Setelah Hujan

Setelah Hujan
Tragedi Wisuda


__ADS_3

Daniar mendengus kesal. Dia terus melangkahkan kakinya ke luar kamar. Panggilan Yandri pun tidak dia hiraukan. Dia marah. Begitu marah kepada Yandri yang lebih membela kehidupan iparnya dibandingkan darah dagingnya sendiri.


Ipar yang jika boleh dia jujur, dia sangat membenci Mia. Dan bukan tanpa alasan Daniar membenci wanita itu. Masih membekas dalam ingatannya saat Bik Mumun menceritakan perbuatan Mia di warungnya tak lama setelah dia menikah dengan Raihan


Saat itu, dengan berapi-api, Bik Mumun bercerita kepada Daniar.


"Jaga mulut kamu, Mia! Kamu itu hanya anak kemarin sore yang tinggal di sini. Tidak sepantasnya kamu menjelek-jelekkan kakak ipar kamu sendiri," tegur Bik Mumun.


"Udah deh, Bik Mumun itu tahu apa? Bik Mumun, 'kan enggak tinggal bareng sama keluarga bang Raihan. Mia itu tahu segalanya dari kak Bibah. Asal Bik Mumun tahu, ya. Bang Yandri itu enggak sealim yang orang tahu. Dia udah hamilin kak Niar sampai akhirnya mereka nikah diam-diam," sahut Mia.


"Ish, dasar bocah gendeng! Bu Daniar itu menikah dengan pak Yandri sudah lebih dari dua tahun. Jika bu Niar hamil duluan seperti apa yang kamu tuduhkan, mungkin anaknya tidak akan berusia satu tahun sekarang!" dengus Bik Mumun dengan kesalnya. "Sudah-sudah, jika kamu datang ke warung saya hanya untuk bergosip, kamu salah tempat. Sana pergi!" Usir Bik Mumun saat itu.


Sumpah, Bu. Saya gedek banget sama si Mia itu. Saya usir aja dia sekalian. Sampai-sampai dia enggak berani datang lagi ke warung saya," kata Bik Mumun.


Meskipun hatinya sakit, tapi Daniar tetap tersenyum menanggapi cerita Bik Mumun.


Ya Tuhan, kang. Seandainya kamu tahu sikap saudara-saudara kamu yang sebenarnya, apa mungkin kamu masih akan membela mereka seperti itu? Hingga kamu tega mengorbankan keperluan anak kamu sendiri, batin Daniar perih.


Entahlah, apa memang Yandri terlalu baik, atau justru terlalu bodoh sehingga sering kali dimanfaatkan oleh keluarganya sendiri. Daniar tak mampu bicara, dia hanya mampu mengangkat kedua tangannya agar kelak, kebenaran itu akan muncul.


"Berhenti Bun! Kita bicarakan baik-baik di kamar," ucap Yandri seraya mencekal pergelangan tangan istrinya.


Beruntungnya, di ruang keluarga tidak ada siapa-siapa. Sepertinya orang rumah sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Tak ingin memancing keributan karena tiba-tiba Bintang menangis, akhirnya Daniar kembali ke kamar.


.


.


Beberapa hari berlalu. Permintaan maaf Yandri tak mampu mengobati luka yang telah tertoreh di hati Daniar. Sepertinya, semua rasa semakin hambar. Jika bukan karena Bintang, mungkin Daniar sudah pergi entah ke mana untuk menenangkan pikirannya. Bahkan, Daniar sempat berpikir untuk berpisah dari laki-laki yang memang tidak pernah bisa menghargai posisi istri dan anak sebagai mana mestinya.


"Bun, besok Ayah wisuda, Bunda ikut, ya?" pinta Yandri lewat ponselnya.


"Kita lihat saja nanti," balas Daniar.


"Ayolah, Bun. Semua teman-teman Ayah membawa keluarganya. Masak Ayah tidak ada yang mendampingi?" rengek Yandri di ujung telepon.


"Kenapa Ayah tidak ajak saja sekalian keluarga besar Ayah? Bukankah mereka selalu Ayah bantu? Harusnya mereka hadir, 'kan, buat mendukung Ayah!" Sindir Daniar.


Diam ... hanya helaan napas berat yang terdengar di seberang telepon.


"Ya sudah, besok Bunda ikut."


Akhirnya Daniar kembali mengalah. Terlanjur sering bersabar dan memaafkan. Apa salahnya jika hari ini juga, dia mencoba memberikan kesempatan lagi untuk suaminya. Aku tidak boleh menyerah, atau aku tidak akan pernah bisa tertawa lepas saat semua kebenaran terbongkar di waktu yang tepat. Ya Tuhan ... hamba masih percaya jika suatu hari nanti, kang Yandri pasti mengetahui semua kebenaran tentang keluarganya.


