
Berulang kali Seno memukul kemudi untuk melampiaskan kekesalannya. Sikap lancang Yandri yang telah menyentuh Daniar, membuat hati Seno menjadi ragu. Apa mungkin berita yang disampaikan detektif itu tidak akurat?
Ya, Aldi benar. Daniar bukan tipe wanita rendahan yang mau disentuh oleh siapa saja. Apalagi di depan umum. Tapi tadi? Seno sendiri bisa melihat jika Daniar sama sekali tidak menolak ciuman laki-laki itu. Bahkan terlihat seperti menikmatinya.
"Ish, dasar detektif bodoh!" dengus Seno, kembali memukul kemudi.
Kring-kring!
Dering ponsel di atas dashboard memaksa Seno menepikan kendaraannya. Seno kemudian meraih ponselnya dan segera menggeser tombol jawab.
Seno : "Halo, Ma!"
Bu Frida : "Kamu di mana?"
Seno : "Tasik."
Bu Frida : "Aih, ngapain kamu di Tasik, Sen? Mengejar wanita itu lagi?"
Dari nada suaranya, Bu Frida terlihat sangat kesal saat mengetahui keberadaan Seno saat ini.
Seno : "Sudahlah, Ma ... jangan mulai lagi. Seno capek! Lagi pula, semua ini bukan urusan Mama."
Bu Frida : "Semuanya akan menjadi urusan Mama kalau sesuatu terjadi sama anak kamu!"
Bu Frida sedikit berteriak di ujung telepon.
Seno : "Apa maksud Mama?"
Bu Frida : "Maksud Mama, istri kamu sedang berada di rumah sakit sekarang. Dia mengalami flek karena terus-terusan kamu bikin stress. Cepat pulang, atau Mama bakalan adukan semua kelakuan kamu sama mertua kamu!"
Karena tak habis pikir dengan sikap anaknya, Bu Frida pun melayangkan ancaman agar Seno bisa kembali ke rumah secepatnya.
Seno : "Iya-iya, sekarang juga Seno sedang berada dalam perjalanan pulang. Mama shareloc saja lokasi rumah sakit tempat Shakila di rawat. Nanti Seno langsung datang ke rumah sakit itu."
Bu Frida : " Oke, Mama shareloc sekarang. Tapi ingat, jangan sampai terlambat!"
Seno : "Iya Ma, iya."
.
.
Sementara itu, Yandri yang merasa khawatir dengan keadaan Daniar, menawarkan diri untuk mengantarkan Daniar pulang. Namun, Daniar menolak halus tawaran Yandri.
"Kamu yakin bisa pulang sendiri, Yar?" tanya Yandri memastikan.
__ADS_1
"Iya, aku yakin Yan," jawab Daniar.
"Tapi, aku khawatir sama kamu Yar. Lebih baik, aku antarkan kamu pulang deh," tukas Yandri.
"Ish, beneran Yan, nggak usah. Aku bisa kok pulang sendiri. Lagi pula ..." Daniar menggantungkan kalimatnya saat dia menyadari dia hampir keceplosan berbicara.
"Lagi pula? ulang Yandri, "lagi pula kenapa, Yar?" lanjut Yandri semakin penasaran.
"Lagi pula, malam ini kami ada janji temu dengan seseorang," ucap Daniar sambil menundukkan kepalanya.
"Oh, bertemu calon," tukas Yandri.
Entah kenapa, Yandri merasa tidak suka saat mengetahui Daniar hendak bertemu dengan seorang laki-laki pilihan kedua orang tuanya. Namun, Yandri sadar jika dia tidak memiliki hak apa pun untuk mengatur kehidupan Daniar.
Begitu juga dengan Daniar. Dia hanya mampu menundukkan wajah saat harus mengatakan sesuatu yang akan membuat dirinya kecewa. Takut kekecewaan itu terpancar jelas dan menimbulkan kesalahpahaman, akhirnya Daniar menundukkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggu kamu sampai angkot kamu datang," pungkas Yandri.
Meskipun Yandri sedang berada dalam mode kecewa, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Daniar sendirian di jalanan. Yandri masih setia menunggu Daniar hingga wanita itu menaiki angkotnya.
Daniar melambaikan tangan kepada Yandri, sesaat setelah angkot itu melaju. Dan Yandri hanya tersenyum tipis melihat hal tersebut.
.
.
Semua orang tampak sibuk mempersiapkan diri. Mereka hendak berangkat ke sebuah restoran terkenal, untuk memenuhi jamuan makan malam dari seorang laki-laki yang Bu Salma kenal beberapa waktu yang lalu.
"Kamu harus dandan yang cantik Niar, biar bisa membuat calon kamu dan calon ibu mertuamu terkesan," ucap Bu salma saat merapikan pakaian Daniar.
"Memangnya, selama ini Niar enggak cantik ya, Bu?" gurau Daniar.
"Ish, bukan seperti itu, Niar," tukas Bu Salma, "Ibu hanya tidak mau mereka menilai kita buruk hanya karena melihat kita semrawut," tukas Bu Salma.
