Setelah Hujan

Setelah Hujan
Kabar Duka


__ADS_3

Hati Daniar menjerit. Pada akhirnya, kata perpisahan lolos juga dari bibir Daniar. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Daniar sendiri tidak begitu yakin apa dia sanggup hidup tanpa suaminya? Namun, perkataan ibu mertua telah menyulut percikan api yang awalnya selalu Daniar padamkan.


Yandri bergeming. Dia tidak menyangka jika Daniar bersikap seperti itu. Tidak! Bukan ini yang dia harapkan di hari kebahagiannya. Untuk sejenak, Yandri termenung. Masih mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir istrinya.


"Ayaaah! Bibin mau sama Ayah!" jerit Bintang seraya meronta-ronta agar ibunya melepaskan dia dari pangkuan.


Jeritan Bintang seketika membuyarkan lamunan Yandri. Tanpa permisi, dia segera keluar untuk mengejar anak istrinya.


Aku tidak boleh membiarkan Daniar pergi. Rumah tanggaku bukan hanya untuk sesaat. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mempertahankan ikatan suci ini, kata hati Yandri seraya terus berlari mengejar Daniar.


Tak ayal lagi, sikap Yandri tentu saja membuat Bu Maryam sangat kecewa. Dia masih tidak bisa menerima keputusan Yandri yang mengejar istrinya. Seolah tindakan anaknya tersebut mengisyaratkan jika dia telah kehilangan hak atas diri sang anak.


Astaghfirullah, Yan ... kenapa kamu lebih memilih dia dibanding Ibu yang telah melahirkan kamu? batin pilu Bu Maryam.


"Berhenti, Bun! Kasihan Bintang!" teriak Yandri berusaha menghentikan langkah Daniar.


Namun, Daniar tidak menggubris teriakan Yandri. Dia sama sekali tidak berniat menoleh saat Yandri menjerit entah karena apa. Daniar merasa jika tekadnya akan merapuh jika dia melihat kembali wajah teduh Yandri yang selalu menerima semua hinaan kakaknya dengan lapang dada.


"Bunda, Ayah mohon ... Ayah tahu Ayah salah. Namun, jangan jadikan Bintang sebagai alat untuk membalas kesalahan Ayah, Bun. Ayah tidak akan sanggup hidup tanpa kalian. Ayah mohon, tarik kembali semua ucapan Bunda. Ayah tidak pernah ingin pergi dari hidup kalian," tutur Yandri, masih setia mengikuti Daniar.


Namun, sekali lagi Daniar tidak menghiraukan permohonan Yandri. Tekadnya untuk berpisah dari Yandri sudah begitu kuat. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar ucap lirih pria beranak satu itu.


Grep!


Yandri mencekal pergelangan Daniar. Mencoba menghentikan langkah sang istri agar bisa saling bicara.


"Apa, Yah? Apa lagi yang Ayah kehendaki dari Niar? Apa Niar harus mempertahankan rumah tangga yang selalu diterpa badai dari keluarga Ayah? Apa Niar harus terus menerima semua perkataan ibu yang selalu menyudutkan Niar? Apa Niar harus terus mengalah?" teriak Daniar seraya berusaha melepaskan tangannya.


"Maaf, Yah. Ini satu-satunya jalan Niar untuk membela diri. Jika bukan Niar yang membela kehormatan Niar sendiri, lantas siapa lagi yang akan membela Niar? Toh selama ini Ayah hanya bisa diam saja. Ayah selalu manut pada perkataan Ibu, 'kan? Ayah tidak pernah tahu bagaimana sikap ibu kepada Niar. Jujur, Niar cape, Yah! Hidup Niar bukan untuk mempertahankan hal yang salah!" sahut Daniar panjang lebar saat Yandri memohon untuk tidak meninggalkannya.


"Justru ini, Bun!" jawab balik Yandri dengan nada yang mulai meninggi. "Justru ini yang mereka inginkan. Ini yang dari awal ibu inginkan. Supaya kita berpisah. Jadi Ayah mohon ... jangan biarkan ibu menang. Jangan biarkan kak Habibah, Yoga dan Raihan menertawakan kita. Ayah mohon, bantu Ayah. Bersabarlah, Bun," ucap Yandri pilu.


Daniar terhenyak mendengar perkataan Yandri. "A-apa maksud Ayah?" tanya Daniar, heran.


Kedua lutut Yandri terasa lemas saat menyadari jika dirinya memang selalu dihantui dilema. Seketika, pria jangkung itu ambruk dan terduduk di tanah. Wajahnya menunduk pertanda dia begitu rapuh menghadapi dilemanya.

__ADS_1


Daniar ikut berjongkok. Dia semakin penasaran ketika melihat sikap Yandri seperti orang yang tidak pernah berdaya.


"Tolong katakan Yah, apa sebenarnya maksud dari ucapan Ayah barusan?" desak Daniar. "Apa ibu tidak merestui pernikahan kita?" tanya Daniar mencoba menebak.


Yandri mendongak. Perlahan dia menganggukkan kepala pertanda membenarkan tebakan Daniar.


Sontak Daniar pun terduduk saat melihat jawaban Yandri. Tangisan Bintang yang semakin kencang tidak bisa membuat Daniar bertahan dari kehancuran hatinya.


"Kenapa, Yah? Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan semuanya dari awal? Jika ibu memang tidak pernah setuju, aku tidak akan pernah memaksakan diri untuk memasuki kehidupan kamu," ratap Daniar.


Yandri meraih Bintang yang masih menangis histeris. Dia memeluk Bintang dengan erat. Memberikan sebuah tindakan verbal agar anaknya tahu jika dia akan selalu melindunginya.


