
Yandri sadar jika dia telah melukai perasaan istrinya. Namun, dia juga tidak sanggup menolak permohonan sang ibu. Dilema. Mungkin itu yang sedang Yandri rasakan saat ini.
Yandri beranjak dari tempat duduknya. Sejurus kemudian, dia pergi ke ruang sebelah untuk menenangkan diri.
Sementara itu, dada Daniar sudah semakin sesak. Dia butuh waktu untuk menyendiri. Melihat wajah suaminya, hanya akan terus mengingatkan dia pada kelemahan sang suami yang tidak mampu berkata TIDAK kepada keluarganya.
Daniar bangkit. Dia meraih tas anaknya yang tergantung pada paku di dinding kamar. Sedetik kemudian, Daniar mulai memasukkan pakaian miliknya dan juga milik Bintang ke dalam tas tersebut. Begitu juga dengan semua kebutuhan sang anak. Ya, untuk sementara waktu, Daniar akan pergi ke rumah orang tuanya.
Tanpa berpamitan, Daniar keluar dari kamar. Dia tahu jika suaminya sedang berada di ruang kelas 6, tapi Daniar sendiri enggan untuk menghampiri Yandri. Daniar terus melangkahkan kaki hingga sampai di depan sekolah. Kebetulan sekali, ada sebuah mobil minibus yang lewat. Daniar segera menghentikan dan menaikinya.
Selama dalam perjalanan, air mata Daniar tak henti-hentinya mengalir. Membuat si penumpang yang berada di sampingnya, menegur Daniar.
"Maaf, apa Neng baik-baik saja?" tanya wanita yang berusia sekitar 40 tahunan.
"Eh, iya Bu. Sa-saya baik-baik saja," jawab Daniar seraya menyeka air matanya.
"Neng mau pergi ke mana?" tanya wanita itu lagi.
"Sa-saya mau pulang ke rumah orang tua saya, Bu," jawab Daniar.
"Apa Neng sedang bertengkar dengan suami?" tebak wanita itu.
Daniar mengernyit. "Ti-tidak, Bu," jawabnya sedikit gugup.
"Hmm, sebaiknya bicarakan baik-baik dengan suami Neng. Tidak baik menghindari sebuah permasalahan. Dalam berumah tangga, pasti selalu ada percikan-percikan kecil. Nah, jangan biarkan percikan tersebut, suatu saat akan menjadi sebuah ledakan. Tidak baik menghindari sebuah permasalahan. Neng ngerti, 'kan maksud Ibu?" kata wanita itu memberikan nasihat kepada Daniar.
Daniar hanya bisa diam.
.
.
Yandri mengerjapkan mata. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul 5 sore. Sepertinya, karena lelah berpikir, Yandri akhirnya tertidur di dalam kelas.
Yandri beranjak dari kursi guru. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dahi Yandri sedikit berkerut saat kamarnya terlihat sepi, seolah tak Berpenghuni saja. Yandri kemudian membuka pintu kamar. Sedikit tertegun saat melihat ruangan itu kosong.
Ke mana perginya Bunda dan Bintang? batin Yandri.
Yandri melihat peralatan Bintang yang biasanya tersimpan rapi dalam sebuah rak susun di pinggir ranjang, kini tidak ada. Dia juga melihat pakaian istrinya yang tersimpan di dalam dus besar, sedikit berantakan. Yandri kemudian melirik ke arah paku besar yang tertancap di dinding kamar, tas anaknya pun tidak tergantung di sana. Akhirnya Yandri paham jika istrinya telah pergi.
"Ya Tuhan ... semoga Daniar pergi ke rumah ibu," gumam Yandri.
Yandri mengeluarkan ponselnya. Sesaat kemudian, telepon pun mulai tersambung.
"Assalamu'alaikum, Bu!" sapa Yandri.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Salma di ujung telepon.
__ADS_1
"Maaf, Bu, yandri mau tanya. Apa Daniar ada di rumah Ibu?" tanya Yandri.
