Setelah Hujan

Setelah Hujan
Permainan Habibah


__ADS_3

Bu Maryam memang siap untuk bersandiwara. Namun, dia masih perlu waktu untuk melakukan sandiwara tersebut. Dia masih ragu dan takut jika suatu hari nanti sandiwaranya akan terbongkar.


"Lantas, kapan Ibu akan menghubungi Yandri?" tanya Habibah setelah sepekan Bu Maryam hanya bergeming saja.


"Entahlah, Bah," jawab Bu Maryam.


"Bu, jika Ibu terus mengundur waktu, maka permasalahannya akan semakin rumit. Siska bisa saja menuntut balik apa yang pernah dia berikan sama Ibu. Memangnya, Ibu mau, semua koleksi perhiasan Ibu diambil lagi sama dia?" tegur Habibah.


"Ish, kok ngomong gitu sih, Bah," rengut Bu Maryam.


"Ya bisa saja, Bu. Siska itu seorang pebisnis. Tentunya dia tidak akan mau rugi juga," kilah Habibah.


"Ya sudah, nanti Ibu akan telepon Yandri," janji Bu Maryam.


"Huh, dari kemarin, tar-sok tar-sok. Entar besok yang mana, Bu? Tahun sod?" gerutu Habibah terlihat kesal. Tak lama kemudian, Habibah pun pergi dari kamar Bu Maryam.


Sepeninggal Habibah, Bu Maryam kembali melamun di depan jendela kamarnya. Ucapan Habibah mulai mempengaruhi pikirannya. Ya, Bu Maryam mulai khawatir jika apa yang diucapkan Habibah barusan, bisa menjadi kenyataan. Seseorang pasti bisa berbuat nekat jika terus merasa disakiti, pikir Bu Maryam.


Malam sudah semakin merangkak. Bu Maryam menutup jendela kamar saat merasakan udara semakin dingin. Sesaat kemudian, dia melangkahkan kakinya dan duduk di atas ranjang.


Bu Maryam melirik benda pipih yang tergeletak begitu saja di atas bantal. Karena terpengaruhi omongan Habibah, Bu Maryam pun meraih ponselnya dan menghubungi Yandri.


"Assalamu'alaikum, Bu!" Terdengar sapaan Yandri di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam, Yan," balas Bu Maryam.


"Kenapa, Bu? Ada apa Ibu menelepon Yandri di jam segini? Memangnya Ibu belum ngantuk? Ini sudah malam loh," kata Yandri.


"Belum, Yan ... Ibu belum ngantuk," jawab Bu Maryam. "Enggak ada apa-apa, Ibu hanya kangen saja sana kamu," lanjutnya.


"Hmm, tumben. Ibu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Yandri yang merasa janggal akan jawaban ibunya.


"Kapan kamu pulang, Nak? Memangnya kamu enggak kangen sama Ibu? Pulang kemarin, kamu malah sibuk ngurusin anak kamu. Kapan kamu punya waktu untuk ibumu yang renta ini?" keluh Bu Maryam, mulai mendramatisir keadaan.


Terdengar helaan napas yang cukup panjang di ujung telepon. Entah apa yang sedang Yandri pikirkan saat ini. Akan tetapi, suaranya terdengar sangat serak.


"Jangan terus merajuk seperti itu, Bu. Bagaimanapun, Ibu dan Bintang itu sama pentingnya bagi Yandri. Kalau kemarin Yandri enggak nginep di rumah Ibu, itu karena Yandri sibuk nyari Bintang yang pindah sekolah tanpa sepengetahuan Yandri," jawab Yandri yang tidak bisa menyembunyikan satu hal apa pun dari ibunya.


"Tapi tidak harus sampai melupakan ibu kandung kamu sendiri, Yan," rengek Bu Maryam. "Ibumu masih hidup saja, kamu sudah acuh tak acuh pada Ibu. Apalagi kalau Ibu sudah tiada?" cecar Bu Maryam.


Di ujung telepon, Yandri hanya bisa menarik napasnya panjang.


"Sebenarnya ada apa, Bu? Kenapa Ibu terus merajuk seperti ini?" tanya Yandri lembut.

__ADS_1


"Ibu sakit, Yan. Kamu mana pernah mikirin Ibu. Selama ini ... hiks-hiks ...."


Bu Maryam tidak melanjutkan kalimatnya. Dia malah menangis tersedu-sedu, membuat Yandri semakin kebingungan.


"Ibu kenapa? Sakit apa? Sudah periksa ke dokter?" tanya Yandri.


Bu Maryam tidak menjawab. Hanya isak tangisnya saja yang terdengar memilukan.


"Bu! Ibu!"


Yandri masih berteriak-teriak di ujung telepon. Namun, Bu Maryam malah menutup sambungan teleponnya.


