
"Ibu, Aji mohon ... dengarlah dulu penjelasan Aji," pinta Aji kepada ibu mertuanya.
"Apalagi yang akan kamu jelaskan, Ji? Ibu sudah melihat dengan mata kepala Ibu sendiri, jika kamu menelantarkan istri kamu di rumah. Bahkan, kamu sendiri tidak sadar, 'kan, kalau istri kamu buang air besar? Itu karena apa, Ji? Karena kamu memang tidak pernah tulus merawat istri kamu!" ucap Bu Maryam dengan nada yang mulai meninggi.
Aji menarik napasnya. "Iya. Aji akui, memang benar Aji tidak mengetahui jika Khodijah buang air besar. Karena sewaktu Aji pergi, Khodijah sama sekali tidak mengeluh ingin pergi ke kamar mandi. Mungkin memang di mata Ibu, perginya Aji keluar rumah, itu merupakan kesalahan besar. Namun, Aji sendiri bingung harus bagaimana, Bu. Tadi Aji mendapatkan kabar jika Haikal muntah-muntah di sekolah Diniyah. Aji ke sana untuk melihat keadaan Haikal, Bu. Dan sekarang Haikal sedang berada di puskesmas. Aji terpaksa menitipkan Haikal kepada uwaknya karena Aji harus mengurusi Khodijah. Aji mohon, pahami posisi Aji, Bu. Jangan menyudutkan Aji hanya karena satu kesalahan yang Ibu lihat," tutur Aji, lirih.
Jujur saja, Aji sendiri merasa tersinggung saat ibu mertuanya menyalahkan dia tanpa ingin mendengarkan alasannya. Namun, Aji sadar ... tidak akan mudah bagi Aji untuk meyakinkan ibu mertuanya. Karena itu Aji hanya bisa pasrah jika setelah semua ini, ibu mertuanya bersikukuh untuk membawa istrinya.
"Iya, Bu. Mungkin Kang Aji memang punya alasan yang kuat, kenapa sampai tega meninggalkan Kak Dijah sendirian. Sebaiknya jangan diperbesar lagi, bu. Mungkin ini hanya sekadar salah paham saja," timpal Bahar.
"Cukup, Bahar! Ibu tidak sedang meminta pendapat kamu. Jadi, diamlah!" perintah Bu Maryam kepada menantu ketiganya.
Bahar hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Aji, dia hanya bisa diam seribu bahasa.
"Sudah Ibu bilang, Ibu tidak butuh penjelasan apa pun dari kamu. Apa yang Ibu lihat, itu adalah faktanya. Jadi, cepat bereskan pakaian anak ibu!" Bu Maryam kembali berteriak kepada menantunya.
Khodijah menatap Aji. Dia merasa kasihan kepada pria malang yang harus mengurus rumah sendirian. Mengurusi anak dan juga dirinya. Padahal, kewajiban laki-laki yang sedang berdiri mematung itu hanya satu, yaitu mencari nafkah. Sejak dirinya sakit, peran Aji pun semakin bertambah.
Karena tidak ingin menjadi beban, akhirnya Khodijah memutuskan untuk ikut pulang bersama ibunya.
"Pu ... lang," ucap Khodijah, pelan.
Aji cukup terhenyak mendengar ucapan lirih sang istri. Dia kemudian mendekati khodijah dan duduk di sampingnya. Tangan Aji terulur untuk mengusap pucuk kepala istrinya.
"Tolong jangan katakan itu, Dek. Akang masih sanggup mengurus kamu. Tadi, Akang cuma pergi ke sekolah Haikal saja. Kamu bersabarlah, Akang sedang berusaha untuk mengobati kamu, supaya kamu bisa segera sembuh," tutur Aji yang matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat suaminya menangis, Khodijah pun tidak tega untuk berpisah darinya. Namun, ketika dia teringat kondisinya saat ini, dia pun kembali mengutarakan keinginannya untuk pulang.
__ADS_1
"Baiklah, Akang izinkan kamu ikut ibu. Namun, bukan untuk selamanya, Dijah. Jika kamu memang ingin beristirahat dan menenangkan diri di rumah Ibu, Akang pasti izinkan, tapi bukan untuk tinggal di sana selamanya. Ngerti, 'kan maksud Akang?" tutur Aji
Perlahan, Khodijah hanya menganggukkan kepala.
"Ya sudah, ayo cepat bereskan baju Khodijah!" Kembali Bu Maryam memberikan perintah.
Aji menghela napas. "Aji izinkan Dijah pulang, tapi bukan berarti harus berangkat hari ini, Bu," balas Aji.
