
Daniar merebahkan tubuhnya. Apa yang baru saja dia lihat, benar-benar membuat pusing kepalanya. Sejenak Daniar berpikir, apa mungkin memang ini yang dikatakan bik Wanti tempo hari? Tentang ulah Yandri yang sering membawa seorang wanita menginap.
Daniar membolak-balikan tubuhnya. Dia merasa gelisah harus membiarkan pasangan bukan muhrim itu berada dalam satu kamar. Sesekali dia melihat jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menujukan hampir pukul 9 malam. Namun, suaminya belum pulang juga dari mushala. Daniar semakin cemas saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Raihan.
"Ish, kang Yandri ke mana sih, kok belum datang juga?" rengut Daniar.
Daniar memejamkan matanya. Suara-suara aneh itu semakin terdengar jelas. Dia kemudian bangun. Rasa sayangnya sebagai kakak, membawa langkah Daniar untuk mengetuk pintu kamar adiknya.
"Siapa?" Terdengar teriakan Raihan dari dalam kamar.
"Ini Kak Niar, Dek. Tolong buka pintunya," pinta Daniar.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar pun terbuka. Raihan keluar hanya mengenakan kain sarung dan singlet saja. Hal itu membuat Daniar semakin cemas dengan apa yang Raihan lakukan di dalam dengan perempuan itu.
"Ada apa, Kak?" tanya Raihan dengan wajah kecut.
"I-itu ... a-anu, Dek. Kakak cuma mau nawarin makan saja. Barangkali ka-kamu lapar, itu kakak udah siapin makan malam," kata Daniar terbata.
"Raihan enggak lapar, Kak," ucap Raihan seraya menutup pintu kamarnya.
Daniar hanya terpaku di depan pintu kamar. Tak lama kemudian, dia kembali mengetuk pintu itu.
"Rai, apa kamu punya sarung? Kakak lupa enggak bawa selimut Bintang. Boleh Kakak pinjam untuk menyelimuti Bintang? Kasihan Bintang, dia kedinginan," ucap Daniar mencari alasan.
Pintu kembali terbuka. Raihan semakin terlihat kesal. Namun, dia tetap memberikan apa yang Daniar minta.
"Nih!" ucap Raihan, menyerahkan sebuah sarung kepada Daniar.
"Te-terima kasih, Rai," jawab Daniar.
Beberapa detik, mereka saling berdiri berhadapan hingga akhirnya Raihan membuka suara, "Kakak sudah dapatkan apa yang Kakak mau, 'kan?"
Daniar mengangguk.
"Ya udah, sana pergi!" usir Raihan kepada kakak iparnya.
Mendengar nada bentakan dari sang adik, mau tidak mau Daniar pun pergi. Dia memang sudah tidak punya alasan lagi untuk mengganggu aktivitas Raihan bersama perempuan itu di kamar.
Daniar terus berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk mengganggu aktivitas haram adik iparnya. Daniar sudah tidak punya alasan lagi untuk mengetuk pintu kamar Raihan. Sejenak, Daniar menengadahkan wajah. Kedua sudut matanya mulai terasa hangat.
__ADS_1
Tiba-tiba, Daniar teringat akan suaminya yang belum pulang juga. Ah ya, benar ... Aku bisa menjadikan ini alasan untuk mengganggu Raihan agar tidak kebablasan," batin Daniar seraya menjentikkan jarinya.
Daniar memyeka kedua sudut matanya. Dia menyimpan sarung yang tadi dipinjam. Sedetik kemudian, Daniar keluar dan kembali mengetuk pintu kamar Raihan lagi.
Tok-tok-tok!
Di ketukan pertama, pintu kamar Raihan masih belum dibuka. Daniar pun tak kehabisan akal, dia kembali mengetuk pintu itu berulang-ulang.
Brak!
Pintu terbuka dengan kasarnya. Raihan tampak berdiri seraya berkacak pinggang di hadapan Daniar.
"Ada apa lagi sih, Kak? Apa Kakak tidak lihat kalau Raihan capek dan pengen istirahat?" gerutu Raihan.
"Ma-maaf, Rai. Ka-kak hanya i-ingin minta tolong. Abang kamu belum pulang dari mushala. Ini sudah sangat malam. Bi-bisakah kamu menyusul abang kamu? Kakak benar-benar khawatir," tutur Daniar.
"Kak Niar budek, ya? Raihan sudah bilang kalau Raihan cape. Apa susahnya sih, tinggal tidur cantik sambil nungguin bang Yandri. Huh, ganggu kesenangan orang saja!" Kembali Raihan menggerutu kesal.
"Tapi, Rai. Kakak benar-benar khawatir sama abang ka–"
"Aah, sudah-sudah. Sebaiknya sekarang juga Kakak masuk kamar. Pergilah!"