Seringai dingin tersungging di kedua sudut Bu Maryam. Dia yakin, setelah semua ini, Yandri pasti akan merasa gelisah.


Di lain tempat, Yandri merasa kebingungan dengan ucapan Bu Maryam. Tiba-tiba saja hatinya merasa tidak nyaman. Yandri segera menghubungi kakaknya untuk menanyakan perihal ibunda tercinta.


"Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Yandri, begitu telepon tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Yan. Kok tumben telepon Kakak jam segini?" tanya Habibah, heran.


"Iya, maaf mengganggu waktunya Kak. Yandri cuma ingin nanya, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Yandri, cemas.


"Memangnya kenapa, Dek?" Habibah malah balik bertanya.


"Barusan Ibu telepon Yandri. Dia bilang dia sakit. Namun, saat Yandri tanya apa sudah pergi ke dokter atau belum, Ibu malah menutup teleponnya," papar Yandri.


"Emh, Dek. Sebenarnya ... Ibu memang sudah lama sakit. Cuma ... dia nggak ngizinin Kakak buat kasih tahu kamu," jawab lirih Habibah di ujung telepon.


Yandri terhenyak. Dia sangat terkejut mendengar jawaban kakaknya. Selama ini, ibunya tidak pernah mengeluh tentang kesehatannya.


"Memangnya ibu sakit apa, Kak? Apa sudah dibawa ke dokter?" tanya Yandri.


"Sudah, Yan," jawab Habibah.


"Hasilnya?" Yandri kembali bertanya.


"Kata dokter sih, Ibu ada penyakit jantung," kata Habibah.


"Apa? Jantung?!" pekik Yandri.


"Iya, Yan. Karena itu, sekarang Kakak selalu hati-hati kalau bicara sama ibu," lanjut Habibah.


"Iya, Kak. Tolong jaga ibu. Nanti Yandri akan mengajukan cuti pulang untuk bawa ibu ke spesialis jantung," pinta Yandri.

__ADS_1


"Iya, Yan. Kamu enggak usah khawatir, kata dokter, asalkan kita bisa menjaga emosi ibu, semuanya akan baik-baik saja," balas Habibah.


"Ya sudah, Yandri tutup teleponnya, Kak. Kalau ada apa-apa, tolong kasih tahu Yandri. Assalamu'alaikum!" pungkas Yandri.


Setelah mendapatkan jawaban dari Habibah, Yandri kemudian mengakhiri pembicaraannya.


Yandri menyandarkan punggungnya. Kedua matanya terpejam. Satu masalah belum selesai, sekarang muncul masalah yang lain.


Ya Tuhan ... sampai kapan ujian ini akan berakhir?


.


.


Hari berganti minggu, hingga minggu berganti bulan. Siska terus mendesak Bu Maryam tentang perjodohannya dengan Yandri. Sampai akhirnya, mau tidak mau Bu Maryam pun mengikuti permainan Habibah.


"Ibu! Apa Ibu baik-baik saja?"


Brak!


Yandri membuka kasar pintu kamar ruang rawat. Dengan tergesa-gesa, dia berjalan menghampiri ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


"Astaghfirullah, Bu. Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Yandri, tak tega melihat keadaan ibunya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa pulang juga, Yan," kata Habibah.


Yandri menoleh. Karena terlalu mengkhawatirkan kondisi ibunya, dia sampai tidak menyadari keberadaan orang lain di kamar rawat sang ibu.


"Kak Bibah, maaf Yandri enggak lihat," jawab Yandri.


"Iya, tidak apa-apa, Yan. Kakak paham, kamu pasti begitu mengkhawatirkan keadaan ibu," jawab Habibah.


"Apa yang terjadi pada Ibu, Kak? Kenapa Ibu bisa masuk rumah sakit?" tanya Yandri.


"Hhh, semua ini berawal dari pernikahan anak teman Ibu, Yan. Kakak sendiri tidak tahu apa yang terjadi di sana. Hanya saja, tak lama setelah Ibu pulang dari acara pernikahan itu, tiba-tiba ibu pingsan. Untung ada Siska, akhirnya Kakak sama Siska membawa ibu kemari," papar Habibah.


Yandri melirik wanita berhijab yang masih duduk di atas sofa. Sepersekian detik kemudian, dia kembali menatap Habibah.


"Lalu, apa kata dokter, Kak?" tanya Yandri lagi.


"Ibu terkena serangan jantung, Yan," ucap pelan Habibah.


"Astaghfirullah ...."

__ADS_1


Yandri mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak bisa dia pungkiri jika kabar yang baru saja didengarnya, membuat tubuh Yandri sedikit limbung.


"Ya...n... A-apa Yandri su-dah da ... tang?"


__ADS_2