"Iya, Nak. Dia baru saja sampai. Tunggu! Kok kamu nanyain keberadaan Niar? Apa Daniar enggak izin kamu dulu kalau dia mengunjungi Ibu?" tanya Bu Salma, curiga.
"Eng-enggak, Bu. Maksud Yandri, apa Daniar sudah sampai di rumah Ibu? Maaf, Yandri tidak bisa mengantarkan Daniar, besok Yandri ada kelas, Bu."
Yandri mencoba menepis kecurigaan ibu mertuanya. Dia tidak ingin membebani ibu mertuanya dengan permasalahan rumah tangga dia dengan Daniar.
"Iya, Nak. Niar katanya kangen sama Ibu. Karena hari besok dan Sabtu enggak ada jadwal ngajar, jadi dia memutuskan untuk menjenguk dan menemani Ibu. Kamu enggak keberatan, 'kan, Nak?"
"Iya, Bu. Enggak apa-apa. Lagi pula, sudah lama juga Daniar belum jenguk Ibu. Yandri titip Niar sama anak Yandri ya, Bu. Insya Allah, Sabtu sore Yandri pulang ke Tasik," kata Yandri.
"Iya Nak, kamu enggak usah khawatir. Mereka pasti baik-baik saja. Ya sudah, Ibu tutup dulu teleponnya, ya. Bintang sedikit rewel. Mungkin dia kembali merasa asing lagi dengan rumah ini. Kamu sih, jarang banget ajak anak dan istri kamu main ke rumah Ibu," kata Bu Salma.
"Iya, maaf Bu," jawab Yandri.
"Ya sudah. Ibu tutup ya, Nak. Assalamu'alaikum!" pungkas Bu Salma.
"Wa'alaikumsalam," balas Yandri.
Yandri merebahkan tubuhnya di atas sofa. Pikirannya benar-benar kacau. Dia terpaksa berbohong pada ibu mertuanya.
Ya Tuhan, untunglah Daniar pergi ke rumah ibu. Sekarang aku bisa sedikit lebih tenang. Tolong bersabar ya, sayang. Ayah yakin kita bisa melewati semua ini, batin Yandri. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di kedua sudut matanya.
.
.
"Yayah, tangen ... Dede tangen," celoteh Bintang.
Yandri memangku anaknya seraya menciumi pipi Bintang yang semakin gembul saja. "Iya, Nak. Ayah juga kangen sama Bintang. Ayah enggak bisa jauh-jauh dari Bintang," balas Yandri.
"Ayo Bintang, kita mandi dulu," ucap Daniar ketus.
"No... Dede Yayah, no!" teriak Bintang sambil mengeratkan pelukannya kepada Yandri.
"Sudah Niar, jangan dipaksa. Bintang masih kangen tuh sama ayahnya," tegur Bu Salma. "Ayo masuk, Yan," ajak Bu Salma kepada memantu tertuanya itu.
Yandri tersenyum. Setelah mencium punggung tangan ibu mertuanya, Yandri masuk dan langsung menuju kamar.
Daniar masih terlihat begitu kesal. Namun, dia tidak bisa melarang Yandri memasuki kamarnya. Dia tidak ingin ibunya menaruh curiga jika dia sedang mendiamkan Yandri.
"Oh iya, Bun, ini Ayah bawakan buah anggur kesukaan Bunda," kata Yandri seraya mengeluarkan satu kantong plastik berisi anggur hijau kesukaan istrinya.
"Dede uah Dede," celoteh Bintang. Tangan mungilnya terulur dan berusaha merebut kantong plastik dari tangan ayahnya.
"Iya Sayang, Dede Bintang juga pasti kebagian, ya. Buah anggurnya, 'kan banyak," jawab Yandri kembali mencium pipi anaknya.
__ADS_1
Bintang kembali tergelak karena merasa kegelian.
"Huh, modus," gumam Daniar sambil berlalu begitu saja tanpa berniat untuk mengambil oleh-oleh yang dibawa Yandri.