.


.

__ADS_1


Sore harinya, Yandri pulang. Perjalanan dari tempat kerjanya ke aula kampus cukup jauh. Karena itu Yandri memutuskan untuk berangkat dari rumah mertuanya.


"Besok kita berangkat jam berapa, Yah?" tanya Daniar.


"Jam 7 pagi sudah harus di tempat, Bun."


"Siapa saja yang datang, Yah?"


"Mungkin hanya kita saja."


"Lalu ibu?"


"Ibu di rumah kak Aminah, Bun. Kabarnya dia sedang tidak enak badan," jawab Yandri


"Oh."


"Eh, Bun. Pulang dari kampus, kita jenguk ibu, yuk!" ajak Yandri.


*Kita lihat nanti saja, Yah," jawab Daniar terkesan malas.


"Kok gitu sih, ngomongnya Bun?" kata Yandri sedih.


Daniar diam. Entahlah ... sejak Daniar mengetahui perbuatan suaminya yang lebih memilih memenuhi kebutuhan Mia di saat Bintang sakit, rasa hormat dia pun mulai terkikis. Daniar tidak seperti istri yang selalu patuh pada keinginan suaminya lagi. Dia akan menjadi waspada jika berhubungan dengan keluarga Yandri.


Ya, di saat seseorang pernah tersakiti, maka dia akan membuat perisai untuk melindungi dirinya agar tidak kembali tersakiti.


.


.


"Oh iya, Nit. Hari ini Kakak mau menghadiri wisuda kang Yandri, Fayyadh kamu bawa kerja atau dititip ke ibu?" tanya Daniar.


"Sepertinya Nita enggak masuk kerja dulu, Kak. Lagi pula, enggak ada jadwal siaran juga," jawab Danita yang kembali bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta.


"Oh, ya sudah kalau gitu. Kakak tenang sekarang. Takutnya ganggu kerjaan kamu," jawab Daniar.


"Enggak, Kak. Kalau mau pergi, ya pergi saja Kak. Hari ini, 'kan hari bersejarahnya bang Yandri. Jangan sampai Kakak lewatkan momen ini," ucap Danita.


Daniar tersenyum. "Iya, Dek."


Pukul 06.15, Yandri telah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Namun, dia termenung saat melihat ban motornya gembos.


Ya Tuhan, pertanda apa lagi ini? batin Yandri.


Roni yang melihat Yandri sedang menatap kendaraannya, sedikit mengernyit saat raut muka sang kakak ipar terlihat kecut. "Kenapa,Bang?" tanya Roni.


Yandri terhenyak, dia kemudian menjawab pertanyaan Roni. "Ini, Ron. Bannya gembos."

__ADS_1


"Ya sudah, pakai motor Roni saja Bang," lanjut Roni.


"Memangnya enggak kamu pakai, Ron?" tanya Yandri.


"Kebetulan Nita enggak ada jadwal siaran, Bang. Lagian Roni juga harus pergi ke kantor dinas. Nanti dijemput Pak Haji, mau barengan juga," sahut Roni.


Yandri tersenyum. "Ya sudah, Abang pinjem dulu ya, motornya," kata Yandri


"Iya, pake aja!"


Pukul 06.30, akhirnya Yandri berangkat ke kampus seraya membonceng anak dan istrinya. Dia begitu senang sekali dengan keberhasilannya dalam meraih gelar sarjana. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Meski siang dan malam dia harus bekerja untuk memenuhi biaya kuliah dan kebutuhan dapur. Namun, rasa lelahnya terbayar sudah dengan pencapaian IPK Yandri yang cumlaude.


Dalam acara wisuda tahun ini, Yandri pun berhasil meraih penghargaan sebagai mahasiswa konversi pertama yang mampu menempuh s1 hanya setahun. Ribuan syukur dia ucapkan atas pencapaiannya.


Selepas acara wisuda selesai, Yandri mengajak Daniar ke rumah kakaknya. Dia hendak menjenguk Bu Maryam yang kabarnya kini tengah sakit. Yandri juga ingin berbagi kebahagiaan bersama ibu yang telah melahirkannya.


Tak ingin merusak momen kebahagiaan suaminya, Daniar terpaksa mengikuti keinginan Yandri. Meski dalam hatinya, Daniar memiliki firasat jika rumah tangganya akan kembali diterpa ketegangan.


"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri begitu tiba di rumah Aminah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Aminah. Sedetik kemudian, Aminah membuka pintu rumahnya.


"Eh, Yan. Dari mana, kok tumben rapi banget?" tanya Aminah.


