Setelah Hujan

Setelah Hujan
Menjadi Sebuah Alasan


__ADS_3

Tiba-tiba saja, kedua kakak beradik itu telah berdiri di ambang pintu. Seno dan Farel mendekati dua orang berbeda generasi, yang sedang berembuk urusan kontrakan yang akan dihibahkan kepada Daniar.


Pak Agam tersenyum mendapatkan jawaban dari kedua cucunya. Begitu juga dengan Bu Patmi. Namun, tidak dengan Bu Frida. Wanita paruh baya itu langsung memasang muka cemberut saat mendengar jawaban kedua anaknya. Lain halnya dengan Pak Gideon. Dia terlihat masa bodoh dengan jawaban anak-anaknya.


"Benarkah kalian tidak keberatan dengan rencana si Mbah kalian?" tanya Bu Patmi kepada kedua cucunya.


Seno duduk di samping Pak Agam, sedangkan Farel mendekati Bu Patmi dan mendaratkan bokongnya di samping Bu Patmi. Kini, kedua pemuda itu duduk mengapit kakek dan neneknya.


Farel menggenggam tangan Bu Patmi. "Tidak ada alasan bagi Farel untuk tidak mendukung rencana Mbah. Lagi pula, kak Niar itu orang yang sangat baik. Sayang dia tidak jadi kakak ipar Farel. Tapi Farel setuju kak Niar mengakhiri hubungannya dengan Bang Seno. Kalau tidak, mungkin kak Niar hanya akan merana karena mendapatkan seorang suami yang mata keranjang," sindir Farel seraya menatap tajam ke arah kakaknya.


"Farel! Jaga ucapan kamu!" bentak Bu Frida yang merasa tidak suka dengan ucapan Farel kepada putra sulungnya.


Farel hanya tersenyum kecut mendapatkan bentakan dari ibunya. Sedangkan Seno, meskipun dia merasa kesal terhadap sikap adiknya. Namun, Seno tidak bisa berbuat apa-apa. Dia masih menghargai sang kakek. Karena itu dia tidak berniat untuk membalas sindiran Farel.


"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Toh semuanya sudah terjadi juga. Kamu sendiri gimana, Sen? Apa kamu tidak keberatan jika dua unit kontrakan milik si Mbah dihibahkan kepada Daniar?" Kini Bu Patmi mengalihkan pertanyaan kepada Seno.


"Ya itu mah terserah Mbah saja. Seno enggak mau ikut campur lagi tentang gadis itu," ucap Seno seakan tidak peduli. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Seno merasa senang dengan rencana kakeknya. Ya, rencana kakeknya bisa dia jadikan sebuah alasan untuk kembali merebut perhatian Daniar. Itulah yang ada dalam pikiran Seno saat ini.


.


.


Di sebuah coffee shop.


Danita tampak menundukkan wajah saat mendapati pertanyaan dari tunangannya.


"Kok diam, Nit?" tanya Roni.


"Jujur, aku tidak tahu harus bilang apa, Mas," jawab lirih Danita.


"Memangnya, kakak kamu enggak pernah cerita apa-apa tentang pasangan hidupnya?" tanya Roni lagi.


Danita menggelengkan kepala. Sesaat kemudian, dia berkata, "Semenjak gagal menikah, Kak Niar sudah tidak pernah cerita apa pun lagi. Terlebih lagi untuk urusan laki-laki. Sepertinya, dia sudah enggan untuk membina hubungan lagi, Mas."

__ADS_1


"Lalu, kita?" tanya Roni. "Bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Apa harus diundur lagi?" lanjutnya.


"Entahlah," jawab Danita terkesan pasrah.


Tak sanggup menatap mata calon suaminya, Danita pun mengalihkan pandangan menatap jalanan kota lewat kaca jendela.


Roni menggenggam tangan calon istrinya. "Cobalah bicara kembali dari hati ke hati dengan kakak kamu, Nit. Jujur, aku tidak akan sanggup lagi jika pernikahan kita harus diundur kembali," ucap Roni, menatap lekat Danita.


Danita kembali menatap Roni dengan penuh kelembutan. Tangan kanannya terulur untuk mengusap rahang tegas milik tunangannya itu. Sedetik kemudian, Danita berkata. "Akan aku coba, Mas."


.


.


Senin siang di kediaman Yandri.


Yoga tampak membuntuti Bu Maryam. Sesekali, dia bersungut kecil saat ibunya tidak merespon perkataan Yoga.


"Untuk apa, Nak? Bukankah Ibu sudah memberikan bagian kamu?" tukas Bu Maryam.


"Aku tahu, Bu. Tapi aku sangat membutuhkannya saat ini. Nuri sudah memasuki bulan kesembilan, dan aku sama sekali tidak pegang uang buat lahiran dia, nanti," jawab Yoga memberikan sebuah alasan.