Melihat hal itu, Yandri hanya bisa menarik napasnya. Jangan diamkan aku seperti ini, Niar. Sungguh aku tidak sanggup. Sakit, rasanya sakit sekali, batin Yandri.
.
.
Malam mulai menjelang. Entah kenapa, Bu Salma merasa ada yang janggal dari sikap anaknya kepada sang menantu. Saat makan malam pun, mereka hanya saling diam. Hati seorang ibu tidak mungkin bisa dibohongi. Bu Salma yakin jika hubungan suami istri itu, saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Apa Bintang sudah tidur, Ni?" tanya Bu Salma menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Daniar.
Daniar yang sedang melipat baju anaknya, sontak mendongak mendengar pertanyaan sang ibu.
"Sudah, Bu," jawab Daniar.
"Bisa ikut Ibu sebentar, Ni. Ada yang mau Ibu bicarakan," lanjut Bu Salma.
"Baik, Bu."
Daniar menghentikan aktivitas melipat bajunya. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengikuti ibunya ke ruang keluarga.
Tiba di ruang keluarga, Bu Salma mematikan televisi yang sedang ditonton Yandri.
"Maaf ya, Yan, ibu ingin bicara dulu sama kalian," ucap Bu Salma seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa panjang.
Yandri yang sedang menyandarkan punggung, seketika duduk tegak saat mendengar ucapan ibu mertuanya. Dahi Yandri sedikit mengernyit ketika melihat Daniar mengikuti Bu Salma dan ikut duduk di samping Bu Salma.
"Sebelumnya, Ibu mau minta maaf kepada kalian. Jujur saja, Ibu tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Namun, Ibu merasa jika kalian sedang memiliki hubungan yang kurang sehat untuk saat ini. Ibu hanya mengkhawatirkan perkembangan Bintang. Apa jadinya anak itu jika harus tumbuh di antara hubungan yang sudah tidak sehat?" Bu Salma mengawali pembicaraan.
"Maaf, Bu. Yandri tidak mengerti maksud Ibu," kata Yandri.
"Iya, Niar juga. Ibu kok tega sih, ngomongin Bintang tumbuh dalam hubungan yang tidak sehat," timpal Daniar merengut.
"Lalu, apa Ibu harus bilang hubungan kalian baik-baik saja, saat melihat kalian saling mendiamkan satu sama lain?" tanya Bu Salma kepada anaknya.
Daniar yang memang merasa telah mendiamkan suami, hanya bisa menunduk.
"Ibu tahu jika rumah tangga kalian sedang diuji. Namun, Ibu tidak berniat untuk mencari tahu ujian apa yang sedang kalian hadapi. Ibu hanya bisa memberikan nasihat, jika ada masalah dalam rumah tangga, tolong segera diselesaikan secara baik-baik. Bicarakan dengan kepala dingin. Jangan terbawa emosi. Tidak baik membiarkan sebuah permasalahan berlarut-larut. Apa kalian tidak merasa kasihan kepada Bintang? Anak kecil itu sangat peka perasaannya. Begitu sensitif. Dia bisa merasakan ketegangan di antara kalian. Karena itu Bintang rewel," tutur Bu Salma panjang lebar.
Ya, harus Daniar akui. Sejak dia datang ke rumah ibunya, Bintang begitu rewel. Dia sama sekali tidak mau ditinggal oleh Daniar. Padahal sebelumnya, Bintang termasuk anak yang begitu dekat dengan adik dan ibunya.
"Sudah malam, Ibu tidur dulu. Kalian bicaralah baik-baik. Selesaikan masalah kalian. Jangan sampai Bintang menjadi korban keegoisan kalian," nasihat Bu Salma kepada anak dan menantunya.
Yandri dan Daniar hanya bisa saling pandang menanggapi ucapan Bu Salma. Apa yang dikatakan ibu mertuanya memang benar. Sebuah permasalahan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sejurus kemudian, Yandri beranjak dari kursi dan mendekati Daniar.
__ADS_1
"Ayo kita bicara, Bun!"