
Setelah berkendara sekitar 40 menit Yuna tiba di cafe milik Marcih. Seperti Biasa Yuna akan berteriak memanggil nama Marcih tanpa memperdulikan pengunjung cafe.
“MARCIH!!!! WHERE ARE YOU BEIBH. Teriak Yuna sambil sedikit bersenandung menyebut nama sahabatnya itu.
Sontak seluruh pengujung cafe dan beberapa pelayan mengarahkan pandangannya kearah Yuna. Yuna sama sekali tidak terusik dengan tatapan bertubi-tubi yang ditujukan kepadanya.
Keadaan cafe saat itu sedikit ramai dibanding jam-jam yang lain. Sangat sulit menemukan kursi dan meja yang kosong. Ketika sore cafe ini akan sedikit ramai pengujung. Karena memang waktu ini sangat ideal untuk sekedar menikmati kopi sambil menunggu senja dan menyambut malam apalagi bersama sang kekasih hati.
Yuna masih sibuk melirik dan meyusuri segala penjuru cafe. Ia mencari sosok yang sedari tadi namanya ia panggil namun sang empunya nama sampai sekarang belum menunjukkan keberadaanya.
Seorang pelayan menghampiri Yuna yang sedikit kebingunngan menacari keberadaan Marcih.
“maaf Nona, silahkan ikut dengan saya”.
Tanpa membuka mulut Yuna mengikuti pelayan yang menghampirinya kemudian berjalan menuju sebuah meja couple yang letakknya sedikit pojok, spot yang sangat sempurna untuk sesi curhatnya nanti dengan Marcih. Mata Yuna sedikit berbinar melihat spot meja yang disediakan sahabatnya itu.
“Marcih memang the best, ia sangat pandai memilih meja. Bagaimana ia bisa tau kalau aku akan bercerita panjang lebar kepadanya” Guman Yuna dengan sedikit senyum yang menampakkan wajahnya semakin cantik.
“Silahkan duduk, Nona Marcih berpesan agar nona menunggunya disini. Dia sedang keluar sebentar dan akan segera kembali. Nona mau minum apa?” Ucap Pelayan Kepada Yuna.
“saya pesan yang seperti bisa, terima kasih” ucap Yuna kepada pelayan sambil menarik kursi keluar dari dalam meja lalu ia bergegas untuk duduk.
“Baik nona, mohon tunggu sebentar” ucap Pelayan sambil membukkan badan kapada Yuna. Ia kemudian berjalan meninggalkan Yuna menuju kearah dapur.
5 menit berlalu pesanan Yuna sudah diatas meja, namun sosok yang tunggu belum juga datang. Ia sudah tidak sabar bercerita kepada Marcih. Kemudian suara teriakan dari pintu masuk menyadarkan Yuna.
__ADS_1
“Yuna!!!! My beibh” teriak Marcih yang setengah berlari menuju ke tempat Yuna.
Mereka seperti abg sedang kasmaran yang baru bertemu. Mereka berpelukan sangat lama seperti sudah berpisah puluhan tahun. Jangan heran hubugan meraka bahkan bisa membuat iri sepasang kekasih. Kedekatan mereka mengalahkan kedekatan saudara kandung. Marcih sangat menyayangi Yuna sebab pada masa sulit dan sedang merasa terpuruk Yuna lah yang membantunya bangkit dan memberinya semanagat. Kedua orang tua Marcih sudah meninggal ketika Marcih berusia 15 tahun, ia hanya hidup berdua dengan adiknya Arich Milano. Bahkan diusia yang masih terbilang sangat mudah harus menjadi orang tua dari adiknya yang waktu itu berusia 9 tahun ketika orang tuanya meninggal. Bukan hanya Yuna yang menyangi Marcih, kedua orang tua Yuna pun menganggap Marcih dan Arich sebagai anak kandung mereka dan memperlakukan mereka sama.
“Haiii bebih aku kesini bukan hanya mau berpelukan dengan mu” ucap Yuna yang menyadari pelukan keduanya sudah cukup lama. “aku kesini membawa misi khusus” tambah yuna sedikit tertawa sambil melepaskan pelukan Marcih.
“kau ini, aku sangat rindu padamu, kau kenapa baru sekarang mengujungiku” ucap Marcih yang kesal karena Yuna melepas pelukannya.
“hahah sory beibh, aku sangat sibuk akhir-akhir ini, kau taukan tua bangka itu selalu memberikan ku banyak pekerjaan” ucap Yuna dengan suara ingin dikasihani.
