Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menjadi Penyemangat


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Daniar tiba di rumahnya. Kerut di wajah Bu Salma terlihat jelas saat Daniar memasuki rumah.


"Tumben nginep di rumah teman kamu, Niar. Ada apa?" tanya Bu Salma yang merasa penasaran dengan sikap Daniar.


Meskipun Daniar anak yang ceria dan pandai bergaul. Namun, dia bukan anak yang sering keluyuran. Apalagi setelah putusnya pertunangan dia, Daniar berubah menjadi gadis yang cukup introvert.


"Maaf, Bu. Niar habis mengerjakan tugas," ucap Daniar berbohong. Ya, tidak mungkin juga Daniar mengatakan kejadian yang sebenarnya. Bisa-bisa, sang ibu akan merasa khawatir kembali.


"Oh, tapi kok dadakan, Niar?" Bu Salma kembali bertanya.


"Maaf. Niar lupa memberi tahu Ibu kemarin siang," jawab Daniar. Dia pun segera pergi ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan sang ibu. "Niar ganti baju dulu ya, Bu," pamitnya.


Sejenak, Bu Salma terpaku melihat sikap Daniar. Rasa cemas menghampirinya, takut jika Daniar kembali mengambil langkah yang salah.


.


.


Pukul 08.30 Daniar berangkat ke tempat kerja. Semenjak pertunangannya putus, kini bekerja menjadi hal yang terpenting dalam hidup Daniar. Setidaknya, hari Daniar akan kembali berwarna saat melihat anak-anak tertawa dan berceloteh.


Tempat kerja Daniar cukup dekat. Hanya dengan berjalan kaki selama 15 menit, Daniar sudah tiba di Taman Kanak-kanak tempat dia mengajar. Senyum dan sapaan anak-anak kecil, menjadi penyemangat bagi Daniar untuk melanjutkan hidupnya. Daniar sudah berjanji untuk mengabdikan diri pada anak-anak yang bersekolah di tempat dia bekerja.


Dengan menggunakan setelan olahraga, Daniar pamit kepada ibunya. Rencananya, hari ini dia akan mengajak peserta didiknya untuk belajar di alam terbuka.


.


.


Sementara itu, di tempat lain. Yandri tampak tergesa-gesa menuju sekolah. Sapaan para wali murid sepanjang jalan, hanya dibalas senyuman oleh Yandri. Sesekali, laki-laki itu melirik jam yang melingkar di tangannya. Setengah jam telah berlalu dari jam pertama yang telah dijadwalkan.


Uuh, gara-gara menunggu gadis itu menaiki angkot, akhirnya aku terlambat bekerja, keluh Yandri dalam hatinya. Astaghfirullahaladzim, kenapa juga aku harus mengeluh. Kesannya kok nggak ikhlas banget, ucap kata hati Yandri yang lainnya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi anak-anak!" sapa Yandri begitu tiba di kelasnya.


"Wa'alaikumsalam, selamat pagi, Pak!" jawab peserta didik serentak.


Yandri pun meminta maaf dan mengutarakan alasannya kenapa dia bisa terlambat. Setelah itu, dia kemudian memulai materi pembelajarannya. Hingga tepat di bel istirahat berbunyi, Yandri menjeda pembelajaran dan memberikan kesempatan anak-anak untuk beristirahat.

__ADS_1


Saat Yandri sedang menyantap snack, tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar. Yandri segera merogoh saku celana untuk mengambil benda pintar tersebut. Keningnya berkerut saat dia mendapati nama Deni di layar ponsel. Yandri pun mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.


Yandri : "Assalamu'alaikum, Den!"


Deni : "Wa'alaikumsalam. Yan, lo di mana?"


Yandri : "Di sekolah."


Deni : "Loh, kok di sekolah sih."


Yandri : "Lah, memangnya kenapa?"


Deni : "Ish, lo lupa ya, kalau hari ini kita ada rapat kepanitiaan untuk acara perpisahan PPL."


Yandri : "Memangnya, sekarang hari apa, Den?"


Deni : "Idih, dasar kakek! (Deni mendengus kesal) "Sekarang itu hari Kamis, Yan. Bukannya elo sendiri yang ngusulin rapat di hari ini? Gua ma anak-anak tungguin, kok ampe jam segini lo belum nongol juga."


Yandri menepuk jidatnya.


Deni : "Ya sudah, buruan lo datang. Gua ma anak-anak dah jamuran nungguin elu."


