
Yandri mulai menuruni tangga pesawat satu per satu. Tiba di lobi bandara, sopir khusus dari pihak sekolah telah menunggunya. Hmm, begitu istimewa penghargaan terhadap seorang guru di tempatnya dia bekerja. Yandri pun bersyukur akan hal itu. Setelah Yandri naik, mobil jemputan itu, melaju menuju sekolah asrama.
Yandri menatap jejeran pohon jati di sepanjang jalan. Setelah hampir dua tahun, tidak ada yang berubah dari jalanan yang sering dia lalui saat pulang dan kembali ke tempat kerja. Tiba-tiba Yandri teringat akan keluarga kecilnya. Kerinduan di dadanya pun sudah semakin meluap.
Hmm, mungkin setelah ini, aku bisa mengajukan resign dan mengajar di universitas di Tasik saja, batin Yandri.
Setelah melewati satu jam perjalanan, akhirnya Yandri tiba di pintu utama boarding school. Di sini pun, penyambutan kembali terjadi. Mobil yang dikendarai Yandri, diapit dua buah mobil yang body-nya sedikit lebih kecil. Setelah itu, ketiga mobil itu berjalan menuju asrama sekolah.
Podium kecil sudah tersedia di depan sekolah. Para ustadz ustadzah telah berjejer rapi. Tak ketinggalan juga dengan para siswa yang sudah berbaris untuk menyambut kedatangan Yandri.
Saat mobil Yandri berhenti, dan Yandri keluar dari pintu belakang. Ustadz Bukhori menghampiri Yandri sembari membawa kalungan bunga. Sedetik kemudian, Ustadz Bukhori mengalungkan rangkaian bunga tersebut ke leher Yandri. Tepuk tangan riuh dari para guru dan juga anak-anak, menyambut kedatangan Yandri penuh sukacita.
Yandri merasa terharu mendapatkan sambutan dari atasan, rekan kerja dan para muridnya. Rasanya, penghargaan ini begitu besar bagi seorang pemuda kampung seperti Yandri Gunawan.
"Selamat datang kembali Ustadz Yandri!" Sambut ustadz Bukhori.
"Syukron, Ustadz," jawab Yandri sedikit serak karena rasa haru.
Sesaat kemudian, lagu Indonesia raya tiga stanza pun mulai menggema di depan sekolah.
.
.
Daniar mulai menekuni bisnis kuenya. Kini, kue-kue basah itu diberikan label Stars Bakery agar para pelanggan bisa dengan mudah mengingatnya.
Dengan usahanya yang gigih, kini Daniar sudah memiliki dua orang karyawan untuk membantunya memenuhi orderan yang membludak.
__ADS_1
Usaha Daniar berkembang cukup pesat. Meskipun baru berjalan beberapa bulan. Namun, omset yang Daniar raup per bulan, cukup untuk membayar semua biaya pengeluaran bulanan. Bahkan, Daniar bisa menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk menabung. Tentunya setelah dia membayar gaji kedua karyawannya.
"Bu, Ratih dengar ... di daerah Nagarawangi belum ada toko kue tuh," ucap Ratih salah satu karyawannya.
"Nagarawangi? Emh ... bukankah tempat itu cukup dekat dengan SMKN Panca, ya?" Daniar balik bertanya.
"Benar, Bu. Masih satu kecamatan juga," sahut Ratih. "Kalau tidak salah sih, hanya tinggal menyeberang saja dari perempatan lampu merah," imbuhnya.
"Apa kamu tahu ruko yang kosong di sana, Rat?" tanya Daniar lagi.
"Sebenarnya Ratih enggak tahu sih, Bu. Tapi Ratih bisa cari tahu lewat saudara Ratih yang tinggal di sana," jawab Ratih, mencoba menawarkan diri untuk mencari peluang usaha di tempat itu.
"Baiklah, Rat. Aku tunggu kabar darimu. Kalau bisa secepatnya, supaya Bintang tidak harus nge-kost untuk sekolah. Jujur saja, aku sangat khawatir, Rat. Maklum, zaman sudah berbeda sekarang. Ada banyak kasus kejahatan di zaman sekarang. Dan aku benar-benar mencemaskan keadaan putriku yang harus tinggal jauh dariku," tutur Daniar panjang lebar.