“kau masih saja kesal dengan tua bangaka mu itu haha. Apa kau belum memberinya pelajaran khusus” kata Marcih yang sedikit mengejek Yuna.
“sudahlah, aku kesini bukan mau membicarakannya” Jawab Yuna.
“duduklah akan mendegarakan ceritamu” kata Marcih yang sudah duduk didepan Yuna dan mencoba membaca perubahan mimik wajah sahabatnya itu.
“ Aku harus bagaimana? Aku bahkan belum mengerti maksud ucapan Barack kepadaku” lirih Yuna
“tenanglah, Barack sudah menujukkan sikap aslinya kepada mu. Berutunng Barack hanya menipu mu setahun” Ucap Marcih yang masih kesal.
“jadi maksud mu selama ini Barack hanya berpura-pura padaku? Kurang ajar sekali dia. Aku bahhan menghapus prinsip ku demi dia dan ibu, dasar laki-laki kurang ajar” Kata Yuna yang menaikkan volume suaranya.
“Sudahlah kau tidak memikirkan ucapannya, kau akan segera melupakannya percayalah” Ucap Marcih
“ia kau benar, bukankah selama ini hanya ibu yang mendesakku untuk terus menumuinya, ya walau kadang aku merindukannya sesekali. Tohh aku juga tidak berpikir untuk menikiah dengannya” Ucap Yuna yang sedikit mengurangi kekesalannya.
__ADS_1
“aku akan selalu mendukung langkah mu, tapi aku sedikit khawatir kepada ibu, ia pasti sangat sedih kalau tau Barack meninggalkan mu” kata Marcih sedikit lirih memikirkan perasaan ibu.
“jangan kau pikirkan ibu, kau taukan ibu seperti apa, aku sudah siap menghadapinya heheh” Yuna sedikit tersenyum dan berusaha mencairkan suasana tegang.
“baiklah aku tau kau sudah punya kekuatan melawan ibu hahaha. Marcih tertawa membayangkan perang dunia antara ibu dan Yuna serta ayah akan selalu jadi penengah keduanya.
“Alfa akan kembali hari ini, ia sudah menyelesaikan study dan akan menetap disini, ibu dan ayah menyuruh ku memanggilmu kerumah akhir pekan ini, ada sedikit pesta penyambutan untuk Alfa” Ucap Yuna yang mengalihkan pembicaraan kemudian ia menggangkat gelas yang berisi minuman dan segera menguyur tenggorokannya yang hampir kering setelah bercerita panjang lebar kepada Marcih.
“wah anak itu rupanya sudah dewasa, cepat sekali ia menyelesaikan S2 nya” ucap Marcih.
"Kebetulan Minggu ini Arich juga akan kembali kesini setalah bertugas 2 tahun diluar negeri". Sambung Marcih.
“benarkah? Arich pasti akan menceritakan kesombongnya menaklukkan wanita-wanita bule hehehe” Ucap Yuna yang mengingat Arich yang dari dulu suka merayu wanita.
“kau benar, sepertinya aku harus mempersiapkan earphone agar tidak diganggu oleh cerita Arich, biasa saja ia membuatku mual, ciuh anak itu tidak pernah berubah dasar laki-laki semua sama. Ucap Marcih yang sedikit kesal membayangkan kelakuan adiknya.
“ehh kau tidak boleh berkata seperti itu kepada adik mu, wajar dia playboy tampangnya mendukung” Ucap Yuna sambil membayangkang kira-kira bagaimana wajah Arich yang sekarang, pasti semakin manis.
Ya walaupun cuman 2 tahun tidak bertemu pasti akan banyak perubahan.
“sudah tidak perlu kau memikirkan anak itu, sekarang sudah malam apa kau tidak lapar? kau mau makan dengan ku atau dengan ibu?” tanya Marcih, sejujurnya ia masih rindu pada Yuna, tapi dia merasa kasihan Yuna belum berisitirat seharian ini.
“aku akan makan dengan mu setelah itu akan pulang kerumah, kau pasti mengomeliku kalau aku masih tinggal disini”ucap Yuna yang seakan tau isi kepala Marcih
“Good Girl, akan siapkan makan untukmu, ucap Marcih sambil mengusap kepala Yuna dan berajak dari tempat duduknya menuju dapur mempersiapkan makanan.
__ADS_1
“dasar kau ini selalu menggapku anak dibawah umur” Ucap Yuna yang sedikit kesal pada Marcih. Ia memang sedikit manja pada sahabatnya ya walau pun mereka seumuran ia akan selalu terlihat lebih kecil ketika bersama Marcih.
Bersambung