Raihan kembali mengusir Daniar. Bahkan kali ini, dengan kasar dia mendorong tubuh Daniar. Tanpa dia sadari, Yandri tengah berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka. Dari celah pintu tersebut, Yandri bisa mengetahui dengan jelas apa yang dilakukan adiknya kepada Dania.
Brak!
Raihan kembali menutup pintunya dengan kasar.
Ish, ini enggak bisa dibiarkan. Tidak seharusnya Raihan bersikap kasar kepada orang yang lebih tua. Bukankah Daniar itu kakak iparnya sendiri?" batin Yandri.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri sambil membuka pintu.
Daniar menoleh, "Wa'alaikumsalam," jawabnya, "eh, sudah pulang, Yah."
Bukannya menjawab, Yandri malah menggedor pintu kamar Raihan.
Dug-dug-dug!
Di dalam kamar, Raihan yang sedang mencumbui kekasihnya, segera berhenti. Dia menutup matanya rapat-rapat. Raihan berdecak kesal saat seseorang kembali menggangunya. Bahkan, kali ini orang itu tidak hanya mengetuk pintu kamar.
__ADS_1
"Ih, punya kakak ipar satu ini, kok ribet banget," gerutu Raihan seraya menarik diri dari pelukan si perempuan.
"Ish, mau ke mana, Yang?" tanya perempuan yang masih menyusuri dada polos Raihan dengan telunjuk lentiknya.
"Aku mau buka pintu dulu, Mi. Kamu tidak dengar apa, gedoran di pintu kamar semakin kencang?" tukas Raihan.
"Sudah, biarkan saja Yang, nanti juga berhenti sendiri," jawab Mia, kembali mencium bibir Raihan.
Dug-dug-dug!
Gedoran di pintu kamar terdengar semakin keras. Raihan yang sedang berciuman, segera mengakhirinya. Dengan bertelanjang dada, dia pun mengayunkan langkah menuju pintu.
"Apalagi sih, Kak?! Rai, 'kan sudah bilang kalau Rai enggak bi–"
"Jadi, begini cara bicara kamu dengan orang yang lebih tua?" Yandri memotong kalimat Raihan dengan tegasnya.
"A-abang?" ujar Yandri terbata.
Detak jantung Raihan seketika berpacu cepat begitu melihat Yandri berdiri di depan pintu kamarnya. Sebelah kakinya menarik daun pintu, berusaha untuk menutupi keberadaan kekasihnya di kamar.
"Iya, kenapa? Kamu itu sudah besar, Raihan. Apa Abang juga harus mengajari kamu, bagaimana seharusnya bersikap kepada orang yang lebih tua, hah?" balas Yandri, geram.
"Ma-maaf, Bang. Raihan enggak sengaja bersikap kasar sama kak Niar. Habisnya, Kak Niar ketuk-ketuk pintu Raihan terus. Padahal, Kak Niar tahu kalau Raihan tuh capek, pengen istirahat," jawab Raihan berusaha membela diri.
"Tapi, 'kan, kamu bisa ngomong baik-baik sama dia, Rai. Bagaimanapun juga, Daniar itu kakak ipar kamu. Sudah seharusnya kamu menghormati dia seperti kamu menghormati Abang kamu sendiri. Ngerti kamu?! tekan Yandri.
"Iya, Bang. Raihan minta maaf," jawab Raihan.
'Minta maaf sama kakak ipar kamu, bukan sama Abang!" tegas Yandri.
Raihan menatap Daniar seraya mengatupkan kedua belah tangannya. "Maafkan saya, Kak Niar," ucap Raihan, dengan wajah memelas.
Daniar tersenyum menanggapi permintaan maaf adik iparnya. Meskipun dalam hati, Daniar sangat berharap jika Yandri bisa menangkap basah perempuan itu di kamar Raihan.
"Tuh, Kak Niar saja sudah memaafkan yandri. Sekarang, Abang bisa membiarkan Rai istirahat, 'kan?" lanjut Raihan.
"Ya sudah, istirahatlah!" perintah Yandri seraya meraih handle pintu kamar adiknya.
Namun, sudut mata Yandri tanpa sengaja melihat baju berwarna merah yang teronggok di lantai. Apa itu, batin Yandri, menelisik kain berwarna merah tersebut.
__ADS_1
Kening Yandri berkerut saat menyadari ada yang tidak beres dari kain itu. Seketika Yandri teringat ucapan pak Agus dan temannya tentang kelakuan Raihan yang sering membawa perempuan ke rumah. Dia pun mendorong pintu kamar Raihan sehingga terbuka lebar. Bola mata Yandri l membulat sempurna saat mendapati seorang wanita berbalut selimut di atas kasur.
"Apa-apaan ini Raihan?!"