pusat kota. Dua kali menaiki angkot, akhirnya mereka tiba di Asia Plaza, mal terbesar di kota kelahiran Daniar. Berhubung istrinya tengah hamil besar, Yandri harus ekstra hati-hati dalam menjaga Daniar.
"Sayang, jalannya jangan cepat-cepat," tegur Yandri, "ingatlah loh, kamu itu tengah berbadan dua sekarang," lanjutnya.
"Iya, Kang. Maaf," ucap Daniar, kembali memperlambat langkah kakinya.
Setelah memasuki mal, langkah kaki Daniar terhenti saat merasakan tendangan yang cukup kuat di perut bagian bawah.
__ADS_1
"Ish!" Daniar meringis.
"Kenapa, Yar?" tanya Yandri terlihat cemas.
Untuk sejenak Daniar bergeming dan mengatur napas. Beberapa menit kemudian, dia kembali tersenyum seraya mengusap-usap perutnya.
"Ada apa, Yar? Apa perutnya terasa sakit? Apa sudah mau lahiran?" Yandri memberondong Daniar dengan berbagai pertanyaan.
Daniar tersenyum, "Hehehe, gimana mungkin Niar mau lahiran, kang. HPL-nya, 'kan masih lama," jawab Daniar.
"Terus, kenapa tadi kamu meringis?" tanya Yandri.
"Dedeknya nendang, Kang. Mungkin dia seneng diajak belanja sama ayahnya," gurau Daniar.
"Ih, bisa aja kamu. Tapi beneran, 'kan? Kamu enggak pa-pa?" Yandri masih terlihat cemas.
"Iya Ayah, Bunda baik-baik saja. Yuk ah, kita beli tempat tidurnya," ajak Daniar seraya memasuki toko perlengkapan bayi.
Meskipun masih diliputi rasa khawatir, Yandri tetap mengikuti istrinya dari belakang. Setelah memasuki toko, Daniar mulai berkeliling mencari tempat tidur yang dirasa cocok untuk bayinya yang berjenis kelamin perempuan.
Pandangan mata Daniar terkunci pada tempat tidur bayi yang berwarna pink fanta dengan motif boneka beruang. "Kita beli yang itu saja, Kang," ucap Daniar, menunjuk tempat tidur tersebut.
"Boleh," jawab Yandri.
Setengah berlari, Daniar mendekati etalase yang memajang tempat tidur itu. Namun, seketika kakinya terhenti saat dia merasakan sakit yang begitu hebat di perutnya.
"Aargh!" teriak Daniar seraya berjongkok karena tidak sanggup menahan sakit yang luar biasa.
"Niar, kamu kenapa?" seru Yandri sambil berlari menghampiri istrinya.
Yandri pun turut berjongkok di hadapan Daniar. Dia sangat terkejut saat melihat peluh bercucuran di kening istrinya.
"Sepertinya, istri Anda mengalami kontraksi, Pak," ucap salah seorang pelayan di toko itu.
"Apa?!"
__ADS_1