"Iya, Ibu benar. Akan Ratih usahakan supaya bisa mendapatkan kabar baik secepatnya," jawab Ratih.
"Iya, Rat. Kalau bisa, sebelum bintang masuk sekolah SMKN Panca, ya," pinta Daniar.
.
.
Sudah seminggu Yandri menjalani aktivitas kembali di sekolah asrama. Kerinduan di hati Yandri terhadap anak dan mantan istrinya, sudah tidak mampu dia bendung lagi. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dan menyerahkannya kepada kepala sekolah, besok.
Keesokan harinya. Yandri pergi ke ruang kepala sekolah untuk menyerahkan surat ajuan pengunduran diri kepada ustadz Bukhori. setelah mengetuk pintu dan meminta izin berbicara, Ustadz Bukhori pun meminta Yandri untuk mengungkapkan alasan dia menemuinya.
Tanpa banyak bicara, Yandri menyodorkan sebuah amplop panjang yang berisi surat pengundurannya. untuk sejenak, Ustadz Bukhori mengambil amplop tersebut untuk dibacanya.
__ADS_1
"Apa ini Ustadz Yandri?" tanya Ustadz Bukhori seraya menautkan kedua alisnya.
Itu surat pengunduran diri saya, Ustadz. Saya paham jika mungkin Ustadz berpikir saya sudah seperti kacang lupa kulitnya. Namun, jujur saja Ustadz ... sudah hampir dua tahun saya tidak bertemu dengan keluarga. Saya begitu ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Karena itu, saya memutusan untuk resign dan mencari pekerjaan di kampung halaman," papar Yandri.
"Jujur saja Ustadz Yandri, saya tidak pernah berpikir seperti itu. Saya menahan Ustadz karena sebagai seorang pimpinan, saya membutuhkan bawahan seperti Ustadz yang berdedikasi tinggi kepada pekerjaan. Jika memang Ustadz merindukan keluarga Ustadz, saya akan memberikan Ustadz cuti selama satu bulan penuh. Ditambah lagi cuti akhir tahun pelajaran satu bulan. Jadi, Ustadz memiliki waktu yang cukup lama untuk bercengkerama dengan keluarga. Karena keputusan ketua yayasan sudah bulat. Untuk tahun ajaran berikutnya, Ustadz Yandri dipindahtugaskan menjadi dosen di kampus kita," jawab ustadz Bukhori panjang lebar.
Yandri tersenyum lebar mendapatkan waktu cuti yang cukup lama. Jika memang dipikirkan, semuanya akan kembali dari awal kalau sampai Yandri memutuskan untuk resign.
"Baiklah Ustadz, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih untuk cuti panjangnya," kata Yandri.
"Sama-sama Ustadz. Untuk jadwal cutinya, silakan Ustadz Yandri temui bagian perizinan silah," balas ustadz Bukhori.
.
.
Tuhan memang selalu memiliki rencana yang indah. Di saat Daniar merasa resah karena terpaksa mengizinkan putrinya nge-kost, saat itu pula Tuhan membuka jalan kepada Daniar untuk membuka toko kue di wilayah kota.
"Alhamdulillah ... akhirnya kita bisa mewujudkan impian kita ya, Bun," ucap syukur Bintang saat melihat seorang tukang, sedang memasang papan nama di atas pintu masuk toko kue ibunya.
"Iya, Alhamdulillah Bin. Semoga ini menjadi awal yang lebih baik supaya kita bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah sendiri," timpal Daniar.
"Aamiin," sahut kedua karyawan Daniar.
"Tapi Bu, Ratih dengar, ruko ini bakalan dijual, loh. Hanya saja, si pemiliknya ingin menjual ruko ini berikut rumah besar yang ada di belakangnya. Konon katanya, semua ini warisan yang akan dibagi-bagi kepada ahli warisnya," kata Ratih.
"Benarkah?" tanya Daniar yang entah kenapa seperti ada magnet tersendiri untuk bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Beneran kok, Bu," jawab Ratih.
"Ya sudah, kalian berdoa saja yang khusu. Semoga ruko ini bisa kita miliki. Untuk saat ini, kita fokus ke toko kue saja. Semoga di acara launching Stars Bakery besok, semuanya dilancarkan. Aamiin," pungkas Daniar yang diamini oleh Bintang dan kedua karyawannya.