Yandri : "Ish, Den. Aku nggak bisa janji. Ya, kamu tahu sendiri, 'kan jarak tempatku ke kampus?"


Deni : "Pokoknya gua nggak mau tahu. Dua jam lagi lo harus udah sampai di sini. Titik!"


Tut-tut-tut!


Rupanya, orang di ujung telepon memutus sambungan teleponnya. Yandri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia menyimpan kembali risol yang baru digigitnya ke dalam dus snack. Sejurus kemudian, Yandri pergi ke ruang kepala sekolah untuk meminta izin meninggalkan kelas.


.


.


Lepas dzuhur, Daniar bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Namun, sebelumnya dia menghubungi sahabatnya untuk menanyakan tempat kuliah hari ini. Dan jawabannya, ternyata di kampus utama.


Daniar terlihat sedikit kecewa begitu mendengar tempat kuliah hari ini. Entah kenapa, tiba-tiba saja Daniar berharap bisa kembali kuliah di kampus 2. Sangka Daniar, mungkin saja Yandri berkuliah di kampus 2.

__ADS_1


"Hai, Ni!"


Sapaan Deni terdengar begitu nyaring saat Daniar tiba di gerbang kampus. Daniar mendongak, senyumnya mengembang ketika dia melihat Deni sedang berjalan ke arahnya. Namun, yang lebih membuat Daniar tersenyum lebar adalah, Daniar kembali bertemu dengan laki-laki itu. Ya, laki-laki yang semalam telah menolong Daniar dari gangguan mantan tunangannya.


"Hai, Den!" Daniar balik menyapa Deni.


"Tumben sendirian aja, sohib lo mana?" tanya Deni lagi.


"Nida, maksud lo?" Daniar balik bertanya.


"Lah emang orang kek kamu punya sohib berapa sih, Ni? Palingan juga, beberapa biji," ledek Deni seraya terkekeh.


"Ish, sialan lo!" tukas Daniar seraya menonjok pelan bahu Deni.


"Ish, sakit Bambang!" tegur Deni.


"Yeayy, dasar Rosa! Body aja gede, tapi gembos," balas Daniar.


Rekan-rekan Deni hanya tersenyum melihat interaksi Daniar dan sahabatnya itu. Begitu juga juga dengan Yandri. Meskipun senyumnya terlihat tipis sekali. Namun, bagi Daniar itu adalah senyuman terindah yang pernah dia lihat. Senyum dari seorang laki-laki yang memiliki rahang yang tegas.


Hanya saja, Daniar merasa kecewa saat Yandri tak menegurnya. Karena sesaat setelah Daniar ber-interaksi dengan sahabatnya, Yandri malah pergi begitu saja dari kumpulan teman-temannya.


Merasa tak enak hati karena sudah mengganggu keempat sahabat itu, akhirnya Daniar pamit undur diri.


Ish, kenapa dia berubah dingin sekali? batin Daniar.


Sungguh, sepanjang berjalan menuju kelasnya, Daniar tidak habis pikir dengan sikap Yandri. Semalam, laki-laki itu memperlakukan Daniar seolah tanpa jarak. Sekarang, dia terkesan angkuh dan sombong. Seperti tidak pernah mengenal Daniar saja.


Tiba di kelas, Daniar segera menduduki kursinya. Dia mengeluarkan modul dan mulai mempelajari materi yang akan dia diskusikan dengan teman-teman yang lainnya. Namun, sekali lagi konsentrasinya hilang saat bayangan Yandri kembali menari indah di kedua pelupuk matanya.


Semalam, Yandri terlihat begitu ramah dan sopan terhadap Daniar. Namun, entah kenapa hari ini laki-laki itu berubah. Terkesan dingin dan angkuh.


Ish, sudah seperti bunglon saja. Berubah warna tergantung tempatnya.


Daniar mengeluh dalam hatinya. Namun, meskipun begitu, rasa kagum dia terhadap Yandri tak akan pernah bisa sirna begitu saja. Malahan, hatinya bertekad untuk tidak pernah bolos kuliah lagi hanya demi melihat Yandri. Ya, bertemu Yandri adalah sebuah penyemangat bagi Daniar untuk rajin kuliah. Meskipun Yandri tak memberikan warna dalam hidup Daniar, tapi setidaknya saat ini bisa dikatakan jika kehidupan daniar tidak hanya putih abu-abu saja.


"Semangat niar. Kamu pasti bisa!" gumam Daniar pada dirinya sendiri. Sejurus kemudian, Daniar pun pergi ke kelas karena ternyata Nida sudah memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2