"Ish, apalagi yang kamu inginkan Aji? Jika istri kamu ingin kembali pada ibu, kenapa harus dihalang-halangi?" tuding Bu Maryam.
Aji, si pria sabar itu hanya tersenyum kecut mendengar tudingan dari ibu mertuanya.
"Aji tidak bermaksud menghalangi, Bu. Tapi jangan pergi di minggu ini. Karena minggu ini, Aji sudah membuat janji dengan orang yang akan mengobati Khodijah," papar Aji.
Aji kembali menatap istrinya. "Kamu bisa bersabar, 'kan, Sayang?" tanya Aji.
.
.
Saat jam istirahat kedua, Yandri yang biasanya melakukan salat dzuhur di masjid, kini hanya bisa menunaikan kewajibannya di ruang TU. Selesai salat, Yandri kembali ke meja kerjanya. Tumpukan pekerjaan yang dia lihat di meja kerja, sudah membuat kepala Yandri terasa berat.
Berulang kali Yandri menggelengkan kepala. Berharap rasa sakit di kepalanya berangsur menghilang. Namun, semakin Yandri menggelengkan kepala dengan cepat, denyutan di kepalanya malah semakin hebat.
Yandri membuang napas dengan kasar. Dia pun menengadah seraya memejamkan mata. Bulir keringat dingin sebesar biji-biji jagung, mengucur deras di kedua pelipisnya.
Awalnya, Ustadz Bukhori merasa tidak yakin akan laporan yang dibawa anak buahnya kemarin pagi. Namun, saat dia memasuki ruang guru karena ada keperluan dengan salah satu guru, Ustadz Bukhori menyaksikan langsung bagaimana ekspresi kesakitan yang sedang ditahan oleh Yandri.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Ustadz?" tegur Ustadz Bukhori
"Ustadz!" Yandri lngsung menegakkan tubuh saat melihat atasannya sudah berdiri di depan meja kerjanya.
Ustadz Bukhori menarik kursi di hadapan meja kerja Yandri. Dia kemudian duduk. Menatap lekat ke arah Yandri, seolah sedang menelisik raut wajah Yandri yang sedikit pucat.
"Apa Ustadz sedang sakit?" tanya Ustadz Bukhori kepada Yandri.
"Emh, ti-tidak Ustadz ... hanya sedikit pusing saja," jawab Yandri, sedikit gugup.
"Saya, 'kan sudah bilang, jika memang belum pulih benar, Ustadz Yandri enggak usah memaksakan diri untuk bekerja. Toh pihak yayasan juga pasti memahami kondisi Ustadz," tutur Ustadz Bukhori.
Yandri hanya tersenyum tipis.
"Sudah, sekarang sebaiknya Ustadz pulang ke asrama. Saya akan merekomendasikan surat pengajuan cuti sehat untuk Ustadz Yandri. Pokoknya, saya enggak mau tahu. Ustadz Yandri jangan kembali sebelum benar-benar pulih total. Paham!" tegas Ustadz Bukhori.
Yandri hanya mengangguk pasrah mendengar perintah atasannya. Bagaimanapun juga, Yandri sadar jika perintah Ustadz Bukhori merupakan bentuk kasih sayang atasan kepada bawahan. Mau tidak mau, Yandri kemudian mengikuti perintah Ustadz Bukhori.
"Baik, Ustadz," jawab Yandri pasrah.
Ustadz Bukhori tersenyum. "Mohon maaf Ustadz Yandri, jangan pernah tersinggung dengan semua ucapan saya. Jujur saja, saya melakukan semua ini karena saya tidak ingin kesehatan Ustadz terganggu. Jika sudah seperti itu, maka kegiatan belajar mengajar akan lebih terganggu lagi," lanjut Ustadz Bukhori.
"Iya, Ustadz. Saya paham. Saya justru berterima kasih karena Ustadz sudah begitu perhatian kepada saya," balas Yandri.
"Tidak usah seperti itu, Ustadz. Sudah menjadi kewajiban saya untuk memperhatikan para guru di sini. Besok, Ustadz sudah bisa kembali ke rumah untuk pemulihan. Hari ini juga, akan saya urus rekomendasi kepulangan Ustadz ke bagian perizinan. Beristirahatlah, semoga lekas sembuh," kata Ustadz Bukhori seraya beranjak dari tempat duduknya.
Yandri kembali menyandarkan punggung sesaat setelah atasannya pergi. Dia menghela napas saat mengingat perjalanan panjang yang akan dia lewati besok.
__ADS_1
Ish, rasanya malas sekali jika aku harus melakukan perjalanan menaiki kendaraan umum. Hmm, apa aku minta jemput saja sama bunda?