Bu Maryam hanya bisa menghela napasnya mendengar alasan Yoga. "Jujur saja, Nak. Saat ini, Ibu sama sekali tidak memiliki uang. Namun, Ibu masih memiliki sepetak sawah di kampung Duku. Jika memang kebutuhan kamu begitu mendesak, kamu bisa gadaikan sawah itu," tutur Bu Maryam.


Senyum Yoga seketika mengembang saat izin menggadaikan sawah sudah dia kantongi. Setelah urusan di rumah ibunya selesai, Yoga kemudian pamit pulang. Saat dia melewati ruang tengah, tanpa sengaja sudut matanya menangkap sang kakak yang sedang membaca buku di kamar. Yoga kemudian menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Lagi ngapain lo, Bang?" tanya Yoga.


Yandri mendongak. "Eh, kamu Dek. Ini, Abang lagi baca buku untuk menyusun tugas akhir."


"Emangnya, kuliah lo sudah selesai?" tanya Yoga lagi.


"Alhamdulillah, tinggal menyusun laporan akhir perkuliahan saja," jawab Yandri.

__ADS_1


"Hmm, baguslah. Semoga setelah lulus nanti, Abang bisa segera mengganti lahan-lahan yang dijual bapak buat nyekolahin Abang," sindir Yoga seraya berlalu pergi dari depan kamar Yandri.


Yandri hanya tersenyum tipis mendengar sindiran adiknya. Dalam hati, Yandri hanya bisa beristighfar melihat kelakuan tidak sopan sang adik.


Sebenarnya, apa salah Abang sama kamu, dek? Kenapa kamu selalu menjadikan kuliah Abang sebagai sebuah alasan habisnya kekayaan orang tua kita. Padahal, kamu sendiri tahu kalau sedikit pun, Abang tidak mengganggu hak kalian untuk mewujudkan cita-cita Abang. Apalagi mendesak ibu untuk membiayai pendidikan Abang, batin Yandri.


Setelah adiknya pergi, Yandri menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Matanya terpejam. Sesaat, bayangan almarhum sang ayah melintas di benaknya.


"Jadi, kamu ingin melanjutkan sekolah kamu?" tanya Pak Sobur kepada Yandri.


Yandri mengangguk.


"Biaya dari mana, Yan? Kamu sendiri tahu kalau pekerjaan Bapak kamu itu hanya seorang buruh kasar," tukas Bu Maryam.


"Ta-tapi, Yandri ingin melanjutkan pendidikan Yandri, Bu. Ibu dan Bapak tidak usah khawatir. Yandri tidak akan membebani kalian. Yandri akan berusaha mencari pekerjaan untuk biaya kuliah Yandri sendiri," jawab Yandri penuh semangat.


"Tetap saja itu menjadi pikiran kami, Yan," tukas Bu Maryam. "Sudah, begini saja. Seperti kakak-kakak kamu, Ibu akan memberikan uang sebesar satu juta rupiah. Kamu bisa jadikan itu sebagai modal untuk usaha kamu," lanjut Bu Maryam seraya mengeluarkan uang sejumlah satu juta dari dompetnya.


Yandri hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar saran dari ibunya. Sebenarnya, tugas untuk memberikan pendidikan adalah tanggung jawab orang tua. Namun, sepertinya hukum itu tidak berlaku di keluarganya. Bagi orang tua Yandri, sekolah itu nomor sekian. Yang utama adalah bekerja. setelah lulus Sekolah Dasar, mereka hanya akan memberikan uang secukupnya untuk modal usaha anak-anaknya.


"Baiklah, Bu. Yandri terima uang modal dari Ibu ini. Tapi, Yandri tidak akan menggunakan uang ini untuk modal usaha. Yandri akan gunakan untuk mendaftar kuliah di fakultas Tarbiyah," jawab Yandri.


"Terserah!" ucap Bu Maryam terlihat kesal. Sejurus kemudian, Bu Maryam meninggalkan Yandri dan suaminya di ruang tengah.


Yandri mengambil uang yang diletakkan ibunya di atas meja tadi. Sedetik kemudian, dia pamit kepada ayahnya untuk pergi ke kampus. Yandri hendak mendaftar kuliah di kampus pilihannya.


"Tunggu, Nak!" cegah Pak Sobur.


Pak Sobur merogoh saku celana pangsinya. Dia kemudian menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribuan kepada Yandri.


"Daftarlah!" ucap Pak Sobur.


Yandri tersenyum saat mengenang awal mula dia berkuliah. "Terima kasih, pak. Yandri janji, Yandri tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan bapak sama yandri."

__ADS_1


__ADS_2