"Hmm, jangan lihat sampulnya, Bu, kalau baca buku." Daniar terlihat kesal mendengar jawaban Bu Salma.
'Tetap saja, Niar. Cover yang menarik, maka itu yang akan orang pilih untuk dibaca." Bu Salma tak mau kalah.
"Sudah-sudah, malah berdebat seperti ini. Ayo kita pergi, ini sudah hampir jam 7 malam." Tiba-tiba Pak Fandi sudah berdiri di ambang pintu dan menengahi perdebatan mereka.
"Iya, Yah. Niar sudah pesan taksi online kok. Mungkin ..." Daniar meraih ponselnya, "dalam waktu tiga menit lagi, taksinya datang," lanjut Daniar.
"Ya sudah, cepat selesaikan riasan kamu. Ayah tunggu taksinya di depan. Segeralah turun jika kalian sudah siap. Ini malam Minggu, jalanan pasti sangat macet. Kalian enggak mau, 'kan, terjebak macet?" tanya Pak Fandi.
"Ngomong apa sih, Ayah. Tentu saja kita enggak mau macet-macetan. Huh, bisa luntur make up Ibu," dengus Bu Salma.
__ADS_1
"Mangkanya, buruan!" pungkas Pak Fandi seraya berlalu pergi dari hadapan istri dan anaknya.
Beberapa menit berlalu. Setelah siap, akhirnya Daniar dan Bu Salma berjalan beriringan menuruni anak tangga satu per satu. Tiba di halaman depan, mereka sudah melihat sebuah mobil terparkir di halaman depan.
"Sepertinya taksinya sudah datang, Bu," ucap Daniar.
"Iya, Niar. Buruan yuk! Ayah kamu bisa ngedumel lagi kalau kita terlambat," ajak Bu Salma.
Daniar mengangguk. Ibu dan anak itu berjalan menuju taksi yang sudah Pak Fandi naiki. Beberapa detik kemudian, taksi keluar dari halaman rumah menuju tempat yang dituju, yaitu restoran Imah Sunda.
Perjalanan dari rumah menuju restoran tersebut menghabiskan waktu selama 45 menit. Namun, karena terjebak macet, akhirnya Daniar dan keluarga, terlambat sepuluh menit dari waktu yang telah ditentukan.
Tiba di Imah Sunda, Bu Salma sedikit tersenyum saat melihat meja yang dipesan, masih terlihat kosong. Itu artinya, orang yang hendak menjamu mereka, belum datang.
Syukurlah, jadi kita nggak merasa malu karena sudah datang terlambat. Monolog Bu Salma dalam hatinya.
Bu Salma mengajak putri dan suaminya menuju meja tersebut. Tak berapa lama setelah mereka duduk, seorang pelayan menghampiri mereka.
"Mau pesan apa, Pak, Bu dan Mbak-nya?" tanya pelayan itu, sopan.
"Nanti saja, Mas. Kami masih menunggu tamu kami," ucap Bu Salma.
"Ah iya, saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu," pamit pelayan itu.
Daniar dan keluarganya hanya tersenyum dan mempersilakan pelayan tersebut untuk kembali ke tempatnya.
Sambil menunggu tamunya, keluarga kecil itu pun berbincang-bincang tentang banyak hal. Hingga tanpa terasa, malam sudah semakin larut. Berkali-kali Daniar menguap. Dia merasa lelah. Terlebih lagi, tenaganya telah terkuras emosi pada saat bertemu dengan Seno tadi sore.
Pak Fandi melirik jam tangannya. Laki-laki paruh baya itu cukup terkejut saat menyadari penunjuk waktu telah berhenti di angka 9.
"Tamunya Ibu mana? Kok belum datang juga," tanya Pak Fandi yang sudah merasa kesal menunggu.
"Entahlah Yah, mungkin terjebak macet di jalanan," jawab Bu Salma.
"Tapi ini sudah terlalu malam loh, Bu
Apa Ibu tidak merasa kasihan kepada Daniar yang sudah berulang kali menguap?" tanya Pak Fandi yang menjadikan rasa kantuk Daniar menjadi sebuah alasan.
"Iya Yah, Ibu ngerti. Kita tunggu sebentar lagi ya Yah, Niar?" pinta Bu Salma.
Pak Fandi mengalah, dia akhirnya mengabulkan permintaan sang istri. Pak fandi pun melanjutkan obrolan kecilnya bersama sang anak.
Setengah jam berlalu. Tiba-tiba saja, ponsel Bu Salma berdering pertanda ada pesan masuk. Sontak Bu Salma meraih dan membuka pesan whatsapp.
Maaf, Bu. Acara makan malamnya kita undur saja. Saya harus pergi ke Lampung untuk pekerjaan saya.
__ADS_1
Raut wajah Bu Salma berubah merah setelah selesai membaca pesan tersebut. Rasa kesal dan marah bergemuruh menjadi satu di dalam hatinya. Lagi-lagi, dia harus kembali menuai kecewa karena terlalu berharap pada laki-laki yang baru saja dikenalnya
"Benar-benar keterlaluan kamu, Robert!"