Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kembali Berjihad


__ADS_3

"Apa kata dokter, Ni?" tanya Bu Salma begitu Daniar dan Yandri tiba di rumah.


"Kang Yandri divonis kehilangan indera penciumannya, Bu," jawab Daniar.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Bu Salma, "tapi bagaimana bisa, Ni?" tanyanya.


"Menurut dokter, benturan di dahi kang Yandri telah menyebabkan tulang hidung bagian atas, hancur. Dan kemungkinan mengenai saraf penciuman kang Yandri. Karena itulah kang Yandri kehilangan indera penciumannya," tutur Daniar.


"Lantas, apa bisa kembali sembuh, Ni?" tanya Bu Salma lagi.


"Hmm, hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyembuhkannya, Bu. Begitu kata dokternya," jawab Daniar.


Kedua mata Bu Salma langsung berembun mendengar penuturan Daniar tentang kondisi terbaru Yandri.


"Sudah, Bu. Yandri tidak apa-pa, Kok. Kalian jangan bersedih lagi," ucap Yandri memecah keheningan di antara istri dan menantunya.


.


.


Waktu terus berganti. Segala usaha telah Aji lakukan untuk bisa menyembuhkan istrinya. Berbagai tempat pengobatan alternatif yang bisa menyembuhkan penyakit stroke, Aji kunjungi. Hingga pada suatu hari, keponakan Aji datang ke rumahnya.


"Apa Paman sudah mencoba pengobatan alternatif yang berada di daerah Singaparna?" tanya Agus, keponakannya.


"Singaparna?" ulang Aji seraya mengernyitkan keningnya. "Bukankah itu tempat tinggal istrinya Yandri, ya?" lanjut Aji.


"Iya, Paman," jawab Agus.


"Memangnya di Singaparna ada pengobatan alternatif untuk stroke, Gus?" Aji kembali bertanya.


"Ada, Mang. Bahkan orang-orang dari kampung kita pun sudah ada yang berobat ke tempat itu. Hasilnya, alhamdulillah mereka sudah bisa berjalan lagi seperti semula," jawab Agus.


"Benarkah?" tanya Aji lagi.


Agus mengangguk.


Mata Aji seketika berbinar mendengar jawaban keponakannya. Secercah harapan kembali menyeruak di relung hatinya.


"Iya, Paman. Tidak ada salahnya Paman mencobanya. Namanya juga ikhtiar," timpal Agus.


"Ya, kamu benar, Gus. Ya sudah, nanti coba kamu tanyakan alamat lengkapnya ya, Gus. Nanti Paman coba hubungi Yandri. Barangkali, Yandri tahu tempat itu," kata Aji.

__ADS_1


"Baik, Paman," jawab Agus.


.


.


Setelah satu setengah bulan mengambil cuti, akhirnya Yandri memutuskan untuk kembali ke asrama. Kebutuhan terus berlanjut, dan dia tidak memiliki pendapatan. Yandri merasa tidak enak harus bergantung terus kepada ibu mertuanya. Sedangkan keluarganya sendiri, tak satu pun ada yang peduli padanya.


"Ayah yakin besok mau kembali ke asrama?" tanya Daniar yang masih mencemaskan kondisi suaminya.


"Iya, Bun," jawab Yandri.


"Tapi Ayah masih sering merasa pusing. Bunda khawatir, Yah. Apalagi pekerjaan Ayah naik turun tangga terus," ucap Daniar, cemas.


"Ayah ngerti kecemasan Bunda, tapi Ayah juga tidak bisa terus berpangku tangan, Bun. Ayah tidak mau kita terus-terusan bergantung kepada ibu. Enggak enak, Bun," jawab Yandri.


Daniar menghela napas. Tidak bisa dia pungkiri jika apa yang dikatakan suaminya memang benar. Gaji dirinya sebagai tenaga sukwan di sebuah sekolah dasar negeri, tidak sepadan dengan pengeluaran dia sehari-hari. Daniar bahkan sudah menjual seluruh perhiasan untuk menyambung kehidupannya. Satu-satunya harta yang tertinggal yang dia miliki hanyalah sebuah mobil sedan hadiah pemberian sang suami.


"Iya, Yah. Bunda terserah Ayah saja. Tapi Bunda tidak bisa membiarkan Ayah pergi seorang diri. Izinkan Bunda mengantarkan Ayah, ya?" pinta Daniar.


"Capek, Bun. Perjalanannya cukup jauh. Kasihan juga kalau Bintang ditinggal sendirian," kata Yandri.


"Enggak, Yah. Bunda ikut, atau Ayah tidak berangkat sama sekali!" ancam Daniar seraya berkacak pinggang.


Daniar tersenyum lebar. Sesaat dia mendekati Yandri seraya menyibakkan sedikit kimono yang dipakainya.


"Naah, gitu dong. Nurut apa kata istri," ucap Daniar sambil duduk di pangkuan Yandri. "Apa Akang tidak ingin meninggalkan jejak," bisik Daniar di telinga Yandri.