Yandri mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang kakak, begitu juga dengan Daniar yang melakukan hal yang sama.


"Yandri baru pulang dari kampus, Kak. Abis wisudaan," jawab Yandri seraya membuka sepatunya.


"Alhamdulillah, selamat ya, Dek" ucap Aminah.


"Iya, Kak. Makasih. Oh iya, ngomong-ngomong, di mana ibu?" tanya Yandri.


"Akhirnya, ingat juga kamu sama Ibu, Nak. Ibu kira, kamu bakalan lupain Ibu karena Ibu tinggal di rumah Aminah," tukas Bu Maryam keluar dari kamarnya.


"Ish, kok Ibu ngomongnya gitu sih? Ini Yandri datang buat Ibu, sekalian mau nunjukin ijazah Yandri. Lihat Bu, Yandri mendapatkan nilai yang tertinggi di kampus" ucap Yandri seraya membuka map ijazahnya untuk menunjukkan nilai terbaik yang telah berhasil dia capai.


"Ish, percuma kamu perlihatkan ke Ibu. Lah wong Ibu ini buta aksara. Mana ngerti urusan ijazah-ijazah," jawab Bu Maryam.


Daniar tersenyum kecut. Ya Tuhan ...tidak bisakah dia berbahagia sedikit saja untuk anaknya, meskipun hanya sekadar berpura-pura? batin Daniar yang merasa kasihan mendengar jawaban ketus ibu mertuanya.


"Oh iya, Niar. Mia bilang kamu sengaja menyuruh suami kamu menghentikan saldo, supaya Mia enggak bisa jualan. Kenapa? Kamu enggak rela melihat suami kamu membantu adik kandungnya? Lagi pula, punya salah apa Mia sama kamu? Sampai-sampai kamu membenci dia. Ingat ya, Niar! Di dunia ini, ada ribuan mantan istri, tapi tidak ada satu pun yang namanya mantan saudara kandung!" tegas Bu Maryam, seolah sedang memojokkan menantunya.


Daniar terkejut. Ish, kenapa gua jadi sasaran pula? Dan itu ... apa? Ada banyak mantan istri? Apa maksudnya ini? Apa dia mencoba memisahkan gua sama anaknya, batin Daniar.


Daniar tersenyum sinis mendengar ucapan sang mertua yang kembali menyudutkan dirinya.


"Ah iya, Ibu benar ... di dunia ini, sudah ribuan bahkan ratusan ribu seorang wanita yang telah menjadi mantan istri. Dan mungkin, Niar akan menjadi salah satu dari sekian ratus ribu mantan istri. Apa Ibu pikir, Daniar bangga menjadi istrinya kang Yandri? Enggak, Bu! Jujur, Daniar sangat berterima kasih karena selama 6 tahun ini kang Yandri sudah menjadi imam Daniar. Meskipun bukan suami terbaik yang bisa memprioritaskan anak istrinya. Dan untuk kesalahan Mia yang Ibu tanyakan, Ibu bisa bertanya sendiri kepada menantu kesayangan Ibu itu. Daniar bukan malaikat, Bu. Ya, Niar membenci Mia, membenci sikap Mia yang selalu memutarbalikkan fakta. Dia pernah menggosipkan jika Daniar hamil duluan sebelum menikah dengan Kang Yandri. Apa itu bukan sebuah kesalahan? Cukup, Bu. Dan asal Ibu tahu, Daniar tidak pernah menyuruh kang Yandri menghentikan deposit untuk Mia. Meskipun jujur saja, Niar kecewa saat kang Yandri lebih memilih membantu perekonomian adik iparnya dibandingkan kesehatan anaknya sendiri. Bintang sakit, terkapar tidak berdaya, tapi kang Yandri tidak sanggup membawanya ke dokter. Semua itu karena apa, Bu? Karena putra Ibu ini lebih mementingkan perut Mia dan anaknya dibandingkan kesembuhan darah dagingnya sendiri! Sudah cukup, Bu! Ibu tidak bisa menyudutkan Daniar lagi. Detik ini juga, Niar serahkan putra Ibu. Niar sudah tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga yang sudah tidak sehat. Permisi!"

__ADS_1


Hati Daniar begitu sakit di saat ibu mertuanya menyalahkan dia dan terus membela menantu bungsunya. Pada akhirnya, Daniar menyerah. Dia sudah benar-benar lelah hidup bersama suami yang tidak pernah bisa membedakan mana yang wajib dan mana yang sunnah. Air mata sudah tidak mampu dia bendung lagi. Tak ingin terlihat lemah di mata suami dan keluarganya, Daniar segera angkat kaki dari rumah Aminah.


Cukup, Kang ... sudah cukup ....


__ADS_2