"Maafkan Ayah, Bun. Jujur, Ayah sendiri tidak pernah tahu jika ibu tidak merestui hubungan kita. Ayah baru sadar akan hal itu ketika kita telah menjalani pernikahan selama tiga bulan. Saat itu, ibu meminta Ayah untuk menceraikan kamu," tutur Yandri.


Penuturan Yandri membuat Daniar kembali terkejut. Dia tidak pernah menyangka jika mertuanya tega melakukan hal seperti itu.


"Lantas, kenapa Ayah tidak menuruti keinginan ibu? Kenapa Ayah tidak menceraikan Niar?" tanya Daniar begitu dingin. "Apa Ayah sengaja ingin membuat hidup Niar menderita?" tuduhnya.


"Tidak, Bun. Demi Tuhan, Ayah sama sekali tidak memiliki niat untuk membuat hidup Bunda menderita. Ayah mencintai Bunda, karena itu Ayah tidak ingin menuruti keinginan ibu. Ayah sudah berjanji untuk selalu menjaga ikatan yang kita bina. Selama ini Ayah diam karena Ayah tidak ingin menjadi anak durhaka. Namun, Ayah juga tidak akan mengkhianati ikatan suci ini hanya karena keegoisan ibu. Jadi Ayah mohon, bantu Ayah. Bersabarlah, dan jangan biarkan mereka menang, Bun. Ayah mohon ...."


Daniar seketika memeluk Yandri. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapati dua fakta yang berbanding terbalik. rasa cinta suaminya yang begitu tulus, dan juga kebencian ibu mertuanya yang begitu besar. Entah apa salah Daniar sehingga ibu mertuanya tidak bisa menerima kehadirannya.


Daniar hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab semua perkataan sang suami.


.


.


Sebulan telah berlalu dari tragedi yang membuat Daniar sempat salah paham terhadap sikap Yandri. Namun, Daniar bersyukur jika pada akhirnya, kejadian itu lebih memperkuat rasa cinta di antara mereka.


Minggu siang. Kediaman Bu Salma terlihat sepi karena penghuninya tengah beristirahat di kamar masing-masing. tiba-tiba saja, dering telepon di rumah Bu Salma terdengar begitu nyaring. Danita yang sedang mengangkat jemuran, segera memasuki rumah untuk mengangkat telepon.


"Assalamu'alaikum!" sapa Danita sesaat setelah mengangkat gagang telepon.


Tidak ada jawaban salam dari si penelepon. Yang ada, hanya isak tangis yang begitu menyayat hati.

__ADS_1


"I-ibu?" tebak Danita yang mengenali suara ibunya. "Ada apa, Bu? Ke-kenapa Ibu menangis?" Danita semakin kebingungan saat mendengar suara tangis ibunya yang semakin kencang.


"Wak ... hiks ...wak Hajjah Mi-minah, Dek ... wak Hajjah ...."


Bu Salma tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Dia kembali menangis tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


"A-apa nek Hajjah Minah me-meninggal?" Danita mencoba menebak situasi yang tengah terjadi di seberang telepon.


Sudah hampir seminggu Hajjah Minah dirawat di rumah sakit Bandung. Saat mendengar ibunya menangis, Danita menyimpulkan jika sesuatu yang buruk memang tengah terjadi di sana.


"I-iya, Dek. Wak Hajjah Minah sudah tiada. Sekarang juga, tolong kamu sama kakakmu pergi ke rumah wak Hajjah Minah. Begitu jenazah selesai dimandikan, Ibu sama anak-anaknya wak Hajjah akan segera pulang ke Tasik."


"Jadi, nek Hajjah akan dimakamkan di sini, Bu?" tanya Danita.


"Iya, Dek. Tolong kamu bilang sama abang kamu untuk mengurus makamnya. Berdekatan dengan kakek Haji ya, Nak," pinta Bu Salma.


"Baik, Bu. Nanti Nita sampaikan sama bang Yandri," sahut Danita.


"Iya, makasih ya Dek. Kalau begitu, Ibu tutup teleponnya," pungkas Bu Salma.


Dengan berderai air mata, Danita meletakkan kembali gagang telpon. Dia kemudian pergi ke kamar Daniar untuk menyampaikan pesan ibunya kepada Yandri. Danita mengetuk pelan pintu kamar Daniar.


"Masuk!" perintah Daniar dari dalam kamar.


Danita membuka pintu. Seketika dia menghambur memeluk kakaknya dan menangis.


Daniar mengernyit, "Ada apa, Dek?" tanyanya.


"Nek ... nek Hajjah Minah meninggal, Kak," jawab Danita di sela-sela isak tangisnya.


"A-apa?! Si-siapa yang bilang?" tanya Daniar terkejut.


"Barusan ibu menelepon. Dia meminta kita untuk membereskan rumah nek Hajjah karena jenazahnya akan dimakamkan berdampingan dengan kakek Haji. Ibu juga meminta bang Yandri untuk mengurus pemakamannya," jawab Danita.


"Ya sudah, Kakak bangunkan dulu abang kamu. Setelah itu kita berangkat ke rumah nek Hajjah. Bersiaplah!" perintah Daniar kepada adiknya.

__ADS_1


Danita mengangguk. Dia kemudian keluar dari kamar Daniar untuk berkemas. Setelah adiknya pergi, Daniar segera membangunkan suaminya untuk menyampaikan kabar duka ini.


Jiwa Daniar seakan melayang saat mengenang kembali kebaikan Hajjah Minah dalam membiayai kuliahnya dulu. Ya Tuhan ...semoga Engkau memberikan tempat yang terbaik untuk nek Hajjah. Aamiin. Do'a Daniar dalam hatinya.


__ADS_2