Darah Yandri berdesir begitu hebat. Seketika dia menyambar dan melahap salah satu gundukan kembar yang menyembul di balik kimono sang istri.


.


.


Keesokan harinya, Yandri berpamitan kepada ibu mertuanya. Hari ini, dia akan kembali berjihad dan melakukan tugasnya di asrama.


"Minta do'anya, Bu. Mudah-mudahan Yandri sehat dan bisa kembali beraktivitas seperti biasanya di asrama," pamit Yandri kepada Bu Salma.


"Tentu saja, Nak. Ibu akan selalu mendo'akan supaya kamu benar-benar pulih dan bisa bekerja seperti sedia kala," timpal Bu Salma.


"Terima kasih, Bu," balas Yandri sembari mencium punggung tangan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami pamit dulu, Bu. Titip Bintang," imbuh Daniar.


"Iya, Nak. Kalian tidak usah khawatir, Bintang aman bersama Ibu dan Nisa di sini. Hati-hati di jalan. Nak joko, ingat ya ... kalau mengantuk, berhenti dulu. Jangan memaksakan diri," pesan Bu Salma.


"Siap, Bu!" jawab Joko.


Setelah berpamitan, Yandri pergi diantar oleh istri dan adik iparnya.


Seperti napak tilas. Bayangan demi bayangan saat Yandri melakukan perjalanan berjihad, melintas begitu saja dalam benaknya. Jantung Yandri berdegup kencang saat melewati jalan yang menjadi saksi bisu kecelakaannya dua bulan yang lalu. Helaan napasnya terasa berat ketika membayangkan dia tergeletak tak sadarkan diri di jalan lebar yang di kiri kanannya sama sekali tidak terdapat pemukiman. Hanya gundukan bukit tandus yang terlihat di sepanjang jalan.


Alhamdulillah, Ya Allah ... Engkau masih memberikan kesempatan kepada hamba untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Ampunilah segala dosa hamba. Dan bimbinglah hamba agar bisa menggunakan sisa waktu hamba sebaik mungkin. Jadikanlah hamba orang yang selalu memberikan manfaat untuk siapa pun. Aamiin ... Do'a Yandri sebagai bentuk rasa syukurnya.


Setelah melewati 6 jam perjalanan, akhirnya rombongan Yandri sampai juga di sekolah asrama. Yandri turun dari mobil untuk menyapa para penjaga keamanan.


"Assalamu'alaikum, Merdeka!" sapa Yandri kepada salah seorang penjaga keamanan yang sedang duduk di pos penjagaan.


Pak Mahdi, keamanan senior di sekolah seketika mendongak saat mendengar sapaan di depannya.


"U-ustadz, Ya-yandri?" tanya Pak Mahdi, terbata. Dia sangat terkejut melihat Yandri yang memang selalu ramah menyapanya baik saat keluar gerbang sekolah, ataupun saat masuk gerbang.


"Iya, Pak Mahdi. Apa kabar?" Kembali Yandri menyapa sambil mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Ustadz. Masya Allah, saya turut berduka mendengar kecelakaan yang menimpa Ustadz. Mohon maaf, saya tidak bisa menjenguk Ustadz di rumah sakit waktu itu. Maklum lah, Ustadz, 'kan tahu sendiri jika pekerjaan saya tidak bisa ditinggalkan," ucap Pak Mahdi dengan raut wajah penuh sesal.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya sendiri mafhum dengan keadaan di sini. Apalagi, jarak dari sini ke rumah sakit saya dirawat dulu juga, cukup jauh," jawab Yandri.


"Hehehe, terima kasih Ustadz. Bagaimana sekarang keadaan Ustadz? Apa sudah pulih total?" tanya Pak Mahdi.


"Alhamdulillah, sudah lebih membaik. Ya meskipun terkadang masih suka pusing," jawab Yandri.


"Wah kalau begitu, jangan terlalu memaksakan diri untuk kembali kerja, Tadz. Setahu saya, pihak yayasan tidak akan menerima kerja sebelum benar-benar sembuh total," tutur Pak Mahdi.


"Benarkah?" tanya Yandri, menautkan kedua alisnya.


Pak Mahdi mengangguk. "Iya, Ustadz. Dulu juga teman saya disuruh pulang lagi karena belum pulih total," lanjutnya.


"Ya sudah, Pak. Izinkan saya masuk terlebih dahulu, biar saya coba berdiskusi dengan pak Kamad," ucap Yandri.


"Oh iya. Monggo silakan masuk, Tadz," sahut Pak Mahdi.


Setelah diizinkan masuk, Yandri kemudian melambaikan tangan sebagai isyarat agar Joko memasukkan mobil ke lingkungan asrama. Mobil berhenti tepat di samping pos keamanan. Sesaat, Yandri berpamitan dan segera menaiki mobil. Sejurus kemudian, Joko melajukan mobil menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Hmm, semoga saja dipermudahkan."


__ADS_2